Bulan pertama perjalanan Bianca berjalan lancar. Ia rutin bertukar pesan dengan Diego dan melakukan panggilan video ketika memiliki waktu. Namun memasuki negara ketiga, jadwalnya menjadi kacau.
Suatu malam Diego melihat foto Bianca makan bersama seorang model pria bernama Adrian. Foto itu sudah tersebar sebelum Bianca sempat menjelaskan.
Kecemburuan muncul, tetapi Diego tidak menelepon dengan amarah. Ia mengirim pesan.
Aku melihat fotonya. Ketika kamu punya waktu, aku ingin mendengar ceritanya langsung darimu.
Bianca menelepon setelah pemotretan selesai.
"Adrian rekan kerja. Semua kru ada di restoran, tetapi foto itu dipotong," jelasnya.
"Aku percaya."
"Kamu tidak marah?"
"Aku sempat cemburu. Tapi rasa cemburuku bukan bukti bahwa kamu bersalah."
Bianca tersenyum. "Terima kasih sudah bertanya, bukan menuduh."
Beberapa hari kemudian giliran Bianca diuji. Dalam panggilan video, ia melihat Nara berada di kantor Diego hingga larut. Diego menjelaskan bahwa tim sedang menghadapi serangan siber terhadap sistem baru.
"Kenapa kamu tidak memberi tahu sebelumnya?"
"Karena kami baru mengetahui serangan itu satu jam lalu. Aku meneleponmu sekarang supaya tidak ada yang kusembunyikan."
Bianca mengakui rasa tidak amannya. Mereka berbicara sampai tidak ada pertanyaan yang tersisa.
Di kota asal, Angel dan Giandra juga menghadapi tekanan bekerja dalam satu kantor. Giandra beberapa kali memberi Angel tugas tambahan tanpa sadar membawa hubungan pribadi ke lingkungan profesional.
"Aku konsultan, bukan orang yang selalu bisa kamu minta menyelamatkan pekerjaanmu," tegur Angel.
Giandra meminta maaf dan membawa persoalan itu ke rapat tim. Ia mengubah pembagian tanggung jawab secara terbuka agar Angel tidak diperlakukan istimewa ataupun dibebani karena hubungan mereka.
"Aku masih belajar menjadi pasangan dan rekan kerja sekaligus," katanya.
"Aku juga," jawab Angel.
Jarak kedua itu bukan hanya jarak antarnegara. Ada jarak antara cinta dan pekerjaan, kepercayaan dan ketakutan, masa lalu dan diri mereka yang baru. Untuk melewatinya, mereka tidak membutuhkan janji sempurna. Mereka membutuhkan percakapan yang terus dijaga.
Setelah tiga bulan bepergian, Bianca mulai merasakan kelelahan. Tubuhnya menuntut istirahat, tetapi agensi mendorongnya menerima jadwal tambahan. Ketika ia pingsan setelah pemotretan, Rena membawanya ke rumah sakit.
Dokter mengatakan Bianca hanya kelelahan dan kurang makan. Meski begitu, kabar tersebut sampai kepada Diego.
"Aku terbang besok," katanya melalui telepon.
"Jangan. Besok kamu punya peluncuran layanan baru."
"Kamu di rumah sakit."
"Aku sudah boleh pulang. Rena bersamaku. Datanglah setelah pekerjaanmu selesai kalau memang masih perlu."
Diego ragu, tetapi akhirnya menghormati keputusan Bianca. Ia tidak membatalkan peluncuran. Sebagai gantinya, ia memastikan Rena memiliki semua bantuan yang diperlukan.
Dua hari kemudian Diego datang setelah tugasnya selesai. Ia menemukan Bianca beristirahat di hotel.
"Aku marah," katanya.
"Karena aku melarangmu datang?"
"Karena kamu memaksakan tubuhmu sampai jatuh."
"Aku takut kehilangan kontrak."
"Pekerjaan penting, tetapi kamu juga berhak berhenti."
Bianca teringat bagaimana selama ini ia membuktikan diri dengan terus berdiri. Ia lupa bahwa memilih beristirahat juga bentuk kendali atas hidupnya.
Ia meminta agensi menghapus beberapa jadwal dan menyediakan waktu pemulihan. Keputusan itu mengurangi bayarannya, tetapi tidak menghancurkan kariernya seperti yang ditakutkan.
