Mentari pagi baru saja menyapa langit Jakarta. Jalanan ibu kota sudah mulai dipenuhi kendaraan yang berlomba mengejar waktu. Di sebuah rumah kontrakan sederhana di kawasan pinggir kota Jakarta, seorang gadis bernama Nadia Wulandari tampak sibuk merapikan penampilannya di depan cermin.
Nadia, begitu semua orang memanggilnya, adalah gadis berusia dua puluh tiga tahun yang berasal dari Bogor. Sejak lulus dari pendidikan D3 jurusan Akuntansi, ia bertekad mencari pekerjaan yang layak demi membantu perekonomian keluarganya.
Keberuntungan akhirnya berpihak padanya. Setelah melalui proses seleksi yang cukup panjang, Nadia diterima bekerja di salah satu perusahaan milik negara terbesar di Indonesia yang berlokasi di Jakarta. Ia dipercaya mengisi posisi sebagai Staf Administrasi Keuangan.
Meskipun jabatan yang diembannya bukan posisi tinggi, Nadia selalu merasa bersyukur. Baginya, menjadi pegawai tetap di perusahaan sebesar itu sudah merupakan impian yang berhasil ia raih. Terlebih, dengan ijazah D3 yang dimilikinya, ia sadar masih banyak orang yang harus berjuang lebih keras untuk mendapatkan kesempatan serupa.
Setelah memastikan penampilannya rapi, Nadia mengambil tas kerja, mengenakan sepatu pantofelnya, lalu tersenyum sendiri.
"Hari ini harus semangat, Nad," gumamnya sambil menatap pantulan wajahnya di cermin.
Senyuman itu semakin lebar ketika mengingat sesuatu.
"Dua hari lagi gajian!"
Kalimat itu seolah menjadi sumber tenaga tambahan baginya.
Selama hampir seminggu terakhir, Nadia benar-benar hidup hemat. Menu makan siangnya hanya berganti antara mi instan, telur ceplok, atau nasi dengan kerupuk. Ia bahkan sempat bercanda pada dirinya sendiri bahwa tubuhnya mungkin sudah mengandung bumbu mi instan lebih banyak daripada darah.
"Tahan dua hari lagi... habis itu kita makan ayam geprek, sushi, es kopi, sama martabak!" ucapnya penuh semangat.
Tak lama kemudian, Nadia memesan ojek online untuk memgantarkannya ke kantor. Perjalanan yang setiap hari ia lewati namun itu tidak mampu menghilangkan semangatnya pagi itu.
***
Sesampainya di kantor, Nadia langsung berjalan menuju divisi tempatnya bekerja. Begitu membuka pintu ruangan, senyum ramah langsung menghiasi wajahnya.
"Pagi, guys!" sapa Nadia ceria.
"Pagi..." balas seseorang dengan suara pelan.
Nadia menoleh ke arah sumber suara itu.
Ternyata hanya Dinda yang sudah datang lebih dulu. Namun, ada yang berbeda pagi ini. Wajah wanita itu tampak pucat, matanya sembap, dan riasan tipis di wajahnya terlihat sedikit berantakan seolah baru saja menangis.
Nadia segera meletakkan tasnya di atas meja.
"Lho, Mbak... kok lemes banget? Semangat dong. Ini masih pagi, masa mukanya udah kayak orang habis lembur seminggu?"
Biasanya Dinda akan langsung membalas candaan Nadia. Namun kali ini wanita itu hanya tersenyum tipis.
"Nad..."
"Iya, Mbak?"
"Gue... diputusin Hanif."
Seketika senyum Nadia menghilang.
"Hah? Serius?"
Dinda hanya mengangguk pelan.
Air matanya kembali menetes tanpa bisa ditahan.
Nadia langsung menarik kursinya mendekat dan duduk di samping Dinda.
"Ya Allah, kok bisa sih, Mbak? Bukannya selama ini kalian baik-baik aja? Bahkan minggu lalu masih jalan bareng, kan?"
Dinda mengusap air matanya menggunakan tisu.
"Makanya... gue juga nggak ngerti."
"Terus?"
"Tadi malam dia ngajak ketemu. Awalnya gue pikir mau makan malam atau kasih kejutan."
"Lalu?"
"Dia malah bilang kalau dia... udah capek sama hubungan ini."
Nadia mengernyit.
"Capek?"
"Iya."
"Terus?"
"Dia bilang... dia udah bosan sama gue."
Kalimat itu kembali membuat tangis Dinda pecah.
Nadia benar-benar ikut merasa sakit hati mendengarnya.
