Prolog
"Kamu yakin nggak capek, Sayang? Aku yang nyetir aja," suara Arka, lembut namun berisi kekhawatiran, memecah kesunyian dalam mobil yang meluncur mulus di jalan tol yang sepi. Lampu jalan berpendar seperti kunang-kunang yang terjebak dalam kabut malam.
Alisha memalingkan wajahnya dari jendela, senyum manis mengukir di bibirnya. "Nggak apa-apa, Ark. Aku kuat. Kamu kan besok pagi harus meeting awal. Istirahat sebentar. Lagian, jaraknya tinggal sebentar lagi," bujuknya, tangan kanannya menelusuri lembut perutnya yang membulat, tempat janin mereka berusia tujuh bulan bersemayam.
Arka menghela napas, tetapi matanya berbinar penuh cinta. "Iya, tapi janji, kalau udah mulai ngantuk, bilang. Langsung kita tukar." Tangannya meraih tangan Alisha, jari-jari mereka bertaut erat. "Kita berdua... eh, bertiga, yang terpenting."
"Janji," gumam Alisha, hatinya hangat.
Mereka melanjutkan perjalanan, dihiasi obrolan ringan tentang nama bayi dan rencana liburan setelah si kecil lahir. Udara malam terasa damai. Terlalu damai.
Itu hanya hitungan detik.
Sebelum mereka mendekati sebuah tikungan landai, tiba-tiba Arka mengerutkan kening. "Remnya kok rasanya aneh, Lis. Kayak... lunak," ujarnya, suaranya mulai tegang. Kakinya menekan pedal rem lebih dalam, tetapi tidak ada respon yang seharusnya. Mobil sedan hitam mereka tak juga melambat.
"Arka?" Alisha membelalakkan mata, tangannya refleks memeluk perutnya.
"Lis, pegang erat!" teriak Arka, suaranya kini penuh kepanikan yang ia coba tekan. Dia menarik tuas rem tangan, mencoba segala cara untuk memperlambat laju kendaraan yang semakin tak terkendali. Ban berdecit melengking, membakar aspal, tetapi momentum mobil terlalu kuat.
Dunia berputar.
Pandangan Alisha berkunang-kunang. Bunyi benturan logam yang mengerikan, seperti kaleng dihancurkan oleh raksasa, memekakkan telinganya. Kaca depan mobil retak seperti sarang laba-laba, menghancurkan pandangan mereka tentang jalan raya. Sensasi terlempar dan dihempas oleh sabuk pengaman terasa seperti ditampar oleh kekuatan tak terlihat. Kepalanya menghantam bantalan kursi dengan keras, dan segalanya menjadi gelap, diselingi oleh rasa sakit yang tajam dan tumpul di sekujur tubuhnya.
---
Dentuman itu mengguncang kesunyian malam.
Beberapa warga yang tinggal di pinggir jalan dan pengendara lain yang kebetulan melintas terhenyak. Mata mereka tertuju pada sumber suara—sebuah mobil hitam yang kini bermoncongkan pembatas jalan beton, bagaikan seekor burung yang patah sayapnya.
"Duit! Tabrak! Cepet, tolong!"
"Telepon polisi!Ambulans!"
Dengan cepat, kerumunan mulai mengitari mobil yang menyedihkan itu. Bau bensin, oli, dan bubuk mesin yang hancur memenuhi udara. Seseorang berusaha membuka pintu pengemudi yang penyok.
Di dalam mobil, Alisha tersadar sebentar. Kepalanya berdenyut-denyut sakit, dan mulutnya terasa ada rasa besi. Dia mencoba menggerakkan kepala, melihat ke kursi pengemudi. Di sana, Arka terduduk lemas, tubuhnya terpelintir oleh sabuk pengaman, dan di pelipisnya mengalir garis merah tua.
"Ar... ka..." desisnya, suaranya serak dan nyaris tak terdengar. Tenaganya seolah mengalir pergi bersama darah yang ia rasakan di dahinya.
