"Sa? Kenapa kok belum siap-siap?" tegur Mami Tiara, saat melewati kamar milik putrinya itu, dan melihat sang putri satu-satunya tersebut masih bersantai-santai di atas kasur.
Niat hati sebelumnya untuk mengambil sepasang sepatu miliknya yang ada di rak sepatu kaca, di sebelah kamar putrinya tersebut.
"Gak lupa kan? Kalau hari ini acara pernikahannya Adelio?" tanya Mami Tiara, lagi. "Bukannya undangannya juga udah kamu baca?" sambung Tiara kemudian.
Mami Tiara masih saja menunggu jawaban putrinya itu di ambang pintu, tetapi yang ditanya hanya merespon dengan gedikan bahunya saja. Seolah-olah pertanyaan dari sang mami adalah hal yang tak penting. Kepentingan hatinya adalah sedang patah hati dan cinta.
"Sasa?" panggil ulang Mami Tiara, dengan nada yang sedikit dinaikkan. Ada nada gemas di sana.
"Mami sama Ayah, aja deh yang ke sana, Mi."
Tiara tampak mengernyitkan dahinya. Bukannya dia tidak paham akan perasaan yang dimiliki oleh putrinya itu. Namun, Tiara juga tidak menyangka jika pernikahan Adelio dan jodohnya itu, berhasil membuat seorang Tissa down.
"Kenapa? Gak enak loh, Sa. Adelio bukannya lebih akrab sama Sasa. Gimana pendapatnya kalau misal ya, Sasanya sendiri aja gak hadir ke sana juga?" tukas sang mami sedikit menjelaskan.
Ngapain mikir gak enaknya dia. Dia menikah aja juga enak-enak aja tanpa mikirin perasaanku. Batin Tissa mendumel dengan muka ditekuk masam.
"Tissa Putri Kalandra?!" panggil Tiara semakin gemas lagi.
"Iya, Mami sayang."
"Buruan siap-siap. Kami tunggu di bawah, ya?" perintah Tiara lagi.
Namun, Tissa hanya menggelengkan kepalanya saja.
"Kalian saja yang berangkat. Sasa di rumah aja," tolak Tissa dengan nada cuek. "Sasa kirim doa saja dari sini."
Semoga segera menduda. Lanjutnya dalam hati Tissa.
"Gak sopan, Sa. Apa jawaban Mami nanti, kalau Adelio tanyain Sasa?"
Tissa tampak mencibirkan bibirnya, pertanda meremehkan ucapan dari maminya tersebut.
"Gak papa mah, Mi. Sasa gak datang pun, Mas Leo juga gak akan tahu. Dan gak akan nyari juga," tukasnya kemudian.
"Kalau lihat Ayah Mami ada datang, ya pasti Adelio tahu, Sa."
"Percaya dah Mi. Sekarang loh sama wajah Sasa yang gimana juga, gak akan ingat itu orang," pungkas Tissa sambil meraih ponsel miliknya yang berada di atas nakas. Bahkan dengan santainya berselancar pada layar benda persegi panjang tersebut.
Tiara tampak menghela napas panjangnya. Kemudian ia pun melangkahkan kaki untuk mendekati ranjang tidur milik putrinya itu.
"Kecewa itu boleh, Sa. Tapi ... kalau bisa jangan terlalu diperlihatkan begini," ucap Tiara dengan nada lembut dan pelan, setelah mendudukkan dirinya di tepian ranjang tersebut.
Mendengar wejangan sang mami, Tissa pun tampak terdiam dan membiarkan ponsel yang telah aktif itu diam begitu saja.
"Mami tahu, kalau Sasa itu dari lama suka banget sama Adelio. Tapi kalau pada kenyataannya rasa suka itu akhirnya tidak bisa terbalas, kita juga harus siap untuk kecewa."
Tissa akhirnya meletakkan kembali benda tipis persegi tersebut, ke atas nakas. Setelah menghela napas pelan dan mengembuskannya secara perlahan juga, ia pun melemparkan tatapan matanya ke arah sang mami. "Mas Leo yang bikin Sasa begini, Mi. Kalau misalnya dari awal gak suka Sasa, lebih baik kan jangan kelewatan baik sama Sasa juga. Perhatiannya itulah yang selama ini bikin Sasa berharap lebih," ucapnya dengan nada sendu.
