Happy reading!
~M E M O R I E S~
Hari itu, sekitar pukul sembilan pagi sebuah taksi online yang membawa Dara dan Ben berhenti tepat di depan gerbang indekos. Tempat yang berada di bawah naungan Bu Denok itu pada akhirnya adalah tempat yang paling ingin Ben tuju setelah ia di perbolehkan pulang dari Rumah sakit. Ben secara tidak langsung menolak ajakan Andina untuk kembali ke rumah dengan alasan yang logis.
Tentu saja karena lelaki itu belum sepenuhnya siap untuk menghadapi semua keadaan yang mendadak akan berubah secara drastis. Menurut Ben, dirinya harus lebih banyak mengingat semuanya dengan jelas. Termasuk detail hubungannya dengan Dara dan bagaimana ia bisa kehilangan kedua orang tuanya. Selain itu, Ben juga masih ingin fokus dengan kuliah yang sebentar lagi ia juga harus menghadapi KKN sekaligus mempersiapkan diri menulis skripsi.
Karena itu, dengan segala pertimbangan tersebut Ben memutuskan untuk kembali ke indekos. Dan tentu saja Andina serta Anggar nggak melarang keinginan Ben, termasuk Dara yang justru mendukung Ben untuk tinggal di mana pun ia mau. Asal Dara bisa menemuinya setiap saat. Melihat kemajuan yang sangat luar biasa yang di alami oleh lelaki itu saja. Mereka sudah sepenuhnya bersyukur. Maka dari itu, semuanya sepakat untuk menunggu Ben, dan menuntun lelaki itu untuk kembali pulang dengan kedua kakinya sendiri.
"Makasih banyak, Pak!" ucap Dara. Gadis itu tersenyum seraya setengah membungkukkan tubuh setelah pak sopir tersebut membantunya mengeluarkan beberapa keperluan yang sengaja di beli saat dalam perjalanan pulang.
Sesaat kemudian, Dara menoleh ke belakang, ia sudah mendapati Ben hendak mengangkat barang belanjaan itu dengan kedua tangan.
"Stop, stop!" teriak Dara bergegas mendekati Ben.
Kontan saja hal itu sukses membuat Ben menghentikan aktivitasnya. Pria itu menatap Dara heran dengan kerutan di dahi.
"Kenapa?" tanya Ben pendek.
"Gue aja yang bawa. Untuk saat ini, lo nggak boleh nyentuh pekerjaan berat, oke?" tawar Dara, "okesip!"
Gadis itu kemudian merebut dua tas besar yang berada di sisi kanan dan kiri Ben, setelah itu bersusah payah membawanya masuk melewati pagar. Membiarkan Ben mengulum senyum melihat tingkah Dara dan kebiasaan gadis itu menjawab pertanyaannya sendiri.
Namun, Ben juga nggak se-tega itu. Ia pun berjalan mendahului Dara dan merebut kedua tas berukuran besar itu dari tangan gadis mungil tersebut dengan gerakan cepat. Sampai membuat Dara terkejut dan hampir saja meneriaki Ben, jika cowok itu tak segera masuk melewati pintu gerbang yang selalu dibuka setengah.
"Bento, ih!" dengus Dara membrengut kesal.
"Keras kepala lo tuh nggak pernah sembuh, ya!" Dara masih bergumam di antara langkahnya untuk mengejar lelaki itu.
Kini jarak keduanya tak begitu jauh, hanya selang beberapa langkah. Meski demikian keduanya tak bisa berjalan beriringan karena posisi Ben yang membawa barang belanjaan di kedua tangan, sedangkan koridor indekos memang tak begitu luas. Mungkin hanya dapat dilewati oleh dua orang dengan berat badan normal.
"Gue nggak selemah yang elo pikirin, Ra." Ben menoleh sedikit ke belakang untuk menyahuti ucapan Dara barusan.
"Gue juga nggak selemah yang elo bayangin, tau."
Ia lupa bahwa gadis di belakangnya itu tak pernah menerima penolakan. Lantas Ben berhenti sebentar meletakkan sebuah tas yang ia jinjing. Lelaki itu memberikan sebuah bingkisan kecil berisi makanan yang dibeli untuk makan siang di indekos kepada Dara.
