Diego mengira menghadapi rapat perusahaan adalah pekerjaan sulit. Setelah Aruna lahir, ia sadar tidak ada rapat yang lebih menegangkan daripada menenangkan bayi yang menangis tanpa diketahui penyebabnya.
Pada suatu malam Bianca terbangun dan menemukan Diego berjalan mengelilingi kamar sambil menggendong Aruna.
"Kenapa tidak membangunkanku?" tanyanya.
"Kamu baru tidur satu jam. Aku ingin mencoba sendiri."
"Kamu tidak harus membuktikan apa pun."
"Aku tahu. Aku hanya ingin menjadi ayahnya, bukan orang yang selalu menyerahkan tangisan kepada ibunya."
Bianca membantu memeriksa popok dan suhu tubuh Aruna. Ternyata bayi itu hanya ingin digendong. Mereka duduk berdampingan sampai Aruna kembali tertidur.
Diego mengurangi jam kerjanya dan membagi tanggung jawab dengan tim. Beberapa orang menilai ia terlalu banyak mengambil cuti untuk seorang ayah, tetapi Diego tidak peduli.
"Aku melewatkan terlalu banyak hal penting dalam hidup karena mengejar kemenangan," katanya. "Aku tidak mau mengulanginya."
Ketika ibunya menawarkan pengasuh penuh waktu, Bianca dan Diego menerima bantuan hanya pada jam tertentu. Mereka tidak ingin kelelahan mengubah rumah menjadi tempat pertengkaran.
Perlahan Diego belajar membedakan tangis lapar, lelah, dan tidak nyaman. Ia masih melakukan kesalahan, tetapi tidak lagi takut mengaku tidak tahu.
Suatu pagi Aruna tersenyum kepadanya untuk pertama kali. Diego memanggil Bianca begitu keras hingga bayi itu terkejut dan kembali menangis.
"Bagus," kata Bianca sambil tertawa. "Kamu membuatnya tersenyum dan menangis dalam waktu sepuluh detik."
Diego ikut tertawa. Menjadi ayah bukan soal selalu benar. Itu tentang hadir, belajar, dan tetap tinggal bahkan ketika dirinya merasa tidak mampu.
Persiapan pernikahan Angel dan Giandra dimulai tanpa kemewahan. Mereka memilih upacara kecil di taman yang sama dengan tempat Bianca menikah.
Angel mengajak Bianca mencoba gaun, tetapi Bianca datang membawa Aruna. Bayi itu tertidur selama dua gaun pertama lalu menangis tepat ketika Angel mengenakan gaun ketiga.
"Itu berarti dia tidak menyukainya," kata Bianca.
"Dia belum punya selera mode."
"Ibunya model. Tentu dia punya."
Mereka tertawa seperti dahulu. Angel akhirnya memilih gaun sederhana dengan lengan panjang. Ia menatap dirinya di cermin, lalu mendadak menangis.
"Aku takut semuanya terlalu bahagia," katanya. "Seolah sesuatu buruk akan datang lagi."
Bianca memahami ketakutan itu. "Kebahagiaan tidak menjadi palsu hanya karena kita takut kehilangannya."
Giandra juga menjalani kegelisahan sendiri. Ia bertemu Diego dan mengaku takut menjadi suami yang buruk.
"Aku pernah memperlakukan cinta seperti permainan," katanya. "Bagaimana kalau kebiasaan lamaku kembali?"
"Kamu tidak bisa menjamin tidak pernah salah," jawab Diego. "Tapi kamu bisa terus jujur dan membiarkan Angel menegurmu."
Mereka sepakat tidak mengadakan pesta bujang. Kenangan tentang permainan lama terlalu pahit untuk dijadikan lelucon.
Menjelang hari pernikahan, Angel menulis janjinya sendiri. Ia tidak menuliskan bahwa Giandra telah menyelamatkannya dari masa lalu. Ia menyatakan bahwa dirinya menyelamatkan diri sendiri, sementara Giandra memilih berjalan di sampingnya.
Hari pernikahan Angel dan Giandra tiba dengan langit cerah. Bianca berdiri di samping Angel sebagai pendamping, sedangkan Diego menggendong Aruna di barisan depan.
Giandra menunggu dengan mata berkaca-kaca. Ketika Angel berjalan mendekat, ia tidak melihat perempuan yang berhasil didapatkan. Ia melihat seseorang yang berkali-kali memberinya kebebasan memilih dan kesempatan bertanggung jawab.
"Aku pernah mengira cinta adalah sesuatu yang harus dimenangkan," kata Giandra dalam janjinya. "Hari ini aku tahu cinta adalah kepercayaan yang tidak pernah boleh kuanggap sebagai milikku. Aku berjanji menghormati pilihanmu setiap hari."
Angel membalas, "Aku tidak datang sebagai perempuan yang kamu selamatkan. Aku datang sebagai pasangan yang memilihmu dengan mata terbuka. Aku akan mencintaimu tanpa kehilangan diriku sendiri."
Mereka mengucapkan janji dan berciuman diiringi tepuk tangan. Aruna ikut menangis keras, membuat semua tamu tertawa.