Tiara terlihat membelai rambut panjang sepunggung milik sang putri. Sebenarnya di dalam hati wanita yang telah berumur empat puluh tahunan lebih itu, ada perasaan sedih dan terenyuh juga. Melihat putri satu-satunya tersakiti oleh perasaannya sendiri.
"Kalau menurut Mami, Adelio sayang sama Sasa itu, memang karena selalu menganggap Sasa ini adalah adik kecilnya yang sudah ia kenal dari masih balita. Jadi, mindset tersebut udah susah untuk dirubah olehnya, Sa." Tiara berusaha menjelaskan dengan bijak dan hati-hati.
"Jadi ... yang salah ini, Sasa, gitu ya?" tanya Tissa dengan nada getir. Terlihat sekali wajahnya yang menampakkan gurat-gurat kecewa dan penyesalan.
"Enggak salah. Dan gak ada yang salah," sahut Tiara dengan jelas.
Tissa pun tampak terdiam sejenak. "Padahal kemarin-kemarin sama Ayah, Sasa itu sudah janji buat baik-baik saja. Bahkan akan segera melupakan pria tua itu secepatnya. Tapi nyatanya, kok susah sekali ya, Mi?" keluhnya dengan nada sedih.
Tiara pun meraih telapak tangan kiri putrinya tersebut, lalu mengelusnya dengan lembut.
"Pelan-pelan saja. Jangan terlalu dipaksakan juga buat buru-buru lupa. Semua juga kan butuh proses. Apalagi itu adalah rasa yang udah menumpuk selama bertahun-tahun. Gak mungkin kan, bisa dengan cepat menetralkannya," tutur Tiara, lagi-lagi dengan pendapat dan wejangan yang bijak.
Dalam diamnya itu, Tissa pun tampak menganggukan kepalanya dengan pelan. Ucapan maminya itu ada benarnya juga. Siapa sih yang tahu perasaan hati. Mau jatuh cinta pada siapa pun itu sudah takdir. Namun, lagi lagi bagaimana manusia itu mengontrolnya.
"Sasa usahakan deh, Mi."
Mendengar ungkapan Tissa, maminya itu pun tampak menganggukkan kepala. "Masih ada Mami, ada Ayah juga. Kalau mendapat kesedihan dari luar, tetap orang atau keluarga dalam juga, tempatnya kita pulang."
Tampak Tissa menghela napas pelan. Mencoba menetralisir kegalauan yang ia punya. Beruntungnya ia mempunyai seorang ibu yang bijak dan pengertian walaupun ada kalanya, sang mami lebih suka membully juga.
"Kok belum siap-siap, Sayang?" tegur Aksa dengan tiba-tiba, yang saat itu ternyata sudah berada di ambang pintu kamar milik Tissa. "Kita jadi gak ke undangan nih? Kok malahan asyik bergibah di sini," sambungnya lagi.
Tissa yang merasa mendapat teguran pun langsung angkat suara, "Sasa gak ikut, Yah. Ayah sama Mami aja yang ke sana," ucapnya kemudian.
Waktu juga sudah sangat mepet sekali. Bahkan Tissa pun juga belum ada mandi dan berdandan layaknya perempuan yang akan menghadiri undangan pesta pernikahan. Sedangkan di sisi lain, sang mami dan ayahnya, sudah tampak terlihat rapi dan siap untuk segera berangkat.
"Loh---"
"Kita berangkat berdua saja, Bang." Dengan cepat, Tiara pun memotong ucapan suaminya tersebut.
"Sasa gimana?" tanya Aksa, ragu.
"Nanti aja di jalan, aku kasih tahu. Di rumah juga ada Aska dan Fasya. Biar saja mereka di rumah," jelas Tiara, sambil menepuk punggung telapak tangan kiri putrinya itu, dan kemudian segera beranjak berdiri.
"Kami tinggal kalau gitu ya, Sa. Sekalian jagain adik-adiknya," lanjut Tiara mengalihkan pembicaraannya pada Tissa.
Tissa yang mendapat mandat pun langsung menunjukkan ibu jari kanannya, tanda mengerti. "Baik, Mi."
"Beneran, gak mau ikut, Sa?" tanya Aksa mengulang.
"Enggak, Yah. Takut maskara dan bedak Sasa nanti luntur, kalau maksa buat datang ke sana."
