Pertama, mari kita masuk ke sesi perkenalan terlebih dahulu. Namanya adalah Scarlett George Wastatirta, bisa dipanggil Scarlett, Arlett atau apapun, asal jangan Wastatirta aja soalnya Papihnya galak. Tahun ini genap berusia dua puluh empat tahun, sudah berkarir sebagai fashion designer dengan hasil jerih payahnya sendiri, punya butik sendiri dan sudah pernah mengadakan fashion show dengan nama brand nya sendiri. Iya, dan saking seringnya sendiri, Scarlett juga sampai sekarang masih sendiri alias jomblo, eh salah, single. Sebenarnya bukan salah Scarlett kok, Scarlett sudah banyak membawa pacarnya ke hadapan Papihnya, eh malah langsung pada ditolak sekaligus dikasih duit buat balasan supaya mutusin hubungan mereka. Aduh, Scarlett jadi bingung jodohnya ada dimana kalo papihnya begini.
Tapi tunggu, itu adalah cerita beberapa waktu lalu. Karena sekarang Scarlett sudah punya Mas pujaan hati. Iya, Mas pujaan hati. Namanya Masyaa Allah. Eh engga, salah. Namanya Sagara Tirta Agung, cocok kan mereka? Sama-sama ada Tirta-nya? Aduh Scarlett jadi salting. Oke lanjut, jadi Sagara adalah supir pribadi Scarlett yang baru bekerja selama kurang lebih tiga bulan lamanya. Iya, tiga bulan setelah Scarlett menabrakkan mobil Papihnya ke pintu pagar depan rumah saat tengah malam, saat itu Scarlett baru pulang dari butiknya. Untungnya Scarlett tak kenapa-napa, Scarlett menabrak karena kelelahan karena harus mengejar target kerjanya yang sudah molor hampir seminggu lamanya, biasa anak perawan, mageran.
Jadi, karena Papihnya yang tampan dan mempesona -- meski sudah tua -- itu khawatir padanya, datanglah Mas pujaan hati sebagai supir pribadinya yang bersedia mengantarnya kapanpun dan kemanapun. Scarlett sih oke oke saja, apa lagi Mas pujaan hati itu manis sekali. Scarlett suka senyum-senyum sendiri kalau lihat Mas pujaan hati tersenyum padanya, padahal kan Mas pujaan hati emang ramah dan suka tersenyum saja. Lesung pipi disebelah pipinya, mata bulatnya yang menyipit, alis tebalnya dan hidung mancungnya Mas pujaan hati sukses membuat Scarlett jatuh hati pada pandangan ketiga. Iya, ketiga, soalnya biar out of the box aja sih.
Scarlett tau sih kayaknya Papih engga bakal kasih restu soalnya selera Papih kan ketinggian, tapi kan kali ini Scralett serius ingin membangun rumah tangga sama Mas pujaan hati. Padahal aslinya dia engga tau Mas pujaan hati jatuh hati juga apa engga sama dia. Scarlett sih harus positive thinking, iya positive thinking kalo Mas pujaan hati tuh udah jatuh cinta sama dia. Ga canda.
Akhirnya berbekal ke-positive thinking-an itu, Scarlett memberanikan diri untuk confess -- aduh bahasanya hits sekali -- ke Mas pujaan hati. Iya, sekarang nih, kayaknya waktunya tepat soalnya mereka berdua lagi duduk sambil makan di warung bakso pinggir jalan di sore-sore yang gerimis ini. Scarlett melihat Mas pujaan hati yang lagi asik ngunyah bakso didepannya, aduh jadi gemes sama Mas pujaan hati yang pipinya menggembung sebelah. Omong-omong sekadar informasi saja ya, Mas pujaan hati ini baru berusia dua puluh tahun. Aduh Scarlett jadi makin salting kalo ingat dia yang suka berondong kayak Mas pujaan hati ini.
"Mas?"
Sebenarnya kan, Scarlett harusnya manggil Adek gitu kan ya, tapi karena Mas pujaan hati ini calon suaminya, Scarlett jadi harus sopan kan? Iya, walaupun jadi calon suaminya masih nanti, kan latihannya sudah harus dari sekarang.
