“Siapa namamu?” Aileen tak mengindahkan apa yang dikatakan oleh pria tersebut. Ia memalingkan wajah, tidak ingin bertemu tatap dengan wajah pria yang telah merenggut suatu hal berharga darinya.
“Wanita lain terus menyebut namaku dan memohon padaku.” Aileen masih tetap tidak mendengarkan apa yang dikatakan oleh pria yang entah telah sadar atau belum dari mabuknya.
Karena Aileen yang terus mengacuhkannya, dia menekan pinggulnya sedikit kasar, sehingga Aileen tersentak dan menoleh lalu bertemu dengan kedua netra biru shapire tersebut. Air mata semakin keluar membasahi, ekspresi wajahnya masih tetap sama menahan sakit. Namun, itu tidak sedikitpun membuatnya merasa iba.
Wajah dingin pria tersebut menunduk, mendekati sisi Aileen. Kemudian berbisik tepat di samping telinganya, “Call my name, Baby girl.”
“Tidak!”
Aileen terbangun dari tidurnya dengan rasa takut yang menguasai sekujur tubuhnya. Ia segera berpikir bahwa kejadian naas semalam hanyalah mimpi buruk yang akan segera hilang. Namun, ketika sekujur tubuhnya terutama area intimnya mengalami rasa sakit, Aileen sadar bahwa kejadian semalam bukanlah sekedar mimpi.
Aileen masih ingat pemandangan kamar yang sama dengan yang terakhir kali ia lihat. Sofa dan meja yang dipenuhi alkohol juga masih sama seperti di ingatannya. Ranjang ini dan sebuah tangan yang mencengkram dan menyiksanya kemarin, milik seorang pria yang telah memperkosanya. Tangan yang sama dengan yang ia gunakan sebagai bantal.
Kejadian itu, rasa sakit itu, dan apa yang sudah dialami adalah nyata. Aileen telah kehilangan sesuatu yang berharga dalam sebuah kecelakaan tidak diinginkan. Ia benci situasi ini, ia benci dirinya sendiri, terutama pria di belakangnya yang tertidur pulas. Memeluk dirinya erat, seolah peristiwa semalam bukanlah apa-apa, dan tidak memiliki rasa bersalah sedikitpun.
Aileen akui jika ia hidup di negara liberal yang mana tidak ada larangan seks tanpa suatu ikatan. Ia juga bukan seorang wanita kuno atau tidak bergaul, tetapi tetap saja ia tidak mau hubungan pertamanya adalah dengan seorang pria tidak dikenal. Setiap wanita pastilah tidak ingin hal seperti ini terjadi. Meskipun pria yang memperkosa mereka adalah Xavier Lawrence sekalipun. Pemerkosaan tetaplah pemerkosaan.
Tidak ada yang tidak mengetahui nama Xavier Lawrence. Termasuk Aileen yang mengetahui dengan jelas bagaimana rumor yang mengelilingi pria tersebut. Ia telah berhubungan dengan pria seperti dia, di sebuah club malam.
Tidak peduli seberapa banyak wanita yang menginginkan tubuh Xavier dengan cara apapun, tetapi tidak dengan Aileen. Ia takut, benci, sakit, dan jika bisa menginginkan wanita lain untuk bertukar posisi dengannya. Ini bukanlah pengalaman yang menyenangkan, meski dengan pria ini yang digadang-gadang sebagai pria tertampan sekalipun.
Karena ketenaran yang dimiliki pria ini, semakin membuat Aileen frustasi. Keluarganya tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan keluarga Lawrence. Sekeras apapun ia berjuang untuk keadilan. Para wanita mungkin akan mencemohnya tanpa belas kasih bahkan dipastikan tidak akan mendukungnya. Pria yang mereka puja-puja, tidak akan dibiarkan untuk dituntut sedikitpun.
Aileen menutupi wajahnya yang menangis terisak. Ia berniat mengumpulkan tenaganya untuk segera pergi dari sini, tetapi pikiran buruknya terus berdatangan hingga menimbulkan rasa frustasi dan putus asa. Aileen benar-benar tidak rela dan sangat marah, tidak ingin melepas pria ini begitu saja. Namun, tidak ada yang bisa dilakukan. Kekuasaan Xavier adalah hal mutlak di hadapan keluarga Aileen yang kecil.
Dengan sedikit kasar Aileen melepas pelukan Xavier, tidak peduli dia akan bangun. Ia keluar dari selimut dan berdiri di sisi ranjang, tetapi tak lama karena kakinya tidak memiliki tenaga. Aileen merangkak dan memunguti pakaiannya yang berjatuhan di bawah ranjang dan kembali berdiri. Melangkah dengan kaki yang gemetar dan sempoyongan, ia berjalan ke arah kamar mandi. Membasuh sedikit tubuhnya yang lengket, sebelum mengenakan pakaiannya.
"Dasar binatang!" rutuk Aileen masih sambil menangis, melihat bagaimana kondisi tubuhnya di cermin.
Setelah selesai dengan tubuhnya, Aileen berjalan keluar masih dengan langkah yang sempoyongan dan kaki yang gemetar untuk keluar kamar, meninggalkan Xavier. Meski harus menahan sakit, ia hanya ingin menjauh dari pria itu secepat mungkin, dan tidak ingin bertemu lagi. Karena terburu-buru, Aileen tanpa sadar meninggalkan sesuatu yang amat sangat berharga pemberian mendiang neneknya.
-
-
-
To be continued