"CUKUP! CUKUP SUDAH! AKU MUAK! PERGI! PERGI SAJA!" teriak Seruni yang dialamatkan kepada lelaki yang sedang berdiri di hadapannya.
"OKE! AKU ENGGA PERLU ISTRI SEPERTI KAMU! KAMU MAU CERAIKAN, AKU KABULKAN KALI INI!" teriak Indra Mahesa, yang merupakan suami dari Seruni Abigael.
Seruni bertepuk tangan dengan tawa riang, akhirnya satu kata yang selama ini sudah ia tunggu, akhirnya terucap juga dari lelaki yang sudah menjadi suaminya selama dua tahun. Ia terpaksa menikah dengan Indra, karena tuntutan dari orang tuanya yang merupakan sahabat dan mitra bisnis dari orang tua Indra.
"Makasih, Sayangku! Gitu dong, kenapa engga dari dulu kamu ceraikan aku? Gapapa, gapapa penantian selama dua tahunku, berujung manis! Aku akan siapkan berkas perceraiannya, kamu tinggal tanda tangan aja ya! Aku pergi dulu, Bisma udah nungguin aku!"
Seruni mendekati Indra sembari menepuk pelan d**a lelaki itu, sebelum ia beranjak pergi menemui Bisma yang merupakan kekasihnya sebelum ia dijodohkan oleh orang tuanya. Ia tetap menjalin hubungan dengan Bisma, walaupun ia sudah menikah dengan Indra.
Indra sendiri mengetahui perihal Bisma langsung dari bibir Seruni. Ia bahkan menceritakan dengan vulgar tentang hubungan yang ia lakukan dengan Bisma, tanpa memperdulikan perasaan Indra.
Selama ini, Indra berusaha bersabar terhadap kelakuan Seruni karena memikirkan kedua orang tua mereka. Ia sendiri tidak pernah mencintai wanita yang telah berstatus istrinya itu. Ia menikahi Seruni hanya demi janji yang sudah diikrarkan oleh ayah mereka, bahkan sebelum ia dan seruni lahir ke dunia ini.
"Bri, tolongkan selesaikan berkas perceraian Aku dengan Seruni. Kamu bisa kontak pengacara Seruni terkait hal ini. Selesaikan secepatnya. Siapkan satu apartemen lain buat Aku, Aku mau langsung pindah dari sini!"
***
Seruni yang sudah meninggalkan rumah dimana ia dan Indra tinggal selama ini, tersenyum sumringah saat membayangkan ia sudah menerima surat cerai yang ditandatangani oleh Indra dan setelahnya menikah dengan Bisma sesuai dengan obrolan mereka selama ini.
"Tunggu Aku, Bisma sayang..., sebentar lagi cinta kita akan menyatu secara legal dan utuh!" gumam Seruni bermonolog.
Bayangan-bayangan membahagiakan sudah memenuhi pikirannya. Ia dan Bisma sudah menjalin hubungan sejak mereka masih duduk di bangku perkuliahan, tetapi karena janji kedua orang tuanya dengan orang tua Indra membuat ia sempat terpisah sementara dari Bisma.
Mereka kembali menjalin hubungan setelah Seruni berhasil meyakinkan Bisma bahwa ia menikah dengan Indra tanpa cinta dan ia berjanji akan menceraikan Indra setelah dua tahun pernikahan mereka. Kini, ia berhasil menepati janjinya dan ia akan mengarungi kehidupan pernikahan yang bahagia dengan Bisma, kekasih hatinya.
Seruni melajukan mobilnya menuju ke kediaman Bisma. Ia sudah tidak sabar untuk memberi tahu Bisma tentang kabar membahagiakan itu. Setelah sampai di parkiran kediaman Bisma, Seruni segera memarkirkan mobilnya dan bergegas menuju ke kediaman Bisma yang berada di lantai dua belas.
Seruni sudah mengetahui kata sandi untuk memasuki apartemen milik Bisma. Ia bergegas menuju kamar tidur Bisma, tetapi langkahnya terhenti saat mendengar suara aneh yang berasal dari tempat yang ia tuju itu. Seruni mengepalkan tangannya, ia menajamkan pendengarannya. Ia berusaha berpikir positif, walau suara-suara yang berasal dari ruangan itu membuat hatinya semakin merasa tidak nyaman.
Ia menekan dadanya, untuk menahan laju emosi yang mulai menguasai dirinya. Semakin ia mendekat, suara-suara yang menyakitkan hati dan telinga Seruni itu, semakin terdengar jelas. Desahan dan pekikan kepuasan berpadu, membuat air mata Seruni mengalir membasahi pipinya, tanpa ia sadari.
Ia membuka pintu kamar itu dengan perlahan agar tidak terdengar oleh orang yang berada di dalamnya. Pemandangan yang membuat aliran darahnya seolah memacu kencang jantungnya, terlihat dengan jelas. Ia menutup mulutnya, karena tidak percaya dengan apa yang ia lihat.
