Matanya berangsur melotot tak percaya. Astaga, mengapa dari semua kemungkinan yang sudah ia pikirkan, yang muncul malah suatu kemungkinan yang tak pernah ia bahkan ingin tahu?
Jeon Joon Min, Ya. Lelaki itu.
Dan sekali lagi ditegaskan, Rain dalam kondisi mood yang baik hari itu. Percuma jika mereka beradu mulut, itu hanya akan membuat kepala Rain semakin sakit. "Sedang apa kau di sini?" tanya Rain datar. Nada yang benar-benar tak biasanya ia lontarkan pada lelaki itu. Biasanya? Jangan tanya.
Seperti jatuh salju di gurun sahara, itu semua membuat Joon Min mengernyit heran, kemudian mendekatkan diri hingga berada di hadapan Rain. Rasanya tak ada hari tanpa mengangggu gadis itu baginya. "Kau berbeda hari ini," desis nya dengan nada kecil. Seperti … menggoda mungkin?
Lantas Rain memandangnya sinis dan tajam, ah bukan memandang, tapi melirik sinis, dia benar-benar memiliki mata yang tajam seakan bisa mengiris benda yang ia lirik. Namun tiba-tiba senyum sinisnya mengembang, tersenyum pada aksi menggoda Joon Min barusan, dan itu membuatnya tertantang untuk menantang lelaki itu balik.
"Oh ya? Kau kekasihku? Atau suka padaku, mau menjadi suamiku? Mengapa kau bertanya hal itu?" ujarnya dengan nada yang sama persis dengan nada Joon Min barusan. Gotcha! Rain membalasnya.
"Jadi, kau mau aku menjadi kekasihmu? Atau…," suara Joon Min terdengar semakin nakal. Rain tau betul, lelaki itu hanya akan menggeretak, maka dari itu ia diam saja saat Joon Min mulai memojokkan dirinya ke dinding belakang kasur UKS yang ia tiduri, "suamimu?"
DEG
Jujur. Kali ini Rain tak bisa menahan debaran jantung dan panas di wajahnya. Jarak mereka terlalu dekat, dan ia tak biasa dengan jarak sedekat itu. Jika kalian pikir Rain gadis berbeda yang sangat membenci ketampanan Joon Min, kalian salah.
Dia tidak munafik, ia mengakui wajah tampan milik lelaki itu, dan dia kini merasa panik.
"Bukalah matamu. Bukankah kau menginginkan ini?" Pertanyaan Joon Min semakin terasa menggoda dan embusan napas Joon Min menerpa wajahnya.
"M-Mau apa kau!" Lantas Rain mendorongnya menjauh dan mengalihkan tatapannya dari mata Joon Min.
"Haha penakut," ucap Joon Min meremehkan.
Rain merasa diinjak-injak. Seumur hidup, ia orang yang tak pernah mau harga dirinya direndahkan, terlebih oleh lelaki yang sering ia ajak untuk beradu mulut itu.
"Haha. Apa? Takut? Do you think so?" Tanpa sadar ia melepaskan Jas almamaternya. Ya, niatnya hanya menggretak bukan. Semoga saja ini memang hanya sebuah gretakan seorang Jeon Joon Min. Iyalah, Mana mau Joon Min benar-benar melakukan hal menjijikan seperti itu, terlebih di sekolah dan juga mereka masih dalam masa sekolah. Baiklah memang Rain orang yang polos dalam hal ini, yang bahkan tak menyadari The Power of Man.
"Kenapa, kau takut?" Setelah membuka jas nya ia memandangi Joon Min yang terdiam memandangnya. Entahlah, ia tak begitu mengetahui arti tatapan Joon Min itu.
"Kau membalik kata-kataku, Sayang. Kau yang memintanya ya. Ingatlah, semua lelaki bisa buas," ujar Joon Min sambil menyeringai. Lalu ia melepas jas nya dengan perlahan dan membuang nya sembarang. Lalu mendekat kembali ke arah Rain yang kini menahan napasnya. Merasa bodoh, karena menantang seorang lelaki yang hormonnya sedang tinggi.