Tak lama, sirene polisi meraung-raung, memecah kepanikan. Lampu biru-merah mereka berkedip-kedip, menerangi wajah-wajah penuh kecemasan di kerumunan. Petugas kepolisian dengan sigap mengamankan lokasi. Beberapa menit kemudian, suara sirene lain, yang lebih menusuk hati, bergabung—ambulans.
Dua paramedis dengan gerakan terlatih mendekati mobil. Mereka menggunakan alat untuk membuka pintu pengemudi yang rusak. Dengan hati-hati, mereka mengeluarkan tubuh tak bergerak Arka dari reruntuhan logam dan menaruhnya di atas tandu. Wajahnya pucat, tertutup debu dan bercak darah.
Alisha, dengan kesadaran yang naik turun, menyaksikan semuanya seperti melalui tirai air. Matanya, yang kabur, mengikuti setiap gerakan paramedis. Dia melihat tubuh suaminya, tubuh yang baru tadi memegang tangannya dengan hangat, kini terbaring tak berdaya di atas tandu orange. Dia melihat mereka membawanya, melesat menuju ambulans dengan pintu terbuka lebar seperti mulut monster yang siap menelan.
"Ar... ka..." dia mencoba lagi, lebih keras kali ini, sebuah erangan dari dasar jiwa yang terluka. Tapi suara itu hanya bergema di kepalanya. Bibirnya bergetar, namun tak ada suara yang keluar. Tangannya ingin meraih, tetapi perutnya yang besar, tempat kehidupan lain bergantung, membuatnya terasa terpenjara. Rasa sakit yang menusuk di perutnya dan kepala yang pusing membuatnya tak berdaya. Dia hanya bisa melihat, dengan mata yang dipenuhi ketakutan dan keputusasaan, saat pintu ambulans tertutup, membawa separuh jiwanya pergi.
Kegelapan sekali lagi menyambutnya, lebih dalam dan lebih dingin dari sebelumnya.
---
Lima Tahun Saat Ini
"ARKA!"
Teriakan itu mengoyak kesunyian subuh. Alisha terduduk tegak di tempat tidurnya, napasnya tersengal-sengal, seperti orang yang baru berlari maraton. Dadanya naik turun tak beraturan. Keringat dingin membasahi keningnya dan baju tidur sutranya yang melekat pada tubuhnya yang gemetar.
Matanya membelalak, menatap kosong ke arah ruangan yang gelap. Perlahan-lahan, pandangannya mulai menyesuaikan diri. Bentuk lemari pakaian, tirai jendela yang tertutup, dan bayangan furnitur yang familiar mulai jelas. Dia tidak berada di dalam mobil yang hancur. Dia berada di kamarnya, di rumah mewah yang kini terasa begitu besar dan hampa.
Dia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan jantung yang berdebar kencang seperti drum perang di dadanya. Tangannya secara refleks meraih sisi tempat tidur di sebelahnya. Dingin. Selalu dingin. Bantal itu masih rapi, tanpa bekas kepala.
Lima tahun.
Sudah lima tahun sejak malam itu, sejak dentuman, sejak ambulans, sejak Arka tidak pernah pulang. Namun, mimpi itu, kenangan itu, segar bagaikan baru terjadi kemarin. Setiap detail, setiap rasa sakit, setiap ketakutan, terukir begitu dalam di benaknya, terbawa ke dalam mimpinya, menjadi hantu yang setia mengunjungi saat dia paling lengah.
Dia mengusap wajahnya dengan kedua tangan, merasakan kelembapan air mata yang tidak disadarinya telah menetes. Dia melihat jam digital di meja samping tempat tidur. Pukul 04.30 pagi.
Dunia di luar jendelanya masih gelap, tetapi bagi Alisha, hari itu telah dimulai dengan sebuah ledakan—ledakan dari masa lalu yang tak pernah benar-benar pergi. Dia merangkul lututnya, menaruh kepalanya di atasnya, dan membiarkan kesunyian kamar yang mewah itu menelan isak tangisnya yang sunyi. Pertempuran hari lainnya telah dimulai.
Siap untuk dihadapinya bersama dengan kenangan yang tak pernah bisa terlupakan. Cinta sejati yang sudah didapatkan, kini telah menjadi luka yang berdenyut dalam kenangan.
---
Bersambung...