Tiga hari berlalu tanpa kabar langsung dari Angel. Bianca hanya mendapat pesan singkat dari ibu sahabatnya yang mengatakan bahwa Angel baik-baik saja. Jarak itu membuat apartemen mereka terasa asing.
Bianca akhirnya datang ke rumah ibu Angel membawa ponsel yang tertinggal. Ia tidak membawa hadiah atau alasan baru. Kali ini ia hanya membawa kebenaran.
Angel menemuinya di teras. Wajahnya lebih tenang, tetapi jarak di matanya belum hilang.
"Aku cuma mengantar ini," kata Bianca sambil memberikan ponsel.
"Terima kasih."
"Kalau kamu belum mau bicara, aku akan pergi."
Angel memandang kursi kosong di sampingnya. "Duduklah."
Bianca duduk perlahan. Beberapa saat mereka hanya mendengar suara kendaraan di jalan.
"Aku memang pernah menyukai Giandra," kata Bianca. "Bukan sekadar tertarik. Aku ingin dekat dengannya, tetapi ketika melihatmu mulai tersenyum lagi karena dia, aku mundur."
"Kenapa tidak bilang?"
"Karena aku takut kamu merasa bersalah. Aku mengira diam adalah cara terbaik untuk menjagamu."
"Diam membuatku merasa bodoh. Aku menceritakan semuanya kepadamu, sementara kamu menyembunyikan perasaanmu."
Bianca mengangguk. "Aku salah. Lebih salah lagi karena mengatur keadaan supaya kalian bersama. Aku menyebutnya merelakan, padahal aku mengambil pilihanmu."
Mata Angel mulai berkaca-kaca. "Apakah kamu sekarang mencintai Diego?"
Pertanyaan itu sulit, tetapi Bianca tidak mau bersembunyi lagi. "Iya. Mungkin itu sebabnya pengkhianatannya terasa sangat sakit."
"Dan Giandra?"
"Perasaanku kepadanya sudah selesai. Bukan karena aku memberikannya kepadamu. Perasaan itu selesai karena aku memilih melepaskannya."
Angel mengusap air matanya. "Aku juga menyukai Giandra. Tapi setiap kali mengingat video itu, aku merasa semua perhatian yang dia berikan hanya bagian dari permainan."
"Kamu tidak perlu memutuskan sekarang."
"Aku sudah memutuskan satu hal. Aku akan pergi ke rumah Bibi selama beberapa minggu. Dia butuh bantuan mengurus usahanya, dan aku butuh tempat yang tidak mengingatkanku kepada semua orang."
Bianca ingin meminta Angel tetap tinggal. Namun kalimat Angel pada malam itu terngiang kembali: biarkan aku memilih sendiri.
"Aku akan mengantarmu kalau kamu mau."
"Tidak perlu. Mama ikut."
Sebelum Bianca pergi, sebuah mobil berhenti di depan rumah. Giandra turun, tetapi tidak mendekat. Ia menitipkan sebuah amplop dan kunci mobil kepada ibu Angel, lalu kembali masuk ke mobilnya.
"Mobil taruhan itu," kata Angel pahit.
Di dalam amplop terdapat surat pendek. Giandra tidak meminta maaf dengan dalih cinta. Ia mengakui bahwa ia ikut permainan tersebut, bahwa kedekatan mereka bermula dari niat yang salah, dan bahwa Angel tidak berutang kesempatan kedua kepadanya. Kunci itu akan dikembalikan kepada pemiliknya sebagai tanda bahwa taruhan mereka berakhir tanpa pemenang.
Angel melipat surat. "Setidaknya kali ini dia tidak memaksa."
"Kamu mau membalas?"
"Tidak sekarang."
Keesokan paginya Angel pergi. Bianca berdiri di depan apartemen ketika mobil yang membawanya menjauh. Tidak ada pelukan perpisahan, tetapi Angel sempat menurunkan kaca dan berkata, "Jaga dirimu."
Dua kata itu memberi sedikit harapan.
Bianca mengisi hari-harinya dengan pekerjaan. Ia berhenti membaca komentar, menyerahkan akun media sosial kepada Rena, dan mulai berkonsultasi dengan pengacara mengenai penyebaran foto. Diego tidak datang lagi. Ia hanya mengirimkan bukti-bukti melalui Rena tanpa menyelipkan pesan pribadi.
Penyelidikan mengarah pada tempat servis ponsel Damar. Seorang pegawai mengaku pernah menyalin data atas permintaan seseorang yang membayarnya. Rekaman kamera menunjukkan orang suruhan Dea datang ke tempat itu. Ada pula seorang fotografer lokal yang dibayar untuk mengikuti Diego dan Bianca ke vila.
"Kita punya cukup bukti untuk laporan," kata Rena.
Bianca menatap berkas itu. "Lakukan. Tapi jangan buat Angel terlibat lebih jauh."
"Diego meminta bertemu sekali, di kantor ini, dengan aku dan pengacara hadir. Kamu tidak harus setuju."
Bianca menolak pada awalnya. Namun ia tahu ada pertanyaan yang akan terus mengejarnya jika tidak pernah dijawab. Ia akhirnya menyetujui pertemuan dengan syarat Diego tidak mendekatinya setelah itu tanpa izin.
Malam sebelum pertemuan, Bianca menerima pesan dari Angel.
Aku sudah sampai. Jangan khawatir.
Bianca mengetik banyak kalimat, lalu menghapus semuanya. Ia hanya menjawab, Terima kasih sudah memberi kabar. Aku akan menunggu sampai kamu siap.
Untuk pertama kalinya Bianca benar-benar memahami arti merelakan. Bukan menyerahkan orang kepada orang lain, bukan pula mengorbankan diri sambil diam-diam berharap dipahami. Merelakan adalah menghormati keputusan seseorang, bahkan ketika keputusan itu membuatnya harus menunggu sendirian.