Joon Min tersenyum tipis, niatnya memang hanya ingin bermain-main, tapi gadis itu terlalu berani. Dan ia harus mengajarkan sesuatu kepada gadis itu, sebelum hal seperti ini terjadi lagi pada Rain dan ia terjebak pada hal yang lebih parah.
"Mengapa kau diam? Atau…mau aku lepaskan?" Matanya mengerling sambil tersenyum simpul pada Rain yang tangan nya saja sudah bergetar memegangi kancing kemeja paling atas miliknya.
Joon Min telah membuka semua kancing seragamnya dan membuka sebagian kemeja nya. "Kau tahu, kadang kau terlalu bodoh hanya karna egomu," ujar Joon Min dingin sambil menatap Rain yang masih terdiam.
"AAAAAAAAAAAAA, Ada yang berbuat m***m di UKS."
JDER
Mereka berdua menatap ke arah pintu dan melihat seorang siswi melihat posisi mereka berdua yang membuat orang akan salah paham. Bagaimana tidak? Kemeja Joon Min yang terbuka sebagian dan juga kancing kemeja Rain yang sudah sedikit terbuka di bagian leher, terlebih lagi posisi mereka yang sangat-sangat dekat.
Lantas mereka tersadar dan membenarkan pakaian mereka dengan cepat.
Mulai hari itu. Hari yang panjang akan di mulai.
***
Wajah Rain tertekuk masam. Apa yang ia harapkan adalah, berada di rumah, tidur sambil mendengarkan musik. Tapi kenyataannya, ia harus menunggu keputusan dari guru karena aduan dari seorang siswi tadi yang salah paham saat memergoki mereka, dan itu membuat Rain sangat kesal.
"Jujur saja! Apa yang kalian lakukan di ruang UKS?"
Sudah dari 23 menit 20 detik yang lalu-Rain menghitung nya-, sang guru menginterogasi mereka dengan pertanyaan yang sama dan selalu Rain jawab dengan jawaban yang sama, yaitu tidak melakukan apapun. Joon Min? Dia hanya diam dan memandang ke arah lain tanpa berniat menjelaskan atau menjawab pertanyaan itu, dan itu membuat Rain sangat kesal setengah mati.
"Kami tidak melakukan apa-apa, Pak!" ujar Rain dengan nada yang meninggi. Habis sudah semua mood baik nya, hancur lebur berantakan.
"Kalian tidak tahu? Kepala sekolah kita sudah mendengar tentang ini?! Dan beliau berniat ingin-"
"Aku akan dikeluarkan?!" potong Rain dengan nada shock. Guru itu menggeleng sambil tersenyum sinis. "Karena dia merasa malu anaknya sendiri yang berulah, dia ingin kalian dinikahkan."
"HAH?!" Kali ini Joon Min ikut merasakan electric shock bersama Rain.
"Hahaha bercanda kan?" Rain berusaha tak memercayai nya. Ini hal sepele kan? hahaha benar-benar lucu jika memang benar. Bahkan mereka tak melakukan apapun! Mengapa hal sesepele itu memberikan dampak keputusan yang tidak masuk akal?
"Bunda di sini?" tanya Joon Min tak sabar. Rain memandang sinis Joon Min. Hello, sejak tadi Rain berjuang sendiri menjelaskan masalah mereka dan baru kali ini lelaki itu bicara, setelah hampir setengah jam lama nya mereka disana.
"Tadi, dan orang tua siswi Sung di panggil ke sekolah besok untuk mengurus urusan ini," ujar guru itu sambil memijit pelipisnya. Melihat wajah masam Rain dan Joon Min membuat guru itu tak tega, namun apa daya?
"Masa depanku hancur, huwaaaaaaaaaaaaa."
Joon Min dan guru itu terlonjak kaget karena Rain menangis di saat itu juga, sedangkan Joon Min merutuki kelakuan bundanya itu.
Ah…selamat tinggal masa muda.
***
Rain masih terpaku di depan rumahnya sendiri. Sudah hampir sekitar satu jam ia hanya berdiri seperti orang tidak waras di sana. Ingin masuk? Betul sekali. Tapi ia terlalu takut, apalagi memberi tahu orangtuanya bahwa mereka harus datang ke sekolah besok. Jujur! Rain merasa ini sangat-sangat bodoh. Bagaimana bisa hal yang bahkan tak mereka lakukan atau bahkan sedikitpun cicipi, membuat mereka harus mempertanggungjawabkan perbuatan mereka denga menikah.
