SORA
Udara malam ini begitu dingin, tapi hal itu membuatku betah berlama-lama memandangi langit dari balkon kamar yang kebetulan malam ini sangat cerah. Semua ingatan itu sangat membekas dalam benakku. Aku pastikan tidak akan pernah melupakan semua kenangan berharga itu sedikit pun. Kenangan satu tahun yang lalu mengajarkanku tentang perencanaan dan juga persiapan. Aku sungguh sangat bangga mengingatnya walaupun memiliki dampak buruk pada saat itu, atau mungkin sampai hari ini.
Aku sama sekali tidak menceritakan apa yang aku alami secara terperinci. Aku juga melarang teman-temanku untuk bercerita. Orang tuaku hanya tahu secara garis besarnya saja dan itu cukup membuat mereka panik. Bahkan orang tuaku berencana mencabut izinnya untukku berpetualang lagi dengan berbagai alasan yang membuatku takut jika mereka benar-benar akan mencabut izin itu. Otakku bekerja lebih keras untuk mencari solusi yang tepat agar semua itu tidaklah terjadi. Aku masih ingin kembali dan menikmati masa mudaku dengan berbagai perjalanan, walaupun aku tidak tahu kapan itu akan terjadi.
Aku mengembuskan nafasku sedikit berat dengan mata yang masih memandang jauh harapan di atas langit berwarna biru gelap. Mungkin aku harus lebih bersabar dengan waktu dan keadaan. Aku juga harus memanfaatkan waktu luang untuk mempersiapkan semuanya dengan matang. Berusaha lebih keras lagi, berusaha lebih cerdas lagi, setidaknya aku bisa meminimalisir risiko yang akan terjadi nantinya jika kesempatanku tiba. Mengingat semua harapan dan ambisi, aku juga harus ekstra dalam berusaha membuat orang tuaku percaya lagi setelah aku membuat mereka sangat khawatir.
Kau bisa, Sora!
Aku adalah gadis dua puluh tahun yang sedang berusaha menjadi dewasa. Panggil saja aku Sora. Aku anak tunggal dari kedua orang tuaku. Aku selalu dianggap seperti anak kecil, mungkin karena aku terlalu manja dalam beberapa waktu. Pernah aku merasa seperti tidak memiliki peluang untuk sebuah kebebasan sebelum momen satu tahun itu terjadi. Aku hanya terus berandai-andai seolah kesempatan tidak akan pernah datang untuk membuktikan semua tekadku.
Sekarang, aku harus memulainya lagi dari awal.
Aku memilih kembali ke dalam kamar karena ini sudah sangat larut. Aku pun menutup pintu balkon lalu menarik gordennya. Aku melangkah menuju kamar mandi untuk melakukan ritual malam seperti biasanya lalu setelahnya bergegas menuju ranjang yang sudah sangat menggoda untuk aku tiduri. Aku merebahkan tubuh dan membuatnya senyaman mungkin sampai akhirnya aku mulai memejamkan mata untuk menyambut mimpi yang baru.
Pagi ini disambut dengan gerimis yang mengundang aku untuk kembali ke tempat tidur. Ini adalah hari pertamaku di semester baru, tapi langit malah menyambutku dengan sendu.
Oh, tidak, padahal semalam begitu cerah dan juga indah.
Aku mengecek ponsel untuk melihat jadwal mata kuliah hari ini dan ternyata aku mendapat kejutan di pagi hari yang sendu ini. Aku rasa aku akan diusir oleh dosen di hari pertama dan di jam pertama, bahkan sekarang sudah menunjukan pukul tujuh lebih lima puluh menit. Untuk sampai di kampus saja aku membutuhkan sekitar dua puluh menit dan ini hanya tersisa sepuluh menit. Belum lagi gerimis di luar sana dan sekarang aku sedang mengomel karena keadaan tidak sesuai harapan yang membuatku kehilangan sisa waktu, luar biasa.
Ketika aku sedang sibuk bersiap-siap, pintu kamarku diketuk seseorang.
Tok! Tok! Tok!
“Sayang, apa kamu belum bangun? Ini hari pertama kuliah bukan? Mama boleh masuk ya!” ucap mama sambil memutar gagang pintu yang tidak aku kunci.
“Kenapa masih siap-siap? Jam pertamamu kapan?” ucap mama terdengar khawatir sambil berjalan ke arahku yang tengah berdiri di depan cermin.
Aku menoleh ke arah di mana Mama sedang berdiri, “Sebentar lagi,” ucapku.