Damar hadir di bagian belakang setelah mendapat izin dari Angel dan Bianca. Ia tidak mendekat sampai acara selesai.
"Terima kasih sudah membolehkanku datang," katanya.
"Kehadiranmu bukan berarti masa lalu sudah hilang," ujar Angel. "Tapi aku percaya orang bisa berubah."
Damar mengangguk. Ia kini bekerja bersama lembaga pemulihan perilaku dan menceritakan kesalahannya kepada kelompok lelaki muda agar mereka tidak mengulanginya.
Malam itu tidak ada yang mempertaruhkan apa pun. Tidak ada mobil, rumah, atau harga bagi hati seseorang. Hanya dua orang yang berjanji setara di hadapan keluarga dan sahabat mereka.
Sebulan setelah pernikahan Angel, Diego menerima kabar bahwa ayahnya mendapat izin kunjungan keluarga. Ia ingin bertemu Aruna untuk pertama kali.
Bianca belum langsung setuju. "Aku tidak ingin anak kita digunakan untuk membuatnya merasa sudah dimaafkan."
"Aku juga tidak," jawab Diego. "Kita bisa menolak."
Mereka berdiskusi dengan konselor dan menetapkan batas: pertemuan berlangsung singkat, Bianca ikut hadir, dan tidak ada foto yang boleh dipublikasikan.
Di ruang kunjungan, ayah Diego menatap Aruna dari seberang meja. Wajah kerasnya melembut.
"Boleh saya menggendongnya?" tanyanya kepada Bianca.
Bianca menghargai bahwa ia meminta izin. "Sebentar."
Diego menyerahkan Aruna ke pelukan ayahnya. Lelaki tua itu menahan air mata.
"Kakek melakukan banyak kesalahan," katanya pelan kepada bayi itu. "Kamu tidak harus menanggung satu pun darinya."
Pertemuan berakhir tanpa permintaan pengampunan. Ayah Diego hanya berterima kasih karena diberi kesempatan.
Dalam perjalanan pulang, Diego bertanya apakah Bianca menyesal datang.
"Tidak. Tapi aku juga belum sepenuhnya percaya kepadanya."
"Aku pun belum."
Mereka sepakat bahwa satu pertemuan bukan bukti perubahan. Pintu itu baru dibuka sedikit dan dapat ditutup kembali jika batas dilanggar.
Malamnya Diego memeluk putrinya lebih lama. Ia sadar bahwa memutus warisan buruk tidak selalu berarti memutus keluarga. Kadang-kadang itu berarti membangun aturan baru agar kesalahan lama tidak diwariskan.
Masa cuti Bianca hampir selesai ketika sebuah rumah mode luar negeri menawarkan kontrak dua tahun. Kesempatan itu akan menempatkannya di puncak karier, tetapi mengharuskannya membawa keluarga pindah.
"Aku tidak bisa meminta kamu meninggalkan pekerjaanmu," katanya kepada Diego.
"Dan aku tidak bisa meminta kamu menolak sebelum kita membicarakannya."
Mereka menyusun semua kemungkinan. Kantor Diego dapat dikelola dari jarak jauh untuk beberapa waktu, tetapi program barunya sedang berkembang di kota mereka. Aruna juga masih sangat kecil.
Bianca berbicara kepada Rena dan meminta kontrak lebih fleksibel. Rumah mode itu hanya bersedia mengurangi masa tinggal menjadi satu tahun dengan perjalanan pulang berkala.
"Apa yang benar-benar kamu inginkan?" tanya Angel.
Bianca memikirkan jawabannya beberapa hari. Ia menyadari bahwa dahulu ia akan menerima demi membuktikan karier tetap menjadi miliknya. Kini ia tidak perlu menjadikan setiap kesempatan sebagai ujian kemandirian.
"Aku ingin bekerja," katanya kepada Diego. "Tapi aku tidak ingin dua tahun hidup Aruna berlalu di antara pesawat dan hotel."
"Berarti kamu menolak?"
"Aku mengajukan enam bulan proyek, bukan kontrak eksklusif. Kalau mereka menolak, aku tetap punya pilihan lain."
Rumah mode akhirnya menerima kerja sama enam bulan tanpa kewajiban pindah. Bianca akan bepergian hanya untuk sesi utama, sementara sebagian pekerjaan dilakukan di kotanya.
"Kamu berhasil membuat aturanmu sendiri," kata Diego.
"Karena aku berani menerima kemungkinan mereka mengatakan tidak."
Malam itu Bianca menidurkan Aruna lalu kembali ke ruang kerja. Ia menatap kontrak yang sudah ditandatangani. Dulu ia merelakan perasaan demi orang lain dan menyebutnya pengorbanan. Kini ia merelakan versi kesuksesan yang tidak sesuai dengan hidupnya.
Ia tidak kehilangan mimpi. Ia hanya memilih bentuk mimpi yang masih menyediakan ruang bagi dirinya, pekerjaannya, dan keluarga yang dibangun dengan penuh kesadaran.