Derap langkah kaki menggema di sepanjang lorong kantor, tidak ada satupun karyawan yang berani menatap mata hazel itu terlalu lama. Surai berwarna coklat, rahang tegas dan postur tegap membuat semua kaum hawa berlomba-lomba ingin menjadi kekasihnya. Tentang harta tidak ada yang perlu di takutkan keturunan Bagaskara sanggup membiayai sampai tujuh keturunan sekalipun.
"Masuk ke ruanganku, " ujar laki-laki itu kepada sekretaris nya.
"Baik pak,"
Tanpa berlama-lama sang sekretaris langsung menuju ruangan Direktur perusahaan Bagaskara Company sebuah perusahaan yang menaungi berbagai macam produk mulai dari kecantikan hingga kuliner. Dibawah naungan putra sulung keluarga Bagaskara, perusahaan itu sangat pesat dan penyatuan dengan perusahaan lainnya yang sangat baik.
" Bagaimana laporan bulan ini?" tanya Leon kepada sekretaris nya.
" Tidak ada yang mencurigakan pak, semua berjalan sesuai dengan yang seharusnya" ujar Diana, sekretaris Leon Bagaskara.
" keluar, " titah Leon dengan dingin.
Begitulah sifat Leon Bagaskara, Putra sulung pasangan Lucas Bagaskara dan Clara Bagaskara yang terkenal dingin tak tersentuh.
Setelah menyelesaikan masalah di kantor Leon segera turun menuju parkiran dan pulang ke apartemen. Sangat muak dengan semua yang terjadi. Sesampainya di apartemen Leon segera mandi dan menelpon salah satu asisten lainnya.
" Aku butuh tiga untuk malam ini, " Ujar leon
" Hmm, akan segera tiba tuan, "
"Kau tau aku tidak suka menunggu bukan Alex?"
" Kau akan mendapatkan apa yang kau mau Leon, bersabarlah mereka sedang menuju apartemenmu" Jawab Alexander.
Leon pun mengakhiri percakapan dengan Alexander
Pintu apartemen berbunyi tak lama setelah telpon dimatikan, dengan segera Leon turun dan melihat pesanan nya telah tiba.
" Apa kau kesepian tuan?" tanya salah satu wanita yang tiba di apartemen Leon
"owh tuan aku siap melayani anda dengan kepuasan yang membuatmu melayang " Ujar wanita lainnya
"ahh rahimku siap menghangatkanmu tuanku,"
Begitulah rayuan yang diterima Leon dari pesanannya pada Alexander. Jika kalian berpikir Leon adalah hypersex maka kalian salah, Leon memesan ketiga wanita itu bukan untuk memuaskan nafsunya di ranjang melainkan untuk memuaskan hasrat jiwa psikopat dalam dirinya. Sayang sekali wanita-wanita itu hanya akan berakhir sama seperti para wanita sebelumnya.
" Ikutlah denganku, " ujar Leon dingin.
Dengan senang para wanita mengikuti Leon tanpa curiga sama sekali. Mereka tiba di sebuah gudang yang tidak cocok disebut gudang karena sangat terawat. Disinilah Leon selalu memuaskan hasrat psikopat nya.
" Namamu siapa nona?" tanya Leon untuk pembukaan sebelum melakukan hal itu.
" Namaku melisa tuan " jawab wanita yang memakai lingerie merah berenda dengan bagian d**a turun sehingga mengekspos dadanya dengan sempurna.
" namaku amel tuan " Ujar wanita yang memakai cosplay pelayan dengan bagian d**a dan paha terumbar sempurna
" namaku Cindy tuanku ahh " cindy memakai sehelai kain tipis berwarna hitam dengan seluruh tubuhnya terekspos sempurna.
Siapapun yang melihat mereka pasti akan langsung mengajaknya ke ranjang untuk memuaskan nafsu semata namun tidak berlaku bagi Leon.
" Kau saja duluan Lisa yang lain boleh menunggu di ruangan sebelahnya" ujar Leon dengan nada tidak sabar
" Baik tuan" Ujar keduanya.
Kedua wanita itu menurut dan pergi dari hadapan Leon menuju ruangan yang disiapkan oleh maid di apartemen itu.
" Apa yang tuan Leon lakukan sehingga kita harus menunggu di sini? " tanya cindy pada para maid
" Entahlah nona, hanya tuan Leon yang mengetahui jawabannya, " ujar maid berusaha menyembunyikan apa yang sebenarnya terjadi.
Tidak ada satupun yang mengetahui pasti apa yang Leon lakukan kepada para wanita yang dipesankan untuknya, karena mereka seakan-akan pulang dengan tanpa kekurangan apapun namun malamnya mereka menghilang tanpa jejak.