“Kamu ini bagaimana? Sudah tahu kuliah pagi masih saja siap-siap, ini sudah siang. Kamu juga belum sarapan,” mama mulai mengomel seperti biasanya.
Ya, aku tipe orang yang susah bangun pagi. Suara mama selalu menggelegar di pagi hari saat aku menjadi sangat lamban dan membuat mama geregetan.
“Bahkan matahari pun enggan nampak, padahal ini sudah siang.”
“Kamu ini, lain kali bersiaplah lebih pagi kalau memang ada kelas yang masuk pagi,” ucap mama.
“Iya, Ma,” telingaku sudah agak pegal mendengar mama terus mengomel tanpa henti.
“Ya sudah, cepat turun! Mama sudah siapkan sarapan kamu, Papa juga sudah berangkat tadi,” terang mama.
Aku melirik jam tangan yang masih tergeletak di meja belajar. “Sepertinya aku nggak sarapan, Ma. Nanti saja di kampus.”
“Dibekal saja kalau begitu,” saran mama.
“Ya sudah, terserah Mama saja,” aku pun mengalah.
Mama meninggalkan kamarku dan kembali menutup pintunya. Begitulah jika pagiku produktif, Mama akan sedikit berisik karena anak gadisnya yang sulit bangun pagi dan tidak disiplin waktu. Aku pun memastikan lagi penampilan hari ini agar terlihat sempurna di hari yang tidak sempurna, walau pakaianku yang terbilang santai dan sederhana. Aku hanya tidak suka jika semuanya semakin repot. Aku hanya celana jeans hitam dengan atasan kaos biru dongker dibalut jaket hitam yang sedikit kebesaran lalu sepatu kets dan tidak lupa jam tangan hitamku yang melingkar di tangan kiri.
Aku pun keluar dari kamar menuruni tangga sambil mengikat rambut sepunggungku. Kulangkahkan kaki menuju dapur, menghampiri mama yang tengah menyiapkan bekal untuk kubawa.
“Jangan lupa di makan!” mama mengingatkan.
“Iya, Ma.”
“Awas saja kalau masih utuh.”
Aku mengangguk lalu memasukan bekal itu ke dalam tas punggung yang sedari tadi aku sampirkan di bahu kanan. Setelah berpamitan dengan mama, aku pun pergi menuju tempat di mana sepeda motorku berada. Aku mengendarai sebuah sepeda motor matic setiap hari ke mana pun aku pergi bahkan sedari dulu, karena ini cukup praktis untukku yang tidak suka ribet. Walau beberapa kali papa atau pun mama menawariku mobil agar aku tidak sering kepanasan atau kehujanan seperti hari ini, sekarang.
Aku pun mengendarai sepeda motorku menuju kampus dengan menerjang gerimis yang akan membuat tubuhku sedikit basah. Aku pikir semua akan berjalan dengan baik setelah drama pagiku yang menyedihkan, ternyata aku salah. Lihatlah sekarang! Gerimis berubah menjadi hujan yang cukup deras. Dengan terpaksa aku memberhentikan laju sepeda motorku ke sebuah toko yang tertutup. Sepertinya toko itu memang tidak akan pernah buka jika dilihat dari kondisinya yang sedikit tidak terawat.
Aku berteduh tidak sendirian. Ada sekitar tiga orang lainnya yang sama-sama menunggu redanya hujan. Satu orang di sebelah kiri dan yang lainnya di sebelah kanan. Udara pagi semakin dingin dengan cuaca buruk seperti ini. Aku melipatkan kedua lengan di d**a berharap tubuhku menjadi sedikit lebih hangat. Sedari tadi aku hanya memfokuskan pandanganku ke jalanan yang ramai walaupun hujan deras mengguyur kota dengan julukan Sang Mutiara dari Priangan Timur. Aku merasa ada yang diam-diam memperhatikanku. Aku pun melirik sekitar, tapi sepertinya dugaanku salah. Aku mencoba tidak mengidahkan perasaanku walau aku menjadi sedikit gelisah. Namun, semakin aku berusaha untuk tidak peduli aku malah menjadi ingin pergi dari tempat ini dengan segera.
Hey hujan! Berhentilah, ku mohon!
