"Edisi terbaru sudah terbit mbak, bisa liat di stan sebelah kiri" pegawai toko buku itu dengan ramah memberitahu pada Vany. Vany mengangguk mengucap terimakasih. Agaknya sangking seringnya berkunjung di toko ini, pegawai toko ini hingga tau serial buku yang diminatinya.
"Sha, lu ikut Vany dulu ya, tunggu aja gua disitu, gua mau cari komik kesayangan gua dulu" ujar Chaty sebelum hilang diantara barisan rak buku yang berjejer.
Toko buku ini tak jauh dari rumah Vany, cukup besar dan lengkap untuk segala macam jenis buku yang di inginkan.
Vany menatap novel-novel itu antusias, Sasha sendiri pusing melihat kegalauan sahabatnya itu yang tengah memegang lima buah novel dan menimbang novel mana yang akan dibelinya.
Sasha hanya menjawab asal dan mulai merasa jengah saat setengah jam sudah berlalu, namun Vany masih saja merasa galau dengan novel-novel di tangannya. Sasha tau betul tabiat Vany dan mungkin juga tabiat wanita kebanyakan. Mereka meminta pendapat namun akan tetap pada pilihannya.
Chaty kembali dengan wajah sumringah, ternyata Chaty tidak kalah heboh dengan memborong tujuh komik sekaligus. Vany akhirnya memutuskan membeli ke-limanya.
Mereka pun beralih pada sebuah mall mewah di pusat kota, membeli beberapa barang lucu dan bentuk yang sama. "Sayang banget ya Meysa ngga bisa bareng kita" Vany memperhatikan beberapa barang yang sudah mereka beli.
"Tapi kan wajar juga sih, Meysa pasti jarang banget ngerasain quality time bareng daddy-nya, secara bokapnya sibuk gitu" Sasha berselancar di akun sosmed miliknya, melihat kebahagiaan yang terukir di wajah Meysa.
"Meysa beruntung banget bisa ke luar negeri bareng bokapnya" Sasha berkomentar lirih. "Kayaknya diantara kita yang paling dekat sama bokap tu anak deh" Chaty menimpali.
"Gua juga semenjak SMA malah jarang bisa sarapan pagi atau makan malam sama bokap kayak dulu, bokap gua ke luar kota mulu" Vany mencoba mengingat kembali kapan terakhir kali ia dan keluarganya bersantap bersama di meja makan.
"Belakangan ini nyokap gua nyibukin diri sama kuas dan kanvas, semenjak bokap nikah sama mama tiri gua, bokap sering ke luar kota bareng dia" Shasa mengunyah makan siangnya perlahan.
"Bokap gua juga jarang di rumah, ya karena gua juga ngga seberuntung kalian yang bisa ngerasain punya nyokap kandung, gua ngerasa mama tiri gua cukup memperlakukan gua dengan baik" Chaty menghela nafas lalu melanjutkan "Heiii! kok jadi pada murung sih, udah ah jangan jadi melow gini, kita kan hari ini niatnya seneng-seneng, yuk ke rumah Vany, gua udah beli masker wajah nih, daripada ntar di rumah gua ngga kepake" meraka akhirnya memutuskan menuju rumah Vany.
Sesampainya di rumah Vany, mereka mengumpulkan barang yang sudah di beli tadi, mengunggah beberapa moment yang tadi sempat di abadikan. Meskipun Meysa tidak ikut serta, barang yang memang di beli couple untuk keempat sahabat itu difoto secara bersamaan, dan menjadi foto profil keempatnya.
Meysa yang nun jauh di sana tak henti-hentinya menekuk muka kesal karena ia tidak bisa ikut serta, namun tetap antusias melihat barang-barang yang juga di belikan untuknya.
"Kalian mau aku bawain apa dari sini?" Meysa tak tahan untuk tidak melakukan panggilan video kepada sahabatnya itu.
"Lu balik dengan selamat aja kita udah senang" Vany terkekeh ringan.
"Aku tak minta oleh-oleh... emas permata dan juga uang... yang ku pinta kau pulang... dengan sejuta kerinduan..." Chaty bersenandung asal.
