Meski musim belum berganti menjadi musim dingin, Alaska tetap memiliki suhu rendah bagi orang-orang yang tidak biasa tinggal di negara ini. Khususnya yang tinggal di daerah pegunungan bersalju, jalanan di rumah warga turut tertimbun salju. Seorang gadis berambut blonde, berjalan melewati jalanan bersalju itu dengan sepatu boatnya. Coat serta syal yang ia gunakan menandakan betapa dinginnya udara di sekitar. Sesekali ia menggosok telapak tangannya satu sama lain kemudian meniupnya agar merasa lebih hangat. Matahari sudah terlihat berada di arah barat, dalam beberapa menit ke depan akan segera turun ke peraduannya. Dia menikmati sebentar cahaya sang surya yang sebentar lagi akan habis itu.
“Evelyn!” Suara seseorang yang memanggil sebuah nama membuat gadis itu menoleh.
Senyumnya mengembang kala melihat sosok yang ia kenal memanggilnya. Dia melambaikan tangan sebelum berjalan ke arah wanita yang terlihat berusia tidak berbeda jauh dengannya. Semakin mendekat, tangis bayi yang berada dalam pelukan wanita itu semakin kencang dan terdengar jelas. Tidak bisa menahan diri untuk tidak menimang bayi tersebut, Evelyn menyodorkan tangannya.
Wanita itu menyerahkan bayinya kepada Evelyn yang segera menimang-nimang untuk menenangkan dan membuat tangisnya berhenti. “Ada apa dengan My Rosie, hm?”
“Maafkan aku, Eve. Aku tahu kamu sudah sangat lelah setelah bekerja di pasar, tapi bisakah kamu membantuku dengan menjaga Rosie sementara aku memasak?”
“Ya, tentu saja, Margot. Lagipula aku sudah menganggapnya seperti anakku sendiri. Aku senang bersama Rosie.” Jawaban Evelyn membuat raut wajah penuh rasa bersalah pada wanita di depannya berubah penuh binar. “Terima kasih, Eve!”
“Dimana ayahnya?” tanya Evelyn.
Margot menghela napas panjang sebelum menatap kembali pada Evelyn dengan ekspresi yang kelihatan sedih. “Dia sakit, karena itulah dia tidak pergi bekerja, dan aku harus mengurusnya.”
“Malangnya … kalau begitu aku akan menjaga Rosie sampai ayahnya kembali sehat!” Dengan penuh semangat, Evelyn mengusulkan idenya untuk memberikan bantuan. Margot menggeleng cepat, merasa terlalu membebani teman sekaligus tetangganya ini. “Tidak perlu, Eve! Aku akan menjemput Rosie setelah aku selesai memasak dan memberikan makanan pada Petter.”
“Tidak apa, aku senang Rosie bersamaku kalau aku sudah selesai bekerja.” Evelyn bersikeras.
“Tapi …”
“Jaga saja Petter,” potong Evelyn yang semakin membuat Margot merasa bersalah.
“Kamu juga sangat banyak membantuku dan Nenek dulu saat beliau masih ada, jangan merasa bersalah, ya? Ini hanya bantuan kecil dariku untuk membalasmu.”
Dalam pembicaraan itu, tangis Rosie telah mereda dalam gendongan Evelyn. Margot dan Evelyn berada dalam keheningan pikiran masing-masing. Sebelum Margot kembali berkata, “Terima kasih banyak kalau begitu. Nah, Rosie, jadilah gadis yang baik selama Aunty Eve menjagamu, ya.”
Margot mendekat dan mencium bayi mungil tersebut. “Aku mencintaimu.”
“Paypay, Mommy!” Evelyn menirukan suara anak-anak ketika berpamitan pada Margot dengan Rosie yang ia bawa.
Setelah berbalik dan meneruskan perjalanan, ekspresi wajah Evelyn berubah sendu. Ia menatap sekilas langit berwarna jingga, memikirkan kedua orang tuanya sendiri. Bertanya-tanya apakah ia memilikinya dan apakah mereka juga menyayanginya. Dia hanya memiliki seorang nenek yang membesarkannya sejak kecil. Itupun dia tidak terlalu ingat karena berpisah sangat lama dan kembali bersama satu tahun lalu. Evelyn menguatkan tekadnya kembali untuk terus berusaha mengingat kenangannya bersama sang nenek. Siapa tahu juga bisa mengetahui dan mengingat kedua orang tuanya.
“Rosie, apa kamu kedinginan dan tidak nyaman? Mari kita segera sampai di dalam rumah yang hangat.” Evelyn mengajak bayi tersebut mengobrol lalu mengeratkan pelukannya agar ia tetap merasa hangat.
Saat berada di depan rumah, Evelyn tidak melanjutkan langkahnya. Dia berhenti sambil memandangi rumahnya, lebih tepatnya orang-orang asing yang sudah tiba lebih dulu. Dari cara mereka berpakaian, jelas mereka bukanlah seorang pencuri. Satu hal yang terlintas di dalam benak Evelyn adalah bahwa mereka ingin mengambil rumah satu-satunya sang nenek. Tidak, tidak ada yang bisa mengambil rumah neneknya karena itu milik pribadi. Evelyn juga tidak pernah merasa menggadaikan rumah tersebut atau membuat masalah dengan orang-orang tidak dikenal ini.
Mereka telah menyadari keberadaannya. Satu orang yang mungkin adalah bos mereka, keluar dari rumah dan berjalan mendekat pada Evelyn. Dengan tenang dan tersenyum lembut, Evelyn memulai pembicaraan, “Halo, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?”
