Entah sudah berapa kali Anara bolak-balik melihat fotonya dengan sang tambatan hati yang sedang berangkul mesra, Anara yang pada saat itu mengenakan gaun berwarna pink mengangkat satu tangannya dan menjunjung strawberry yang berhasil dipetik oleh Dave. Mereka memang suka sekali dengan strawberry sehingga mereka sering memetik strawberry jika sedang pergi ke kebun strawberry. Sekilas ulasan senyum manis yang Anara lakukan membuat air matanya terjatuh.
Pernah merasakan dua rasa yang saling berlawanan? Jika tidak pernah, mari Anara ceritakan bagaimana. Anara sangat sayang sekali dengan Dave. Anara sangat ingin Dave kembali kepadanya dan menjadi miliknya satu-satunya. Hanya miliknya saja. Namun di satu sisi lain, Anara sudah terlanjur benci atas semua kebrengsekan yang Dave perbuat. Itulah mengapa saat ini Anara merasa dilema bukan main. Hati kecilnya berkata cinta, namun melihat situasi yang ada ia memaksa dirinya yang terlanjur kecewa ini untuk benci.
Sesak sekali rasanya jika seperti ini, Tuhan. Anara merasa dipaksa jika sudah seperti ini. Anara merasa dipermainkan oleh keadaan. Apakah Anara memang tidak berhak untuk bahagia? Apakah Anara memang diharuskan untuk melalui ini semua dengan perasaan sesak yang terus membelenggu jiwa?
“Kenapa kamu ngelakuin hal ini, Dave? Kenapa kamu bohongin aku? Katanya kamu cinta sama aku, Dave. Katanya kamu mau serius sama aku. Aku cuman satu-satunya di hati kamu. Tapi kenapa sekarang malah beda? Kenapa sekarang malah kamu pergi gitu aja dan kamu jadiin aku yang kedua? Aku salah apa sama kamu, Dave? Aku salah apa sampai-sampai kamu hancurin hidup aku ini?”
Gadis yang masih mengenakan piama berwarna putih dengan rambut berantakan itu terus saja memukul dadanya berulang kali, berusaha menghilangkan rasa sesak yang sudah ditorehkan oleh sang mantan kekasih namun rasanya semua sama saja, rasa sakitnya tak kunjung mereda. Bahkan tangisan Anara semakin menjadi-jadi saja.
“AKU BENCI SAMA KAMU, DAVE! AKU BENCI BANGET SAMA KAMU! KAMU b******k! KAMU b******n!”
“Anara! Anara jangan teriak-teriak kayak gini, Nak. Jangan sakiti diri kamu sendiri, kamu harus lupain cowo b******k kayak Dave. Kamu harus bisa lupain dia dan kembali hidup normal, oke? Kamu bisa, kamu pasti bisa. Mamah sama papah urus kamu sampai dewasa kayak gini, sampai jadi anak yang cantik, yang pinter, yang mandiri supaya kamu enggak bergantung ke laki-laki. Kamu pasti bisa lewatin ini semua. Oke, sayang?”
Pada dasarnya memang seperti itu, bukan? Eva dan Damares sudah berjuang keras untuk menjadikan Anara yang terbaik, jadi jangan hanya karena cinta saja ia langsung lemah dan merasa tak berdaya. Jangan kalah sebelum perangnya dimulai. Anara pasti bisa. Anara pasti bisa melewati ini semua dengan baik.
“Anara sakit hati, Pah. Anara udah sayang banget sama Dave tapi ternyata Dave malah kayak gini, ternyata Dave malah jahat banget sama Anara. Anara udah kasih semua yang dia mau, Anara kasih kebahagiaan yang dia inginkan tapi lagi-lagi yang Anara dapatkan hanya kekecewaan, Pah,” adu Anara pada Damares. Terkadang memang keluarga bisa menjadi sahabat yang baik kala sahabat yang kadang kita sayangi dan percaya mengkhianati kita begitu saja. Rasa sakit banyak sekali terjadi, kekecewaan lagi-lagi menghampiri, dan nyatanya obat yang paling ampuh adalah keluarga lagi.
