Melihat persiapan pernikahan Bianca membuat Angel memikirkan hubungannya sendiri. Giandra belum pernah membicarakan pernikahan sejak mereka kembali bersama.
Angel takut bertanya karena tidak mau terdengar menuntut. Namun menyimpan kegelisahan hanya akan mengulang kesalahan lama.
"Apa kamu ingin menikah suatu hari nanti?" tanyanya ketika mereka makan malam.
Giandra terdiam cukup lama.
"Aku ingin menikah denganmu," jawabnya. "Tapi aku takut melamar terlalu cepat setelah semua yang kulakukan. Aku tidak mau kamu menerima karena merasa hubungan kita harus mengejar Bianca dan Diego."
Angel merasa lega. "Aku juga belum ingin menikah sekarang. Aku cuma perlu tahu kita melihat arah yang sama."
"Kita melihat arah yang sama. Waktunya kita pilih bersama."
Tidak ada cincin malam itu. Justru percakapan sederhana tersebut membuat hubungan mereka terasa lebih pasti.
Angel mendapat tawaran menjadi pegawai tetap di kantor Diego. Ia menerima setelah memastikan posisinya tidak bergantung pada Giandra. Pekerjaannya berkembang dan ia mulai memimpin tim kecil.
Ketika seorang rekan mempertanyakan apakah ia mendapat jabatan karena hubungan pribadi, Angel menunjukkan hasil kerjanya tanpa marah. Giandra tidak ikut membela kecuali diminta.
"Aku bisa berdiri sendiri," kata Angel kepadanya.
"Aku tahu. Dan aku bangga tanpa harus berdiri di depanmu."
Angel tersenyum. Itulah pilihan yang selama ini ia cari: dicintai tanpa dikendalikan dan didampingi tanpa dianggap lemah.
Pernikahan Bianca dan Diego dilaksanakan di taman kecil milik ibu Diego. Tidak ada ratusan tamu, wartawan, atau siaran langsung. Hanya keluarga terdekat, Angel, Giandra, Rena, dan beberapa sahabat.
Bianca mengenakan gaun sederhana yang tetap nyaman untuk kandungannya. Angel membantu memasang kerudung tipis di rambutnya.
"Kamu yakin?" tanya Angel.
Bianca menatap sahabatnya melalui cermin. "Sangat yakin."
"Kalau begitu jangan menangis dulu. Riasanmu mahal."
Mereka tertawa lalu berpelukan.
Diego menunggu di bawah rangkaian bunga putih. Ketika Bianca berjalan mendekat, matanya tidak pernah berpaling. Dalam janji pernikahan, ia tidak menjanjikan hidup tanpa kesalahan.
"Aku berjanji akan jujur ketika takut, mendengar ketika kamu berkata tidak, dan mengingat bahwa cintamu adalah pilihan yang harus kuhargai setiap hari," katanya.
Bianca membalas, "Aku tidak berjanji melupakan masa lalu. Aku berjanji tidak menggunakannya untuk menghukummu selama kamu terus bertanggung jawab. Aku memilih berjalan bersamamu sebagai diriku sendiri."
Setelah mereka dinyatakan menikah, Diego mencium Bianca dengan lembut. Tepuk tangan memenuhi taman.
Ayah Diego tidak hadir karena masih menjalani hukuman. Namun sebuah surat dikirimkan melalui ibunya. Diego membacanya setelah acara. Isinya singkat: permintaan maaf tanpa alasan dan doa untuk keluarga baru mereka.
Diego menyimpan surat itu. "Aku belum tahu kapan bisa membalas."
"Kamu tidak harus melakukannya hari ini," kata Bianca.
Malam itu mereka tidak mengadakan pesta mewah. Keempat sahabat duduk di taman sampai lampu hampir padam. Tidak ada yang membicarakan taruhan. Hari tersebut bukan kemenangan Diego, melainkan keputusan dua orang dewasa untuk membangun hidup bersama.
Setelah menikah, Diego tidak langsung meminta Bianca meninggalkan apartemennya. Mereka mencari rumah baru bersama agar tidak ada yang merasa hanya menumpang dalam kehidupan pasangannya.
