Rina ada janji dengan sahabatnya, Livia. Livia baru pulang honeymoon dari Bali. Awalnya Livia akan menemui sahabatnya itu dirumahnya. Tapi Rina menolak dan langsung mengajak Livia bertemu di cafe.
Sejak Livia mengenalkan calon suaminya pada ibunya Rina, sang ibu berubah menjadi cerewet dan membicarakan tentang pernikahan yang Rina enggan membahasnya. Bundanya menjadi sangat menyebalkan, pikirnya. Livia dan Rina sudah bersahabat sejak SMA. Hal itulah yang menjadikan Livia sangat dekat dengan keluarga Rina. Begitupun sebaliknya.
Saat Livia mengenalkan calon suaminya, Santi sangat senang,karena menganggap Livia seperti anaknya sendiri. Tapi dia juga iri, dia pun ingin anak gadisnya mengenalkan calon suaminya dan segera menikah. Itulah yang menjadikan ibunya sangat cerewet. dan Rina sangat menghindari hal itu. Perbincangan tentang pernikahan yang Rina enggan untuk membahas nya. karena dia belum siap. Karena hal utamanya yaitu calon suaminya yang belum ada. Rina bukan perempuan yang agresif. Dia bahkan gadis yang biasa saja dan sangat membatasi pergaulan nya.
Rina belum pernah berpacaran. Dulu ketika SMA dan kuliah teman terdekatnya hanya Livia. banyak pria yang ingin mendekati gadis itu. tapi gadis itu dengan tegas menolak dengan alasan ingin fokus belajar. Livia sempat memberikan masukan kepada Rina,kalau dia harus membuka hatinya untuk pria. Dan menikmati masa mudanya, tapi sekali lagi gadis itu enggan dan menjawab dengan sopan.
" Biarkan berjalan apa adanya. mengalir seperti air." jawabnya ketika Livia berusaha mengenalkan seorang pemuda padanya.
**
Rina sudah siap dengan dress dibawah lutut berwarna navy dengan handbag berwarna senada dengan bajunya, dan flat shoes melengkapi penampilan nya. Rambutnya yang panjang dibiarkan terurai.
Rina turun dari taksi online dan berjalan memasuki cafe. saat berjalan masuk, dia mencari sahabatnya, dan dia menghampiri sang sahabat yang melambaikan tangannya. Ternyata Livia duduk dibelakang pria tampan dengan setelan jas berwarna serupa dengan yang dress yang dia pakai.
Rina duduk dihadapan Livia. Rina menoleh sesaat saat sang pria pergi meninggalkan cafe setelah membayar minumannya. saat itu juga pandangan mereka bertemu. hanya beberapa detik, tapi senyuman itu.. Senyuman itu membuat jantung Rina berpacu dengan cepat.
Rina mengalihkan pandangan nya dan kembali pada sang sahabat. Ada getaran dalam dadanya. dia merasakan perasaan yang sangat asing dalam hatinya. Ya, Rina baru merasakan nya, inikah yang namanya 'jatuh cinta pada pandangan pertama ' gumamnya dalam hati. Rina segera menepis perasaan itu, karena dia pun tidak mengenal pria tampan itu. dan baru kali ini dia bertemu dengannya.
Rina kembali fokus pada sahabatnya yang membawakannya oleh oleh dari Bali. Ada berbagai macam souvernir, dan makanan khas Bali. Rina menerima paper bag itu dan mengucapkan terima kasih.
**
Sore harinya Rina baru pulang ke rumahnya. Setelah bertemu dengan Livia dia mampir ke toko buku, dia senang membaca dan membeli beberapa buku untuk dibaca nya diwaktu senggang. Rina turun dari taksi online dan berjalan masuk kerumahnya, dihalaman nampak mobil Pajero yang sangat ia kenal. Mobil itu milik om Wahyu, sahabat ayahnya. Saat masuk kerumahnya,Rina langsung disambut oleh sang bunda.