Sontak keempatnya tertawa. "Yaudah gua bawain yang menurut gua bagus aja deh ya, semoga ntar kalian pada suka" Meysa memperlihatkan sekeliling nya, pantai yang begitu indah dan wajah-wajah asing dengan percakapan yang samar terdengar membuat sahabatnya itu tak berkedip memandang layar ponsel masing-masing.
Namun mereka lebih terpana lagi saat melihat seseorang menghampiri Meysa dengan kemeja pantai berwarna biru muda, dengan keseluruhan kancing yang terbuka.
Meysa mengalihkan kamera, ada kekecewaan yang jelas di wajah para sahabatnya. "Pada mingkem lu, jangan bilang lu pada naksir Daddy gua" Meysa tertawa terbahak-bahak melihat reaksi kecewa para sahabatnya saat layar kembali beralih padanya.
"Yaelah Mey, cuci mata dikit doang" ujar Chaty blak-blakan.
"Heh! beberapa detik aja lu pada udah cengo liatin roti sobeknya Daddy, gimana kalau gua biarin liat lebih lama, jangan deh jangan ya" Meysa tertawa lagi.
"Mey, jangan lupa itu Daddy lu udah di samping, ini anak ngga bisa di kondisiin mulutnya" Vany merasa malu jika percakapan mereka di dengar oleh orangtua sahabatnya itu.
"Sans aja, Daddy gua orangnya ngga kaku kok, oia gua lanjut dulu ya, ntar kalau udah balik Indo gua kabarin, see you sweety" panggilan pun terputus.
"Yaudah yuk pada cuci muka, tadi katanya mau treatment" Sasha mengingat tujuan awal mereka datang ke rumah Vany. Sasha terlebih dulu memakaikan masker pada wajah kedua sahabatnya sebelum memakai sendiri miliknya .
Rangkaian tahapan yang rumit itu membuat Chaty harus mengeluh beberapa kali. Namun bak magician yang handal, Chaty mengakui perubahan yang terjadi pada kulit wajahnya yang tampak lebih lembut dan berseri.
"Nah senyum-senyum kan lu liat hasilnya" Sasha menoyor bahu Chaty pelan. "Gila ngga nyangka kulit wajah gua jadi selembut ini" Chaty bak selebgram yang sedang endorse produk kecantikan.
Sasha dan Vany hanya terkekeh kecil, pasalnya treatment seperti itu sudah sering mereka lakukan, dan baru kali ini Chaty bersedia untuk ikut melakukan perawatan wajah dengan mereka. Ya meskipun sebenarnya setelah di rumah nanti, Chaty tidak akan melanjutkan perawatan wajah itu.
"Eh Van, gua balik duluan ya, lu tau sendiri kan nyokap sendirian di rumah, ngga tega gua kalau lama-lama ninggalinnya" ujar Sasha yang kini panik karena jarum jam sudah berada di titik jauh dari target ia seharusnya pulang.
"Iya nggapapa, salamin buat nyokap ya" ujar Vany. Setelah mengantarkan Sasha, mereka kembali memasuki kamar Vany. "Van ada gitar ngga?" Vany berfikir sejenak mengingat apa benda yang dicari Chaty itu ada di rumahnya.
"Ah iya bentarrr, gua ambil dulu" Vany mengambil gitar yang berada di kamar Kak Nano, menyerahkan pada Chaty yang
" menerimanya dengan sumringah.
"Kita duduk di balkon aja yuk" Vany mengiyakan ajakan Chaty.
Tak lama suara senar itu beralun dengan indah, sebuah lagu yang dinyanyikan Chaty membuat Vany mengerutkan keningnya, lagu berbahasa Spanyol yang sama sekali tidak dimengerti nya.
Namun karena suara Chaty yang cukup menyihir, Vany tak menginterupsi apapun. Lagu selanjutnya milik Adele, penyanyi idolanya. Chaty tersenyum manis kepadanya, mengetahui bahwa Vany sangat menyukai lagu itu beserta penyanyinya.
Namun lagu berikutnya membuat Vany terbawa dalam fikiran nya, mengingat satu masa dimana lagu itu juga pernah beralun dengan indah, di tempat dan petikan yang sama, namun dengan penyanyi dan suasana yang berbeda.
FLASHBACK ON...
"Jangan cemberut mulu dong, bentar kamu tunggu sini ya" Kak Nano berlari kecil dan kembali dengan sebuah gitar di tangan.