"Lima tahun, Mbak... kalian pacaran lima tahun."
Dinda mengangguk sambil terisak.
"Kurang apa coba gue, Nad? Gue selalu ada waktu dia susah. Gue nemenin dia dari belum punya apa-apa. Bahkan waktu dia nganggur hampir setahun, gue yang semangatin dia."
Nadia mengepalkan tangannya kesal.
"Kurang ajar banget!"
Suaranya terdengar cukup keras hingga membuat Dinda sedikit terkejut.
"Masa hubungan lima tahun selesai cuma gara-gara alasan bosan? Emang hubungan itu mainan? Kalau bosan tinggal ganti?"
Dinda kembali menangis.
Nadia mengusap pelan punggung sahabatnya itu.
"Udah, Mbak... nangis boleh, tapi jangan terus-terusan."
"Gue masih sayang sama dia, Nad."
"Gue tahu."
"Rasanya sakit banget."
Nadia menghela napas.
"Kalau memang dia bisa ninggalin Mbak setelah semua perjuangan itu, berarti dia memang bukan orang yang pantas dipertahankan."
Dinda hanya terdiam.
"Percaya deh, nanti bakal ada laki-laki yang jauh lebih baik. Yang menghargai semua usaha Mbak."
Dinda tersenyum tipis.
"Makasih ya."
"Nah, gitu dong."
Nadia mengambil kotak tisu lalu menyodorkannya.
"Ayo bersihin dulu make up-nya. Sebentar lagi anak-anak pada datang. Nanti kalau mereka lihat Mbak nangis, satu divisi bisa heboh."
Dinda mengangguk kecil.
"Iya."
Beberapa menit kemudian, setelah wajah Dinda kembali rapi, suara langkah kaki mulai terdengar memenuhi ruangan.
Para pegawai satu per satu mulai berdatangan.
Tak lama kemudian muncul seorang pria dengan gaya berjalan yang santai sambil membawa segelas kopi.
"Selamat pagi, ahli kubur!" serunya lantang.
Nadia langsung mendelik.
"Pagi juga, ahli neraka!"
"Hah? Jahat banget."
"Lah, lo duluan yang mulai!"
Pria itu adalah Dika, satu-satunya pegawai laki-laki di divisi tersebut.
Meski berpenampilan rapi layaknya pria kantoran pada umumnya, tingkah Dika sering kali membuat semua orang tertawa. Cara bicaranya yang lembut dan gemulai bukan tanpa alasan. Sebagai anak bungsu dengan tiga kakak perempuan, hampir seluruh kebiasaan Dika terbentuk karena tumbuh di lingkungan yang didominasi perempuan.
Dika hanya tertawa kecil.
"Ya ampun, pagi-pagi udah galak aja."
"Lo juga pagi-pagi udah nyumpahin orang jadi ahli kubur."
"Itu kan doa biar masuk surga."
"Ngawur!"
Belum sempat mereka melanjutkan adu mulut, Dika memperhatikan wajah Dinda.
Senyumnya perlahan menghilang.
"Eh... bentar."
"Ada apa?" tanya Nadia.
"Mbak Dinda kenapa? Kok matanya bengkak gitu?"
Nadia menghela napas.
"Semalam diputusin Mas Hanif."
Raut wajah Dika langsung berubah drastis.
"Apa?!"
"Iya."
"Yang kumis lele itu?"
"Iya."
Dika langsung meletakkan kopinya di atas meja dengan kesal.
"Kurang ajar banget tuh manusia."
Dinda hanya tersenyum getir.
"Kalau gue ketemu dia, gue sumpah..."
Dika menggulung lengan bajunya seolah siap berkelahi.
"Gue potong aja tuh ti*itnya... biar kapok nyakitin perempuan!"
Nadia langsung tertawa.
"Ya ampun, Dik... ngomongnya jangan serem gitu."
"Serius ini!"
"Kamu mau motong pakai apa?"
"Pakai gunting kantor!"
Ucapan itu membuat Nadia dan Dinda tak mampu lagi menahan tawa.
Suasana yang tadinya dipenuhi kesedihan perlahan berubah menjadi lebih hangat berkat tingkah konyol Dika.
Melihat Dinda akhirnya tertawa, Dika tersenyum puas.
"Nah... gitu dong. Senyum Mbak Dinda lebih cantik daripada nangis."
"Dasar."
Belum sempat mereka kembali mengobrol, suara langkah kaki dan sapaan para pegawai lain mulai memenuhi ruangan.
