Pria ini benar-benar membuat Scarletta menaikkan kopernya sendiri kedalam bagasi dengan wajah sebal. Seluruh orang hanya memandangi mereka dengan tatapan bertanya-tanya.
Gadis itu membuka pintu mobil belakang, namun suara baritone bernada berat itu memberhentikan dirinya yang akan masuk kedalam mobil.
“I'm not your chauffeur.” Scarletta menghela nafas sebal, dan beralih duduk disamping Arthur. (aku bukan supirmu.)
Sepanjang perjalanan, keduanya hanya terdiam. Scarletta sadar bahwa pria ini benar-benar marah karena ia tidak mengingat siapa Arthur.
“Seriously?! Bikin aku ingat dong kalau aku lupa! Gini terus, emang aku bisa ingat?!” Ujar Scarletta. Tidak tahan lagi dengan keadaan canggung yang tercipta diudara karenanya.
“I still can't believe it! How can you—hah! Udahlah.” Scarletta ingin sekali mencakar wajahnya Arthur saat ini. (aku masih ga bisa percaya! Kok teganya kamu—)
“okay, sorry. Maaf karena aku ga ingat siapa kamu. Ingatan aku cukup lemah.” Jelas Scarletta.
“udahlah. Ga ada untungnya juga kalau aku paksa kamu buat inget aku disaat kamu bener-bener ga bakalan bisa inget aku. Kayanya sih aku bener-bener uda kamu buang dari pikiran kamu.” sinis Arthur menatap kedepan dengan tatapan datar. Scarletta berdecak pelan. Pria ini benar-benar!
“ga gitu.. mau jalan-jalan dulu ga?” usul Scarletta. Mungkin dengan berlama-lama disamping Arthur, Scarletta akan ingat siapa pria ini sebenarnya.
“Really?” Arthur menoleh ke Scarletta dengan kedua mata yang bernbinar-binar. Bibirnya yang dari tadi membentuk garis lurus juga sudah berubah dengan kedua sudut bibirnya yang terangkat kecil.
Walaupun tidak kenal siapa Arthur, Scarletta menyadari Arthur ini punya emosi yang lucu. Ia bisa bahagia seketika, dan langsung sedih dalam sepersekian detik kemudian. Seperti anak kecil.
Sebenarnya siapa Arthur ini? Ia tampan, dan menyenangkan. Kenapa Scarletta tidak bisa mengingat ada wajah seperti ini dikehidupannya?
~~
“Akhh! I miss this place!” Kedua kaki Scarletta berpijak diatas pasir putih ini. Ia tersenyum begitu lebar. (aku rindu tempat ini!)
Membuat Arthur ikut tersenyum melihatnya. “you like it?” Scarletta mengangguk cepat. (kamu suka?)
“aku terlalu sibuk belajar, jarang ke pantai dan tempat-tempat rekreasi lainnya.” Jelas Scarletta. “bahkan aku hampir dua tahun engga nelpon mami, papi atau yang lainnya.” Lanjut Scarletta.
“kenapa?” Scarletta tersenyum mengingat masa menyedihkannya.
“belajar. Aku terlalu sibuk belajar buat ujian akhir, sampai-sampai ga pegang handphone sama sekali. Kayanya empat tahun yang lalu deh.” Arthur mengangguk mengerti, tatapannya menoleh pada seorang anak kecil yang sedang memainkan gelembung di ujung sana.
“wait.” Arthur pergi menjauh dari Scarletta, membuat Scarletta meliriknya bingung.
Arthur berhenti didepan seorang bocah kecil.
Kemudian pria itu kembali berlari menjauh. Scarletta hanya menggelengkan kepalanya.
Sembari menikmati angin yang bertiup kearahnya, Scarletta memejamkan kedua matanya.
Namun sebuah bayangan yang menutupi pandangannya, membuatnya kembali membuka kedua matanya.
Arthur ada di sampingnya, dengan pembuat gelembung ditangannya.
“nah, untuk kamu.” ujarnya setelah membuat sebuah gelembung besar.
“ga afdol kalau main kepantai tanpa main ini.” lanjut Arthur dengan senyuman lima jarinya.
Scarletta benar-benar tidak bisa mengerti bagaimana jalan pikirannya Arthur.
Toh dia sudah sampai sini, apa salahnya untuk mencoba?
“Good job!” Seru Arthur saat Scarletta berhasil membuat gelembung pertamanya.