"Aku tidak perlu diselamatkan," kata Bianca kepada Diego.
"Aku tahu."
"Tapi aku senang kamu datang."
Diego mencium keningnya. "Aku datang untuk menemani, bukan mengambil alih."
Sepulang dari perjalanan, Bianca memutuskan menyewa apartemen sendiri. Ia tetap dekat dengan Angel, tetapi merasa keduanya perlu membangun kehidupan yang lebih mandiri.
Angel sempat sedih, lalu membantu memilih tempat.
"Kita tidak berpisah," kata Bianca. "Aku hanya ingin belajar berdiri sendiri tanpa menjauh darimu."
"Aku mengerti. Mungkin aku juga akan mencari tempat bersama Giandra nanti."
Mereka berpelukan di antara kardus-kardus. Persahabatan mereka tidak lagi bergantung pada satu atap. Setelah segala yang terjadi, keduanya akhirnya cukup kuat untuk berjarak tanpa merasa ditinggalkan.
Apartemen baru Bianca tidak besar, tetapi setiap benda di dalamnya ia pilih sendiri. Diego membantu membawa kardus tanpa berusaha menentukan letak apa pun.
"Rak ini sebaiknya di dekat jendela," katanya.
Bianca menatap tajam.
"Atau di mana pun kamu mau," Diego buru-buru menambahkan.
Bianca tertawa. "Dekat jendela memang bagus."
Malam pertama di tempat baru dirayakan dengan makan bersama Angel dan Giandra. Mereka duduk di lantai karena meja makan belum datang.
"Dulu kita bertemu karena taruhan bodoh," kata Damar melalui panggilan video singkat. Ia kini tinggal di luar kota dan menjalani kewajiban hukumnya.
"Jangan merusak makan malam," tegur Angel.
Damar tersenyum hambar. "Aku cuma ingin mengucapkan selamat. Dan sekali lagi meminta maaf."
Kali ini Angel menjawab, "Aku mendengar permintaan maafmu. Semoga kamu benar-benar berubah."
Itu bukan pengampunan penuh, tetapi cukup membuat Damar mengangguk dengan mata basah.
Setelah Angel dan Giandra pulang, Diego membantu membereskan sisa makanan. Di depan pintu, ia bersiap pergi.
"Kamu tidak mau tinggal?" tanya Bianca.
Diego terdiam. "Kamu yakin?"
"Aku meminta kamu menginap, bukan pindah."
"Baik."
Mereka duduk di balkon membicarakan masa depan. Diego tidak mengeluarkan cincin atau membuat kejutan. Ia hanya bertanya apakah suatu hari Bianca ingin membangun rumah bersama.
"Suatu hari, mungkin," jawab Bianca. "Tapi aku baru saja menikmati rumahku sendiri."
"Aku bisa menunggu."
"Jangan menunggu tanpa hidup. Jalani hidupmu bersamaku. Itu berbeda."
Diego tersenyum dan mencium Bianca dengan lembut. Tidak ada ketakutan atau tuntutan di antara mereka. Ketika malam semakin larut, kedekatan mereka tumbuh dengan persetujuan dan kepercayaan yang dibangun perlahan.
Pagi harinya Bianca membuka pintu balkon. Cahaya masuk memenuhi ruangan yang masih dipenuhi kardus. Diego membuat kopi di dapur, terlalu pahit seperti biasa.
Pesan dari Angel masuk.
Giandra dan aku akan melihat apartemen sore ini. Sepertinya aku juga siap membuka pintu baru.
Bianca tersenyum membaca pesan itu. Selama ini mereka mengira merelakan berarti menutup pintu dan berjalan pergi. Kini mereka tahu bahwa terkadang seseorang harus merelakan rasa takut agar berani membuka pintu yang baru.
Diego menyerahkan secangkir kopi kepadanya.
"Untuk apa kamu tersenyum?"
"Karena hidup kita akhirnya mulai terasa seperti milik kita sendiri."
Diego berdiri di sampingnya. Mereka memandang pagi tanpa mengetahui masalah apa yang akan datang kemudian. Namun kini mereka memiliki sesuatu yang dulu tidak ada: keberanian untuk berkata jujur, kebebasan untuk memilih, dan kesediaan menerima bahwa cinta tidak bisa dipertaruhkan ataupun dimiliki secara paksa.