Mas pujaan hati --oke karena kepanjangan kita ubah jadi nama saja.
Sagara mengangkat kepalanya dan menatap Scarlett dengan pandangan tanya. "Kenapa Mbak?"
"Gimana kalo gue bilang gue suka sama Mas Syah?"
"Uhuk!" Sagara menerima sodoran gelas es jeruk dari Scarlett lalu meminumnya cepat hingga tersisa separuh. "Gimana mbak?"
"Iya, gue suka sama lo. Gimana dong?"
"Iya... Saya ngga tau mbak." Jawab Sagara ragu sambil menggaruk keningnya bingung.
Scarlett terkekeh mendengar jawaban ragu itu. "Maksud gue, lo, suka juga ngga sama gue?"
"Saya?"
Scarlett mengangguk saat melihat Sagara menunjuk dirinya sendiri. Sagara menarik napas panjang, pertanyaan tiba-tiba dari Scarlett berhasil membuat jantungnya berdegup kencang.
"Saya ngga tau mbak."
Scarlett mengangguk mengerti. "Iya sih, gue juga ngga tau, Mas."
Sagara menghela napas lagi. Sebenarnya debaran kencang di dadanya ini sudah bisa menjelaskan, kan? Tapi Sagara tau dia tidak bisa, dia tau dia tidak boleh. Mereka terlalu berbeda, Sagara tidak berani mengambil langkah nekat dan mengkhayal kalau dia bisa memiliki wanita sempurna didepannya ini. Dia hanya supir, tidak pantas bersanding dengan Scarlett.
"Tuan tidak akan setuju, mbak."
Ucapan pelan dari Sagara berhasil membuat Scarlett menghentikan kunyahan nya. Matanya teralih dari mangkuk bakso didepannya menjadi kearah Sagara yang juga memandanginya dengan senyum manisnya seperti biasa.
"Maksudnya?"
"Maksud saya, tuan tidak akan menerima kita bersama."
Scarlett meneguk begitu saja sisa bakso di mulutnya lalu tersenyum lebar pada Sagara. "Jadi maksud lo, lo juga suka sama gue?!"
Akhirnya Sagara memilih mengakui. Percuma juga walau menyangkal, setidaknya dia sudah mengungkap walau nanti tetap tak bisa bersama.
Sagara mengangguk membenarkan. "Iya, apa itu istilahnya? Love at first sight? Tiga bulan yang lalu ya, mbak?"
Scarlett tersenyum makin lebar. "Demi apa? Gue kira gue jatuh sendirian."
"..."
"Kenapa ngga lo bilang? Kenapa harus gue duluan sih yang confess?!" Scarlett beralih protes saat mengingat kalau tadi dia duluan yang confess ke Sagara tadi, aduh harga dirinya.
Sagara mengelus tengkuknya sungkan. "Saya duluan? Ya ngga berani atuh mbak. Saya kan cuma supir."
Scarlett menghela napas. "Kayanya kisah kita bakal kaya ftv, deh."
"Eh? Kok?"
"Lah? Kenapa ngga bisa? Lo ngga mau gitu nikah sama gue?!" Tanya Scarlett nyolot, matanya saja sampai melotot.
"Ya ngga mau lah mbak."
"Apa?!"
"Iya, ngga mau nolak." Jawab Sagara sambil nyengir.
Scarlett menepuk kening Sagara. "Kesel gue lama-lama sama lo."
Sagara mengelus keningnya yang terasa panas, tepukan Scarlett ternyata tidak main-main. "Maaf, mbak. Saya cuma ngga yakin kalau kita bisa sampai menikah. Mungkin, ini cuma rasa sementara yang menghampiri mbak karena kita sering bertemu, kan?"
Scarlett memutar bola matanya malas. Selain suka bersabar, Sagara juga ternyata suka merendahkan diri. "Lo ngga yakin kalau gue beneran suka sama lo? Gitu?"
Sagara mengangguk. Emang benar, kan? "Mbak kan cuma sekadar suka sama saya."
"Lo?"
"Saya? Sudah terlalu dalam kayaknya. Makanya saya berani jujur dan akan segera mencoba melupakan."