Scarletta yang disemangati oleh Arthur semakin ingin menunjukkan yang lebih.
Keduanya bermain gelembung sampai tidak terasa sudah tiga jam mereka berada disana.
“aduhh capek.” keluh Scarletta, dan melemparkan bokongnya keatas pasir empuk ini.
“uda mau pulang?” Arthur ikut duduk disisinya Scarletta. Ia memandang Scarletta dengan tatapan bersinarnya. Scarletta berdehem pelan.
Tidak boleh! Ia tidak boleh terpana dengan ketampanan Arthur!
“yauda.” Scarletta bangkit dari duduknya, namun tangan Arthur yang menarik sebelah tangannya membuat Scarletta kembali terduduk.
“disini dulu sebentar. Habis ini kita pergi makan.” Ujar Arthur. Scarletta menurutinya dan kembali duduk.
Melihat burung camar yang lewat kesana kemari, angin pantai yang menghembus mereka dengan gemulai.
Arthur menoleh ke Scarletta, dan senyumannya kembali melebar.
Scarletta sangat cantik.
Sangat Sangat Cantik.
“what can i do?” gumam Arthur. (apa yang harus aku lakukan?)
Scarletta menoleh kearahnya. “apa?”
“aku makin cinta sama kamu.” kedua mata Arthur Bertatapan dengan kedua matanya Scarletta. Scarletta bisa merasakan ada ketulusan disana.
Pria ini gila! Benar-benar gila!
Scarletta sontak bangkit dengan berdehem keras.
“ayuk makan! Aku laper banget,” Scarletta berjalan langsung pergi meninggalkan Arthur yang tersenyum kecut.
Setelah bertahun-tahun berlalu, Scarletta masih saja menolaknya.
Arthur jadi mengingat momen dimana ia pertama kali menyatakan cinta ke Scarletta.
Saat itu, Scarletta benar-benar menolaknya dengan keras.
“arthur!” Suara Scarletta, membuat Arthur keluar dari lamunannya.
Pria itu dengan senyuman berlari kecil menghampiri Scarletta.
Mereka memilih tempat makan yang berada diarea pantai tersebut.
Tempat ini menjual sushi, dan makanan seafood lainnya. Scarletta yang memilih tempat ini. Katanya dulu ia sering kesini.
Scarletta memilih tempat duduk, dan Arthur pergi memesan makanan untuk Scarletta.
“kayanya disini enak deh makanannya,” Ujar Arthur sembari menghampiri meja mereka.
“emang enak. Dulu sering dateng kesini. Kamu pesen apa?” Arthur hanya tersenyum. “banyak.”
Dan benar saja, Makanan yang disajikan diatas meja memenuhi segala ruang.
“Emang bisa habis ini banyak banget!” Seru Scarletta. Arthur tertawa. “biar kamu makan yang banyak.” arthur membuka mantel pendeknya, dan meletakkannya disamping tempatnya duduk.
Ia meraih minuman soda yang ada diatas meja, dan menatapi Scarletta yang mencicipi makanannya.
“Wah! Ini dia!” Gadis itu berseru sembari mengerutkan dahinya. Mengingat rasa familiar yang sudah lama tidak ia rasakan.
“wahh enak banget!” Tak berhenti di suapan pertama, Scarletta kembali melanjutkan suapan kedua, ketiga, keempat sampai ia sadar bahwa sejak tadi Arthur hanya memandanginya.
Scarletta menelan sushi salmon yang berada didalam mulutnya, dan meneguk minumannya.
Kemudian ia menatap Arthur dengan tatapan bertanya-tanya.
“kenapa ga makan?” tanyanya.
Arthur terkekeh tak percaya.
“wahh.. kayanya kamu bener-bener uda lupa sama aku ya..” Arthur menutupi mulutnya terkejut.
“kenapa si?”
“i can't eat seafood, i have allergic.” jawab Arthur. Scarletta menatapnya dengan kedua mata yang melebar. (aku ga bisa makan makanan laut, aku punya alergi.)
“Lah?! Trus ngapain kita makan disini? Ini juga pesannya kebanyakan. Buat kita berdua aja kebanyakan, apalagi buat aku doang.” Arthur tersenyum tipis.
“you said you like it.” jawaban Arthur membuat Scarletta merasa lebih bersalah lagi saat ini. (katanya, kamu suka makanan disini.)
to be continue~
Sincerely,
Pikachuu.