Satu per satu karyawan memasuki divisi Administrasi Keuangan. Mereka menyalakan komputer, menyusun berkas, dan bersiap memulai aktivitas seperti biasa.
Nadia, Dinda, dan Dika pun kembali ke meja masing-masing.
Masing-masing menarik napas panjang sebelum menyalakan komputer.
Hari yang baru telah dimulai.
Tumpukan laporan keuangan, data transaksi, serta berbagai dokumen penting perusahaan sudah menunggu untuk diselesaikan. Meski pekerjaan itu melelahkan, ketiganya tetap menjalani hari dengan semangat, ditemani canda, tawa, dan persahabatan yang membuat suasana kantor terasa jauh lebih hangat.
***
Karena terlalu fokus menyelesaikan laporan keuangan yang harus dikirim sore nanti, Nadia sama sekali tidak menyadari waktu sudah menunjukkan pukul dua belas siang. Jemarinya masih lincah menekan tombol-tombol keyboard, sementara pandangannya tak lepas dari layar komputer.
Ruangan yang tadi ramai perlahan mulai lengang. Satu per satu karyawan meninggalkan meja mereka untuk menikmati waktu istirahat. Namun Nadia masih tetap berkutat dengan angka-angka yang membuat kepalanya sedikit pening.
Melihat hal itu, Dika yang baru saja selesai merapikan meja kerjanya berjalan menghampiri Nadia. Pria itu berdiri tepat di samping meja Nadia sambil melipat kedua tangan di depan d**a.
"Heh, Nadia."
"Hm?" sahut Nadia tanpa mengalihkan pandangannya dari monitor.
"Lo nggak lapar apa?"
"Laper sih."
"Terus kenapa masih nempel sama komputer?"
"Ini tinggal dikit lagi, Dik."
Dika menggeleng pelan.
"Kerjaan bisa nunggu, tapi perut gue nggak bisa."
Nadia masih sibuk mengetik.
"Cuma lima menit."
Dika langsung mengusap-usap perutnya yang sedikit buncit dengan ekspresi memelas.
"Ayo, Nad. Kasihan baby gue belum makan dari tadi."
Nadia menghentikan aktivitasnya, lalu menoleh sambil mengangkat sebelah alis.
"Baby?"
"Iya."
"Baby apaan?"
"Baby di sini." Dika kembali mengelus perutnya dengan penuh kasih sayang.
Melihat tingkah Dika, Dinda yang sejak tadi memperhatikan mereka hanya bisa menggelengkan kepala.
"Baby, baby, baby terus."
"Iya dong."
"Itu bukan baby, Dik."
"Terus?"
"Itu calon kolesterol."
Nadia langsung menutup mulutnya menahan tawa.
Dika mendelik.
"Jahat banget sih, Mbak."
Dinda menyandarkan tubuhnya di kursi.
"Lu itu laki-laki, Dik. Jangan tiap hari ngomong seolah-olah lagi hamil."
"Lah, memang kenapa?"
"Ya nggak sesuai kodrat aja."
Dika langsung memasang wajah cemberut.
"Ih... semenjak diputusin Mas Hanif, Mbak Dinda jadi galak banget deh."
Dinda langsung mengambil map yang ada di atas mejanya.
"Dika..."
"Iya?"
"Gue lempar ya?"
Dika buru-buru bersembunyi di belakang Nadia.
"Ya Allah... lihat kan, Nad? Korban patah hati emang bahaya."
Nadia tertawa kecil melihat tingkah mereka.
"Udah, udah... jangan ribut."
Ia mematikan layar komputernya, lalu berdiri sambil meraih tas kecil berisi dompet dan ponsel.
"Ayo makan. Mau di mana?"
"Yang penting jangan jauh-jauh," ujar Dinda. "Nanti telat masuk lagi."
Dika langsung menunjuk Nadia.
"Kalau telat juga gara-gara si Nadia. Dari tadi dia masih asyik kerja."
Nadia mendelik.
"Lah, tadi siapa yang bilang kerjaan nggak boleh ditunda?"
"Itu beda."
"Beda dari mana?"
"Beda aja."
Dasar Dika memang selalu punya jawaban seenaknya sendiri.
---
Akhirnya mereka bertiga memutuskan makan siang di sebuah restoran sederhana yang letaknya hanya beberapa ratus meter dari gedung kantor. Tempat itu memang menjadi langganan para pegawai karena makanannya enak, harganya ramah di kantong, dan pelayanannya cukup cepat.
Begitu pesanan datang, ketiganya langsung mulai menikmati makan siang.
Namun baru beberapa suap, Dika kembali membuka pembicaraan.
