Tiba-tiba Rania terbangun sebab tersedak obat demam dari tanaman herbal yang diminumkan kepadanya. Ia yang terbaring pun didudukkan agar pernapasannya kembali lancar. Berkali-kali terbatuk kering sampai kondisi Rania kembali stabil. Ia melihat ke sekitar di mana kini sedang berada. Apakah ini rumahnya? Rania hanya bisa mengamati kalau semua perabot di dalam ruangan terbuat dari batu dan kayu bekas pangkal batang pohon besar yang tumbang atau kemungkinan memang ditebang. Rasanya seperti tinggal di dalam sebuah gua. Kemudian dia menengok anak lelaki itu mengulurkan buah segar untuk dimakan. Datang pula seorang pria tampak lebih muda dari ayahnya menanyakan keadaan Rania.
“Kalian siapa?” tanya gadis asing yang mereka temukan di dalam hutan.
Anak laki-laki di sana menjawab kalau sebaiknya Rania makan dulu baru ia akan memperkenalkan diri. Adik dari kak Reza pun menerima pemberian buah persik dan memakannya dengan nikmat.
“Saya, Noe dan paman di sana adalah uncle Dave.”
Pria tersebut kelihatannya masih berusia sekitar 30 tahun. Noe sudah menganggap paman Dave seperti ayah sendiri meski tak punya hubungan darah. Tali kekeluargaan keduanya baru terjalin di pulau misterius ini. Seperti Rania, mereka adalah orang-orang yang tersesat ke dunia antah-berantah. Satu hari di sini setara 4 tahun di dunia nyata. Noe mengaku berusia 12 tahun dan baru sehari tinggal di sini. Jadi menurut perhitungan ia sudah tersesat semenjak 4 tahun lalu sedangkan paman Dave yang terhitung menetap selama 14 hari kurang lebih telah 56 tahun tinggal di pulau.
“Bagaimana bisa tahu jika kalian tersesat?” heran Rania.
Uncle Dave menerangkan bahwa mereka tidak bisa keluar dari pulau. Setiap upaya pencarian jalan keluar selalu saja gagal. Dan menariknya dari cerita sang Paman, mereka tidak sendirian. Puluhan orang ternyata juga mendiami pulau tanpa nama ini. Mereka tinggal di tiap-tiap gua yang ada dan telah terbiasa dengan kehidupan normal di dalam hutan.
“Apa yang Kamu punya?” tanya Noe.
Rania tidak paham maksud dari pertanyaannya.
“Manusia bisa tersesat di sini karena mereka memiliki benda-benda bertuah. Seperti ini.” Noe menunjukkan sebuah kalung kuno yang dipakaikan pada lehernya. Lalu ia tunjukkan juga jam pasir di atas meja batu yang dipunyai oleh paman Dave. Tetapi meski dijungkir balikkan, pasir di dalam tabung kaca itu tidak turun ke sisi lainnya. Hal tersebut menandakan waktu di tempat ini telah terhenti. Bahkan mereka nyaris tidak bisa membedakan kondisi siang dan malam kecuali dari layunya daun dan mengatupnya bunga dari pohon Warna. Jika layu maka hari telah malam, apabila daun kembali segar hingga bunga-bunga menjadi mekar sempurna maka pagi telah datang sampai melewati siang.
“Lantas namamu siapa? Bagaimana Kami harus memanggil?” tanya Noe.
Paman Dave menegur. “Noe! Panggil dia dengan sebutan kakak. Itu lebih sopan.”
Noe tidak menggubris. Mungkin saja di dunia nyata mereka berdua adalah kawan sebaya.
“Panggil saja, Rania.”
Noe lantas tersenyum mendengarnya lalu melihat Rania menghabiskan sisa buah persik dengan variasi warna pink, kuning dan merah. Noe menengadahkan tangan agar Rania memberikan kantong biji dan isi dari buah itu untuk ia buang. Dia pun meminta Rania supaya tetap beristirahat sampai benar-benar sembuh dari demam. Jika malam sudah tiba ia akan diberitahu.
