EZA
Di hari yang berbeda. Namun, di cuaca yang sama, membuatku menggigil di atas motor pada pukul enam pagi. Padahal aku sudah memakai jaket yang terbilang hangat. Mulutku tidak berhenti bersenandung. Aku tidak tahu apa yang membuat diriku ceria di bawah langit mendung yang sepertinya akan turun hujan lagi.
Aku memarkirkan motor di parkiran yang masih terbilang kosong. Anggaplah aku terlalu rajin untuk datang ke kampus yang memiliki jadwal pertama di pukul delapan. Aku lebih memilih pergi ke kantin untuk memesan segelas kopi yang stannya saja masih belum rapi. Menikmati kopi saat udara dingin seperti ini sungguh cocok, apalagi sampai disuguhi pohon rindang dan rumput hijau yang basah karena embun pagi dan guyuran hujan semalam.
Ini sungguh kenikmatan yang terkadang orang lain tidak mengerti.
Hari ini aku berencana mengajak Sora pergi ke suatu tempat. Aku harap dia setuju untuk ikut. Kami memang baru beberapa hari menjadi dekat. Namun, aku sudah nyaman dengannya dan kuharap dia juga begitu. Selama beberapa hari ini juga banyak desas-desus tentangku dan Sora. Aku tidak tahu mengapa mereka harus repot bergosip. Namun, aku tidak peduli. Itu bukan urusanku. Aku harap dia tidak menjauh karena hal ini yang menurutku tidaklah penting.
Menjadi mahasiswa jurusan ilmu pemerintahan dan politik membuatku sedikit bebas karena lebih mengutamakan bagaimana ilmu sosial diterapkan dalam keseharian. Bahkan sekarang aku sudah tidak sabar untuk melakukan pendekatan mikro dengan Sora setelah mata kuliah selesai.
Bukankah itu termasuk dalam kategori sosialisasi walau dalam artian pribadi?
Kakiku melangkah keluar dari kelas sambil mengecek ponsel dan mencari nama Sora. Aku memutuskan untuk mengirimkan pesan singkat padanya daripada menelepon. Aku hanya takut mengganggu kelasnya yang mungkin saja belum selesai.
Mungkin.
Aku : Kau di mana? Masih ada kelas, kah?
Baru saja aku menekan tombol kirim. Beberapa saat kemudian ponsel ku bergetar dan ternyata itu dari Sora.
Sora : Aku masih ada kelas, mungkin akan cukup lama untuk selesai.
Aku : Baiklah, aku akan menunggumu. Semangat!
Sora : Kau selalu menunggu. Terima kasih.
Aku memutuskan pergi ke salah satu pohon yang dekat dengan gedung aula. Di sini tempatnya sejuk ditambah cuaca yang mendung sejak pagi. Aku harap hujan tidak turun lagi mengingat aku akan mengajak Sora menempuh perjalanan.
Aku duduk sambil bersandar pada batang pohon lalu memasang earphone untuk mendengarkan beberapa lagu sambil menunggu Sora selesai. Kelasku sudah berakhir dan tidak memiliki jadwal banyak hari ini.
Aku mulai memejamkan mata. Kunikmati alunan lagu yang terus berganti sampai beberapa. Udara dingin menerpa wajah, membelai dengan kesejukan yang hakiki, membuatku merasa lebih nyaman, lebih santai. Sungguh, perpaduan ini membuatku melupakan dunia nyata yang pelik dan penuh dengan dusta.
Cukup lama aku menunggu, sampai rasanya aku mulai mengantuk. Namun, saat mata ini ingin terlelap, tiba-tiba ada yang menepuk lenganku dengan mesra. Dahiku mengernyit saat mata ini masih terpejam. Aroma tubuh dibalut parfum yang diterpa angin memasuki indra penciuman, aku mulai mengenali siapa pemiliknya. Aku pun membuka mata, lalu tersenyum melihat gadis cantik di depanku tengah berjongkok. Dia memandangiku dengan wajahnya yang sedikit ditekuk.
Ah, dia menggemaskan.
“Kenapa wajahmu seperti itu?” tanyaku pada Sora.
“Terima kasih karena kau membuatku mencarimu. Tadinya aku akan pulang saja karena tidak kunjung menemukanmu. Pesanku pun diabaikan,” ucap Sora merajuk.
Aku langsung mengecek ponsel yang ternyata aku mengaturnya pada mode sunyi. Ternyata banyak pesan masuk dari Sora. Aku merutuki kebiasaan ini saat memutar lagu dan malah membuatku lupa jika aku tengah menunggu seseorang.
“Astaga! Maafkan aku, Sora. Kenapa kau tidak menelepon tadi? Setidaknya musiknya akan berhenti jika ada panggilan masuk dan aku bisa tahu kalau kau sudah selesai dengan kelasmu,” ucapku menyesal.
Sora mengatupkan bibirnya seolah ragu, “Aku lupa dan tidak terbiasa dengan menelepon atau mengangkat telepon dari seseorang.”
“Ah, begitu rupanya, tapi mungkin kau harus belajar untuk menerima telepon dariku.”
“Mengapa begitu?” tanyanya dengan raut wajahnya yang polos.
Aku menghela nafas pelan, “Tidak apa-apa.”
Sora memicingkan matanya penuh curiga padaku. Namun, aku hanya tersenyum. Aku sedang tidak ingin menjelaskan apa pun. Biarlah semuanya berjalan dengan normal tanpa terburu-buru. Kuharap semua sesuai dengan rencana.