"Eh jangan!" Scarlett tiba-tiba saja menggebrak meja. "Jangan dilupain dulu dong! Kan engga bertepuk sebelah tangan! Gimana sih?!"
Sagara mengelus dadanya yang berdebar lebih cepat kali ini. Dia terkejut karena gebrakan meja tadi. "Tapi percuma juga mbak, kita ngga mungkin bisa bersama."
"Gue cinta! Cinta sama lo, b**o!" Ucap Scarlett kesal sambil menunjuk Sagara tepat di kening. "Menurut lo kenapa selama ada lo gue masih jomblo, hah? Lo pikir gue nggak laku apa?!"
Sagara menggeser telunjuk Scarlett, lalu digenggamnya tangan si ibu bos yang emosian ini sampai napasnya rada membaik. "Maksud saya, ibu bos, kita tidak akan berhasil. Percuma kita pertahankan, jadi lebih baik sudahi saja selagi belum banyak yang tau."
"Ya dong harus gimana kalau gue ngga mau? Lo siapa berani nyuruh nyuruh gue?" Ucap Scarlett sambil menarik tangannya dari genggaman Sagara. Mukanya sih sok kesal, padahal hatinya sudah ketar-ketir, karena demi apapun genggaman tangan Sagara hangat sekali.
"Iya saya memang bukan siapa-siapa mbak. Makanya saya mau mundur."
"Ini nih yang gue pikirin sejak tiga bulan lalu. Kok gue bisa suka sama ABG labil kayak lo, sih?"
"Aduh iya." Ucap Sagara sambil nyengir.
Bola mata Scarlett memutar pelan. "Pokoknya gue ngga mau tau. Lo harus perjuangin gue didepan Papih."
"Aduh mbak. Jangan yang aneh-aneh dong, kalau saya dipecat gimana?"
"Ya tinggal pergi aja, kan?" Jawab Scarlett santai.
"Iya, tapi nanti saya jadi ngga bisa lihat mbak lagi. Mbak juga jadi ngga bisa ketemu saya."
Ucapan Sagara berhasil membuat Scarlett berpikir. Eh ternyata benar juga. Kan kasihan dia jadi galau kalau ditinggal Mas pujaan hati. Aduh, udah kelihatan aja bucinnya.
"Ya jadi harus gimana dong?"
"Saya ngga berani, mbak." Cicit Sagara.
Scarlett mendengus. "Ngomong sama lo kayaknya cuma bikin darah gue naik doang."
Sagara tersenyum saja lalu lanjut memakan baksonya yang masih tersisa separuh. Sementara Scarlett juga ikut melanjutkan makannya meski dengan isi kepala yang bercabang kemana-mana.
"Mas Syah?"
"Apa mbak?"
"Panggil Arlett aja coba."
"Engga berani mbak." Gelengan kepala diberikan Sagara sebagai bentuk penolakannya.
"Gue maksa!" Dibalas pelototan tajam penuh paksaan dari Scarlett.
Akhirnya Sagara mengangguk meski tak berkata apapun. Merasa puas dengan jawaban Sagara, Scarlett kembali tersenyum lalu beralih meminum es jeruk miliknya. "Mas, kayaknya gue ngga pernah tau cerita tentang lo, deh."
"Emang mau cerita yang mana?"
"Keluarga? Atau, alasan lo kerja disini? Atau, cerita hidup lo?" Scarlett mengedikkan bahunya. "Kalau diinget, gue emang ngga tau apa-apa tentang lo."
"Saya mulai dari keluarga saya, ya?"
Scarlett mengangguk antusias. Sebenarnya alasan lain kenapa dia bisa jatuh hati, eh salah, jatuh cinta pada Sagara adalah karena kedewasaannya. Sagara selalu bisa menghormati dan mengayomi nya disaat yang bersamaan, berhasil membuat Scarlett nyaman dan merasa aman didekatnya.
