Diego menerima surat dari ayahnya. Lelaki itu meminta dikunjungi tanpa pengacara dan tanpa Bianca.
"Aku tidak tahu apakah harus datang," kata Diego.
"Kamu tidak berutang kunjungan kepadanya," jawab Bianca. "Tapi kalau kamu membutuhkan percakapan itu untuk dirimu sendiri, pergilah."
Diego akhirnya datang. Di ruang kunjungan, ayahnya tampak lebih tua dari terakhir kali mereka bertemu.
"Perusahaan membutuhkanmu," katanya tanpa salam panjang.
"Aku sudah membantu sebagai penasihat."
"Kembalilah sebagai pemimpin. Pulihkan nama keluarga."
Diego menghela napas. "Ayah mengundangku hanya untuk membicarakan perusahaan?"
Ayahnya terdiam. Beberapa saat kemudian, suaranya melemah.
"Ayah tidak tahu cara meminta maaf."
"Mulailah dengan mengakui siapa yang Ayah sakiti."
Untuk pertama kalinya, lelaki itu menyebut nama Bianca dan Angel tanpa menyalahkan mereka. Ia juga mengakui menggunakan Rafael dan sekretarisnya demi mempertahankan kuasa.
"Aku belum bisa memaafkan Ayah," kata Diego. "Tapi aku bersedia datang lagi kalau Ayah benar-benar mau berubah."
"Apakah perempuan itu menyuruhmu berkata begitu?"
Diego berdiri. "Tidak. Dan kalau Ayah masih menganggap semua pilihanku berasal dari Bianca, percakapan kita tidak akan maju."
Ayahnya tidak menjawab, tetapi sebelum Diego pergi ia berkata, "Datanglah bulan depan."
Diego menceritakan semuanya kepada Bianca. Ia tidak meminta perempuan itu ikut memaafkan.
"Bagaimana perasaanmu?" tanya Bianca.
"Marah, sedih, dan sedikit lega."
"Semua perasaan itu boleh ada bersama."
Sementara itu, Angel menerima kabar bahwa Zico akan bekerja sama dengan kantor mereka. Ia dapat menolak proyek, tetapi hal itu bisa merugikan seluruh tim.
"Aku tidak mau masa lalu terus menentukan pekerjaanku," katanya kepada Giandra. "Aku akan tetap profesional."
"Aku percaya kepadamu."
Jawaban Giandra datang tanpa kecemburuan atau larangan. Angel menyadari bahwa ujian baru sedang menunggu, bukan hanya bagi dirinya, tetapi juga bagi perubahan Giandra.
Malam itu empat orang tersebut berkumpul di apartemen Bianca. Mereka membicarakan persoalan masing-masing tanpa mencoba menjadi pahlawan bagi yang lain.
Ada pintu dari masa lalu yang kembali terbuka: ayah Diego, Zico, serta luka yang belum sepenuhnya sembuh. Namun kini mereka tidak lagi berjalan sendirian. Mereka juga tidak saling mengambil keputusan.
Mereka hanya berjanji satu hal—apa pun yang terjadi, tidak akan ada lagi kebenaran yang disembunyikan atas nama cinta.
Pertemuan proyek mempertemukan Angel dengan Zico untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun. Angel datang lebih awal dan memilih kursi di seberang meja, bukan di sampingnya.
"Kamu terlihat berbeda," kata Zico.
"Kita di sini untuk bekerja."
Zico tersenyum seolah mereka masih memiliki kedekatan. Sepanjang rapat ia beberapa kali membawa pembicaraan ke masa lalu. Angel selalu mengembalikannya ke pekerjaan.
Setelah peserta lain pergi, Zico menahan pintu.
"Aku hanya ingin meminta maaf."
"Kamu bisa melakukannya tanpa menghalangi jalanku."
Zico segera mundur. "Maaf. Aku dengar kamu bersama Giandra. Apa dia benar-benar lebih baik dariku?"
"Aku tidak memilih pasangan melalui perlombaan."
"Aku masih memikirkanmu."
"Itu perasaanmu, bukan tanggung jawabku."
Angel pergi dengan langkah tenang, meski tangannya gemetar. Ia menelepon Giandra dan menceritakan seluruh percakapan.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Giandra.
"Sedikit terganggu, tapi aku bisa mengatasinya."
"Kamu ingin aku menjemput?"
