Deringan ponsel membuat Ares yang sejak tadi memejamkan matanya mau tidak mau harus beralih. Nama Akhza muncul di layar ponselnya. Entah gerangan apa yang membuat temannya itu memilih menelfonnya di waktu seperti ini.
Kenapa Akhza tiba-tiba menelfonnya ? Ares segera mengambil ponsel itu dan mengangkat panggilan tersebut.
"Hey sialan! Apa yang kau katakan pada adikku ?" semprot Akhza yang membuat Ares memijat pangkal hidungnya. Kenapa seorang Quila baru saja mengadu pada kakaknya seperti ini.
"Hanya teguran masalah kantor. Kau seharusnya tidak perlu ikut campur masalah kantor, Za" balas Ares dan terdengar helaan dari sebrang sana.
"Gue nggak tau apa masalah kalian. Tapi Quila menangis! Demi tuhan gue aja nggak pernah bikin nangis adik gue sampai kaya begitu" Ares mengetukkan tangannya di meja kerjanya.
Hampir pukul sembilan malam dan Ares masih berada di kantor karena bingung dengan pikirannya sendiri. Jujur saja Ares tidak pernah merasa sekalut ini sebelumnya dalam hal apapun. Tetapi ini terasa beda dan dirinya merasa begitu stress.
"Mentalnya kurang kuat saja" sinis Ares yang membuat dengusan terdengar di seberang sana.
"Gue nggak pernah tau kalau lo menjadi bos yang angkuh. Gue bakalan pulang sekarang dan sampai adik gue pulang dari club kenapa-kenapa lo urusan gue"
Panggilan tersebut terputus dan ucapan terakhir Akhza sukses membuat mata Ares terbuka. Club ? Apa dirinya tidak salah dengar ? Apa yang dilakukan Quila di Club ?
Kenyataan itu sukses membuat Ares tertampar dan segera mengambil kunci mobil
Sial! Quila di Club
*_*_*
Ares memarkirkan mobilnya dengan cepat. Menyadap ponsel Quila memberikan keuntungan untuk Ares mengetahui dimana perempuan itu berada. Jangan salahkan dirinya karena melakukan itu karena ya Ares juga tidak tau apa alasannya dia melakukan itu.
Club kalangan menengah ini membuat Ares menggelengkan kepalanya. Bagaimana bisa mereka mengijinkan Quila yang masih kecil dan belum menginjak usia 20 masuk ke tempat sialan ini.
Ares sepertinya harus mencari siapa pemilik Club ini yang membiarkan perempuannya untuk bermain-main di dunia seperti ini. Ya, Quila adalah perempuannya kalian harus tau hal itu.
Dentuman musik langsung menyambut Ares pertama kalinya ketika memasuki pintu. Sialan kenapa club ini penuh sekali. Demi tuhan ini belum akhir pekan.
Dengan wajah mengeras Ares menerobos arus orang-orang yang meliukkan badannya. Membayangkan gadis kecilnya di tengah kerumunan ini membuat Ares merasa marah.
Tidak boleh ada yang menyentuh tubuh gadisnya itu. Walaupun hanya seujung rambut. Kilasan tentang ucapannya yang menyuruh Quila menjual diri kembali terputar di kepalanya.
Sialan! Bagaimana jika Quila benar-benar melakukan apa yang dikatakannya. Tidak! Ares akan membunuh pria itu dan menghancurkan keluarganya sampai ke akar-akarnya.
Rasa frustasi menguasai tubuh Ares dan ingin sekali dirinya meneriaki semua orang disini untuk menghentikan kegilaan mereka.
Supaya Ares dapat dengan mudah menemukan gadisnya. Sialan! Sialan! Sialan!
Punggung mungil di meja bar terlihat familiar di mata Ares. Perempuan dengan rambut terurai sedang meneguk segelas minuman hingga tandas.
Dengan perasaan lega luar biasa Ares menghampiri gadis mungil itu. Gadis yang masih asik menuangkan minuman ke dalam gelasnya.
Terlihat dengan jelas jika tangan Quila bergetar dan wajah Quila terlihat sangat teler. Berapa banyak minuman yang sudah diminum gadis kecil ini.
Ares duduk di samping Quila yang membuat perempuan itu menoleh dengan senyuman tololnya.
"Tuan aku ingin sendiri jadi pergilah... Eh... ?" Quila berusaha membuka matanya lebar-lebar dan menatap Ares dengaan seksama.
"Ah... Kau bosku, Mr. Alfarell terhormat" gumam Quila dengan tawa sinisnya.