" Dari mana sayang...?" tanya Santi pada anak tunggalnya
" Habis ketemu sama Livia, nih katanya oleh oleh dari Bali buat bunda.." jawab Rina sambil menyodorkan satu paper bag kearah sang bunda.
" Lho.. kok Livia ga kesini?? dia ga kangen sama bunda? dia ga mau cerita cerita gitu sama bunda abis honeymoon itu gimana? " protes Santi pada anaknya.
" Ih .. bunda apaan sih? kan Livia sekarang udah punya suami, jadi dia buru buru gitu. katanya dia pengen kesini, cuman takut lama. soalnya kalo ngobrol sama bunda itu suka lama. " jawab Rina sambil cemberut.
" Yaudah nanti biar bunda telpon aja sekalian bilang makasih. "
Rina menghampiri sang ayah yang sedang berbincang dengan sahabatnya. Dan dia menyalami kedua orang tua itu.
" Keponakan om makin hari makin cantik aja... pasti orang cantik banyak yang suka . apa kamu udah punya pacar?" Tanya om Wahyu sambil menyambut uluran tangan Rina yang mencium tangannya takzim. Wahyu tersenyum menggoda Rina.
" Eh.. itu, engga om" jawab Rina canggung. Dia memang sering bertemu dengan Wahyu tapi dia jarang berinteraksi secara langsung. Dia hanya akan berbasa basi menanyakan kabar,dan setelah nya akan meninggalkan para orang tua untuk ngobrol.
" Berarti om punya kesempatan dong untuk melamar kamu jadi menantu om? "
" Apaa?? " tanya Rina sambil membelalakkan matanya.
Dia sangat terkejut, kenapa tiba-tiba om Wahyu ingin melamar nya untuk menjadikan nya menantu. Dia memang sangat mengenal atasan dari ayahnya ini, tapi tidak dengan putra putrinya. Rina hanya tahu Tante Miranti, istrinya om Wahyu dan anak anaknya dia hanya sekedar tahu namanya. belum pernah bertemu secara langsung.
Ya, Wahyu adalah bos dari Hendra. Wahyu pemilik perusahaan di bidang IT. dan Hendra adalah manager keuangan di perusahaan yang Wahyu pimpin. Selain bersahabat sejak masa kuliah dulu, Hendra adalah salah satu orang kepercayaannya.
" Ya, itu juga kalau kalian berdua setuju. Om hanya ingin mengenalkan putra om.dan keputusan tetap ada ditangan kalian berdua, om tidak akan memaksa. "
Rina menoleh pada sang ayah dan bergantian pada sang bunda. dan keduanya mengangguk setuju dengan usulan om Wahyu. dan Rina menghela nafas panjang. dia akhirnya mengangguk pasrah. Mau bagaimana lagi, bundanya pun ingin dia segera menikah. Jadi pasti bunda pun sangat setuju dengan usulan om Wahyu.
" baiklah om.. " jawab Rina pasrah
" Nanti om akan atur waktunya, mungkin beberapa Minggu lagi karena om juga lagi sibuk sama kerjaan."
Setelah mendapatkan kesepakatan, om Wahyu pamit pulang. dan Rina menatap sang ayah seolah meminta penjelasan.
" Mungkin ini yang terbaik untuk kamu nak, kamu juga sudah dewasa. jadi kamu pun harus siap dengan pernikahan. Masih ada waktu untuk kamu memikirkan nya, tapi ayah harap kamu memberikan keputusan yang paling baik" ujar sang ayah lembut
" Rina akan pikirkan dan meminta petunjuk Nya ayah"
Rina menyandarkan kepalanya pada d**a sang ayah. Dia berharap pilihan ayahnya memang yang terbaik untuknya. Dan kedepannya dia akan menjalani rumah tangga yang bahagia dan penuh cinta. seperti halnya kedua orangtuanya yang saling mencintai diusia senja nya.