Tanpa jabatan di perusahaan keluarga, Diego harus menyesuaikan diri. Ia menjual apartemen mewahnya dan menyewa tempat yang lebih sederhana. Sebagian uangnya digunakan untuk membangun layanan keamanan digital bagi korban penyebaran data pribadi.
"Kamu tidak perlu kehilangan semuanya untuk membuktikan penyesalan," kata Bianca ketika melihat kantor kecilnya.
"Aku tidak kehilangan semuanya. Aku hanya berhenti memakai sesuatu yang selama ini membuatku merasa kebal."
Kantor itu hanya memiliki empat meja, dua komputer, dan dinding yang belum dicat sempurna. Diego terlihat lebih hidup di sana dibandingkan ketika duduk di ruangan direktur yang besar.
Bianca membantu mengenalkan program tersebut kepada organisasi perlindungan perempuan, tetapi menolak menjadi wajah perusahaan.
"Aku ingin program ini dipercaya karena pekerjaannya, bukan karena hubungan kita," katanya.
"Aku setuju."
Kerja sama mereka mendekatkan keduanya. Diego mulai memahami bahwa mendukung Bianca tidak sama dengan mengatur hidupnya. Bianca juga belajar bahwa menerima bantuan tidak membuatnya kehilangan kemandirian.
Suatu malam mereka bekerja sampai larut. Ketika listrik kantor mati karena kapasitas gedung kecil itu bermasalah, Diego menyalakan lampu ponsel.
"Dulu aku akan memaki pengelola gedung," katanya.
"Sekarang?"
"Sekarang aku sadar uang sewanya murah karena suatu alasan."
Bianca tertawa. Mereka makan mi instan sambil menunggu listrik menyala. Tidak ada makan malam mewah atau vila pribadi, tetapi Bianca merasa lebih dekat dengannya dibandingkan sebelumnya.
"Diego, aku sudah memaafkanmu," katanya tiba-tiba.
Diego berhenti makan. "Kamu tidak perlu mengatakannya hanya karena—"
"Aku mengatakannya karena memang begitu. Memaafkan bukan berarti rasa sakitnya hilang. Aku mungkin masih takut dan marah pada waktu tertentu."
"Aku mengerti."
"Tapi aku tidak ingin terus menghukummu kalau kamu benar-benar berubah."
Mata Diego memerah. Ia tidak menyentuh Bianca sampai perempuan itu mengulurkan tangan.
"Apakah ini berarti kita kembali bersama?" tanyanya hati-hati.
"Ini berarti kita mulai dari nol. Kamu boleh mengajakku berkencan dengan benar."
"Besok malam?"
"Terlalu cepat."
"Lusa?"
Bianca tertawa lagi. "Baik, lusa."
Di sisi lain dunia, Angel menerima kiriman kecil dari Giandra. Bukan barang mahal, melainkan buku yang pernah mereka bicarakan melalui panggilan video. Di halaman pertama tertulis tanggal dan satu kalimat: Tidak ada janji sempurna, hanya kejujuran setiap hari.
Angel meletakkan buku itu di samping tanaman pemberian Giandra. Daun baru mulai tumbuh pada batangnya.
Ketika semua orang mengira masalah telah selesai, Damar kembali ke kota membawa sebuah rekaman suara. Ia meminta bertemu Bianca, Angel, Diego, dan Giandra melalui panggilan video.
"Aku menemukan ini di perangkat lamaku," katanya. "Rekaman dibuat beberapa hari setelah taruhan."
Suara Rafael terdengar berbicara dengan ayah Diego. Mereka merencanakan penggunaan video untuk mengendalikan Diego jika ia menolak keputusan keluarga. Ayah Diego tidak memerintahkan ancaman secara langsung, tetapi jelas mengetahui pencurian data sejak awal.
Diego memejamkan mata. Bukti itu menghancurkan harapan terakhir bahwa ayahnya hanya menjadi korban sekretarisnya.
"Kita serahkan kepada penyidik," kata Bianca.
Diego mengangguk. "Iya."
Ayah Diego ditetapkan sebagai pihak yang ikut terlibat dalam pengambilan dan penggunaan data ilegal. Ketika dipanggil, ia meminta berbicara kepada putranya.
"Ayah melakukan semua ini untuk menjaga perusahaan tetap berada di tangan keluarga," katanya.
"Ayah menghancurkan keluarga demi menguasai perusahaan."
"Kamu akan menyesal menyerahkan bukti itu."
"Mungkin. Tapi aku akan lebih menyesal jika kembali berbohong kepada orang yang kucintai."
Diego pergi tanpa menunggu jawaban. Di luar gedung, Bianca menunggunya. Ia tidak mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja karena mereka sama-sama tahu prosesnya masih panjang.
"Kencan kita seharusnya malam ini," kata Diego.
"Masih bisa."
"Aku sedang tidak menjadi teman yang menyenangkan."
"Aku tidak membutuhkan pertunjukan. Aku hanya ingin kamu hadir dengan jujur."