Tapi sungguh itu bukan senyuman sinis. Lebih mengarah ke senyuman t***l yang diperlihatkan oleh perempuan teler ini.
"Berapa banyak yang kau minum ?" ucap Ares sambil mengambil botol Whiski dari tangan Quila.
Dengan cepat Ares menegak minuman itu hingga tandas karena sisa sedikit. Quila menatap Ares dengan tatapan marahnya.
"Itu minumanku. Cih pencuri" gumam Quila lagi sambil minum segelas Whiski di tangannya.
"Kuantar kau pulang sebelum Akhza menyembelihku" ucap Ares sambil memegang lengan Quila
Dengan tangan mungil itu Quila menepis tangan Ares yang jauh lebih besar dari tangan Quila. Perempuan itu memelototkan matanya sambil menunjuk Ares.
"Hey kau pria bermulut pedas. Aku tak mau pulang denganmu. Aku ingin jual diri haha .... "
Quila tertawa dengan keras bahkan perempuan itu hampir saja terjengkal ke belakang. Jantung Ares seakan ingin lepas dari tempatnya melihat Quila hampir saja jatuh.
Tetapi perempuan itu berusaha menyeimbangi tubuhnya dan tertawa lagi. Sialan! Kenapa perempuan ini terlihat semakin cantik dan menggoda.
Fokus Ares dia perempuan sinting yang lagi mabuk. Ares mengusap wajahnya kasar melihat Quila yang masih bergumam pelan.
"Kau tau Mr. Alfarell aku sangat membenci dan segala sifatmu" gumam Quila yang masih di dengar oleh Ares.
"Ya aku tau. Kau bisa lanjut memakiku ketika kita sampai di mobilku" Ares berusaha memapah tubuh Quila untuk keluar dari Klub.
Perempuan itu menurut walaupun berjalan dengan sempoyongan. Ares ingin menggendong Quila tapi perempuan itu bisa saja memberontak dan menimbulkan keributan.
Mereka berdua berjalan perlahan menuju mobil Ares yang ternyata terparkir cukup jauh. Tadi Ares langsung berlari karena dipikirannya hanya ada Quila.
Ketika hampir sampai dengan mobil Ares. Tiba-tiba Quila menghentikan langkahnya. Hal yang dilakukan Quila selanjutnya membuat Ares terkejut bukan main.
Quila mendorong tubuh Ares dengan sekuat tenaga. Ares kira perempuan itu akan lari atau melakukan hal mengerikan lainnya.
Ternyata Quila hanya berdiri dan menatap Ares dengan tatapan yang sangat sulit diartikan oleh seorang Ares.
"Sikap brengsekmu itu membuat kepalaku ingin pecah. Kau kejam kemudian manis denganku. Aku perempuan dan aku tuh rapuh" gumam Quila masih dengan suara lirihnya.
"Kukira kau memang menyukaiku cih nyatanya kau hanya ingin tubuhku. Sebrengsek pria lagi" lanjut Quila dengan tawa sumbangnya.
"Tapi sialannya lagi aku hanya perempuan bodoh yang masuk perangkapmu" Kini tatapan Quila menatap tepat di manik mata Ares.
Ada tatapan yang terlihat begitu tersakiti dan terluka. Ares seakan bisa merasakan rasa sakit itu yang saat ini meremas jantungnya.
"Kau menyukaiku ?" perkataan itulah yang meluncur dengan cepat dari mulut Ares dan tawa Quila yang menyambut ucapannya.
"Aku lebih dari menyukaimu b******k! Kau dan segala kebrengsekanmu"
Ketika Ares ingin mendekati tiba-tiba tangan Quila terangkat seakan menyuruh Ares diam dan tak bersuara sama sekali.
"Bahkan pikiranku yang gila ini menyuruhku menyerah padamu. Menyerahkan tubuhku. Pikiran bodoh Quila sangat bodoh" Quila memukul kepalanya beberapa kali dan tertawa.
Ares terpaku mendengar ucapan Quila. Bukan karena itu merupakan kesempatannya. Tetapi Ares terpaku melihat air mata dari pelupuk mata Quila yang mengalir turun.
"Aku sudah jatuh, Res" Quila tiba-tiba limbung dan hilang kesadaran.
Untung saja Ares segera memegang tubuh mungil itu dan membawanya ke dalam dekapannya. Wajah Quila terlihat pucat dan tubuhnya dingin.
"Kau seakan sedang mengungkapkan perasaanmu" gumam Ares sebelum mengangkat tubuh Quila.