Rumah pilihan mereka tidak terlalu besar. Ada halaman kecil, ruang kerja untuk Bianca, dan kamar bayi yang menghadap matahari pagi.
"Kita belum tahu bayinya suka matahari," kata Diego.
"Bayi kita belum bisa menyampaikan pendapat. Untuk sementara, kita yang memilih."
"Asalkan nanti dia boleh mengubahnya."
Bianca tertawa. "Kamu belajar terlalu baik."
Mereka membagi urusan rumah dan menyusun jadwal berdasarkan pekerjaan. Diego ingin menyewa banyak bantuan, tetapi Bianca hanya menyetujui yang benar-benar diperlukan.
Pada malam pertama, mereka duduk di lantai kamar bayi yang masih kosong. Diego menempelkan telinga ke perut Bianca.
"Aku belum mendengar apa-apa," katanya.
"Dia mungkin sedang tidur."
Tiba-tiba Bianca merasakan gerakan sangat halus. Ia memegang tangan Diego dan meletakkannya di tempat yang sama.
"Tadi itu dia?"
"Mungkin."
Wajah Diego dipenuhi rasa takjub. Bianca menyandarkan kepala ke bahunya.
Di rumah lain, Angel dan Giandra merayakan pernikahan sahabat mereka dengan membicarakan masa depan sendiri. Mereka sepakat tidak terburu-buru, tetapi mulai menabung bersama untuk pernikahan.
Bianca menerima foto tanaman kecil pemberian Giandra yang kini tumbuh lebat. Angel menulis di bawahnya: Ternyata sesuatu yang pernah hampir mati bisa tumbuh kalau dirawat dengan benar.
Bianca membalas: Asalkan tidak dipaksa tumbuh lebih cepat.
Ia memandang Diego yang sedang mengukur dinding kamar bayi dengan serius. Rumah itu belum sempurna, hubungan mereka pun tidak akan pernah kebal dari masalah. Tetapi semua yang ada di dalamnya dipilih bersama.
Bianca meletakkan tangan di perutnya. Kini rumah itu bukan lagi milik dua orang yang dipertemukan oleh permainan. Ia menjadi rumah untuk tiga orang yang akan belajar mencintai tanpa saling memiliki.
Memasuki bulan ketujuh kehamilan, Bianca semakin sulit tidur. Setiap perubahan kecil membuatnya cemas. Pada suatu malam, gerakan bayi yang biasanya aktif mendadak tidak terasa.
"Diego, bangun," katanya dengan suara gemetar.
Diego segera duduk. "Ada apa?"
"Bayinya tidak bergerak sejak tadi."
Mereka pergi ke rumah sakit. Sepanjang perjalanan Diego menggenggam tangan Bianca tanpa memberikan janji yang tidak bisa dipastikan. Setelah pemeriksaan, dokter mengatakan kondisi bayi baik. Posisi bayi berubah sehingga gerakannya tidak terlalu terasa.
Bianca menangis lega. "Aku takut kehilangan dia."
"Aku juga," ujar Diego. "Tapi kamu tidak harus menyimpan ketakutan itu sendirian."
Sesudah kejadian tersebut, Bianca mengaku bahwa ia sering dihantui pikiran buruk. Dokter menyarankan konseling agar kecemasannya tidak semakin berat.
Awalnya Bianca malu. Ia merasa seharusnya kehamilan hanya dipenuhi kebahagiaan. Angel meyakinkannya bahwa meminta pertolongan bukan tanda ia akan menjadi ibu yang buruk.
"Justru kamu sedang menjaga dirimu dan bayimu," kata Angel.
Bianca mulai mengikuti konseling. Ia belajar membedakan antara kekhawatiran wajar dan ketakutan yang mengambil alih hidupnya. Diego ikut dalam beberapa sesi supaya tahu cara mendampingi tanpa mengendalikan.
Malam-malam mereka perlahan menjadi lebih tenang. Ketika kecemasan kembali, Bianca tidak lagi berpura-pura kuat. Ia membangunkan Diego dan berkata jujur, "Aku sedang takut."
Diego pun tidak berkata bahwa semuanya pasti baik-baik saja. Ia hanya menjawab, "Aku di sini. Kita periksa bersama kalau kamu membutuhkannya."