Terjadi kepanikan di dalam ruang rawat Markus. Ketika Andrew dan Dennis masuk ruangan itu, kamar Markus kosong. Infus masih menggantung di tempatnya, tapi jarumnya tercabut dan ada darah di tempat tidur. Ranjangnya berantakan dan kursi di dekat ranjang itu terguling. Dennis sudah mengecek dalam kamar mandi, sedangkan Andrew bertanya pada perawat yang kebetulan lewat. Mereka berdua sama-sama tidak dapat jawaban di mana Markus saat ini.
Seperti yang Dennis dan Andrew dengar dari cerita Markus, bisa jadi tabrak lari itu memang rencana pembunuhan. Walau luka parah dan harus melakukan serangkaian operasi kecil, Markus belum mati sekarang ini. Pembunuhnya pasti tahu berita Markus yang selamat, lalu merencanakan pembunuhan lagi padanya. Menurut mereka, baru saja ada yang terjadi di kamar ini. Mungkin Markus diculik dan akan dibunuh.
Andrew panik, dia berteriak memanggil perawat atau siapa pun yang ada di dekat situ. Selagi Andrew berteriak memanggil bantuan, Dennis menelepon polisi dan melaporkan kejadian penculikan itu. Polisi menyanggupi untuk segera mengirimkan personelnya ke rumah sakit. Beberapa pegawai rumah sakit datang. Ada dokter juga yang ikut menghampiri keduanya. Mereka ditanya, kenapa sampai membuat keributan sedemikian rupa?
“Tenang dulu, Tuan-Tuan!”
“Kami tidak bisa tenang sementara teman kami diculik!” teriak Andrew.
“Iya, tapi bisakah kalian memberitahukan identitas teman kalian itu?” pinta seorang dokter. “Kami tidak bisa membantu kalau kalian panik begini.”
“Teman kami, Markus Liem, telah diculik!” terang Andrew masih panik. “Teman kami yang ditabrak semalam itu,” lanjutnya.
“Dia dirawat di ruang VIP 7. Sekarang keadaan ruangan itu kacau balau,” tambah Dennis. “Ada kemungkinan dia diculik oleh orang yang menabraknya semalam.”
Dokter yang menangani Markus menghampiri kerumunan. Dokter itu segera meminta perhatian dari semua orang. Beliau bertanya soal keributan yang sedang terjadi. Setelah mendapatkan keterangan dari Andrew dan Dennis, dokter malah tersenyum dan menyarankan keduanya untuk tenang.
“Tuan Liem baru saja menjalani operasi ulang. Dia akan segera dibawa kembali ke kamarnya setelah perawat selesai berbenah di ruang operasi,” terang dokter itu dengan tenang.
“Jadi Mark tidak diculik, Dok?” Dokter cuma tersenyum ringan menanggapi kesalahpahaman itu. “Kenapa dia harus menjalani operasi lagi, bukannya operasinya sudah selesai semua siang tadi?”
“Benar, tapi Tuan Liem jatuh dari ranjangnya dan melukai engkelnya yang baru dioperasi. Kami lakukan operasi kembali.” Bahkan dokter baru keluar dari ruang operasi. Belum mengganti baju operasinya dengan pakaian kerja saat mendengar ribut-ribut ini. “Kalian tidak perlu khawatir begitu, operasinya berhasil tapi butuh pemulihan lebih lama.”
“Syukurlah,” ucap Dennis lega. “Maaf semuanya, kami telah membuat kehebohan di sini!” katanya sambil mengedarkan pandangan penyesalan pada semua orang yang ada di situ. “Maaf sekali lagi.”
Andrew pun ikut minta maaf.
Kerumunan bubar, dokter yang menangani Markus juga sudah meninggalkan tempat. Tinggal mereka berdua yang merasa bersalah telah melakukan tindakan bodoh seperti itu. Mereka terlalu panik dengan hilangnya Markus, padahal di rumah sakit dilarang berisik. Ada CCTV di mana-mana, kalau ada penculikan pasti diketahui oleh pihak keamanan rumah sakit. Setelah ini apa yang harus mereka katakan kalau polisi yang tadi ditelepon datang ke rumah sakit?
Untungnya ada Bryan.
Polisi yang dikirimkan ke rumah sakit sudah ditangani oleh detektif itu. Mereka dipersilakan kembali ke kantor polisi setelah mendengar penjelasan dari Bryan. Andrew dan Dennis juga sudah minta maaf sebelum polisi-polisi itu pergi. Sekarang ketiganya kembali ke ruang rawat Markus.
Markus tengah tidur karena pengaruh obat yang diberikan dokter. Dia berbaring di ranjangnya lagi, diselimuti oleh perawat, dan ditata posisi kakinya agar tak terjadi pergeseran di bagian yang baru dioperasi. Jarum suntik dan kantung infus sudah diganti dengan yang baru. Semuanya sudah kembali normal.