"Loh itu punya siapa kak?" tanyanya keheranan.
"Kakak baru beli sore tadi, uang hadiah lomba kemarin kakak beliin ini, ya walaupun kakak tau kalau kakak minta ke mama atau ke papa pasti bakal di kasih, tapi kayaknya kalau beli dari hasil sendiri itu lebih puas, hehehehe"
"Wih pasti mahal"
"Kakak ngga beli yang baru, setidaknya ini masih bagus dan sesuai budget"
Vany tidak lagi berkomentar, karena gitar itu sudah mulai di petik oleh sang empunya.Ia memeluk lututnya memandang Nano dengan senyuman manisnya.
Lagu itu berakhir dengan sebuah kecupan singkat di kening Vany. Namun tatapan Nano sulit di artikan olehnya. Nano sudah sering mengecup keningnya, namun mengapa ia merasa ada yang berbeda dengan kecupan kali ini? seperti ada jutaan kupu-kupu menari dalam perutnya.
Nano mendekatkan wajahnya, menikmati perubahan mimik muka Vany yang nampak terkejut. Di ciumnya kedua pipi gadis itu dengan teramat hati-hati. Membuat Vany kesulitan untuk bernafas.
Nano akhirnya beralih pada bibir merah jambu miliknya, menyesap perlahan dan menggigit kecil agar lidahnya bisa leluasa bersilaturahmi pada lidah gadis itu. Vany semakin membelalakkan matanya tak menduga Nano dan ia kini berciuman, bukan kecupan sayang sebagai adik yang biasa di terimanya, kali ini berbeda.
"Eungh..." Vany akhirnya dapat bernafas lega setelah Nano memundurkan kepalanya. Vany mengira setruman maut itu sudah selesai, namun ternyata ia salah, Nano hanya membiarkannya untuk bernafas sejenak.
Kembali di pagutnya mesra bibir Vany, mengangkat tubuh nya dalam dekapan tanpa melepaskan pagutan pada bibirnya. Tubuh itu diletakkan dengan sangat perlahan, sangat kontras dengan ciuman yang semakin menuntut.
Perlahan jemari itu membuka setelan pakaian yang di kenakan oleh Vany. Tangan itu meremas disana, membuat sekujur tubuh Vany kaku. Ada perasaan aneh yang sulit di jelaskan bocah SMP itu. Tangan yang kokoh itu beralih pada bagian intinya, sedangkan bibirnya sudah terbebaskan dari pagutan bibir Nano, lidah itu dengan leluasa menjelajahi setiap inci permukaan kulit Vany.
Vany melemas saat lidah itu menari menciptakan sensasi yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Tangannya meremas rambut Nano sebagai protes untuk menghentikan kegiatannya. Namun itu justru membuat aksi Nano semakin menjadi-jadi.
Pelepasan pertama dirasakan Vany dalam seumur hidupnya ketika Nano memang sedang berada di intinya, menikmati cairan itu dengan rakusnya. Tak lama Nano berdiri dan mencium Vany kembali, Vany mengira ini semua sebagai penutup adegan panas itu.
Sekali lagi dugaan Vany keliru, sesuatu sedang melesak ke dalam intinya, memaksa masuk dengan sangat perlahan, Vany merasa nyeri saat keseluruhan benda tumpul itu masuk ke dalam intinya.
Darah merembes mengenai seprai lembut miliknya. Nano membiarkan untuk beberapa saat sebelum akhirnya menggerakkan dengan sangat perlahan, gerakan itu semakin bertambah ritmenya, yang akhirnya mulai lancar.
Vany merasa tubuhnya bergetar hebat, begitu juga dengan Nano yang semakin mempercepat gerakannya. Peluruhan yang sempurna. Nano membungkuk mengucapkan kata cinta yang sangat merdu di telinga Vany, tak mampu membalas Vany hanya membiarkannya turun dari tubuhnya dan memeluknya yang kini memunggungi Nano.
Beberapa menit yang asing. Nano akhirnya membuka suara " Maafin kakak ya, kakak di luar kendali tadi" Vany sendiri masih menyusun rangkaian tahapan yang baru saja berlalu, menyesali dirinya mengapa ia terlambat menyadari apa yang Nano perbuat padanya.