"Pakai masker saja kalau gitu," sahut Ayah Aksa memberi solusi yang sebenarnya tidak berguna juga.
"Kalau cuma luntur bedaknya saja gak papa, Bang. Takutnya anak kamu itu pingsan di sana, kita juga yang repot nantinya." Tiara pun ikut menyahut, setelah itu tampak menarik lengan kanan sang suami, untuk segera keluar dari kamar anak sulungnya tersebut.
"Jangan lupa mandi, Sa. Makan juga. Ingat, bersedih itu juga perlu tenaga." Tiara yang sudah melangkahkan kaki sampai di depan pintu kamar pun, masih menyempatkan diri untuk berseloroh menggoda sang putri.
"Anak sedih, kok malahan digodain sih, Ra."
Tinggallah Tissa sendirian di dalam kamar tersebut. Mendengar ucapan dari maminya barusan, tidak menyurutkan kegalauan yang ada di dalam hatinya.
Sebenarnya ada hal lain yang membuat Tissa enggan untuk datang ke acara pernikahan pria yang ia cintai itu. Yaitu, perkara lain dengan adiknya Adelio, Juna.
Ucapan suka yang diutarakan oleh Juna beberapa hari yang lalu di saat Tissa diantar pulang ke rumah, cukup membuat Tissa terganggu.
Masalahnya, di dalam hati Tissa tersebut, sedikit pun tidak ada perasaan lebih untuk Juna. Bahkan Tissa pun tidak pernah berharap atau pun menyangka, jika Juna mempunyai perasaan suka untuknya.
"Gak usah dijawab sekarang, Sa. Pikir-pikir saja dulu, selama yang kamu mau. Asal jangan tolak diriku ya ...."
Ucapan yang lebih cenderung ke paksaan tersebut, tentu saja membuat Tissa tidak nyaman di hati.
Dan lebih menggemaskan hatinya, belum juga Tissa memberikan alasan, Juna sudah mengambil langkah untuk berpamitan dengan alasan masih ada pekerjaan.
Dan juga karena alasan dari ucapan Juna itulah, mulai saat itu Tissa sudah tidak pernah lagi menginjakkan kakinya ke cafe atau pun rumah Adelio lagi. Selain untuk menghindari Adelio, Tissa juga enggan untuk bertemu dengan Juna dalam waktu dekat.
Baru saja Tissa menjejakkan kedua kakinya ke lantai, suara nada pesan masuk ke dalam ponselnya.
Dengan malas-malasan, Tissa pun tampak meraih benda pintar tersebut. Dan segera membuka pesan setelah membaca sebagian pada notifikasinya.
Sasa, kok belum sampai juga?
Acara akad nikahnya sebentar lagi ini.
Aku tunggu kamu, ya.
Pesan yang dikirim oleh Juna, berderet-deret tampak masuk pada aplikasi hijau milik Tissa. Bukan Adelio lagi.
Bahkan hingga saat itu, di dalam hati Tissa masih berharap, jika Adelio masih ada atau pun mau memberikan perhatian seperti dahulu. Namun, itu tidak akan mungkin.
Aku di rumah, Kak. Ayah Mami yang datang ke sana.
Itulah jawaban yang akhirnya terkirim dari Tissa. Malas sekali dirinya untuk berbasa basi.
Kenapa, Sa?
Kamu sakit?
Dengan cepat balasan ke berikutnya pun diterima oleh Tissa, dari Juna. Andaikan Adelio masih seperhatian seperti juga padanya, Tissa pastikan, dirinya adalah gadis yang berbahagia.
Iya.
Cukup singkat dan padat, Tissa membalas balik. Bukannya ia berbohong. Baginya, di saat ini dirinya memang sedang sakit. Sakit hati tentunya.
Oke. Aku ke sana ya?
Aku bawakan obat dan makanan sekalian.
Tissa terang saja langsung menggelengkan kepala tidak habis pikir. Bisa-bisanya di acara sakral kakak kandungnya, Juna berniat kabur hanya untuk menjenguk dirinya yang sedang sakit pura-pura.
Gak perlu, Kak.
Gak ada Ayah dan Mami juga di rumah. Aku enggak bisa terima tamu, siapa pun itu.
Udah ya. Aku mau istirahat lagi.
Sampaikan salam aku, buat Mas Leo dan istrinya.