“Terima kasih atas bantuannya,”
“Tidak masalah. Itu bagian dari pekerjaan saya.” Bryan memang berkeinginan bicara dengan Andrew dan Dennis. Tentu saja ini mengenai kasus Markus. “Ada yang ingin saya ... aku tanyakan pada kalian.” Bryan mengubah gaya bicara setelah lidahnya agak sedikit mati rasa karena mencoba bicara formal.
“Soal percobaan pembunuhan Mark?” Andrew antusias. “Kami siap membantu, Pak.”
“Kalian berpikir ini sebuah percobaan pembunuhan?”
“Itu yang kami simpulkan dari cerita Mark.”
Dennis membenarkan pernyataan Andrew. “Kami akan menjawab semuanya. Apa pun itu untuk teman kami, Detektif.”
Bryan mengangguk. Dia tidak memerlukan kertas dan pulpen lagi. Diingat-ingat saja. Toh, ingatannya sangat baik. Namun, dia menolak dipanggil Pak, Detektif, atau panggilan apa pun yang membuatnya terdengar lebih tua dari kenyataan. Jadi, dia menyuruh keduanya memanggil dengan namanya saja. Pembicaran tidak lagi menggunakan bahasa yang terlalu formal.
“Tentang tender baru yang kalian menangkan, menurut kalian apakah ada kemungkinan terjadi persaingan bisnis yang tidak sehat?”
“Karena kami hanya berbisnis dan mendapatkan klien dengan presentasi yang baik, kurasa itu bukanlah hal yang curang,” terang Dennis. “Kami mengikuti prosedur. Punya pekerja-pekerja yang kreativitasnya tinggi untuk menyusun iklan dengan baik. Kalau kami menang, itu sudah wajar.”
“Sayangnya, menang tender cukup sering membuat kami dapat masalah dari perusahaan periklanan lain.” Andrew tak mau kalah dari Dennis. Dia membuat bagiannya sendiri untuk diceritakan. “Aku tahu bagaimana rasanya kalah tender. Aku pernah kalah dari perusahaan periklanan kecil. Aku marah dan membenci perusahaan itu, tapi itu pulalah yang memotivasiku untuk bekerja lebih baik dan menang di tender berikutnya,” lanjutnya dengan bangga.
Bukan itu yang ingin didengar Bryan. Dia harus mengorek lagi. Kali ini lebih spesifik. “Adakah perusahaan besar yang kemungkinan kalian curigai dalam hal ini?”
“Banyak sekali perusahaan besar yang pernah terlibat perebutan tender dengan kami, tapi sepertinya tak ada yang menunjukkan kebencian sampai seperti ini setelah kalah tender,” jawab Dennis. “Aku tak punya gambaran.”
“Ada, Den. Kau masih ingat Mega Advertising? Perusahaan itu pernah bersitegang dengan perusahaan kita.”
Memang bukan murni masalah perusahaan, ini lebih kepada dendam pribadi. Putra dari pemilik Mega Advertising menyukai seorang wanita, tapi wanita itu menyukai Markus. Lelaki itu membenci Markus dan memutuskan memerangi Markus dalam segala hal. Dia masuk perusahaan ayahnya, bekerja giat, dan terus berebut tender dengan Markus.
Markus dan lelaki itu selalu terlibat di setiap perebutan tender baru. Ada Markus, pasti ada lelaki itu. Kalau tender itu tidak jatuh ke tangan Markus, pasti jatuh ke tangannya. Markus sempat geram, buntutnya mereka bertengkar. Tapi pertengkaran itu terjadi sudah hampir setahun yang lalu.
“Untungnya kejadian itu tidak membuat persahabatan perusahaan kami dengan Mega Advertising hancur,” terang Dennis. “Itu cuma masalah pribadi.”
Bryan tahu itu. Dia pernah mencatat di jurnalnya bahwa wanita bisa jadi sumber malapetaka. Makanya dia tidak mengencani wanita sekarang ini.
“Siapa nama lelaki itu?"
“Maxim. Maxim Labaron.”
“Apa dia punya koleksi mobil mewah?”
“Kau bisa tahu soal itu?” celetuk Andrew.
Dennis menoel Andrew. Jelas-jelas Bryan seorang detektif, pasti tahu banyak hal.
“Maaf. Maaf.” Andrew tersenyum kikuk. “Maxim memang pengguna mobil mewah. Dia mengoleksi mobil mewah semenjak bertengkar dengan Mark.”
Bryan banyak bertanya dan dia cukup mendapat jawaban bagus dari Andrew dan Dennis. Dia menelepon ke kantor, menyuruh polisi menyelidiki Maxim dengan bukti-bukti yang sudah didapat dari keterangan Markus sebelumnya. Kalau memang Maxim pelakunya, ini akan jadi mudah. Bryan berharap Maxim ditangkap. Kalau terbukti, dia bisa segera diadili dan dipenjara. Kemudian Bryan bebas dari tugas ini, lalu kembali pada timnya.