Buliran air mata jatuh menetes membasahi bantal kesayangannya. Ia baru tersadar kini ia sudah kehilangan mahkotanya, harta paling berharga dalam hidup seorang wanita.
"Sayang denger kakak, kakak bakal nikahin kamu kok, kakak bakal tanggungjawab dengan apa yang udah kakak perbuat" Nano menarik bahu Vany agar menghadap ke arahnya.
"Tapi itu mustahil kak, kita kakak-adik, apa kakak gila?" Vany tak kuasa menahan emosinya.
"Vany kamu ngga lupa kan kalau kakak ini bukan anak kandung dari keluarga ini, kakak ngga punya ikatan darah apa-apa sama kamu, jadi kenapa kakak ngga bisa nikahin kamu?" jelasnya.
Vany menatap Nano, menyadari bahwa apa yang Nano katakan adalah kebenarannya. "Kakak janji kan bakal tanggungjawab?" Vany memastikan kembali.
"Iya sayang kakak janji, setelah kamu tamat kuliah nanti, kakak akan melamar kamu di depan papa mama"
"Tapi itu masih lama lagi"
"Apa kakak pernah mengecewakan mu?"
"Belum tentu kakak masih orang yang sama nantinya"
"Vany, apa kamu belum begitu mengenal kakak sampai tidak bisa menaruh rasa percaya?"
"Vany percaya dan Vany akan pegang janji kakak"
Malam itu Nano memeluk Vany hingga gadis itu terlelap dalam pelukan nya.
"Kakak ngga bisa kuliah disini aja? kenapa harus ke luar kota?" Vany tak hentinya menangis. Baru saja tadi malam ia merelakan mahkota pada lelaki yang kini sedang menunggu keberangkatan pesawat yang akan ia tumpangi.
"Sejauh apapun kakak pergi, kamu tetap tempat kakak bermuara" Nano mengusap punggung gadis kecil itu. Orangtuanya bergabung kemudian dan menyerahkan paper bag berisi beberapa makanan yang bisa di konsumsi selama perjalanan.
"Vany jangan sedih gitu dong, ntar kakak kamu jadi kefikiran, Kak Nano itu udah waktunya menggapai mimpinya, udah dewasa dan mama sama papa yakin Kak Nano bisa lebih bersinar disana nanti" mama mengusap pipi Nano dengan tulus.
Nano sekali lagi mengecup kening Vany sebelum akhirnya benar-benar pergi meninggalkan kota itu. Hari-hari Vany mendadak kelabu, Mama yang semula menduga itu hanya karena Vany yang belum terbiasa dengan kepergian kakak nya, tidak terlalu mengambil pusing meskipun beberapa kali menjelaskan bahwa Nano akan kembali nantinya.
FLASHBACK OFF....
Chaty mengibaskan telapak tangannya berulang kali, hingga akhirnya kibasan yang ke sekian kali nya berhasil membuyarkan lamunan Vany. "Lu kenapa?" tanyanya lembut.
Vany tidak menjawab, hanya beringsut memeluk Chaty berusaha menutupi air matanya yang mulai menjatuhi pipinya. Chaty mengelus puncak kepalanya dengan sayang.
"Lu ngga harus cerita kalau emang lu belum siap, tapi satu hal yang harus lu tau, gua sayang banget sama lu, gua akan selalu ada apapun yang terjadi sama lu nantinya" kalimat itu tulus, bukan hanya kalimat penenang.
Chaty mengajak Vany masuk ke dalam kamarnya dan berbaring bersisian dengan tetap memeluk Vany. Ia tau yang di butuhkan sahabatnya itu bukan pertanyaan, namun sebuah pelukan menguatkan.
Mata Vany yang sedari tadi menangis akhirnya kini terlelap dengan nyaman di pelukan Chaty. Chaty mengambil ponselnya di nakas, memberi tahu mama tirinya itu bahwa ia menginap di rumah Vany. Wajah damai Vany membuat nya tertarik untuk mengambil beberapa gambar. Ia mengecup kening Vany singkat sebelum akhirnya memutuskan untuk ikut tertidur.
