Myranda adalah gadis yang tumbuh di keluarga yang sederhana di sebuah desa.
Myranda anak ke-tiga dari empat bersaudara, Jarak Myranda dengan saudara keduanya hanya berbeda satu tahun saja.
Namun pada saat duduk di bangku kelas empat SD kakak Myranda tinggal kelas dan akibatnya sejak kelas empat SD Myranda akan duduk di kelas yang sama dengan kakaknya hingga mereka berdua tamat dari SMA.
Setelah Myranda menyelesaikan sekolah SMA nya, dia berniat untuk melanjutkan cita-citanya ingin menjadi polwan.
Kedua orang tua Myranda sedang duduk dengan Myranda dan juga kakak nya membahas perihal kelanjutan sekolah keduanya.
" Nak...."
" apa rencana mu selanjutnya??" kata Ibunya Mira Kepada Mira
" Kalau bisa mak,,"
" saya ingin jadi polwan" kata Mira
" cita-cita mu memang sangat bagus nak..."
" tapi perlu kamu tahu, bahwa untuk mendapatkan itu kita tidak mempunyai uang yang cukup."
" belum lagi itu, kakak kamu Fitri juga ingin melanjutkan kuliah."
"darimana lah mamak dan bapak mu bisa mendapatkan uang sebanyak itu." kata bapak Mira
" maksud bapak bagaimana??" kata Mira
" jika bisa, tolong untuk setahun ini saja kamu berhenti."
" mamak janji, tahun depan mamak akan menyekolahkan kamu kembali" kata ibu Mira.
" loh kenapa seperti itu???"
" Kenapa harus berhenti??" kata Mira
" nak...."
" Kakak kamu Fitri lah lebih dulu melanjutkan sekolahnya tahun ini."
" untuk menyekolahkan kalian berdua sekaligus kami tidak sanggup, inipun rencananya bapak akan menjual sebagian tanah kita." kata bapak Mira berbicara dengan sedih.
" kenapa kalian pilih kasih padaku."
" aku kalian Suruh menganggur, sementara kak Fitri melanjut." kata Mira berbicara sambil menangis.
" bukan pilih kasih nak..."
" maksud kami begini, selama satu tahun ini kamu bekerja dulu untuk menambah modal untuk kuliah mu ke tahun depan" kata mamak Mira
" lalu apa ini namanya??"
" jika tidak pilih kasih maka, kami berdua harus sama-sama menganggur dan harus sama-sama bekerja untuk mencari modal kuliah masing-masing." kata Mira
" jika kakak mu menganggur tahun ini, maka dia akan terlalu tua untuk masuk ke universitas tahun depan."
" sementara kamu, umur kamu masih muda dibandingkan dengan kakak mu." kata ibu Mira
" dulu saat kami duduk di bangku SD, aku mendengar mamak berbicara dengan seorang guruku."
" dia mengatakan agar aku di tinggalkan kelas kan supaya mamak tidak kewalahan untuk menyekolahkan kami masuk ke SMA ataupun ke universitas."
" tapi apa mamak bilang??"
" mamak mengatakan pada guru ku."
" jika memang otak nya Mira pintar, maka perlakukan dia dengan selayaknya."
" dan jika memang dia bodoh dalam hal belajar, maka tinggalkanlah dia"
" soal sekolah lanjutan mereka, ibu tidak usah khawatir."
" siapa yang mampu bersaing maka aku akan tetap mendukungnya."
" itukan yang mamak katakan??" kata Mira
" maafkan mamak nak, tapi keadaan kita dulu dengan yang sekarang sudah berbeda." kata Mamak Mira
" iya sudah begini saja,"
" baiklah...."
" melanjut lah jika memang ingin melanjut."
" tapi jangan salahkan kami, jika di tengah perjalanan nanti kalian berdua harus berhenti karena kami tidak sanggup." kata Bapak Mira
" jika berhenti, itu artinya semua uang yang sudah kita keluarkan harus terbuang dengan cuma-cuma" kata Mamak Mira
Memikirkan perkataan kedua orang tuanya, akhirnya Mira mengalah untuk berhenti dalam satu tahun ke depan dan akhirnya dia pun bekerja di sebuah perkebunan sebagai seorang administrasi.