"Kalau gitu lo bantu, gue." Bungkusan itu diserahkan tepat di depan Dara.
Sehingga spontan Dara menangkapnya dengan tampang bodoh. Ben pasti berpikir kalau Dara sedang bercanda, padahal di rumah Dara terbiasa mengangkat galon air sendiri saat sedang Anggar tak di rumah.
"Ayok jalan!" titah Ben kembali memimpin langkah menuju ke kamarnya.
Lagi pula, Dara sudah cukup boncel berdiri di samping Ben. Sudah seperti roll-on deodorant saat bersanding dengan Ben. Tentu saja Ben tak akan membiarkan Dara semakin kecil dengan membawa barang belanjaan itu masuk ke kamarnya. Meski semua itu hanya alasan Ben untuk membantu Dara, karena gadis itu terlihat kuyu. Matanya yang biasa berbinar hari ini terlihat lelah dan sembab. Sudah pasti karena kemarin Dara terlalu banyak menangis. Dan, semua itu karena Ben.
Karena itu pula, Ben ingin memperbaiki semuanya. Termasuk hidupnya yang masih terlalu abu-abu untuk ia baca sepenuhnya. Meskipun sulit nantinya, Ben berjanji akan berusaha lebih baik untuk menebus semua kesalahannya kepada orang-orang yang mungkin saja pernah ia sakiti tanpa sadar.
~M E M O R I E S ~
Di atas motor vespa berisik miliknya itu, Riki masih memutar-mutan ponsel berwarna hitam yang layarnya sudah pecah. Sebelum sekali lagi ia menghela napas dan mengecek waktu pada jam ponsel itu disusul dengan helaan napas yang lebih panjang lagi. Sudah sekitar lima belas menit ia menunggu Han yang katanya sudah Otw akan menghampirinya di parkiran kampus. Mereka berdua berencana untuk mengisi perut bareng di pujasera kampus dengan menu yang harganya paling terjangkau.
Apalagi kalau bukan nasi uduk Mpok Yeye dengan ekstra bawang goreng langganan mereka—Riki, Han, dan juga Ben.
"Bangsaat, heh lama amat nih, kamprettt! Gue tinggal juga lama-lama," geram Riki memasukkan kembali ponsel bobrok itu ke dalam saku celana jins.
Tanpa banyak basa-basa ia menyandang tas ransel berwarna hitam di salah satu bahu, membetulkan letak kemeja fanel yang sudah seminggu belum dicuci, hanya bermodal kispray sebagai alat untuk menghilangkan apek. Pada dasarnya, Riki sudah kepalang kesal pada Han yang berjanji untuk datang menemaninya ke rumah sakit menjenguk Ben. Tapi, sampai Ben kembali pulang Han bahkan nggak menampakkan batang hidungnya sama-sekali.
Kampreet memang!
Mulai saat itu, detik di hari itu Riki tak akan lagi percaya pada omong kosong Otw dari curut satu itu.
Namun, saat kaki panjang nan kurus Riki hampir menapaki keramik koridor kampus. Ia merasakan punggungnya ditepuk cukup keras. Dan, ketika ia menoleh, Riki sudah mendapati Han di sebelahnya tersenyum dengan cengiran lebar.
"Kampreet, lo!"
"Sorry," cicit Han pendek.
"Sorry, sorry. Gue udah lima belas menit nungguin elo di parkiran kayak bebek i***t, tau gitu gue duluan jalan ke pujasera."
Han cuma terkekeh pelan menerima protes dari Riki. Lagipula ia sudah hapal betul kelakuan Riki, cowok sleng'an yang kalau bicara suka asal tanpa disaring itu memang begitu. Namun, Riki juga nggak terlalu bodoh meski ia tergolong sebagai mahasiswa paling ndablek seangkatannya. Riki tau respon Han saat diajak bicara tak seperti biasanya, sehingga cowok tinggi itu melirik ke arah Han yang terlihat lebih kusut dari pada biasanya.
"Lembur lo?" tanya Riki setelah melirik sohibnya itu sekilas.
"Enggak. Kenapa?" Han bahkan nggak menatap mata Riki bak sebentar.
Tatapan cowok itu lurus ke depan menatap jejeran keramik putih yang tersusun rapi untuk dipijak. Seperti kehidupannya yang tak pernah mudah, meski ia sudah berusaha sekeras mungkin tapi tak pernah ada hasil yang sesuai dengan apa yang ia butuhkan.
"Muka lo kucel, kayak kemeja gue nih." Han tak membalas ucapan Riki barusan.
Ia cuma mengulum senyum dan berusaha menelan semua perasaan yang saat ini tengah mengambang di permukaan hati. Riki yang notabene-nya adalah tekan sekamar Han, yang kerap kali tau seberapa sering cowok itu menelepon adiknya untuk menanyakan kabar dan mengirimi uang bulanan. Riki juga yang hapal betul padahal Han sendiri tengah kekurangan. Cowok itu mengalungkan lengannya ke pundak Han.
"Jangan lembek, woi. Kalo ada apa-apa bilang, cuk! Gue bantu mikir," kata Riki, "hari ini gue yang traktir."
Sayang hanya itu yang dapat Riki lakukan sebagai teman. Ia juga bukan anak dari orang kaya. Bisa kuliah seperti ini saja Riki sudah sangat berterima kasih kepada kedua orang tuanya yang memaksa Riki lulus menjadi sarjana.
Tapi, hidup emang tak pernah mudah, 'kan?
Han berhasil tersenyum tipis mendengar ucapan tersebut, tapi jauh di dasar hatinya kenapa ia justru merasa semakin terluka. Seperti ... seseorang tengah menatap sangat kasihan pada kehidupannya?
Han bahkan bingung untuk saat ini, haruskah ia merasa bahagia dengan apa yang sudah ia terima. Atau justru sebaliknya?
"Rik?" panggilan Han berhasil membuat cowok cungkring di sebelahnya menoleh.
"Apaan?"
"Besok gue mau pindah kosan," ujar Han tanpa menatap Riki yang terkejut setengah mampus dengan keputusan Han yang sangat tiba-tiba.
~M E M O R I E S~
-Gamaliel, Audrey, Cantika : Berlari Tanpa Kaki-
Setelah begitu lama
Tersisa air mata
Banyaknya kenangan yang tak akan terlupakan
Masa-masa yang indah
Masa-masa kita bersama
Perasaan mendalam yang takkan pernah reda
Ku, Maafkan aku tak pernah mendengar
Maafkan aku tak pernah melihatmu
Pergi
Ku ingin kau di sini
Tegar, ku kan mencoba melewatinya
Lepas, lepaskan semua yang sudah berlalu
Tapi tanpa dirimu tak mungkin
Ku terus berlari tanpa kaki
Uuuuu
Waktu terus berjalan
Tapi tak henti ku berharap
Melihat senyumanmu walau sedetik saja
Ku, Maafkan aku tak pernah mendengar
Maafkan aku tak pernah melihatmu
Pergi
Ku ingin kau di sini
Tegar, ku kan mencoba melewatinya
Lepas, lepaskan semua yang sudah berlalu
Tapi tanpa dirimu tak mungkin ku terus berlari tanpa kaki
Erat ku kan bertahan janjiku
Tekat ada untukmu sampai selamanya
Tapi tanpa dirimu tak mungkin ku terus berlari tanpa kaki
Oh semakin ku coba tuk lupakan
Semakin terbayang kedua matamu
Ku tau kau tak mungkin kembali
Ku ingin kau di sini
Tegar, ku kan mencoba melewatinya
Lepas, lepaskan semua yang sudah berlalu
Tapi tanpa dirimu tak mungkin ku terus berlari tanpa kaki
Erat ku kan bertahan janji ku
Tekat ada untuk mu sampai selamanya
Tapi tanpa dirimu tak mungkin
Ku terus berlari tanpa kaki
-B e r s a m b u n g-