Sebelum lanjut ke cerita, author akan kenalkan karakter/tokoh di novel ini,dan author mau bilang novel ini ada haremnya Dan adegan dewasanya jadi harap bijak dalam memilih bacaan, tidak di peruntukan untuk anak di bawah umur.
Tokoh/karakter nya antara lain :
1. Alvano Mandala yang biasa dipanggil Vano/Al, memiliki mata bewarna coklat, rambut lurus warna hitam,hidung mancung, bibir yang tipis bewarna kemerahan, bentuk wajah yang oval,dan tinggi badan nya 170 cm, usianya 20 tahun.
2. Nadila syakila, yang biasa dipanggil Dila, memiliki wajah cantik alami, bentuk wajah bulat, mata bulat warna hitam, hidung mancung, bibir tipis bewarna kemerahan, tinggi badan nya 170 cm, usianya 25 tahun.
3. Anisa Revina, yang biasa dipanggil Vina memiliki wajah cantik, rambut sedikit ikal, hidung pesek, bibir tipis bewarna kemerahan,mata berbentuk upturned, bentuk wajah oval,tinggi badan nya 165 cm, usianya 23 tahun.
4. Melisa Wulandari, yang biasa dipanggil Lisa, memiliki wajah cantik, rambut lurus warna hitam, hidung sedikit mancung, bentuk wajah persegi, mata berbentuk downturned, bibir tipis bewarna kemerahan, tinggi badan nya 165 cm, usianya 22 tahun.
Lanjut ke cerita.
Seorang pemuda tampan berusia 20 tahun, tapi ketampanan nya itu tertutup oleh badan nya yang kurus,ia duduk sendiri di dalam kelas,sambil membaca buku pelajaran nya disaat jam istirahat pemuda itu bernama Alvano Mandala yang biasa dipanggil Vano atau Al.
Vano tidak banyak memiliki teman, hanya ada 2 orang yang selalu berteman baik dengan nya, seorang wanita cantik yang menjadi primadona sekolah dan teman satu desanya, Vano selalu mendapatkan tindakan kekerasan,Bullyan, hinaan, tapi dia tetap semangat melanjutkan pendidikannya.
seharusnya Alvano sudah duduk di bangku perkuliahan, karena suatu hal dia istirahat selama 2 tahu waktu duduk di bangku SMP, saat mau naik kelas 2 udan dia kembali melanjutkan pendidikannya atas desakan Mama angkatnya Alvano pun menuruti kemauan mamanya itu, sedangkan untuk kakak kedua dan ketiga nya sudah lulus mengenyahkan bangku sma,dan sekarang mereka Beker di sebut kafe untuk membantu perekonomian keluarga mereka.
Sepertinya saat ini, Vano yang sedang asik dengan buku pelajaran nya, tidak menyadari orang yang biasa mem-bully-nya masuk kedalam kelasnya bersama teman temannya,pemuda pembully itu pun menghampiri Vano dan langsung menggebrak meja hingga membuat Vano terkejut.
Braaak....
" heh,mayat hidup, kasih uang Lo buat gue, cepat atau gue habisin Lo," ucap pemuda Yang suka membuli Vano itu.
" sa-sandi,aku ti-tidak ada uang," ucap Vano ketakutan, melihat orang yang sering membully nya itu.
Sandi Prayoga,tuan muda keluarga Prayoga,anak dari Junaidi Prayoga,dan Mita Susianto Prayoga,yang merupakan keluarga kelas 3 di kota royal negara indoraya.karena latar belakang keluarganya sandi bertindak sesuka hatinya,dia selalu membully Vano maupun murid lain, kecuali sang primadona sekolah tempat Vano menuntut ilmu.
*****
Sandi menjadi marah mendengar ucapan Alvano,yang tidak mau memberikan uangnya kepadanya, sandi melakukan itu bukan karena ia tidak punya uang, tapi dia tidak suka melihat orang seperti Alvano, apalagi dia dekat dengan primadona sekolah yang sudah jadi incarannya.
" oh,jadi kau lebih memilih untuk terluka, dari pada kau memberikan uang kepada kami," ucap sandi.
" udah San kita hajar aja dia, sepertinya dia tidak pernah takut kepada kita,yang sudah setiap hari memukul nya," ucap Abimanyu.