"Jadi gimana, Mbak?"
Dinda yang sedang mengambil es teh menoleh.
"Gimana apanya?"
"Soal si kumis lele."
Nadia langsung terkekeh mendengar julukan itu.
"Iya, tuh. Mantan Mbak, si Hanif itu."
Dika mengangguk mantap.
"Mau balas dendam nggak? Gue siap bantu."
Nadia langsung menimpali.
"Lu mau ngapain emangnya?"
"Banyak."
"Contohnya?"
"Kita spam nomor dia."
Nadia menggeleng.
"Terus?"
"Kita daftarin pinjol."
"Dika!"
"Ya bercanda."
Dinda hanya tersenyum tipis.
"Udahlah... biarin aja."
"Serius, Mbak?"
"Iya."
"Dia udah nyakitin Mbak, lho."
Dinda menghela napas panjang.
"Mau diapain juga percuma. Kalau memang dia udah nggak cinta, dipaksa juga nggak bakal balik."
Suasana mendadak sedikit hening.
Nadia menatap sahabatnya dengan rasa iba.
"Iya sih, Mbak. Ikhlasin aja. Memang nggak gampang, tapi lama-lama pasti sembuh."
Dinda tersenyum kecil.
"Semoga."
"Lagian cowok di luar sana masih banyak."
"Iya."
"Siapa tahu nanti Mbak dapat yang jauh lebih baik."
Dika langsung mengangkat tangan.
"Itu bohong."
Nadia menoleh tajam.
"Apanya yang bohong?"
"Nanti Mbak Dinda dengerin omongan lo, terus nggak buru-buru cari pasangan."
"Lalu?"
"Nanti jadi perawan tua."
"PLAK!"
Sendok Nadia mendarat pelan di lengan Dika.
"Ngaco aja."
Dika mengusap lengannya sambil meringis dramatis.
"Sakit, tahu."
"Biar."
"Lagian lihat tuh contoh di depan mata."
Nadia mengernyit.
"Contoh apa?"
"Lo."
"Kenapa gue?"
"Umur dua puluh tiga tahun."
"Iya."
"Nggak pernah pacaran."
"So?"
"Jangan-jangan nanti pensiun baru nikah."
Nadia langsung mendelik.
"Enak aja. Emang muka gue nggak laku?"
"Bukan."
"Terus?"
"Lo aja yang susah buka hati."
Nadia menyilangkan kedua tangannya.
"Biarpun tampang gue pas-pasan, banyak kok yang ngedeketin."
"Nah, terus kenapa ditolak semua?" tanya Dinda penasaran.
"Iya, Nad," sambung Dika. "Selama gue kenal sama lo, udah berapa cowok yang deketin. Tapi ujung-ujungnya selalu lo tolak."
Nadia mengaduk es tehnya pelan.
"Belum ada yang cocok aja."
Dika langsung tertawa kecil.
"Alasan."
"Bener."
"Bukan karena belum cocok."
"Terus?"
"Karena sampai sekarang lo masih belum move on dari Radit."
Seketika Nadia terdiam.
Dinda yang belum pernah mendengar nama itu langsung penasaran.
"Radit?"
"Iya, Mbak," jawab Dika antusias. "Cinta monyetnya waktu SD."
Mata Dinda langsung membulat.
"Serius?"
Nadia buru-buru menggeleng.
"Ah, apaan sih. Itu kan udah lama banget."
"Berapa lama?"
"Ya... zaman SD."
"Tapi sampai sekarang masih inget."
"Itu beda."
Dika tertawa puas.
"Nah, kan ketahuan."
Nadia mendengus kesal.
"Gue udah nggak suka sama dia."
"Yakin?"
"Yakin."
"Seratus persen?"
"Iya."
"Lalu kenapa setiap ada cowok yang deket, selalu lo tolak?"
Nadia terdiam beberapa detik.
Ia lalu tersenyum tipis.
"Cuma... belum ketemu orang yang benar-benar bikin hati gue yakin."
Dika dan Dinda saling berpandangan.
Lalu, tanpa dikomando, keduanya berkata bersamaan.
"Sama aja, Marpuah!"
Nadia langsung memutar bola matanya sambil menggeleng pelan.
"Kalian berdua, ya... ada-ada aja."
Tawa mereka pun pecah memenuhi restoran. Meski obrolan terus berganti dari satu topik ke topik lainnya, Dika dan Dinda tetap yakin akan satu hal.
Kalau Nadia sudah move on, memang belum ketemu yang cocok saja.
.
.
.
Bersambung . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .