Happy reading!
~M E M O R I E S~
Dari segala sisi manusia yang selama ini ia ketahui. Dorongan paling kuat untuk setiap orang melakukan sesuatu bukan perihal keberanian, melainkan rasa takut. Kadang, manusia tak perlu berpikir dua kali untuk berani mengambil sebuah keputusan, tapi saat manusia berada dalam situasi ketakutan. Apapun yang hendak dilakukan pasti akan terjadi pula.
Begitulah siklus hidup untuk seorang yang tak dianggap eksistensinya, tak pula memiliki cukup harta, pun kehidupan yang nyaman di dunia ini. Adalah perihal kejatuhan dan tersungkur dalam penyesalan seperti yang tengah Han rasakan. Perbuatannya untuk memata-matai Ben sejak hari di mana Han memaksa Riki datang ke indekos Ben malam-malam. Hanya untuk memastikan apa yang Ben dapatkan setelah seharian bersama Dara. Ditambah sebuah kotak yang bahkan ia tak tau isinya apa, tapi nyatanya kotak itu sukses membuat Ben sampai di rawat masuk rumah sakit. Ia bahkan menyampaikan semua kegiatan Dara dan Ben selama kedua insan itu bersama dan tertangkap netranya kepada bos-nya.
Seolah semua itu tak pernah cukup untuk membuat Han merasa bersalah. Kini sebuah amplop cokelat yang sudah dipastikan berisi uang tersebut diletakkan di atas meja. Di dorong sekali lagi lebih dekat dengan kedua tangan Han yang bertumpu di atas meja. Siapa lagi orang yang akan memberikannya uang itu jika bukan bos yang kini duduk berseberangan dengan Han di kafe yang masih sepi. Lelaki itu tersenyum, tapi tak terbaca makna senyum yang ia suguhkan.
Meski sejujurnya Han juga pernah merasa senang karena diberikan kepercayaan untuk menjaga kafe saat bosnya itu pergi. Namun, Han benar-benar tak menyangka sifat tunduk dan disiplin-nya itu justru dipergunakan oleh orang yang statusnya jelas lebih tinggi dari pada Han.
"Udah paham sama tugasnya, 'kan?" tanya lelaki yang mengenakan topi beret tersebut.
Ia masih menatap Han yang sejak tadi tak bersuara. Seperti pada biasanya cowok yang sudah ia berikan kepercayaan untuk mengurus kafe saat dirinya pergi itu, biasanya akan segera melakukan apa yang ia perintahkan tanpa banyak bicara. Tapi, kali ini Galang cukup heran melihat reaksi yang dibuat oleh Han. Padahal ia tau betul saat ini cowok naif tersebut sedang butuh banyak uang untuk biaya sekolah adiknya yang sudah terlalu lama menunggak.
Singgalang. Sahabat Dara yang paling tau seluk beluk kehidupan Dara. Mulai dari kapan pertama kali cewek itu mendapatkan haid di masa smp. Siapa cowok pertama yang menjadi cinta monyet Dara, siapa juga mantan pertama cewek itu. Kapan Dara merasa patah hati, kapan pula cewek itu merasa over bahagia dan kenyataannya, sejak dulu Dara selalu menjadikan Galang tempat untuk membagi semua perasaan itu. Karena itu pula di mata Galang, tak ada cewek lain yang lebih menarik dari seorang Dara. Ia masih ingat betul bagaimana Dara selalu melindunginya saat anak kompleks sebelah mengganggu dirinya. Dara akan datang dan dengan berani mengatakan bahwa,
"Kalau kalian nakalin Galang lagi, lewati aku dulu!"
Sekilas mengingat semua itu membuat hatinya tergelitik rindu, lantas ia ingat pada realita yang memukul telak bahwa sekarang Dara tak pernah lagi memiliki waktu dengannya. Mereka bahkan tak lagi bertemu setiap hari, sekalipun Galang ingin bertemu dengan Dara. Gadis itu pasti sibuk dengan Ben dan segala urusannya. Apakah tidak pantas bagi Galang merasa kehilangan sosok sahabat yang sejak kecil menemaninya?
Pasti tidak. Cowok itu juga takut setengah mati kehilangan Dara dan tak pernah bisa memiliki gadis tersebut. Dan nyatanya, realita selalu tak pernah membahagiakan. Suatu hari dengan air muka ceria Dara justru mengatakan kepada Galang bahwa ia akan menikah dengan Ben. Cowok yang notabene-nya baru ia kenal dalam beberapa tahun terakhir. Padahal selama ini, Galang selalu ada di samping Dara dalam situasi. Lantas kenapa harus Ben? Kenapa bukan dirinya yang sudah mengenal Dara dari sisi baik dan buruknya sekalian? Toh, Galang pasti akan lebih menerima Dara apa adanya, dan menjaga gadis itu sepenuh hati karena pada dasarnya Galang memang sudah jatuh cinta pada Dara.
Ketakutan itu mendorong Galang menjadi orang yang tak pernah memiliki sisi seperti ini. Sisi yang tak pernah ia tunjukkan kepada orang lain sekalipun orang itu adalah Dara.
"Sori, tapi gue ngelakuin ini semua buat elo, Ra," kata Galang dengan sepasang mata membara yang menatap kosong ke depan sana. Kalimat pembelaan itu justru terdengar menyedihkan di telinga Galang sendiri, namun sialnya. Lelaki itu tak bisa menahan diri untuk tak melakukan hal yang sangat ingin ia lakukan.
Yaitu, mengusir rasa takutnya. Dengan cara, menyingkirkan Ben dari kehidupan Dara.
Matanya menatap lurus ke depan di mana kaca mobilnya basah di guyur hujan. Dan di depan sana pula ia melihat seseorang terkapar tak jauh dari sepeda motornya. Benar saja, Galang terlalu takut sampai ia terdorong untuk mencelakai Ben. Meski kemudian ia pula yang membawa cowok itu sampai ke Rumah sakit dan mengabarkan pada keluarga Ben bahwa semua ini adalah kasus tabrak lari. Meski ia sempat khawatir menerima kenyataan bahwa Ben tak meninggal detik itu, tapi kabar bahwa Ben mendapatkan cedera otak parah membuat Galang bernapas lega. Setidaknya, jika ia tak bisa memiliki Dara. Maka tidak juga untuk orang lain.
Picik?
Iya, Galang memang terlalu diam dan tenang sampai tak seorang pun yang mencurigai semua tindakannya yang sudah mencelakai Ben.
"Gue berhenti." Ucapan Han tersebut sontak membangunkan Galang dari lamunannya. Han bahkan melepaskan pin name tag-nya dan meletakkan benda itu ke atas meja. Kemudian mendorongnya ke bagian tengah meja bersama dengan amplop cokelat milik Galang.
Tentu saja hal itu membuat Galang mengangkat sebelah alis nya sambil menatap Han dengan bingung. Kenapa juga lelaki yang kini membalas pula tatapan matanya itu mendadak berubah pikiran seperti ini? Padahal Han adalah orang paling tepat yang dapat ia gunakan sebagai alat untuk mengambil langkah ke depannya. Segaris senyum sarkas tergambar jelas pada wajah Galang, jelas lelaki itu menatap Han dengan pandangan remeh.
"Kenapa?" Galang bersedekap dadaa mendapati kebisuan yang disuguhkan oleh Han. "Jangan bilang lo ngerasa bersalah setelah semua yang udah lo lakuin?"
Han masih diam, tapi tatapanya tak beralih dari Galang. Sepenuhnya ucapan bosnya itu benar, dan ia tak bisa melanjutkan semua ini. Apalagi setiap hari ia harus berpapasan dengan Ben.
"Realistis aja, Man. Lo butuh duit, gue kasih. Asal elo mau bantuin gue," ujar Galang lagi. "Lagian lo udah terlanjur nyemplung, udah terlanjur basah kalau mau berhenti sekarang nggak ada gunanya."
"Terlanjur bukan berarti nggak bisa diperbaiki."
Galang tersentak mendengar kalimat itu. Sekaligus kaget, karena seingatnya hanya ada dirinya dan Han di dalam kafe yang belum buka pagi itu. Saat Galang menoleh, ia sudah mendapati seorang gadis berpakaian aneh—mirip setaaan berdiri di sebelahnya dengan rambut panjang yang menutup sebagian wajah. Kunti berdiri di sana menatap Han yang berusaha menyembunyikan keterkejutannya melihat bagaimana bisa cewek itu masuk ke kafe tersebut. Apa jangan-jangan Kunti benar-benar hantu selama ini?
"Sialan! Siapa lo? Gimana caranya bisa masuk ke sini?"
"Nggak ada kata terlambat selama kita mau berhenti. Minimal koreksi diri sendiri," kata Kunti.
"Diem maling! Lo nggak berhak ngomong di sini," sentak Galang.
Lelaki itu berdiri hendak menyentuh Kunti, tapi entah dan sangat tak disangka bahwa Kunti sudah lebih dulu maju selangkah dan mejegal kaki Galang sehingga cowok itu jatuh tersungkur disusul kalimat umpatan dari bibirnya. Kunti menatap Galang yang meringis sakit sekilas dengan tatapan datarnya. Kemudian ia kembali fokus menatap Han yang terlihat sangat terkejut di depannya.
Cewek itu kemudian berjalan ke arah Han, mengabaikan Galang yang masih speechless melihat Kunti dengan pikiran bagaimana bisa ia masuk ke sini. Di tambah rasa malu hanya karena berhasil dijatuhkan oleh cewek aneh tersebut.
"Minta maaf sama Dara sebelum semuanya terlambat," ucap Kunti tanpa menatap Galang. Justru saat ini gadis itu tak mengalihkan tatapannya dari Han yang masih berusaha untuk terlihat tenang.
"Ayo pergi, Hanif." Tanpa persetujuan, lagi-lagi Kunti menarik lengan Han dalam genggamannya. Sampai cowok itu berdiri dari kursi dan berjalan mengikuti Kunti melewati pintu keluar.
Mengabaikan teriakan Galang yang mengumpati Kunti dengan perasaan dongkol setengah matiii.
~M E M O R I E S~
Ben menjatuhkan kantung plastik warna putih berlogo mini market itu ke atas meja mini yang tak jauh dari posisinya berdiri. Pintu sudah ia tutup, dan demi apa lelaki itu tak tau harus melakukan apa pada Dara yang kini malah terlelap di kasurnya. Meringkuk di dekat tembok seperti janin yang sangat kecil. Padahal sekitar sepuluh menit yang lalu, saat ia meminta Ben untuk keluar membeli roti tawar. Gadis itu sempat mengatakan akan pulang dengan taksi online.
"Beliin roti tawar gue dulu. Abis itu baru pulang," ucap Dara menatap Ben dengan melas, "suer, gue pulang kok nanti."
Sumpah demi apa pun, besok-besok Ben tak akan lagi menuruti ucapan Dara atau bahkan mempercayai apa yang cewek itu katakan. Namun, tetap saja melihat posisi tidur Dara yang mirip seperti orang sakit itu. Ben melangkah mendekat ke arah kasur tebal tanpa ranjang miliknya, tempat paling nyaman di muka bumi yang selalu sukses membuat Ben merasa dipulihkan saat merasa lelah.
Cowok itu kemudian duduk di atas kasur, tepat di ujung untuk menjaga jarak dengan Dara. Ia mengambil selimut dan membentangkan kain hangat itu sampai menutupi tubuh mungil Dara. Sedari tadi pula, mata Ben tak melepaskan Dara dari fokus pandangan. Netranya terus menelusuri wajah tenang Dara yang terlelap dengan begitu manis. Sepasang mata yang selalu tersenyum padanya itu terpejam, tanpa sadar Ben ikut gengkurap di samping Dara. Cowok itu menopang dagu memerhatikan Dara yang tertidur dengan pulas.
"Kayaknya lo diem cuma pas tidur doang deh, Ra." Ben bergumam sendirian.
Tangannya tergerak menyingkirkan helaan anak rambut Dara yang menutup sebagian wajah cewek itu. Entah kenapa pula, Ben mendadak terlalu banyak tersenyum hanya dengan melihat Dara. Cowok itu bahkan tak bisa menahan diri untuk tak menyentuh ujung hidung bangir Dara dengan jari telunjuknya.
"Ternyata lo emang bener-bener kecil, Ra." Kini Ben terkekeh kecil.
Tawa Ben mendadak berhenti saat itu juga, cowok itu bahkan sempat terkejut melihat Dara yang mendadak menggenggam telunjuknya secara tiba-tiba. Padahal kedua mata cewek itu masih terpejam erat.
"Sakiiit!" eluh Dara. Kontan Ben mengernyitkan dahinya heran.
Ia sungguh tak tau apa yang baru saja Dara ucapkan. Masih belum sembuh dari keterkejutan itu, Dara membuka mata. Sehingga kini sepasang mata kuyu Dara menatap Ben yang terlihat kikuk di depannya. Hanya saja, bukan itu masalshnya.
Cewek itu benar-benar seperti nggak bisa bergerak lagi dari tempatnya merasakan perut yang melilit setengah mampus. Pinggang yang rasanya seperti putus, dan hasrat kebelet boker, tapi nggak mau keluar itu benar-benar sangat menyiksa. Holly s**t!
Dara menatap Ben melas. Air mata sudah mengenang di pelupuk mata, tapi masa iya Dara harus menangis lagi karena hal ini.
"Beeen." Gadis itu merengek. Suaranya sudah serak mirip seperti anak kecil yang menahan tangisnya.
"Kenapa Ra? Lo mimpi buruk?" tanya Ben tak mengerti.
