Malam itu rintik hujan begitu terasa sakit saat mengenai kulit. Di tengah rintik hujan yang perlahan menjadi guyuran air yang tak terbendung, ada seorang bayi. Ia menangis tersedu, dan tak kunjung berhenti. Tak satu pun orang juga yang mendengar suara bayi itu, karena di sekitarnya telah dipenuhi suara air hujan yang sekarang sesekali terdapat bunyi guntur ringan di sela-selanya. Bayi itu terdapat di depan rumah yang besarnya tak kurang dari dua petak sawah. Cukup jika untuk merawat bayi malang yang sedari tadi masih menangis. Bersamaan dengan tangisan bayi itu, terdapat bayi yang tampaknya sedang memperlihatkan senyum bahagia karena dapat merasakan nutrisinya terpenuhi dan mendapat pelukan hangat.
“Pak, Bapak dengar tidak?” tiba-tiba Ibu yang sedang memeluk bayinya itu bertanya pada suaminya yang tengah asyik menikmati kopi favoritnya sambil membaca koran pada bagian sportainment.
“Eh, ndak ada apa-apa itu, Dek,” jawabnya.
Ibu itu tetap bersikukuh pada perasaannya. Rasanya tak pernah salah. Ia tau ada seorang yang berusaha memanggilnya. Tapi bukan dengan kata. Rasa. Ia akhirnya meletakkan bayinya sejenak dan pergi menengok keluar untuk memastikan perasaannya.
“Bapak, bener, Pak, ada bayi nangis!”
Sang Bapak yang tadi masih fokus dengan urusannya langsung bergegas lari mengambil payung untuk istrinya. Sepasang suami istri ini dipenuhi rasa dilema. Antara merawat bayi itu bersama mereka atau memilih jalan lain.
“Kita rawat saja, Pak,” kata sang Ibu dengan mantap. Suaminya ikut mengangguk disusul dengan pandangan yang terlihat tulus. Ia percaya pada keputusan istrinya.
Hari-hari berlalu dengan cepat. Bayi itu kini telah berubah menjadi remaja yang tubuhnya cungkring tapi ia tidak sakit. Itu efek karena sering bermain dan sesekali ikut mengangkat kotak kardus yang berisi bantuan makanan atau pakaian. Rambutnya sedikit bergelombang dan dibiarkan saja memanjang seperti gaya yang sedang ngetren pada pemuda masa kini. Badannya yang sedikit jangkung, membuatnya terlihat kentara di antara remaja lainnya.
Cerita itu terus dibaca oleh Ibu Asuh, yang kini tengah membuka rumahnya secara sukarela untuk dijadikan panti asuhan, dan akulah orang pertama yang ia asuh. Aji Purnomo. Kata Ibu, nama itu ada di dalam keranjangku malam itu.
“Namanya Aji Purnomo. Dipanggilnya Aji saja. Purnomo itu nama keluarganya,” begitu kira-kira tulisannya.
Aku diberi kasih sayang yang setara dengan putranya yang akhirnya menjadi temanku satu-satunya yang kupunya. Arga Wardana. Aku dan dia tumbuh bersama-sama. selalu kompak dan tak bisa dipisahkan. Orang di sekitarku menganggap kami sebagai saudara kembar. Ia tak terusik dengan anggapan tentang itu. Mau seperti apapun orang menganggapku atau dia, itu tak memiliki pengaruh untuknya, katanya. Intinya kita adalah keluarga. Dan seperti keluarga pada umumnya, aku selalu menceritakan keluhku dan segala ceritaku padanya. Begitu pun dengannya. Tetapi ia tak sering cerita. Baginya masalah hidup ini selalu ada jalan keluarnya. Meski dari luar ia terlihat sangat santai, sebenarnya ia sangat teguh pendirian atau bisa dibilang lebih condong pada arah keras kepala. Ia pernah bersikeras untuk ikut Bapak menuju pusat bantuan logistik di tengah kota, tapi karena usianya yang saat itu masih sepuluh tahun, jawabannya sudah pasti tidak. Tapi pada akhirnya, ia mendapat izin dan bisa pergi bersama Bapak, dan pastinya aku juga ikut, karena yang memohon izin adalah aku.
“Kalau yang meminta Aji, Bapak akan mengizinkan,” begitu katanya, mengingat aku selalu menerima pemberian darinya dan hampir tak pernah meminta apapun. Yaa, ini karena temanku yang sudah kuanggap seperti saudara kembarku memaksaku untuk meminta izin pada Bapak. Hasilnya, Bapak tak bisa berkata tidak dan kitapun berangkat.