"Tidak perlu. Sampai jumpa di rumah."
Giandra tidak datang diam-diam untuk mengawasi. Saat Angel pulang, ia sudah menyiapkan makan malam dan mendengarkan tanpa menghakimi.
"Kamu tidak cemburu?" tanya Angel.
"Ada sedikit rasa tidak nyaman. Tapi aku percaya pilihanmu."
Angel menggenggam tangannya. Kepercayaan Giandra membuat bayang-bayang Zico kehilangan kekuatannya.
Diego mengunjungi ayahnya untuk kedua kali. Kali ini tidak ada pembicaraan mengenai perusahaan. Ayahnya bertanya tentang layanan keamanan digital dan mendengarkan tanpa menyela.
"Ayah sudah mulai mengikuti konseling di sini," katanya. "Bukan berarti semuanya akan berubah cepat."
"Aku menghargai Ayah mau mencoba."
Ketika pulang, Diego terlihat lebih ringan. Namun ia mulai menghabiskan banyak waktu mengurus persoalan ibunya dan perusahaan lama hingga pekerjaan barunya terbengkalai.
Bianca melihat pola lama itu kembali: Diego berusaha memikul semua masalah sendirian.
"Kamu tidak harus memperbaiki seluruh keluargamu," katanya.
"Aku anak mereka."
"Menjadi anak tidak berarti kamu bertanggung jawab atas semua pilihan orang tuamu."
Diego tersinggung. "Kamu tidak mengerti keadaan keluargaku."
"Mungkin tidak. Tapi aku melihat kamu hampir tidak tidur."
Pertengkaran mereka berhenti ketika Diego pergi tanpa menjawab. Bianca tidak mengejarnya. Ia hanya mengirim pesan bahwa mereka dapat bicara setelah emosi mereda.
Diego kembali malam berikutnya.
"Maaf," katanya. "Aku marah karena kamu mengatakan hal yang sebenarnya."
"Aku tidak mau menyelamatkanmu dari keluargamu. Itu bukan tugasku."
"Aku tahu. Dan bukan tugasku menyelesaikan semua masalah mereka."
Diego membagi tanggung jawab perusahaan kepada tim profesional dan kembali mengatur jadwal konselingnya. Bianca mendukung tanpa mengambil alih.
Hubungan mereka tidak selalu lembut. Namun setiap pertengkaran kini menjadi tempat belajar, bukan senjata untuk saling menguasai.
Zico terus mencari alasan berbicara dengan Angel. Ia mengirim pesan di luar jam kerja dan menanyakan hal pribadi. Angel mengabaikannya, tetapi belum melaporkan karena takut dianggap tidak profesional.
Suatu sore Zico muncul di apartemen mereka dengan membawa bunga.
Giandra yang membuka pintu.
"Aku ingin bicara dengan Angel," kata Zico.
"Dia tidak mengundangmu."
"Biarkan dia mengatakan sendiri."
Suara mereka membuat Angel keluar. Ia melihat bunga di tangan Zico dan wajah tegang Giandra.
"Pergilah, Zico," katanya.
"Aku hanya ingin kesempatan menjelaskan."
"Aku sudah mendengarkan permintaan maafmu. Itu tidak memberi kamu akses ke rumahku."
Zico menoleh kepada Giandra. "Kamu mengatur apa yang boleh dia dengar?"
Giandra mengepalkan tangan, tetapi tidak menyerang. "Angel sudah menjawab."
Zico akhirnya pergi setelah petugas keamanan dipanggil. Angel segera melaporkan kejadian itu kepada kantor dan meminta komunikasi proyek dialihkan melalui koordinator lain.
"Aku seharusnya melapor sejak pesan pertama membuatku tidak nyaman," katanya.
"Kamu melakukannya sekarang," jawab Giandra.
"Dulu kamu mungkin sudah memukulnya."
"Aku hampir melakukannya. Tapi itu akan membuat masalah menjadi tentang aku dan Zico, padahal batasmu yang dia langgar."
Angel memeluk Giandra. Lelaki itu memang masih bisa marah dan cemburu, tetapi ia tidak lagi menjadikan emosi sebagai alasan mengambil kendali.
Keesokan harinya perusahaan mencabut Zico dari proyek sambil menyelidiki tindakannya. Angel tetap bekerja. Ia tidak lagi menjadi orang yang harus pergi hanya karena orang lain menolak menghormati batas.