"Saya punya satu kakak, satu adik dan ibu. Ayah saya sudah meninggal satu tahun yang lalu. Kakak saya sekarang sedang berkuliah dan adik saya sekarang masih kelas dua belas sekolah menengah atas. Alasan saya bekerja disini? Karena saya perlu membantu ibu membiayai pendidikan kakak dan adik saya. Kalau tentang saya? Saya lulusan D1 teknik informatika. Sengaja hanya mengambil D1 karena biaya yang tidak memadai jika saya egois. Tapi sekarang saya terdampar disini sebagai supir pribadi nyonya Scarlett padahal jurusan saya sangat berbanding terbalik dengan pekerjaan saya sekarang." Sagara mengakhiri penjelasan sambil mengangguk singkat dan meminum es jeruknya hingga tandas.
"Oh gitu, kakak lo kuliah dimana emang?"
"Disini."
"Kok gue ngga pernah liat lo nemuin kakak lo, sih?"
"Jurusan Fashion, kampus Wastatirta, sekarang lagi magang di butik As'Scarlett."
Scarlett angguk-angguk kepala, ceritanya dia mengerti. Tapi kemudian mendelik pada Sagara yang kini terlihat menahan tawa ditempatnya. "Di butik gue dong?!"
"Emang iya?"
"Aslinya lo nyebelin sumpah. Tapi lo asik." Ucap Scarlett ngawur. "Siapa? Ada tiga deh kalo ngga salah yang magang."
"Alira."
"Alira?"
Sagara terlihat berpikir sebentar. "Bentar, namanya agak susah diinget."
Scarlett terkekeh. "Emang iya?"
"Karena anak cewek sendirian, namanya dikasih yang ribet sama Ayah." Jawab Sagara.
Scarlett mengangguk. Agak heran sebenarnya, orang Desa seperti Sagara pun sebenarnya tidak kalah modern dengan mereka. Tapi sedikit banyak Scarlett bersyukur, dia jadi banyak belajar dari Sagara.
"Gilora Salsadhia Kasalira?" Ucap Sagara tak yakin.
"Kenapa lo jadi natap gue gitu?"
"Gue lupa. Gitu deh intinya. Ada Kasalira nya kalau ngga salah."
"Oke wait." Scarlett membuka ponselnya dan membuka satu persatu data mahasiswa yang magang ditempatnya. "Ketemu! Yang pakai hijab kayak gue, kan? Di butik dipanggilnya Alora soalnya."
"Namanya Gialora Salsabila Kasalira, lagian sih." Lanjut Scarlett saat membaca nama dari biodata di ponselnya.
"Engga ngerti lagi sama namanya. Ribet banget, heran."
Scarlett tersenyum gemas saat menyadari kalau Sagara sudah bersikap santai padanya. Tangannya berpindah dari ponsel kepuncak kepala Sagara untuk mengacak rambut pendek itu. "Lucu banget sih, lo. Fiks anak gue bapaknya harus lo."
"Mbak--"
"Arlett!" Potong Scarlett kesal.
"Oke, Arlett. Kita tidak boleh memaksa--"
"Shut!" Scarlett memotong lagi kalimat Sagara. "Bagian itu biar jadi bagian gue. Lo udah, engga usah ikut mikir. Apalagi ikut overthinking."
Sagara akhirnya mengangguk menurut. Mau bagaimanapun, Scarlett tetap ibu bos nya. Dia tetap harus sopan meski sudah terlanjur berbicara santai sedari tadi.
"Kalo adik lo namanya siapa?"
"Raka."
"Raka doang?"
"Garaka Giotara? Saya sudah lupa juga."
Scarlett mendengus sambil memutar malas bola matanya. Aduh sudah tidak tau berapa kali dia memutarkan bola matanya, semoga saja tidak copot dan menggelinding di lantai, hih.
"Emang rada engga guna ngomong sama lo. Udah ah, yuk pulang."
Sagara mengangguk lalu berjalan lebih dulu ke mobil, mengambilkan payung untuk Scarlett sementara si empunya nama bergerak ke kasir untuk membayar. Sagara berniat mengambil payung karena gerimis tadi sudah berubah menjadi tetes hujan yang lebih besar dan lebat.
Kala keluar dari warung bakso, Sagara memandangi langit yang menurunkan titiknya dengan pandangan menerawang. Semoga pilihannya untuk berkata jujur pada Scarlett hari ini tidak berimbas buruk kedepannya, itu bisik doanya pada Tuhannya di atas sana.
____