Tahu tidak, apa yang lebih berat dari membenci seseorang? Jawabannya adalah membenci seseorang yang dulunya paling kita sayangi.
Sepanjang sore itu, Anara tidak produktif sama sekali. Dokumen di hadapannya sudah dibaca tiga kali dan tidak ada satu kalimat pun yang masuk ke kepala. Pesan dari Mikhaella itu seperti duri kecil, tidak mematikan, tapi mengganggu setiap kali ia bergerak.
Anara sudah mengetik balasan sebanyak empat kali. Balasan pertama: "Mau ngomong apa lagi sih?" Dihapus, terlalu kasar. Balasan kedua: "Gue gak ada waktu." Dihapus, terlalu kaku. Balasan ketiga: "Lima menit buat apa? Lo udah milih Dave." Dihapus, terlalu menyakitkan, bahkan untuk dirinya sendiri. Balasan keempat hanya satu kata: "Kapan?" Dihapus juga. Belum siap. Anara belum siap.
Memaafkan itu bukan tombol, bukan? Tidak bisa ditekan sekali lalu semua kembali seperti semula. Tamparan di malam pertunangan itu masih terasa di pipinya. Kalimat "cewek murahan" dari mulut sahabatnya sendiri masih terngiang di telinganya. Dan yang paling sakit, Mikhaella tidak bertanya dulu. Bertahun-tahun bersahabat, dan Mikhaella memilih percaya pada pria yang baru dua tahun dikenalnya.
Anara menaruh ponselnya terbalik di atas meja. Tidak hari ini. Hari ini ia tidak akan memikirkan itu.
Malamnya, dalam perjalanan pulang ke apartemen, mobil Anara tanpa sadar lewat depan mall yang biasa ia datangi berdua dengan Mikhaella. Lampu-lampunya masih sama, ramainya masih sama. Dulu, sesudah belanja capek-capek, mereka selalu mampir membeli boba, lalu duduk berjam-jam membicarakan apa saja yang tidak penting. Mikhaella dengan kacamata bundarnya, sibuk mengecat kuku di sela-sela obrolan, dan Anara yang selalu bertanya-tanya apa bagusnya kegiatan itu. Sekarang kursi sebelahnya kosong. Mobilnya terasa terlalu besar untuk satu orang.
Anara mengibaskan pikirannya jauh-jauh. Fokus ke jalan, Anara. Jangan melamun soal orang yang sudah memilih jalannya sendiri.
***
Keesokan harinya adalah hari pertama proyek gabungan: meeting pembuka dengan pihak Pratama Group, bertempat di kantor pusat mereka. Dan untuk pertama kalinya dalam sejarah, Anara dan Arga datang sebagai satu tim. Ajaib. Langit belum runtuh juga.
Di ruang meeting yang megah, perwakilan Pratama Group menyambut mereka berdua. Pemimpinnya seorang pria paruh baya bernama Pak Handoko, berkaca mata tebal, dengan senyum ramah yang tidak pernah lepas dari wajahnya.
"Akhirnya saya bisa melihat langsung dua bos muda yang proposalnya membuat tim saya berdebat seminggu penuh," ucap Pak Handoko sembari menjabat tangan mereka bergantian. "Silakan duduk, silakan."
Meeting berjalan dengan sangat tidak biasa. Biasanya kalau Anara dan Arga berada dalam satu ruangan, dalam lima menit pasti ada korban perasaan. Tapi kali ini, keduanya kompak sekali. Arga menjelaskan struktur proyek, Anara melengkapi dengan strategi. Arga bicara soal anggaran, Anara menyambung dengan jadwal. Seperti dua pemain tenis ganda yang sudah latihan bertahun-tahun.
Hanya satu kali hampir terjadi kecelakaan.
"Untuk tahap pertama, tim kami akan menangani sosialisasi, supaya proyek ini tidak ..." Anara berhenti sepersekian detik saat matanya tidak sengaja bertemu mata Arga. Hampir saja keluar kata tengil. Anara menelan ludah. "... tidak tenggelam oleh isu-isu liar."
Arga di sebelahnya menunduk menahan sesuatu. Bahunya bergetar halus. Kampret. Pria itu pasti tahu kata apa yang tadi hampir keluar dari mulut Anara.
Pak Handoko lalu melempar pertanyaan yang cukup menjebak. "Kalau nanti di tengah jalan ada perbedaan pendapat antara dua perusahaan kalian, bagaimana cara kalian menyelesaikannya? Proyek sebesar ini rawan sekali gesekan."
Anara dan Arga saling melirik sepersekian detik, lalu Arga menjawab lebih dulu. "Semua perbedaan pendapat kami bawa ke meja meeting, Pak, bukan ke lapangan. Ada jalur eskalasi yang sudah kami sepakati di kontrak. Keputusan akhir selalu berpihak ke data, bukan ke ego."