Pertemuan berlangsung di kantor Rena. Diego datang sendiri dan duduk di seberang Bianca. Tidak ada pakaian mewah atau senyum percaya diri. Ia tampak seperti seseorang yang akhirnya harus menatap akibat dari perbuatannya.
"Aku tidak akan mencari pembenaran," kata Diego. "Aku ikut taruhan itu. Pada awalnya aku mendekatimu karena permainan bodoh kami."
"Berapa lama aku menjadi permainanmu?"
"Tidak lama. Bahkan sebelum perjalanan ke vila, aku sudah ingin menghentikannya."
"Tapi kamu tidak mengatakan apa pun."
"Aku takut kehilanganmu."
Bianca tertawa getir. "Kamu takut kehilangan sesuatu yang kamu dapatkan lewat kebohongan."
"Benar. Aku pengecut."
Diego menjelaskan bahwa ia melarang Giandra dan Damar mengejar Bianca setelah menyadari perasaannya. Namun larangan itu pun lahir dari rasa memiliki, bukan keberanian mengaku. Bianca berdiri dan menamparnya.
Tidak seorang pun di ruangan itu bergerak.
"Itu untuk perempuan yang kalian jadikan hadiah," kata Bianca.
Diego menerima tamparan itu. "Aku pantas mendapatkannya."
Bianca mengeluarkan ponsel pemberiannya dan meletakkannya di meja. "Aku kembalikan."
"Ponsel itu bukan bagian taruhan."
"Tapi setiap kali melihatnya, aku mengingat semua kebohonganmu."
"Baik."
Rena kemudian menanyakan tentang Dea. Diego menjelaskan bahwa Dea bukan kekasihnya. Keluarga mereka pernah merencanakan kerja sama bisnis dan sengaja membiarkan publik menganggap mereka dekat. Diego tidak pernah berjanji menikahinya, tetapi juga tidak tegas menghentikan kesalahpahaman itu.
"Kamu membiarkanku cemburu," kata Bianca.
"Iya. Aku menyukainya karena itu membuatku merasa kamu peduli. Itu juga salah."
"Berapa banyak kesalahan yang baru kamu akui setelah ketahuan?"
Diego menunduk. "Terlalu banyak."
Pengacara menunjukkan bukti keterlibatan orang suruhan Dea. Pihak Diego bersedia menyerahkan rekaman keamanan vila dan data komunikasi untuk memperkuat laporan. Bianca menerima bantuan itu hanya melalui kuasa hukum.
"Setelah ini jangan hubungi aku," katanya. "Kalau ada urusan kasus, bicara kepada Rena."
"Aku akan menghormatinya."
Diego berdiri, lalu berhenti di pintu. "Aku mencintaimu. Aku tahu kalimat itu tidak memperbaiki apa pun. Aku hanya tidak mau ada satu lagi kebenaran yang kusembunyikan."
Bianca tidak menjawab.
Beberapa hari kemudian Dea dimintai keterangan. Pada awalnya ia menyangkal, tetapi bukti pembayaran kepada pegawai servis dan fotografer terlalu jelas. Ia akhirnya mengaku ingin membuat Diego kehilangan Bianca.
"Dia mempermalukanku," kata Dea. "Semua orang mengira kami akan bersama, lalu dia pergi dengan perempuan lain."
"Itu tidak memberimu hak mengikuti dan memotret saya," jawab Bianca.
"Kamu tetap merebutnya."
"Seseorang bukan barang yang bisa direbut. Diego bersalah karena membiarkanmu percaya, dan dia bersalah kepadaku karena taruhan itu. Tapi pilihan Diego bukan alasan untuk menghukum tubuh dan nama baikku."
Dea tidak mampu membalas. Untuk pertama kalinya Bianca tidak merasa perlu menang dari perempuan lain. Musuhnya bukan Dea semata, melainkan kebiasaan semua orang yang menganggap cinta sebagai kepemilikan.
Ketika keluar dari ruang pemeriksaan, Bianca melihat Diego menunggu jauh di ujung lorong. Lelaki itu tidak menghampiri. Ia hanya mengangguk kecil, lalu pergi.
Sikap itu membuat dada Bianca sakit. Sebagian dirinya ingin mengejar dan menanyakan apakah semua kenangan mereka benar-benar berarti. Bagian lain mengingat suara tawa dalam video. Ia memilih berdiri di tempatnya.
Malamnya Angel menelepon. Bianca gugup ketika mengangkatnya.
"Aku dengar Dea sudah mengaku," kata Angel.
"Iya. Kasusnya masih berjalan."
"Giandra juga mengirim pernyataan melalui pengacara. Dia tidak menyalahkan siapa pun selain dirinya sendiri."
"Kamu bagaimana?"
"Aku belum tahu. Di sini lebih tenang, tapi bukan berarti rasa sakitnya hilang."
"Aku mengerti."
"Bianca, jangan memutuskan tentang Diego karena aku. Kalau suatu hari kamu memaafkannya, pastikan itu pilihanmu. Kalau kamu meninggalkannya, pastikan juga bukan karena ingin terlihat kuat di depanku."
Air mata Bianca mengalir. Nasihat itu adalah kesempatan kecil yang selama ini ia tunggu.
"Aku merindukanmu," katanya.
"Aku juga. Tapi aku masih butuh waktu."
"Ambil sebanyak yang kamu perlukan."
Setelah panggilan berakhir, Bianca menyadari bahwa cinta tidak selalu meminta jawaban segera. Kadang-kadang bentuk paling jujur dari cinta adalah berhenti mengejar dan membiarkan luka bernapas.