Alvano yang mendengar itu pun, sudah gemetar karena takut akan kembali dihajar oleh mereka, Alvano sendiri bukan tidak mau melawan mereka, hanya saja, sandi dan ketiga temannya merupakan seorang kultivator,di ranah Qi sejati tingkat menengah dan awal, sedangkan Alvano hanya manusia biasa, ditambah lagi latar belakang keluarga sandi, makanya Alvano hanya bisa pasrah saat di pukuli oleh sandi dan ketiga temannya.
" ayo, Kita hajar dia sampai mampus," ucap sandi, Alvano semakin ketakutan, melihat sandi dan ketiga temannya berjalan kearahnya.
Tapi belum sempat sandi dan ketiga temannya melayangkan pukulan mereka,sebuah suara yang sangat mereka kenal terdengar jelas di telinga mereka.
" hentiiikan,apa yang akan kalian lakukan," ucap seorang gadis cantik,lalu gadis cantik itu segera menghampiri Alvano.
Sandi dan ketiga temannya pun tidak jadi memukuli Alvano, karena sandi tidak mau menentang gadis cantik yang menjadi primadona sekolah itu,sebab keluarganya akan hancur jika berhadapan dengan keluarga gadis cantik itu.
" apa yang ka lakukan hah," sentak, gadis cantik itu.
" Bella, sebaiknya kau jangan ikut campur," ucap Diki,yang merasa geram terhadap wanita dihadapannya ini.
" terus jika aku ikut campur kenapa?, apa yang akan kau lakukan," ucap Bella menantang Diki.
Bella Savira Martadinata, merupakan anak dari pasangan suami istri yang bernama, Adrian Martadinata dan Ega Azhari Martadinata, merupakan keluarga kelas atas no 1 di kota royal negara indoraya,dan pemilik sekolah tempat mereka bersekolah.
" ck, cabut, Kita tidak akan bisa menang berhadapan dengannya," ucap sandi, kemudian mereka meninggalkan Alvano dan Bella.
" Vano, kamu nggak apa-apa kan? mereka tidak sempat memukul kamu kan?" Tanya Bella, mengkhawatirkan keadaan Alvano.
Alvano tersenyum melihat wanita cantik yang menjadi primadona sekolah itu khawatir terhadapnya," aku tidak apa-apa bel, untung kamu datang tepat waktu, kalau tidak mungkin aku sudah dihajar oleh mereka," ucap Alvano.
" syukurlah, jika kamu baik-baik saja,dan sebaliknya kamu harus berhati hati, sandi pasti akan melakukan segala cara untuk melukai kamu," ucap Bella.
" kamu tidak perlu khawatir,aku akan berhati-hati," jawab Alvano, Bella mengangguk kan kepala, lalu ia duduk di sebelah Alvano,karna memang mereka duduk sebangku, lalu untuk temannya yang satu desa dengannya duduk di meja depannya, Yang kebetulan hari ini temanya tidak masuk karena sakit.
Tidak lama kemudian bel masuk untuk pelajaran selanjutnya pun berbunyi, berselang lama masuk guru yang akan mengajarkan.
Masih di sma Martadinata, tapi dilain tempat, tepatnya di belakang sekolah, sandi mengamuk karena gagal untuk menyiksa Alvano sebab kedatangan Bella, sedangkan ketiga temannya hanya diam saja dan tidak berani menenangkan sandi.
Braaak.....
Braaak.....
" aaarrgh, sial si miskin mayat hidup itu selalu saja ada yang menolong nya," ucap sandi, menghancurkan barang-barang di gudang belakang sekolah yang menjadi markas mereka.
" San, udah tenangin diri Lo? kenapa Lo nggak nyewa orang Saja buat habisin si miskin itu," ucap Rudianto.
Sandi langsung berhenti mengamuk saat mendengar ucapan temannya itu, sedetik kemudian ia tersenyum menyeringai," kau benar Rudi, kenapa aku tidak memikirkan hal ini," ucap sandi.
" ayo sekarang kita pergi, biarlah dia tenang untuk hari ini, tapi tidak untuk besok, karena besok akan jadi hari terakhirnya," ucap sandi, kedua temannya pun menganggukkan kepalanya, setelah itu mereka pergi dari sana entah mau kemana.