“Siapa anak dalam pelukanmu?” Ekspresinya datar ketika melontarkan pertanyaan, suaranya tidak kalah dingin dari udara di sekitar mereka. Bahkan mungkin lebih dingin hingga membuat Evelyn merinding hanya berada di dekatnya saja.
Evelyn tidak mengerti. Dari sekian banyak pertanyaan, anak dalam gendongannya lah yang menjadi tanda tanya besar. Dia juga tidak menjawab apa yang ditanyakan oleh Evelyn. Namun, ia masih mempertahankan ketenangannya dan menjawab, “Bayi ini bernama Rosie, dia anak teman saya yang tinggal di lingkungan ini juga.”
Setelah menjawab pertanyaan tersebut, terlihat bagaimana ekspresi wajah pria di depannya sedikit relax. Evelyn lagi-lagi tidak mengerti dan mengulangi pertanyaan, “Ada yang bisa saya bantu, Tuan?”
“Tuan, apa kita langsung–” Salah satu bawahannya berbicara, tapi terpotong karena isyarat dari pria di depan Evelyn.
“Boleh kita berbicara di dalam untuk menjelaskannya?” tanyanya.
“Ya, tentu saja. Udara di luar tidak baik untuk bayi jika terlalu lama.”
***
Evelyn terlebih dahulu menidurkan Rosie yang sudah terlelap sejak tiba di dalam rumah ke atas kasurnya. Ia melangkah ke dapur untuk menyiapkan minuman hangat selagi mereka mengobrol. Orang-orang yang mengikuti pria itu tampaknya adalah seorang bodyguard. Satu hal lain yang pasti lagi, dia bukanlah orang sembarangan jika membawa pengawal kemanapun. Sampai Evelyn duduk di hadapan pria itu, membawa minuman yang sudah dibuat, ia masih bertanya-tanya apa tujuannya.
Pria tersebut meminum teh madu yang ia buat setelah kelihatannya memperhatikan setiap sudut rumah ini. Begitu juga dengan Evelyn sambil menunggu pria di depannya berbicara lebih dulu. Situasi ini benar-benar tidak nyaman dan sangat canggung bagi Evelyn. Suara benturan beling antara gelas dan tatakannya terdengar nyaring ketika pria itu selesai minum.
“Nona Smith …”
“Iya? Maaf, saya bukan Nona Smith. Nama saya adalah Evelyn.”
“Iya, saya tahu.”
Evelyn bingung saat pria itu memanggilnya dengan nama lain. Lalu sekarang merasa sedikit kikuk ketika mengetahui ia nyatanya bukan memanggilnya. Sekali lagi Evelyn menatapnya untuk tetap fokus pada pembicaraan. Ketika mereka bersitatap, kedua netra milik pria itu memperhatikannya seolah ia adalah mangsa. Sehingga lagi-lagi membuat Evelyn sulit berbicara karena gugup.
“Saya mencari orang bernama Aileen Smith,” ujarnya.
“Aileen Smith?” tanya Evelyn setengah bergumam.
“Saya tidak pernah mendengar nama itu sebelumnya, saya juga tidak tahu. Apa Anda memiliki foto nona itu?”
“Kalau begitu, apa Anda mengetahui orang ini?” Alih-alih memberikan sebuah foto seorang wanita yang tadi ditanyakan, dia memperlihatkan foto seorang pria. Evelyn mengambil ponselnya dan melihat dari dekat wajah pria itu. Kesan pertamanya adalah karisma yang ada pada orang ini melekat kuat. Dari sekilas saja bisa dikatakan bahwa ia adalah pria yang hebat dan kaya raya.
“Maaf, saya tidak tahu. Siapa dia?” Setelah memperhatikan lamat-lamat foto pria itu, Evelyn menyerahkan kembali ponselnya.
“Beliau adalah Xavier Lawrence, bos saya yang sesungguhnya mencari keberadaan Nona Aileen Smith. Saya sekretarisnya, Edwin Scott.” Evelyn mengangguk saja sebagai respon, meski tidak mengerti apa kaitan ini dengan dirinya.
“Tapi saya tidak mengenal atau mengetahui keduanya. Maaf.”
“Bos saya membutuhkan Anda dan ingin bertemu dengan Anda.” Hah? Begitulah kira-kira ekspresi dari Evelyn ketika mendengar penuturan sekaligus tujuan dari pria ini.
“Maaf, Tuan … Scott. Saya tidak memiliki hubungan apapun apalagi mengenal di antara keduanya. Kenapa saya dibutuhkan oleh bos Anda dan ingin bertemu saya?” Evelyn menatap ke arah Edwin yang melirik ke arah orang-orang di luar. Jangan bilang kalau orang-orang itu dibawa untuk membawanya kepada pria bernama Xavier Lawrence?
“Bos–”
“Baiklah, saya akan ikut dengan Anda dan bertemu dengan bos Anda untuk menjelaskan hal yang sama. Pertama-tama, saya harus memulangkan Rosie terlebih dahulu.” Daripada diculik dan diseret secara paksa, Evelyn memilih untuk ikut mereka saja secara sukarela terlebih dahulu. Dia tidak bersalah, dia juga tidak mengenal atau mengetahui apa yang dicari oleh pria itu. Tidak akan ada masalah. Namun, tidak ada yang tahu bahwa ini merupakan titik balik kehidupannya sebagai Evelyn. g
-
-
-
To be continued