Di kantor PT Pesona Cakrawala, selain hari gajian dan snack box Jumat, satu lagi yang ditunggu-tunggu adalah drama lintas divisi antara Keuangan dan Marketing. Lebih seru dari sinetron jam prime time, dan lebih viral dari story i********: HRD. Pemeran utamanya? Sudah pasti: Sheila Rosalina, si dewi kalkulator berwajah tenang dan dingin, dan Glendy Perdana, si bos Marketing yang setiap hari seperti baru keluar dari iklan parfum.
Pagi itu, Sheila baru saja duduk, bibirnya menyesap kopi hitam tanpa gula—semanis hidupnya yang minimal drama. Komputernya menyala, dan tak lama kemudian...
Notifikasi Email: 1 New Message
From: Glendy P. Mahesa
Subject: Proposal Revisi Budget Campaign “Guncang Dunia”
Hai Mbak Sheila,
Berikut revisi anggaran campaign terbaru. Mohon dicek, semoga sekarang tidak lagi dianggap “bom waktu finansial”.
P.S.: Saya sudah buang opsi helikopter. Tapi balon udara masih saya pertahankan. Karena cinta, eh… karena konsep. 😇
Warm regards,
Glendy yang nggak gampang nyerah.
Sheila mengangkat alis. Tangan kanannya masih memegang cangkir, sementara tangan kirinya sudah mulai mengetik balasan. Tenang. Sangat tenang. Seperti suhu kulkas yang disetel mode es batu.
From: Sheila R.
Subject: RE: Proposal Revisi Budget Campaign “Guncang Dunia”
Halo Mas Glendy,
Terima kasih revisinya. Saya sudah cek, dan betul, kini proposal tidak lagi menyerupai bom waktu. Tapi sayangnya, masih mirip petasan tahun baru — meledak, ramai, tapi cepat habis.
Mohon pertimbangkan opsi yang lebih sustainable. Seperti banner biasa. Atau kreativitas non-melayang.
Hormat saya,
Sheila (yang tetap cinta stabilitas keuangan)
Email itu terkirim ke tim gabungan. Dalam lima menit, obrolan di pantry sudah memanas:
“Lo udah baca email ‘petasan tahun baru’ belum?”
“Gilaaa, Sheil dingin banget, tapi sarkasnya elegan.”
“Glendy kena mental nggak, ya?”
Tapi Glendy tak kehabisan akal. Pria tinggi berpostur 180 cm dengan wajah sekelas aktor drama Korea campur Eropa itu malah membalas... dengan gaya teaterikal seperti biasa.
From: Glendy P. Mahesa
Subject: RE: RE: Proposal Revisi Budget Campaign “Guncang Dunia”
Mbak Sheila tersayang,
Baiklah, saya setuju. Tahun ini kita coba lebih ‘mendarat’. Tapi kalau campaign saya gagal karena terlalu sederhana, tolong siapkan proposal backup berjudul: "Maaf, Kami Tak Sempat Viral Tapi Finansial Aman."
Dengan penuh cinta dan sedikit kekecewaan,
Glendy
P.S.: Balon udaranya udah saya coret. Yang tersisa cuma harapan. 😌
Sheila terkekeh pelan. Pipinya menghangat, tapi ekspresi wajahnya tetap datar. Ia mengetik cepat sambil menahan tawa.
From: Sheila R.
Subject: RE: RE: RE: Proposal Revisi Budget Campaign “Guncang Dunia”
Mas Glendy,
Kalau ingin viral tanpa anggaran membengkak, mungkin kita bisa kampanye lewat t****k—dengan Mas sebagai talent utama, nari pakai jas di rooftop.
Akan saya siapkan proposalnya. Judul: “Marketing Menari, Laba Berdendang.”
Hormat dan sedikit kasihan,
Sheila
Reaksi tim? Gempar.
Grup w******p kantor mendadak ramai:
“INI APAAN SIH GEMES BANGET 😭😭”
“Aku tim Glendy fix. Tapi Sheila savage-nya tuh lembut banget.”
“HRD kapan bikin reality show mereka berdua?”
Sementara itu, di meja kerjanya, Glendy membaca balasan Sheila sambil tersenyum miring. Cowok cuek yang biasanya enggan terlalu ekspresif kini mendadak ingin balas... dengan gaya lebih manis dari gula stevia.
From: Glendy P. Mahesa
Subject: RE: RE: RE: RE: Proposal Revisi Budget Campaign “Guncang Dunia”
Sheila yang sangat bijak dan sangat mematikan dalam bentuk tabel,
TikTok di rooftop? Hmm. Boleh juga. Asal kamu jadi kameramennya. Kita beri judul episode pertama: “Ketika Budget dan Hati Tak Sejalan.”
PS: Saya nggak ahli nari, tapi saya jago bikin hati orang goyang.
Glendy (yang mulai curiga kita lagi syuting romcom rahasia)
Sheila membaca. Menutup email. Lalu membuka lagi. Lalu menyender pelan sambil menatap layar.
“Bisa-bisanya balas pakai kalimat ‘tabel mematikan’,” gumamnya.
Hari itu, tak ada lagi email lanjutan. Balasan itu jadi bahan obrolan seisi kantor sampai sore. Bahkan tim HR ikut-ikutan:
“Guys, kalau mereka nggak jadian juga tahun ini, kita pertimbangkan bikinin podcast.”
Dan di luar sana, tim kreatif sedang membuat polling:
“Siapa yang bakal nembak duluan?”
(A) Glendy, karena jago ngomong.
(B) Sheila, karena udah nggak tahan liat anggaran hati naik terus.
Semua tahu: perang anggaran mereka bukan cuma soal uang. Tapi juga... perang tarik-menarik antara dua orang yang terlalu gengsi buat jujur soal rasa.
Dan kantor pun menunggu. Bukan lagi laporan keuangan, tapi... tanggal jadian resmi Sheila & Glendy.
Sementara itu, Sheila menatap layar komputernya. Deretan email tadi masih terbuka, dan perlahan, dia menyandarkan punggung ke kursi. Ia membaca ulang setiap kalimat dari Glendy dengan tatapan penuh perhitungan. Seperti auditor menilai laporan keuangan — serius, analitis, tapi... sedikit menggelitik.
Ia menarik napas panjang. Senyum tipis muncul, tak lebih dari sekejap, lalu menghilang seperti diskon kilat di toko online.
“Dasar marketing,” gumamnya pelan. “Suka bikin angka berantakan... tapi entah kenapa, bikin hari Senin jadi nggak semembosankan biasanya.”
Tapi Sheila tetap dingin. Senyum itu bukan kelemahan, hanya respons manusiawi. Spreadsheet tetap jalan. Neraca tetap harus seimbang. Anggaran tetap harus masuk akal. Dan hati? Masih dikunci rapat, setidaknya sampai dia yakin Glendy tak cuma jago kata, tapi juga bertanggung jawab pada angka.
Ia mengetik kembali di Excel. Tapi kali ini, di sudut sel F24, ada satu catatan tersembunyi yang tak sengaja tertulis:
"Marketing Menari, Hati Berdendang."
Ia hapus cepat. Tapi pipinya... sedikit memerah.
Dan di layar komputernya, notifikasi baru muncul:
1 New Message from Glendy.