Terbaringlah Rania dengan selimut anyaman daun yang menghangatkan tetapi tak bikin gatal di kulit. Sejenak masih terpikir akan kak Reza, dia pasti khawatir tidak mendapati adiknya tidak bersembunyi lagi di dalam rumah. Mungkin kak Reza mengira Rania telah berhasil diculik oleh pria jahat yang baru saja memukuli sampai membuat ia pingsan. Gadis ini hanya menaruh harapan jikalau kakaknya juga terselamatkan. Tidak tahu kapan Rania sendiri bisa pulang ke rumah. Sekarang ia tertidur karena pengaruh obat herbal yang diberikan.
***
“Rania! Rania!”
Reza memanggil-manggil adik perempuan yang mana tidak ditemukan di dalam kamar. Jendela masih terkunci meski tadi ia melihat Sarung Tangan Merah telah pergi tanpa membawa Rania. Dengan wajah yang masih penuh luka dan tulang lengan kiri yang rasanya sudah patah, sambil menahan sakit yang tak terperikan Reza mencari Rania ke seluruh ruangan. Kondisi di bawah sangat berantakan melebihi sebelum-sebelumnya bahkan kini serupa dengan yang terjadi di lantai atas. Kamar miliknya, Rania dan orang tua mereka sangat berantakan tidak terhindarkan. Perbuatan pria jahat itu benar-benar menghancurkan segalanya. Reza terjatuh di lantai. Dia mengerang kesakitan. Berteriak-teriak sendirian hingga menangis sedih karena tak bisa menemukan Rania. Ia menderita tanpa ada seseorang yang segera datang untuk menolong.
Keesokan pagi seorang pemuda 19 tahun itu ditemukan oleh tetangga pingsan di lantai ruangan di mana ada Grand piano sudah rusak hingga tuts-tuts yang menghasilkan bunyi nada terlempar ke penjuru ruang. Ambulans pun telah memenuhi jalan, akses masuk ke halaman rumah. Reza masih bernapas dan ia akan dibawa ke rumah sakit untuk operasi pada tulang lengan. Tak ada satu pun anggota keluarga menyertai dan belum ada wali atau kerabat yang bertanggung jawab atas tindakan medis yang akan dilakukan. Keadaan sedang darurat.
Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Reza mengigau. Dua Paramedis saling bertanya, siapa itu Rania. Mereka yang tidak mengenal, menganggap pasien tengah menyebutkan nama kekasih dari si Pemuda itu sendiri. Sirene ambulans terus menggaung, sementara kondisi mental dari kakaknya Rania sudah tenang kembali. Seolah ikatan batin dari dua saudara memberi kabar satu sama lain. Reza merasakan bahwa adiknya telah berada di tempat yang aman sekarang. Dia dilindungi oleh orang-orang yang peduli dengannya dan sama sekali tidak berniat untuk menyakiti. Meski raga mereka belum bisa bertemu di masa kini, dalam hati yang setengah sadar Reza menanti. Ia juga harus berjuang untuk memulihkan kesehatan. Walau mungkin kondisi fisiknya tidak sesempurna seperti sediakala.
***
“Rania, bangun!” Anak laki-laki yang lebih muda itu tetap saja tidak menyebut Rania dengan panggilan kakak. Dia merasa lebih dekat dan akrab untuk menjalin sebuah tali pertemanan dengan cara bicara demikian.
Malam masih terang di pulau ini layaknya siang. Namun, redupnya terik matahari meskipun sedikit tak dapat dibohongi. Semua orang dapat memperhatikannya. Rania yang keluar dengan berjalan pelan sembari dituntun Noe pun menyaksikan dari luar mulut gua, bagaimana daun dan bunga dari pohon Warna telah layu mendekati puncaknya.
“Benar. Hari sudah malam.”
“Kamu mau turun ke bawah? Para manusia sedang berkumpul.” ajak si Noe.