“Hai! Apa aku boleh bergabung?” ucap seseorang tiba-tiba.
Aku sudah tahu siapa pemilik suara ini. Sora langsung mengalihkan pandangannya, lalu kembali menatapku dengan sebelah alis yang terangkat seolah meminta penjelasan, karena aku hanya diam tanpa minat menjawab.
Dia datang di waktu yang tidak tepat.
“Hey, apa kau sedang berpura-pura tidak mengenalku?” ucapnya terdengar merajuk, rasanya aku ingin memukulnya yang sungguh tidak peka.
Aku mengalihkan pandangan padanya yang ternyata dia sudah duduk di sampingku, “Kau sudah duduk, kenapa masih meminta izin?”
“Kau ini,” dia pun memelototiku.
Aku tidak mempedulikan reaksinya dan memilih beralih pada Sora yang sedang kebingungan, “Maaf, Sora. Dia Jey.”
“Jey?” ulang Sora.
“Aku Jey, yang meminta nomormu untuk dia,” ucap Jey yang terlewat ceria.
“Ah, iya, aku ingat,” Sora tersenyum.
Jey mengulurkan tangannya pada Sora, tapi tidak langsung diterima oleh Sora. Sepertinya Sora bingung dengan adegan ini. Aku tidak aneh melihat ekspresi Sora yang seperti ini, karena Sora juga melakukan hal yang sama padaku dulu. Aku pikir dia merasa jijik atau semacamnya, tetapi saat aku tahu alasannya aku bisa memaklumi. Hatiku cukup lega mengetahuinya. Setidaknya tangannya tidak akan disentuh oleh sembarang pria.
Aku mengambil tangan Jey yang tidak berbalas dan aku yang membalas salaman itu, “Kau tidak perlu bersalaman dengannya. Aku takut kau membawa pengaruh buruk pada Sora.”
“Ck, kau pikir aku ini apa,” ucap Jey.
Aku melirik Sora yang tengah menatapku dengan senyum tipisnya. Aku mengedipkan mata sebagai isyarat semua baik-baik saja.
“Kenapa kau kemari?” tanyaku pada Jey.
“Mamangnya kenapa? Aku rasa tidak ada larangan,” ucap Jey santai.
“Ah, ya. Kau benar,” aku menjeda ucapanku lalu beralih pada Sora, “Sora, kita pergi.”
“Hah? Lalu….” Sora melirik Jey, aku mengerti maksudnya.
“Biarkan saja dia di sini,” ucapku yang sudah bersiap untuk berdiri.
“Kenapa kalian malah meninggalkanku?” ucap Jey tidak terima.
“Aku ada urusan dengan Sora,” ucapku.
“Kau sungguh tidak tahu terima kasih,” ucap Jey.
“Justru aku sangat berterima kasih padamu. Kita akan bertemu nanti malam di tempat biasa,” ucapku.
“Ck, kau ini,” ucap Jey lalu beralih pada Sora, “Berhati-hatilah, dia itu cukup buas asal kau tahu.”
Sora terkekeh mendengar ucapan Jey yang sedang kesal karena ulahku.
“Aku akan sangat berhati-hati,” ucap Sora lembut.
“Ayo!” ajakku pada Sora yang di balas dengan anggukkan.
Aku dan Sora pun menuju parkiran kampus yang terlihat ramai karena banyak yang mengambil kendaraan pribadinya.
“Sebenarnya kita mau ke mana?” tanya Sora saat kita tengah berdiri di dekat sepeda motorku.
“Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat,” ucapku.
“Ke mana itu?” tanya Sora lagi.
“Jika aku bilang rahasia, bagaimana?” ucapku santai.
“Aku tidak suka rahasia,” ucap Sora.
“Aku akan menyebutnya kejutan,” ucapku.
“Aku juga tidak terlalu suka kejutan,” ucapnya lagi yang sepertinya dia tidak mau mengalah.
“Astaga, Sora! Apa kau tidak percaya padaku?”
“Sejujurnya aku tidak tahu. Bagaimana jika kau menculikku?”
Aku sedikit terkejut mendengar penuturannya yang aku lihat dia berkata dengan jujur.
“Aku tidak akan menculikmu,” ucapku dengan sungguh-sungguh.
“Jika?” ucapnya dengan penekanan.
“Jikamu tidak akan terjadi. Aku bisa pastikan,” aku pun berusaha membuat dia percaya.
Sora menatapku dengan menyelidik. Aku tidak tersinggung jika dia mencurigaiku seperti ini, karena memang aku tidak memiliki niat jahat padanya. Aku hanya ingin mengajaknya bersenang-senang. Sikapnya yang selalu berhati-hati pada pria membuatku belajar jika tidak semua orang mampu dipercaya. Aku tahu kekhawatirannya karena dia wanita dewasa dan aku pria dewasa. Namun, aku berjanji pada diriku sendiri, kekhawatirannya yang membelenggu tidak akan pernah terjadi.
Aku tersenyum kembali saat Sora menganggukkan kepala menyetujuinya. Aku merasa lega mendapat kesempatan ini. Aku akan berusaha membuatnya nyaman, walau sejauh ini Sora tidak pernah memberikan jarak agar aku menjauh darinya. Aku punya banyak cara untuk membuktikan sesuatu yang belum pernah aku katakan padanya.
“Kau siap?” ucapku.
“Hm….”