Seorang Leon Bagaskara tidak pernah ada yang mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya. Mereka hanya mengetahui bahwa Leon adalah anak dari keluarga Bagaskara tanpa tau latar belakang dirinya.
Didalam ruangan itu,
"Apa yang hendak tuan lakukan?" tanya Lisa ketakutan melihat seringai Leon yang mematikan.
"Bukankah kau telah ku bayar untuk memuaskan hasrat diriku?" seringai Leon yang membuat siapapun memilih pergi daripada menghadapi Leon.
" Ah iya tuan, t-tapi untuk apa pisau itu Tuan?" tanya Lisa kembali
"Nikmatilah sayangku" ujar Leon dengan suara serak membuat kaum hawa melayang ke angkasa
"Baiklah tuanku akhhh" Teriak Lisa membuat Leon semakin tertarik.
Dengan pelan-pelan Leon menggoreskan pisau ketubuh Lisa, dan diiringi musik yang membuat suara Lisa teredam dalam kamar itu.
Tes tes darah dari lengan Lisa turun dan membuat Leon tertawa puas. Belum usai sampai di situ, Leon kembali menyayat bagian d**a Lisa dengan seringai kepuasannya
" Akhhh tuan apa yang tuan lakukan,ini sakit" teriak Lisa.
" Diam! Kau berisik! " dengan emosi Leon memotong d**a Lisa sehingga darah ber muncrat ke seprai putih yang kini menjadi merah.
Lisa sudah kehabisan darah itupun langsung mati tanpa adanya perlawanan yang dilakukan. Bodyguard yang ada dibalik tembok kamar itu langsung menyeret tubuh Lisa dan membuangnya ke kandang singa milik Leon.
" Next," ujar Leon melalui microphone yang terhubung dengan ruangan tempat Cindy dan Amel menunggu.
"Kau saja duluanduluan, " ujar Amel pada Cindy
"kau lebih senior" jawab Cindy
"Sebaiknya kalian segera ke kamar Tuan, karena tuan tidak suka menunggu" ujar maid melerai pertengkaran keduanya.
Dengan gontai Cindy menuju ruangan Leon, namun tidak ditemukan Lisa disana dengan hati-hati Cindy bertanya kepada Leon.
" A-anu Tuan, dimanakah Lisa? saya tidak melihat nya keluar dari ruangan ini Tuan, "
" Pulang, " ujar Leon singkat.
"Ah curang sekali dia," gumam Cindy yang tidak tahu apa yang telah dialami oleh Lisa.
"Berbaringlah, " perintah Leon dengan tegas.
Ranjang di kamar itu bersih,tanpa noda jadi siapapun mengira bahwa Leon setelah bersetubuh langsung membereskan kamarnya agar bisa melanjutkan dengan wanita berikutnya.
"Sudah Tuanku, kau mau gaya bagaimana Tuan?" tanya Cindy sambil menggoda Leon.
"Bebas," Jawab Leon dengan nada malas
Leon ingin segera memulai menyayat tubuh Cindy.
"Bagaimana jika aku yang memulainya Tuan ku," ujar Cindy dengan tanpa tidak tahu malu dia langsung membuka semua pakaian yang melekat di tubuhnya.
Cindy melangkah ke arah Leon dengan berusaha menggoda Leon. Perlahan Cindy mulai memainkan jarinya di d**a Leon dan membuka satu per satu kancing bajunya. Melihat hal itu Leon hanya tersenyum miring membiarkan Cindy berusaha membangkitkan gairah nya.
"Ahhh tuan aku tidak sabar ingin memulai ini," ujar Cindy sembari mendesah.
"aku juga tidak sabar" jawab Leon sembari tersenyum.
"Aku pasrah kan tubuhku untukmu tuanku," Cindy lalu berbaring dan bersiap agar Leon segera memadu kasih bersamanya.
Leon berjalan menuju kasur dan mengeluarkan pisau, lalu dia tersenyum devil melihat mangsanya berada di depan dengan pasrah. Cindy berharap Leon memuaskan nafsunya namun dalam pikiran Leon hanyalah untuk memuaskan hasrat psikopat nya saja.
Leon bermain-main mulai dari menutup mata dan juga mengikat kedua kaki tangan Cindy agar dia lebih leluasa bermain.Cindy yang melihat itu mengira jika Leon ingin mencoba gaya baru dengan sadis agar lebih puas pun pasrah.
Leon menikmati makan malamnya dengan dua wanita yang telah dia sewa untuk memenuhi kebutuhan psikopat dalam dirinya pun tertidur setelah menikmati semua itu. Bodyguard langsung mengantar Amel dan mengatakan bahwa Cindy berserta Lisa sedang memuaskan Tuan Leon dan malam besok adalah giliran Amel.