Jemari nya kini seakan menatap ragu gerbang rumah di hadapan nya. "Rain, kenapa tidak masuk?"
"Astaga." Jantung Rain seakan berhenti mendadak, ia memegangi d**a nya sendiri. Mengapa ia menjadi seperti seseorang yang sangat bersalah yang bahkan takut masuk rumah nya sendiri? Padahal ia tak bersalah bukan?! Lelaki yang barusan memanggil nya terkekeh melihat reaksi Rain yang selalu lucu jika sedang terkaget seperti itu.
"T-Tidak, Ini juga mau masuk." Bodohnya mulut, kenapa ia malah bicara seperti itu? Sudah jelas ia takut masuk ke dalam. "Ya sudah ayo masuk bersama-sama?" ajaknya lagi. Tuhkan, bodoh kan mulut nya, alasan apa lagi yang harus ia kerahkan.
"Ah, DylanOppa saja duluan, Aku masih mencari udara segar, huwah panas sekali ini." Alasannya terkesan bodoh, tapi otaknya hanya bisa membuat alasan itu saat ini. Ia mengibaskan tangannya sendiri di depan wajah nya agar Dylanpercaya dengan apa yang ia katakan.
"Baiklah, Oppa masuk dulu ya, jangan lupa jika sudah selesai, masuk. Atau nanti ada hantu berkeliaran dan memakanmu." DEG.
Rain lantas merinding, Dylanselalu saja bisa membuatnya ketakutan. Sudah jelas-jelas dia takut hantu, dan Dylanselalu menakuti-nakuti nya dengan hantu. Memang calon suami kakak sepupunya itu keterlaluan.
"Dah, hati-hat-" Rain lantas menarik tangan Luhan.
"Berhenti menakutiku!" ketus Rain sambil meninggalkan Dylandan masuk ke dalam, apa yang Dylanlakukan kini? Tertawa. ia selalu sukses menakut-nakuti Rain.
Rain berjalan ragu menuju ruang tengah, tepat dimana kedua orangtuanya sedang berkumpul, memang dia hanyalah anak semata wayang kedua orangtuanya, tapi Yongbin sepupunya juga tinggal di rumah nya karena Kedua orang tua nya sedang berada di luar negeri.
Jantung Rain berdegup kencang, Seumur-umur baru kali ini ia takut untuk berbicara dengan kedua orangtuanya. "Sayang, Kenapa baru pulang?" Mamanya lantas menghampiri Rain dan menariknya untuk duduk di sebelah nya. "Ehm… itu, Ma."
"Ada yang mau di katakan Rain?"
Rain merasa tertohok, Papanya selalu bisa menebak pikiran nya. Ia memandang ragu Yongbin dan Dylanyang duduk di hadapannya, dan mamanya di samping kirinya, harus bicara apa ia kali ini? Ya tuhan, mengapa menjadi rumit seperti ini?
"Ada," ujar nya lesu, dan matanya terlihat sayu. Sudahlah, ia akan menerima konsekuensinya, ia akan menerima apapun yang orangtuanya akan katakan padanya, atau mau dia akan dipukulipun, akan ia terima. Ia memilih pasrah daripada terus-terusan membuat kebohongan. Jujur saja, Rain orang yang tak bisa berbohong bahkan dalam hal kecil. Buktinya, saat tadi Dylanbertanya padanya, Dylanberhasil tahu kalau Rain sedang berbohong.
"Hmmm, papa dan mama, dipanggil ke sekolah." Suara nya terdengar kecil, ia menutup kedua matanya, tak mau menyaksikan reaksi kedua orangtuanya dan juga dua orang yang berada di hadapan nya, "Baiklah kami akan membatalkan janji dengan kolega perusahaan," ujar papanya simpel. Rain melotot tidak percaya, "E-eh, papa tidak usah, cukup mam-"
"Oh, tidak boleh begitu dong, katamu kami dipanggil. Papa kan juga ingin tahu perkembanganmu di sekolah," ujar nya dengan nada bangga. Sedangkan Rain tertohok.
Ah… mati Aku