Angga meraih botol kesekian yang ia pesan. Tangannya tak hentinya menatap layar ponselnya, "Aaarrrgggghhhhhh wanita sialan! bisa-bisanya semua akun gua di blok" Vans yang sedari tadi setia mendengarkan umpatan dan makian sahabatnya itu hanya menggelengkan kepala.
"Cewe jalangg! gua ngga akan biarin lu lolos gitu aja" pekiknya.
"Lagian lu ngapain marah segitunya sih, tujuan lu diawal macarin dia kan buat manas-manasin sahabatnya, sementara kalau libur gini ya lu juga ga bisa ngelakuin aksi lu kan" Vans tak habis fikir apa yang sebenarnya di rencanakan sahabatnya itu.
Seharusnya jika memang berniat membuat Vany cemburu, ketika libur begini dan ia bepergian dengan Meysa, ia bisa meng-upload kemesraan mereka bukan? namun nyatanya baik ia maupun Meysa tak pernah menguploadnya, dan belum tentu juga Meysa menceritakan perihal pertemuan nya dengan Angga yang cukup intens untuk beberapa hari sebelumnya.
"Mungkin ngga kalau Meysa itu manipulatif?"
Vans menggeleng. "Gua rasa dia bukan cewe kayak gitu" tolaknya.
"Tapi lu ngga liat sendiri gimana ekspresi mata dia ngeliat gua, dari tingkah dia yang malu-malu setiap gua puji atau gua cium dia, apa mungkin semua itu sandiwara?" ceracaunya.
"Ngga gua pungkiri dia itu cewe yang lugu, jadi kemungkinan dia bersandiwara itu mustahil bro"
"Tapi lu liat sendiri, tanpa alasan yang jelas gua di blok gitu aja, gua ngga pernah ngerasa di permainkan kayak gini"
"Gua takut dia tau niat awal lu deketin dia"
Angga menegak minuman itu sekali lagi. Mencoba mengingat celah yang memungkinkan apa yang di ucapkan Vans masuk akal.
FLASHBACK ON...
"Sayang kamu disini sebentar ya, aku mau angkat telfon" Angga meninggalkan Meysa yang masih asik dengan mesin pencapit boneka. Angga memang sudah mendapat beberapa boneka dari mesin itu, namun ia tidak merasa puas, merasa bahwa ia harus bisa mendapatkan sendiri boneka yang di inginkan nya.
"Minggu depan? gua ngga bisa pastiin deh gua bisa ikut" keluhnya.
"Ya ampun emang sampai kapan sih lu mau kelarin obsesi lu yang gila itu" Vans menggerutu kesal.
"Denger ya Vans, gua dari dulu selalu dapatin apa yang gua mau, dan sekarang gua mau Vany, jadi segala cara bakal gua tempuh buat milikin dia, termasuk kalaupun mesti buat dia cemburu dengan sahabatnya"
"Angga yang ganteng dan tajir melintir, lu ngga takut apa, kalau lu jatuh ke dalam lubang yang lu gali sendiri?"
"Maksud dari perkataan lu?"
"Kalau seandainya lu justru jatuh cinta beneran sama dia gimana?"
Angga terkekeh.
"Vans... lu buta ya? lu ngga bisa liat selera gua dari dulu gimana? iya kali cewe modelan begitu buat gua jatuh cinta, dia boneka gua vans, ingat itu"
"Gua ngga bisa komentar banyak deh, gua tau ngga akan berguna nasehat gua buat orang se-ambis elu"
"Yaudah bagus, gua juga ngga mau dengar nasehat panjang lu itu, gua mau lanjut dulu, gua takut dia curiga kalau gua ninggalin dia lama-lama"
Angga kembali menemani Meysa, namun gadis itu berkata ia sudah tidak tertarik pada mesin pencapit boneka itu, dia menunjuk studio box yang berada tak jauh dari mereka, mereka berpose dengan berbagai gaya, Angga menyimpan beberapa diantaranya, sementara Meysa menyimpan lebih banyak.
"Kamu ngga cerita gimana pengalaman liburan kamu di luar negeri" ujarnya basa-basi.
"Hahaha ngga ada yang menarik" tawa itu terdengar dipaksakan.
"Ngga ada yang menarik tapi sampai seminggu disana" keluh Angga.