***
Masa-masa remajaku tak beda jauh dengan remaja yang lainnya. Bedanya aku pribadi memilih untuk mengikuti kegiatan sosial yang sesekali diadakan oleh pihak panti asuhan dan pihak daerah. Dibanding anak yang lain, aku adalah anak asuh yang paling tua. Jadi, mau tak mau aku harus bertanggung jawab di antara lainnya. Biaya sekolah yang dihibahkan padaku, kuberikan semua pada pihak panti untuk membiayai anak-anak asuh yang umurnya jauh di bawahku. Aku bukan tak tertarik pada pendidikan formal, tetapi rasanya ada yang mengganjal. Yaitu, Asal-usulku. Dari kisah yang sering dibawakan oleh Ibu Asuh, aku tampak jelas seperti bayi yang dibuang. Tak dibutuhkan, atau lebih tepatnya tak diharapkan.
Bukankah itu tidak adil. Semua bayi yang dirawat di sini minimal punya asal-usul, atau paling tidak mengetahui dimana orang tuanya melalui surat yang dititipkan maupun diselipkan bersamaan dengan mereka saat diletakkan di depan pintu panti. Tapi aku tidak. Yang ditinggalkan hanya nama, dan nama keluarga. Ibu Asuh bilang, tak usah dicari lalu nanti saat siang menjelang sore ia akan mengomeliku untuk mendaftarkan diri di sekolah ujung g**g yang fasilitasnya bisa dikatakan cukup untuk siswanya. Tapi lagi-lagi kutolak dengan alasan tanggung, setahun lagi remaja seumuranku atau Arga yang sedang sekolah di sana akan melakukan ujian akhir.
Arga berbeda denganku. Ia memiliki kemampuan akademis yang menonjol. Peringkat kelasnya tak pernah menurun dari dia mengenyam sekolah dasar, maka dari itu saat lulus dari sekolah dasar ia menjadi siswa terbaik. Ibunya yang juga Ibu Asuhku menatapnya bangga saat wisuda berlangsung, selang beberapa detik ia kemudian menatapku dan mulai menganjurkan aku untuk ikut sekolah bersama Arga, tapi selalu kutolak hingga munculah drama siang menjelang sore tadi.
“Sudahlah, tak usah berpikir kau dibuang lagi, aku yakin orang tuamu memiliki maksud lain dari surat itu, Ji,” katanya.
Sambil duduk, ia menatapku samar, lalu berubah sekejap menjadi sendu karena ia berkata seperti itu. Di antara pelik lampu jalanan yang terpantul tepat di wajahnya hingga membuat wajahnya yang sedikit diselimuti siluet itu ia tersenyum tipis. Senyum itu sama seperti senyum kebanggan yang ia tunjukkan saat Arga lulus sekolah dasar dengan predikat siswa terbaik. Lamat-lamat aku tertunduk. Diam membisu. Seketika pikiranku dipenuhi hal tak karuan yang datang. Ia mengelus dan menepuk punggungku dengan lumayan keras.
“Kau, besok mendaftarlah di sekolah ujung g**g itu, Arga akan membantumu. Bagaimanapun juga kau itu juga anakku, meskipun kau belum ada pengalaman sekolah, Arga akan membantumu,” katanya lagi untuk mencairkan suasana yang mulai sendu tadi.
“Bagaimana jika Arga tak mau membantuku?” aku menimpalinya.
Ia tepuk pundakku dengan kekuatan yang lumayan keras, lalu mencubit pipi tirusku dengan gemas.
“Bilang pada kembaranmu, jika tidak mau, aku akan melakukan persis seperti yang kulakukan padamu tadi,” usai berkata seperti itu ia masuk ke dalam rumah meninggalkan aku yang lagi-lagi terjebak pada badai semrawut di dalam otak dan hatiku. Tangisku yang tadi mati-matian kutahan karena aku tak mau terlihat sedih dan lemah di hadapan Ibu Asuh akhirnya turun tak terbendung. Aku mengakui bahwa aku rindu, rasanya sesak tapi tak jelas seperti apa yang membuatku sesak. Ditambah dengan kalimat pertama Ibu Asuh yang membuat rasa ingin tahuku makin membuncah. Hatiku tak bisa berhenti berkata “Apa maksudnya.”
Temaram lampu jalan semakin kentara. Hiruk pikuk kendaraan mulai mereda. Arga datang menepuk pundakku dan memberiku ubi rebus. Ia terdiam untuk beberapa saat, berharap aku akan cerita. Tetapi, untuk yang satu ini aku tak akan cerita dan seakan Arga mengetahuinya. Ia pun ikut terdiam, melihat lurus ke arah jalanan yang lengang.