Tentu saja cowok itu kebingungan melihat Dara yang mendadak bangun dan bersikap seperti ini. Apalagi cewek itu hanya menggeleng saat Ben menanyainya.
"My period is coming!"
"Ha?" tanya Ben masih melongo nggak mengerti, "Mm-maksud lo, lo lagi datang bulan?"
Dara tak menjawab lagi, cewek itu sudah menangis tersedu menarik lengan Ben dan menjadikannya bantal. Sontak hal itu sukses membuat Ben merasa panik karena suara tangisan Dara cukup kencang. Bisa-bksa mengundang Bu Denok untuk datang ke kamarnya dan memergoki mereka berdua.
Tunggu dulu!
Memergoki? Memang Ben dan Dara sedang melakukan apa? Kalimat itu seolah sedang menunjukkan kau Dara Dan Ben sedang melakukan dosa.
Tapi, itu tak penting lagi. Yang terpenting saat ini adalah bagaimana caranya Ben membuat Dara diam. Atau minimal mengecilkan suara tangisannya.
"Ssst, Ra. Jangan keras-keras plis." Ben masih tak tau harus bagaimana.
Lantas kini tangannya menepuk-nepuk punggung Dara seperti seorang bapak yang tengah menenangkan anaknya yang menangis.
"Sst, plis jangan keras-keras," bisik Ben lagi.
Saat itu juga, Dara meringsek ke dalam pelukan Ben. Menjadikan lengan Ben sebagai bantal sepenuhnya. Dara bahkan menyembunyikan wajahnya pada dadaaa Ben. Bukan sedang mencari-cari kesempatan. Hanya saja, sakit perut karena haid adalah penyakit langganan Dara yang selalu sukses membuat Dara menjadi cewek nggak berdaya. Dan Dara sangat benci hal akan itu.
Sementara Ben yang mendapat perlakuan seperti itu hanya membengong, tubuhnya malah mendadak kaku merespon pelukan dari Dara tersebut.
"Rr-ra?"
"Bentar aja, plis. Sakit banget Ben sumpah, gue kesel!" Dara masih sesenggukan dalam pelukan Ben.
"Yy-ya, udah. Lepas, gue buatin jahe anget," kata Ben tergagap menghadapi sikap Dara kali ini. Namun, tak dipindahkan oleh Dara. Kini ia justru mengeratkan pelukannya pada pinggang Ben.
Dara bahkan tak peduli jika ingusnya menetes jatuh ke hoodie abu yang kini di kenakan oleh cowok itu. Yang penting adalah, Ia merasa nyaman dan merasa lebih baik. Tentunya saat berada di dekat Ben.
Setelah kalimat itu di ucapkan Dara, Ben tak banyak bicara lagi. Cowok itu berusaha menenangkan diri dan jantungnya yang sejak tadi asik bermain dugem di dalam sana. Perlahan tangan Ben menepuk nepuk punggung Dara dengan hangat. Semoga saja hal itu bisa membuat Dara merasa lebih baik.
~M E M O R I E S~
-Ed Sheeran : Thinking Out Loud-
When your legs don't work like they used to before
And I can't sweep you off of your feet
Will your mouth still remember the taste of my love
Will your eyes still smile from your cheeks
And darling I will be loving you 'til we're 70
And baby my heart could still fall as hard at 23
And I'm thinking 'bout how people fall in love in mysterious ways
Maybe just the touch of a hand
Oh me I fall in love with you every single day
And I just wanna tell you I am
So honey now
Take me into your loving arms
Kiss me under the light of a thousand stars
Place your head on my beating heart
I'm thinking out loud
Maybe we found love right where we are
When my hair's all but gone and my memory fades
And the crowds don't remember my name
When my hands don't play the strings the same way, mm
I know you will still love me the same
'Cause honey your soul can never grow old, it's evergreen
Baby your smile's forever in my mind and memory
I'm thinking 'bout how people fall in love in mysterious ways
Maybe it's all part of a plan
I'll just keep on making the same mistakes
Hoping that you'll understand
But baby now
Take me into your loving arms
Kiss me under the light of a thousand stars
Place your head on my beating heart
I'm thinking out loud
That maybe we found love right where we are, oh
So baby now
Take me into your loving arms
Kiss me under the light of a thousand stars
Oh darling, place your head on my beating heart
I'm thinking out loud
That maybe we found love right where we are
Oh baby, we found love right where we are (maybe)
And we found love right where we are
-B e r s a m b u n g! -
Btw, gaiiis.
Kok aku malah nge-ship si Kunti sama Han sih ??
Menurut kalian mereka gimana deh, wkwk. Komen dong!
Sankyu dah bacaaa