"Ya kamu tau sendiri kan Daddy aku juga jarang bisa luangin waktunya buat keluarga" Meysa mengunyah tanpa semangat.
"Kamu mau pesen yang lain? yang itu ngga enak ya, dari tadi cuma dimakan sedikit.
"Ngga kok, emang lagi ngga laper aja, kita pulang aja yuk" Angga masih ingin bertanya namun Meysa sudah mendahuluinya.
FLASHBACK OFF....
"Njirrr gua baru ingat sekarang!" Angga meraup wajahnya frustasi.
"Lu ingat apa?" tanya Vans tak mengerti.
"Lu ingat percakapan kita tiga hari lalu waktu lu nelfon gua pas gua lagi jalan sama Meysa?"
Vans mengangguk langsung karena memang kejadian itu belum lama
"Mungkin ngga sih percakapan kita di dengar?"
"Gila lu.... gimana bisa lu ngga mastiin tempat lu aman terkendali pas angkat telfon gua?"
"Banggggsaaattttt..... kenapa gua bisa sebego itu sihhhhhh?! Aaarrrhhhhhh" kembali ia meraup wajahnya dengan kasar.
"Dan lu tau hal terbego yang gua lakuin setelahnya? waktu dia minta di antarin pulang dan gua langsung antarin gitu aja, dan sekarang gua baru ingat perubahan mimik muka dia setelah gua selesei telfonan sama lu, dia jelas-jelas terluka dengan ucapan gua" Angga memukuli kepalanya sendiri sekuat tenaga.
Vans yang memang tepat berada di sampingnya mencegahnya dan memberi kode ke beberapa temannya untuk membantunya membawa Angga ke mobilnya.
Vans mendengar ceracauan Angga dengan iba, sudah berapa kali ia mengingatkan agar sahabatnya itu tidak bermain api, namun bantahan yang selalu ia terima.
Kalau sudah begini harus berbuat apa? Meysa sudah di pastikan menaruh hati pada Angga, sehingga perkataan pahit Angga pasti sangat menusuk hatinya.
Dan seperti yang Ia duga, Angga akan masuk ke dalam perangkapnya sendiri. Angga jelas mencintai Meysa saat ini, keadaan sahabatnya itu benar-benar buruk.
Angga sudah tak sadarkan diri di kasur milik Vans, perlahan Vans mengambil ponsel milik Angga dan mencari nomor telfon seseorang disana.
"Eummm halo dengan siapa?"
"Gua Vans"
Tuttttt..... Panggilan terputus.
Sepersekian detik kemudian foto profil gadis itu lenyap entah kemana, dan ketika Vans mencoba mengirim pesan dari apk hijau itu, ceklis satu.
Astagaaaaaa baru saja menyebutkan nama ia sudah di blokir oleh Meysa, tak habis akal ia mencoba menghubungi Meysa melalui apk biru yang juga menggunakan nomor ponselnya.
Pahit memang kenyataan yang harus diterimanya, tanpa negosiasi atau basa-basi, seluruh akses yang memungkinkannya menghubungi gadis itu kini terblokir.
Vans menghela nafas panjang, ia sudah berusaha semaksimal mungkin untuk membantu temannya yang sudah tepar itu.
Baiklah, mungkin ia harus menemui Meysa dan menjelaskan duduk perkaranya, agar ia kembali bisa menerima Angga disisinya, karena Angga sangat yakin seberapa besar kemarahan seorang wanita, akan luluh jika dihadapkan dengan permintaan maaf yang tulus.
Andai saja bukan karena sahabatnya ini berkali-kali menyelamatkan nyawanya, mungkin dia tidak akan ambil pusing dengan kejadian yang menimpa Angga kali ini.
Meysa masih setia menangisi foto itu, dan ingatannya mengenai perkataan Angga kala itu benar-benar membuatnya terpukul. Bodoh sekali ia yang mengira Angga tulis menyukainya. 'Dia itu hanya bonekaku'.
Apa ia seburuk itu? apa tak layak baginya untuk merasakan cinta yang tulus? bukankah Daddy-nya juga hanya menganggap ia boneka pemuas nafsu? Meysa menangis sesenggukan meratapi nasibnya. Hingga malam memeluknya dengan hangat. Membawanya lupa akan rasa semua rasa sakit, walau hanya sejenak.