"Dan kami sudah punya jadwal evaluasi rutin tiga hari sekali," sambung Anara mulus. "Jadi api tidak akan sempat jadi besar. Kami padamkan saat masih kecil."
Padahal yang punya ego paling besar sedunia ya dua orang ini. Tapi biarlah, namanya juga jualan ke klien. Pak Handoko mengangguk-angguk puas, mencatat sesuatu di mapnya dengan senyum lebar.
Usai presentasi, Pak Handoko bertepuk tangan pelan dengan wajah kagum. "Luar biasa. Kalian ini sebenarnya cocok sekali, ya. Kalau saya tidak tahu ceritanya, saya pasti mengira kalian partner lama. Seperti duo yang memang sudah seharusnya bekerja sama."
"TIDAK."
Jawaban serentak itu menggema di ruang meeting. Anara dan Arga saling melirik dengan tatapan jijik yang sama, lalu sama-sama memalingkan wajah. Pak Handoko tertawa kebingungan, mengira itu lelucon khas anak muda.
"Baiklah, baiklah. Yang penting proyek ini jalan." Pak Handoko menutup mapnya. "Minggu depan kita mulai tahap pertama. Saya tunggu kabar baik dari duo ini."
Duo. Ya ampun. Seumur hidupnya Anara tidak pernah menyangka akan masuk satu paket dengan Arga Satria Megantara. Kalau ada yang memberitahu hal ini ke Anara setahun yang lalu, pasti orang itu sudah ia suruh periksa ke dokter.
Di parkiran, sebelum masuk mobil masing-masing, Arga sempat menoleh. "Kerja bagus, Nona. Tadi hampir saja Anda menyebut klien kita tengil."
"Hampir. Untung gue profesional."
"Sayang sekali. Saya sudah siap-siap mau tertawa."
"Senyum aja lo jarang, apalagi tertawa." Anara membuka pintu mobilnya. "Sampai ketemu minggu depan, Pak Partner. Jangan telat."
Arga menggeleng-geleng sambil tersenyum, dan mobil mereka melaju ke arah yang berlawanan.
***
Sore menjelang maghrib, Anara kembali ke kantornya untuk mengambil berkas yang tertinggal. Lobi gedung sudah sepi, lampunya menyala setengah, tinggal satpam yang berjaga di posnya.
Namun ada satu orang lagi di sana.
Di sofa sudut lobi, duduk seorang wanita dengan kacamata bundar yang tidak asing lagi. Wanita itu berdiri begitu melihat Anara masuk, kedua tangannya saling menggenggam erat, gugup seperti orang mau sidang skripsi.
Mikhaella Anceline. Dalam bentuk aslinya. Bukan lewat pesan singkat, bukan lewat kenangan, tetapi berdiri di sana, di lobi kantor Anara, dengan mata yang langsung berkaca-kaca begitu mereka bertatapan.
Langkah Anara terhenti di tengah lobi. Jarak mereka hanya beberapa meter, tapi rasanya seperti dipisahkan lautan. Semua kata yang sudah Anara siapkan di kepala sejak kemarin sore menguap begitu saja.
"Ra ..." Suara Mikhaella bergetar. "Maaf, gue tahu gue enggak boleh dateng tiba-tiba kayak gini. Tapi lo enggak bales pesen gue, dan gue ... gue enggak tahan."
Anara diam. Kakinya ingin berbalik pergi, tapi entah kenapa tidak bergerak.
"Lima menit, Ra." Mikhaella mengangkat lima jarinya, persis seperti di pesannya kemarin. "Gue janji, lima menit aja. Abis itu kalau lo suruh gue pergi, gue pergi. Kalau lo enggak mau ketemu gue lagi seumur hidup, gue terima. Tapi tolong, lima menit ini aja."
Satpam di posnya pura-pura sibuk menatap monitor CCTV, walaupun kupingnya jelas-jelas mengarah ke sofa sudut lobi. Dasar. Orang Indonesia memang paling tidak bisa kalau ada drama gratis.
Anara menatap wajah sahabatnya itu lama sekali. Wajah yang dulu setiap minggu ada di sampingnya, tertawa di mall, berantem karena warna baju, mabuk boba berdua. Wajah yang terakhir kali ia lihat penuh amarah dan air mata di malam pertunangan itu.
"Kafe lobi masih buka sepuluh menit," ucap Anara akhirnya, datar. "Lima menit. Enggak lebih."
Mata Mikhaella langsung bersinar, seperti orang yang diberi seberkas cahaya di ujung lorong gelap. "Makasih, Ra. Makasih."