"BISMA!" seru Seruni tanpa sadar yang membuat Bisma yang sedang bergumul dengan seorang wanita tersentak dan tidak mempercayai apa yang ia lihat. Seruni sedang memandangnya dengan tatapan jijik dan nanar.
"Se...Seruni! Sa..., Sayang, Aku bisa jelasin!" Bisma langsung beranjak dari ranjang, tanpa sehelai benang yang menutupi tubuhnya.
"Bis...," ujar wanita yang masih berada di ranjang sambil menutupi tubuhnya dengan selimut. Ada senyum samar yang tercetak di wajah wanita yang Seruni kenal sebagai sepupu jauh Bisma.
Tawa nyaring terdengar dari Seruni. Ia bertepuk tangan dan mendengus sembari menatap Bisma dengan tatapan merendahkan.
"HEBAT BANGET PERMAINAN KAMU, BISMA! SEPUPU JAUH, YA..., YA..., SEPUPU MERANGKAP TEMAN TIDUR YA! B*NGSAT KAMU, BIS! DASAR SAMPAH!"
Seruni menampar Bisma dan menendang lelaki itu tepat di selangkangannya. Hal itu membuat Bisma mengerang kesakitan. Seruni menatap ke arah perempuan yang sedang menatapnya dengan tatapan mengejek yang membuat Seruni mencibir.
"KAMU MAKAN LELAKI BEKAS AKU INI YA! SAMPAH MEMANG COCOK BERGAUL DENGAN SAMPAH!"
Seruni meninggalkan keduanya dengan raut wajah seperti ingin membunuh seseorang. Setibanya di dalam mobil, tangis Seruni pecah. Ia tidak menyangka seorang Bisma yang selama ini begitu ia cintai, tega menyakiti hatinya dengan cara serendah itu. Selama ini, ia mempercayai semua perkataan Bisma, termasuk tentang kedekatannya dengan Aura yang ia kenalkan sebagai sepupu jauhnya kepada Seruni.
Seruni bahkan tidak pernah mempertanyakan kehadiran Aura, saat ia sedang mengunjungi kediaman Bisma. Ia memperlakukan Aura layaknya saudara perempuannya sendiri. Ia tidak menyangka bahwa semua kebaikannya itu, mungkin hanya menjadi bahan tertawaan dari Bisma dan Aura.
"S*ALLLLL! BISMA K*PARAT! ARGHHHHH!"
Seruni memukul setir yang ada di hadapannya selama beberapa kali, untuk melampiaskan semua amarahnya. Setelah lelah menangis, ia memutuskan untuk meninggalkan tempat itu. Ia memacu mobilnya dengan kencang. Ia melampiaskan kemarahannya dengan mengebut di jalan. Setiap mobil yang berusaha menyalip mobilnya akan ia hadiahkan bunyi klakson.
Beberapa umpatan terdengar dari pengemudi lain, tetapi Seruni mengabaikan semuanya. Ia memacu mobilnya semakin kencang, hingga ia tiba di kediaman orang tuanya. Begitu ia memarkirkan mobilnya, ia langsung memasuki kediaman itu dengan membanting pintu yang membuat Mboh Imah yang berada di dekat pintu terkejut.
"Aduh, Non..., kencang amat nutup pintunya. Saya kaget!" ujar Mboh Imah sambil mengelus dadanya.
Seruni sama sekali tidak menanggapi perkataan dari kepala pelayan yang ada di kediaman Abigael itu. Ia melangkah dengan cepat menuju kamar miliknya. Sesampainya di kamar, ia mulai berteriak dengan keras dan memaki Bisma dengan berbagai sumpah serapah, bahkan cermin yang ada di kamarnya menjadi salah satu sasaran dari amukannya.
"Non, Nona Seruni..., Nona kenapa?" seru Mboh Imah dan Lastri yang berada di balik pintu kamar Seruni.
"PERGI! PERGI!" teriak Seruni yang membuat Mboh Imah dan Lastri khawatir sekaligus takut.
"Cepat hubungi, Nyonya sama Tuan Besar!" ujar Mboh Imah, kepada Lastri yang membuat asisten rumah tangga yang dulu bertugas untuk melayani kebutuhan Seruni itu, segera bergegas melakukan perintah atasannya.
"Engga bisa..., engga bisa kayak gini! A..., aku akan dipermalukan oleh Indra, kalo seperti ini! Aku hanya akan jadi bahan olok-olokan Indra. Aku minta cerai, ternyata aku malah diselingkuhi sama si laki-laki k*parat itu! Aku harus bagaimana sekarang?! Papi sama Mami pasti akan nyalahin aku!"
Bibir Seruni terus bergerak tanpa suara, seperti tubuhnya yang terus bergerak mondar-mandir di dalam kamar.
Tiba-tiba saja Seruni terdiam, lalu mengangguk-anggukkan kepalanya selama beberapa kali. Lalu, tak lama semuanya menjadi hening. Seruni terlihat diam, matanya menatap nanar ke satu titik.
Pintu kamar Seruni di buka dengan paksa.
"NON SERUNIII!"
****