Tante Sara begitu gelisah, ia terlihat mondar mandir di halaman rumahnya. Sesekali ia melirik kearah kami. Aku dan Alvin yang sedang bermain tak jauh dari rumah mereka. Ia memandang tak suka ke arahku. Aku tidak tau kenapa ia sangat membenci ku dengan ibu.
"Alvin masih aja bandel udah dilarang berkali-kali jangan main dengan anak janda itu masih aja tidak mendengar." Jerit Tante Sara kearah Om Erwin yang duduk tak jauh darinya.
"Biarkan saja mereka bermain. Mereka masih anak-anak" sahut Om Erwin yang mencoba menenangkan Tante Sara.
Om Erwin merupakan sosok yang baik, bijaksana. Sangat berbanding terbalik dengan Tante Sara. Om Erwin tidak pernah melarang ku bermain dengan Alvin.
"Ini semua karena papa yang ingin tinggal di daerah ini. Pokoknya setelah Alvin naik kelas tahun ini kita pindah cari tempat lain." Sewot Tante Sara sambil melangkah kearah kami bermain. "Vin udahan mainnya. Duhhh... kamu keringatan." seru Tante Sara sambil menarik tangan Alvin masuk menuju kerumahnya.
"Mama Alvin masih mau main " Jerit Alvin meronta-ronta melepaskan diri dari genggaman mama nya.
"Udah masuk. Jangan memberontak." Tegas Tante Sara.
Aku segera berlari kerumah menghampiri Ibu ku. Aku masih sempat melihat Alvin meronta-ronta melepaskan diri dari genggaman Tante Sara.
"Ibu, Tante Sara kenapa selalu melarang Alvin main dengan Adilla? Padahal Adilla tidak nakal." Lirihku sambil memeluk ibu.
"Mungkin Tante Sara takut jika Alvin sampai jatuh sakit, bolos sekolah, pelajaran banyak tertinggal karena keasyikan bermain. Adilla juga tidak mau kan Jika Alvin sampai tidak naik kelas. Adilla juga tidak boleh main terlalu lama. Ibu takut jika nantinya Adilla jatuh sakit. Ibu jadi sedih. Adilla tidak mau kan ibu sedih?" Jelas ibu dengan lemah lembut.
Ibu mengelus lembut pipi mungilku sambil menghapus keringat yang mulai mengering dari dahiku. Aku hanya terdiam mencoba memahaminya. Mencoba menggambarkan senyuman kecil di bibirku. Agar ibu tak terlalu kawatir denganku.
"Adilla mandi dulu ya Ibu. Adilla bau keringat."
"Iya sayang. Udah masuk, hari sudah sore."
Aku masuk kedalam rumah, menuju kamar tidurku.
Aku dan Alvin masih anak-anak. Walaupun mamanya melarang bermain denganku kami akan tetap bermain bersama.
"Alvin kejar aku!" Sorakku sambil berlarian di halaman kelas.
Aku, Alvin dan beberapa teman sekelas main kejar-kejaran dengan hiruk-pikuk. Aku terus berlari mencoba menghindari orang-orang yang mengejar. Kamu bersorak gembira, kami masih anak-anak, kami anak kecil.
"Duhhh...!!!" Jeritku kesakitan saat tersungkur di halaman kelas.
Lutut berdarah karna terjatuh di atas bebatuan kecil yang ada di halaman sekolah. Teman-temanku menghampiriku mereka mengelilingiku.
"Ayo bawa ke UKS beri pertolongan pertama." Seru salah satu dari mereka.
Alvin dengan sigapnya membantu ku berdiri beberapa teman lainnya juga ikut serta. Aku bertatih berjalan mencoba menahan rasa perih di lututku.
"Maafkan aku Adilla. Gara-gara aku ngejar kamu, kaki kamu jadi luka." Lirih Alvin dengan penuh rasa bersalah. Ia tertunduk tak berani menatap langsung kearah ku.
"Kamu tidak salah. Akunya aja tidak hati-hati. Lain kali aku janji bakal lebih hati-hati lagi. Ini tidak sakit, aku masih bisa jalan. Besok juga sembuh." Sahutku mencoba menghibur Alvin yang hampir saja menangis.
Alvin memang selalu cengeng, ia sangat penakut. Dan aku anak pemberani yang selalu jadi garda terdepan membela nya saat berada di sekolah.
Saat ibu menjemput ku pulang sekolah, Ibu sangat kawatir melihat ku.
"Kaki kamu kenapa?" Ujar Ibu sambil memeriksa luka kaki ku. "Pasti ini karena main-main lagi." Tambah Ibu dengan nada sedih. "Pasti perih?" Aku hanya tersenyum kecil agar ibu tak terlalu kawatir dengan ku.
"Hehh... Maya. Maksud kamu apaan nyalahin anak aku? Kamu mau nuntut atas kecelakaan Adilla?" Sentak Tante Sara membuat aku dan Ibu kaget. Tiba-tiba saja Tante Sara menyahuti obrolan kami.
"Saya cuma bilang Adilla terluka karena bermain bukan di celakakan Alvin. Aku tidak menyalahkan siapapun termasuk Alvin." Sahut Ibu dengan nada kesal. "Ayo Dill, kita pergi. Ibu malas meladeni orang yang gampang curigaan." Aku bisa melihat wajah ibu yang mulai bosan dengan tingkah Tante Sara.
"Lihat kan Alvin! Ibunya Adilla ngomeli mama ini semua karena kamu masih bermain dengan anaknya. Berkali-kali di bilangin jangan main dengan anak itu." Bentak mamanya. Alvin hanya memberengut mendengar ocehan mamanya.