Butuh waktu cukup lama sampai akhirnya aku memutuskan untuk menerjang hujan yang berubah menjadi gerimis kembali. Sekarang jaketku agak basah dan aku sudah sangat terlambat. Aku memarkirkan sepeda motorku di salah satu celah di antara deretan sepeda motor mahasiswa lain ketika sampai di parkiran kampus. Parkiran sangat penuh di hari pertama semester baru setelah libur tiga bulan lamanya. Mungkin mereka semua sangat merindukan kampus tercinta ini. Aku berjalan menuju kantin untuk menenangkan hati yang kacau di hari yang sangat tidak bagus. Aku memutuskan untuk tidak masuk kelas sama sekali di jam pertama karena aku tahu konsekuensi yang akan aku dapatkan bukan hanya sekedar diusir dari kelas.
I know it well.
Untung saja saat pergantian mata kuliah, aku tidak terlambat lagi. Aku pun duduk di salah satu kursi kosong dan memulai mata kuliah di jurusan manajemen. Aku seorang mahasiswi salah satu kampus swasta dan ini adalah tahun keduaku.
Aku memutuskan untuk pergi ke perpustakaan setelah mengikuti beberapa mata kuliah hari ini. Jadwalnya begitu padat, padahal ini baru hari pertama kuliah. Aku sudah bisa membayangkan bagaimana dengan jadwal untuk hari berikutnya.
Melelahkan? Mungkin saja, tapi aku suka.
Aku masih kesulitan beradaptasi dengan lingkungan kampus padahal ini sudah tahun keduaku menjalani studi untuk gelar sarjana. Aku tidak tahu mengapa aku semenyedihkan ini menjadi mahasiswi. Aku kesulitan untuk bersosialisasi dan mendapat teman yang memang benar-benar teman.
Aku sudah sangat berusaha untuk tidak menjadi manja agar orang yang ingin menjadi temanku tidak merasa jengah. Bahkan temanku yang dulu seperti menjaga jarak setelah kejadian itu. Aku mengerti. Aku tidak akan menyalahkan mereka jika kami hanya sekedar bertegur sapa walau tidak berteman lagi seperti sebelumnya. Mungkin saja waktu itu orang tuaku terlalu keras pada mereka yang berani membawaku pergi berpetualang, padahal aku sudah mendapatkan izin dengan benar. Aku merasa bersalah atas itu. Harusnya aku bisa bertahan lebih baik agar tidak menimbulkan masalah sampai membuat semua orang panik.
Hah, sudah lupakan, Sora! Kau hanya perlu mendo’akan mereka agar tetap baik-baik saja. Aku sungguh menyesal kawan, maafkan aku.
Aku menelusuri setiap rak buku yang menjulang tinggi di ruang perpustakaan ini. Sampai akhirnya aku menemukan buku yang sedari tadi aku cari. Aku membawanya menuju salah satu meja dan mulai membacanya. Aku menemukan poin-poin penting di dalamnya, lalu mengetikkan semua itu ke dalam tablet yang selalu aku bawa. Ini lebih ringan dan tidak merepotkan layaknya laptop ataupun netbook. Anggaplah ini hadiah kejutan di hari pertama dengan tugas pertama. Terkadang aku ingin mengumpat sesuatu jika mendapatkan kejutan di waktu yang kurang tepat.
Ketika aku begitu fokus pada apa yang sedang aku lakukan. Aku merasa ada yang sedang mengawasiku. Hatiku menjadi tidak nyaman. Aku berusaha tidak mengidahkan perasaanku. Aku pun memilih melanjutkan mencari referensinya, tapi aku malah menjadi tidak fokus. Aku menengadahkan kepala, lalu melirik sekitar. Semua terlihat tenang. Lebih dari sepuluh orang yang sedang fokus pada kegiatan masing-masing tanpa sedikit pun suara terdengar yang akan memecahkan keheningan. Aku mencoba berdiri dan menuju rak buku lagi mencari buku yang lain untuk melengkapi tugas kuliah yang sudah aku kerjakan beberapa saat yang lalu. Aku berusaha mengembalikan fokusku sambil memilah buku. Namun, aku dikejutkan oleh kedatangan seseorang yang tiba-tiba berdiri di sampingku sambil menyandarkan kepalanya pada sisi rak buku dan menatapku dengan senyuman ramah.
“Hai!” sapanya.
Aku hanya mengerutkan kening sambil menatapnya bingung. Aku tidak pernah melihat wajah dia sebelumnya. Wajah yang asing. Namun, dia tampan. Dia manis dengan senyum merekah tanpa beban. Rasa nyaman tiba-tiba menyelimuti hati yang selalu merasa sepi.
Siapa dia?