•••••
Singkatnya waktu pulang sekolah pun sudah tiba, Alvano sudah bersiap-siap untuk pulang kerumahnya,ia mengemasi semua buku-buku pelajaran nya lalu memasukkan kedalam tasnya, sesudah selesai membereskan barang-barangnya Alvano beranjak dari kelasnya menuju ke parkiran mengambil sepeda miliknya.
Jarak antara sma Martadinata dengan rumahnya lumayan jauh,perlu menempuh jarak sekitar 30 menit dengan mengendarai sepeda, dan 15 menit dengan motor.alvano sendiri tinggal dengan Mama serta ketiga kakak perempuan angkatnya, walaupun demikian mereka sangat menyayangi Alvano seperti anak dan adik kandung mereka.sedang kan untuk ayah angkatnya sudah meninggal saat dia berumur 16 tahun.
Alvano sampai saat ini masih, berfikir dan bertanya-tanya, siapa kedua orangtuanya?, apakah kedua orang tua nya masih hidup atau tidak? kenapa mereka tega meletakkan nya waktu kecil di panti asuhan yang sudah tidak beroperasi.
Alvano mengayuh sepedanya dengan santai,30 menit kemudian di sampai di desa kenari, yang berada di kota royal.alvano terus mengayuh sepedanya melewati jalan yang menuju ke rumahnya.sesampainya dirumah Alvano meletakkan sepedanya di tempat biasa yaitu samping rumahnya.
Ia masuk kedalam rumahnya, saat sudah berada di dalam rumah Alvano tidak melihat keberadaan Mama dan ketiga kakaknya, Alvano melangkahkan kakinya menuju ke kamarnya untuk mengganti seragam sekolahnya dengan pakaian rumahan.
selesai berganti pakaian Alvano melirik sekilas jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 14.15.kemudian Alvano menuju ke kasurnya dan merebahkan tubuhnya dan tak lama kemudian matanya terpejam sebab sudah sangat mengantuk.
Di ruang depan ada empat wanita,satu wanita paruh baya, berusia sekitar 65 tahun, walaupun demikian wanita itu tetap terlihat cantik, Dan ketiga wanita lain yang juga tak kalah cantiknya, mereka adalah orang tua dan kakak angkat Alvano.
Mereka Baru pulang kerja dari ladang jagung milik pak RT yang bernama mardinto,untuk memenuhi kebutuhan mereka, Alvano diwaktu senggang juga ikut membantu Mama dan ketiga kakak angkatnya itu.
" nak,coba liat adek kamu dikamar nya,apa sudah pulang," ucap Fitri.
" iya ma, pasti adek lagi tidur," ucap Nadila wanita yang biasa dipanggil Dila,ia segera beranjak dari duduknya lalu berjalan ke arah kamar adiknya itu.
Sedikit perkenalan untuk Mama Alvano
Rania Fitri Carlina,yang biasa dipanggil Fitri, memiliki wajah cantik, rambut lurus warna hitam, kulit berwarna Sawo matang,hidung pesek, mata bulat, bentuk wajah oval, bibir tipis bewarna kemerahan, tinggi badan nya 160 cm, usianya 65 tahun.
Sesampainya di depan kamar adiknya, Dila mengetuk pintu dan memanggil manggil Alvano, namun tidak ada jawaban dari yang empunya,Dila membuka pintu kamar adiknya itu,dan dia melihat adiknya itu tertidur sangat pulas.
Dila berjalan menghampiri Alvano yang sedang tertidur, setelah berada di samping Alvano, dengan lembut Dila membangunkan adiknya.
" dek...dek bangun," ucap Dika menggoyangkan tubuh Alvano, Alvano yang merasa tidurnya terganggu pun menggeliat.
" hooam,iya kak," ucap Alvano,tapi matanya masih terpejam.
" dek,sana mandi dulu, bentar lagi kita makan malam," ucap Dila.
" hmm,iya kak," Alvano pun duduk dan berjalan sempoyongan menuju ke kamar mandi yang berada di luar,Dila hanya tertawa kecil melihat kelakuan adiknya itu, kemudian ia juga keluar dari kamar adiknya.