Rania agak merinding mendengarnya. Mengapa harus dipertegas dengan diksi Manusia? Noe menggandeng tangan Rania, menuruni jalan yang lumayan terjal lagi licin karena ditumbuhi lumut hijau. Anak laki-laki dari paman Dave tampak sangat senang memiliki teman baru. Lucunya, terkadang ia terkesan bersikap romantis terhadap kakak perempuan tersebut. Usia mereka di alam pulau misteri ini berselisih 1 hari = 4 tahun. Rania sendiri menganggap Noe seperti adik laki-laki yang di dunia nyata tidak mungkin ia miliki.
Noe dan Rania terus berjalan menuju ke suatu tempat di lembah hutan. Entah di mana paman Dave dan warga yang tersesat telah berkumpul untuk mengadakan sebuah acara yang diinisiasi oleh pimpinan tertinggi dari kelompok mereka. Tokoh itu mengambil alih kuasa atas manusia yang tinggal di pulau misteri. Ia mengaku bermimpi ditemui oleh penguasa gaib dari tempat ini hingga mengklaim diri sudah ditunjuk sebagai wakil atau pemimpin bagi para warga. Sebenarnya orang-orang di sini tidak percaya karena mereka adalah manusia dari zaman modern yang individualis. Mereka lebih yakin dengan kemampuan diri untuk bertahan hidup di pulau maupun mencari jalan keluar dengan cara sendiri. Mereka di dunia nyata memang berasal dari seorang yang intelek, bukan sekadar orang awam. Ada yang profesor, dokter, guru, praktisi di banyak bidang, anak-anak muda berprestasi, perawat dan lain sebagainya. Meskipun penghuni di pulau misteri semua tampak tiada beda. Status orang-orang sama saja sebagai manusia yang sedang tersesat. Dari tampilan luarnya pun sama tak terurus. Tanpa pakaian ganti, tanpa air untuk mandi. Mereka hanya bisa makan buah dan dedaunan yang tumbuh sementara air hanya boleh dimanfaatkan untuk memasak, kebutuhan minum dan sebatas mencuci muka termasuk buang air saja. Di hutan tidak terdapat aliran sungai yang mengalir. Hanya keluarnya mata air yang mengumpul di satu titik sumber. Mereka bergantian mengambil air dengan timba tradisional yang dibuat dari bambu. Untuk membuat percikan api saja bak manusia purba yang mesti sabar menggosok-gosok batang kering sebagai poros pada alas kayu demi menghasillkan serbuk bahan bakar.
“Kita sudah sampai,” beritahu Noe begitu keduanya tiba di tirai pintu dari daun nyiur.
Saat Rania masuk pertama kali, terheran ia dengan apa yang tengah dilakukan para warga setempat. Duduk bersila mengelilingi tokoh tertinggi yang terpaksa mereka anggap sebagai pemimpin. Setiap satu dari dua orang menutup mata sementara seorang pria tinggi di tengah elips barisan manusia membacakan kalimat-kalimat dengan bahasa yang tidak ia mengerti. Mungkin juga sama dengan yang dipikirkan oleh “para pengikut” di sini.
Kembali Noe meminta Rania untuk ikut duduk bersama dengan yang lain. Rania awalnya ragu, tetapi karena Noe sudah berbaik hati mencarikan alas tempat duduk maka dia pun mau tidak mau harus tunduk. Mereka duduk bersebelahan dia samping perempuan yang bersila sambil membuka mata. Siapa manusia yang berada di ujung deretan harus tetap terjaga. Begitu Rania duduk di sebelahnya, wanita tersebut langsung menutup mata sebab orang yang duduk sejajar sebelum dia tengah dalam posisi terjaga. Jadi menurut urutan, Rania juga harus tetap membuka mata. Sedangkan Noe yang duduk di sisi kanannya menutup mata sambil dengan tenangnya mendengarkan “doa-doa” dibacakan.
Rania melihat paman Dave baru saja datang untuk bergabung. Dia bisa melihat keadaan sekitar lantas merasa aneh dengan kegiatan yang tengah berlangsung. Apakah ini semacam ritual atau sekadar memanjatkan doa bersama agar mereka bisa menemui jalan pulang ke dunia nyata?