Damares seketika langsung memeluk erat putrinya dengan baik, membiarkan sang putri melimpahkan semua rasa sakit yang ia rasakan. Mengusap perlahan punggung kecil mungil yang semula bergetar hebat efek dari menangis tanpa henti. Mengecup singkat puncak kepala Anara sembari membisikan, “No prolem, Sweetie. I love you so much. Mamah sama papah ada di dekat kamu, gapapa kalau kamu enggak punya Dave lagi. Gapapa kalau kamu enggak punya Mikhaella lagi. Kita di sini akan selalu ada untuk kamu. Kamu selalu menjadi yang terbaik di hidup kami, Sayang. Sekarang kembali tegak dan tersenyumlah, jangan menunduk, nanti mahkotamu jatuh.”
Anara harus kuat, Anara jangan sampai lemah karena cinta saja. Hidup ini masih panjang, hidup ini masih banyak yang harus diperjuangkan dan jauh lebih pantas untuk diperjuangkan daripada cinta. Ayo, Anara pasti bisa. Anara pasti kuat. Memang tak semudah yang diperintahkan orang lain, mengatakan untuk secepatnya melupakan itu semua. Tapi semuanya memang harus dicoba, semuanya memang harus dimulai dari langkah kecil, setidaknya Anara memang harus melupakan Dave yang keterlaluannya bukan main itu. Dave yang dengan bejatnya mempermainkan hati Anara. Dave sangat tidak pantas untuk Anara. Dave tidak berhak mendapatkan setetes air mata lagi dari Anara.
Memangnya Dave siapa? Memangnya Dave seganteng apa sampai berhak mempermainkan Anara seperti ini? Dave sama sekali tidak tampan. Dave sama sekali tidak pantas diperjuangkan. Tak ada satupun kerja keras yang harus Anara lakukan demi pria tak bermoral seperti itu.
“Anara pasti bisa buat lupain Dave kan, Pah? Anara pasti bisa buat jadi ceria kayak dulu lagi? Enggak yang cengeng kayak sekarang.” Anara butuh keyakinan dari orang-orang di sekitarnya. Anara butuh dukungan dari sekelilingnya jika ia mampu dan ia memang bisa. Oleh karena itu Anara bertanya seperti ini kepada orang tuanya.
Damares hanya mengangguk dengan baik di saat sang putri bertanya seperti itu, bertanya seolah sedang meyakinkan diri untuk melupakan Dave yang sama sekali tak penting dalam kehidupannya, bahkan sangat b******k jika patut disampaikan.
“Kamu pasti bisa, sayang. Dave tidak berharga buat kamu. Dave tidak pantas buat kamu. Dia itu bukan siapa-siapa. Kamu sekarang fokus aja sama mimpi kamu, katanya kamu mau melanjutkan studi. Nanti papah yang akan handle perusahaan kamu sembari kamu studi. Jadi cewek yang kembali berwibawa dan disegani serta dihormati oleh semua orang.”
Pasti, itu semua memang sudah ada di dalam rencana Anara. Anara memang akan studi kembali. Anara akan memperhebat dirinya. Anara akan kembali dipandang sempurna oleh orang lain. Tak ada yang pantas merendahkan Anara sama sekali. Tak ada yang pantas meremehkan Anara juga.
“Iya, Pah. Anara akan melanjutkan studi Anara. Anara mau menjadi wanita berpendidikan yang berkarir. Anara mau kembali dipandang dan menjadi pribadi yang jauh lebih baik lagi. Intinya semua yang terbaik pastinya Anara mau. Papah jangan lupa doain Anara, ya. Anara butuh banget doa papah sama mamah serta dukungan dari kalian berdua untuk menjalani hidup ini. Ternyata emang hidup ini kejam ya, Pah. anara sampai enggak kuat ngejalaninya. Tapi karena ada papah sama mamah jadi Anara kuat lagi.”
Untuk pertama kalinya seorang ayah yang biasanya menjadi tulang punggung keluarga dan selalu berwibawa di depan semua orang seketika meneteskan air matanya, turut sedih dengan apa yang menjadi unek-unek sang putri masalah duniawi. “Hidup ini memang kejam, Nak. Tapi kamu bisa kok melewati ini semua dengan baik.”