Mereka pergi ke warung kecil dekat kantor baru Diego. Bianca memilih tempat itu karena tidak ada wartawan dan tidak ada kenangan buruk. Mereka berbicara tentang masa depan tanpa membuat janji berlebihan.
"Aku ingin membangun layanan ini sampai bisa membantu lebih banyak orang," kata Diego.
"Aku ingin kembali bekerja tanpa takut setiap kamera akan dipakai untuk melukaiku."
"Dan tentang kita?"
Bianca mengulurkan tangan di atas meja. "Aku ingin mencoba menjadi pasanganmu lagi."
Diego menggenggamnya perlahan. "Terima kasih."
"Jangan berterima kasih dulu. Aku punya banyak aturan."
"Aku siap mendengarnya."
Malam itu Bianca pulang dan menceritakan keputusannya kepada Angel. Sahabatnya memeluknya dengan bahagia.
"Kali ini benar-benar pilihanmu?" tanya Angel.
"Sepenuhnya."
"Kalau begitu aku ikut bahagia."
Panggilan video dari Giandra masuk beberapa menit kemudian. Angel mengangkatnya tanpa menyembunyikan senyum. Empat orang itu kemudian berbicara bersama, sesuatu yang beberapa bulan lalu terasa mustahil.
Kebenaran terakhir telah muncul. Ia menyakitkan, tetapi juga membebaskan. Tidak ada lagi rahasia besar yang menunggu untuk meledak di antara mereka.
Bianca memandang Angel, lalu Diego di layar ponsel. Dulu ia mengira kebahagiaan harus dibayar dengan mengorbankan perasaannya sendiri. Kini ia tahu bahwa cinta tidak membutuhkan seorang pemenang dan seorang yang mengalah.
Yang mereka perlukan hanyalah keberanian untuk memilih, bertanggung jawab, serta merelakan versi lama diri mereka yang dibangun oleh ketakutan dan kebohongan.
Bianca dan Diego resmi mencoba kembali, tetapi keduanya sepakat tidak mengumumkannya. Bukan karena malu, melainkan karena mereka ingin mengenal satu sama lain tanpa penilaian publik.
Kencan pertama mereka berlangsung sederhana. Diego menjemput Bianca dengan mobil sewaan dan membawanya ke pasar malam.
"Aku kira kamu akan memilih restoran mahal," kata Bianca.
"Dulu aku terlalu sering memakai kemewahan untuk membuat orang terkesan."
"Jadi sekarang kamu ingin membuatku terkesan dengan jagung bakar?"
Diego tersenyum. "Berhasil?"
"Belum."
Mereka berjalan dari satu gerai ke gerai lain. Ketika beberapa orang mengenali Bianca, Diego tidak menariknya pergi atau bertindak berlebihan. Ia bertanya apakah Bianca ingin pulang. Bianca memilih tetap tinggal.
Di dekat bianglala, seorang wartawan mendadak mendekati mereka.
"Apakah kalian sudah kembali bersama? Apa Bianca sudah memaafkan taruhan itu?"
Diego hendak menjawab, tetapi Bianca menyentuh lengannya.
"Hubungan kami adalah urusan pribadi," katanya. "Permintaan maaf dan tanggung jawab Diego sudah disampaikan secara terbuka. Sisanya adalah pilihan saya."
Mereka meninggalkan wartawan itu. Diego terlihat gelisah.
"Aku bisa membuat tim menghapus rekamannya."
"Tidak perlu. Aku sudah mengatakan yang ingin kukatakan."
Di atas bianglala, kota terlihat kecil di bawah mereka. Diego meminta izin sebelum menggenggam tangan Bianca.
"Kamu tidak harus meminta izin untuk setiap hal," kata Bianca.
"Aku masih belajar membedakan antara berani dan memaksa."
Bianca mendekat lalu mencium pipinya. "Untuk yang itu, kamu tidak perlu bertanya lagi."
Sepulangnya, Bianca menceritakan kencan tersebut kepada Angel. Sahabatnya sedang menunggu panggilan Giandra yang terlambat hampir satu jam.
"Dia bilang rapatnya selesai pukul sembilan," ujar Angel.
"Mungkin ada pekerjaan tambahan."
"Atau dia kembali menyembunyikan sesuatu."
Ketakutan lama muncul begitu cepat. Namun sebelum Angel membuat kesimpulan, Giandra menelepon. Ia berada di rumah sakit karena seorang rekan kerjanya mengalami kecelakaan.
"Maaf aku baru mengabari," katanya. "Ponselku tertinggal di kantor."
Angel menahan kemarahan yang sempat tumbuh. "Lain kali pinjam ponsel orang. Aku hanya perlu satu pesan supaya tidak berpikir macam-macam."
"Kamu benar. Maaf."
Malam itu kedua sahabat memahami bahwa hubungan baru tetap membawa bekas luka lama. Perbedaannya, kini mereka membicarakan luka itu sebelum berubah menjadi tuduhan dan kebohongan.