"Hufffh..." Raisa menghela napas berat. Rasanya ia belum siap menempuh hidup baru yang akan datang beberapa waktu lagi.
"Sayang, kamu sudah siap?" tanya mama luna, mamanya Kenzo.
"sudah ma," jawab Raisa masih terasa gugup.
"Kamu tidak usah takut, stay saja. Papa Ken akan selalu ada di samping kamu." ujar mama Luna.
"Iya ma," Raisa menghela napas kasar. Jantungnya semakin berdetak sangat kencang. Bahkan kakinya terasa seperti jelly saking tak bisa membuat hatinya tenang.
"Ayo kamu pegang tangan papa Ken, nanti grogi mu pasti hilang..." ujar mama Luna lalu menatap suaminya untuk menyakinkan calon menantunya. "Pa, mama keluar duluan ya. Buat calon menantu kita senyaman mungkin..." ujar mama Luna.
"Pasti dong sayang.." jawab papa Ken. "Ayo nak Raisa..." ujar papa Ken.
Dengan perasaan berdebar, Raisa menggandeng lengan papa mertuanya. sesekali bergumam jika dirinya bisa menyelesaikan hari pernikahan ini.
"Ada papa tenang saja..." bisik Papa Ken menyakinkan.
Pada akhirnya Raisa dan Papa Ken keluar di saat pintu besar itu terbuka. Hingga para tamu undangan langsung berdiri dan bertepuk tangan saling sorak dengan kecantikan mempelai wanita. sementara tatapan Raisa tak henti pada Kenzo yang berdiri di atas altar sangat dingin dan kaku.
"Andai dia tidak kaku dan dingin, dengan senang hati aku mau menikah dengannya...sebenarnya aku bermimpi apa semalam sampai menikah dengannya." batin Raisa. "Ibu, ayah, kenapa harus aku kalian pilih menjadi pendampingnya, kenapa bukan kakak yang lebih tua dariku..dia lebih pantas bersanding dengan Kenzo." Jerit Raisa dalam hati, merasakan pernikahan ini sangat menekan batinnya lebih dalam.
Bahkan keluarganya saja tidak datang ke acara pernikahan nya. seharusnya mereka ada di saat Raisa membutuhkan mereka.
****
****
Setelah pengucapan janji suci bersama dan memasang cincin antara satu sama lain. Kenzo dan Raisa saling tatap dingin tak ada perasaan saling menyukai.
"Agak sweet sayang, cium raisa nya.." bisik mama Luna dari bawah tangga altar.
Tanpa bantahan ataupun sepatah kata, Kenzo dengan agresif menarik tengkuk Raisa mendekatkan wajahnya begitu sangat dekat. Hingga terasa hembusan napas mereka.
"Jangan menghindariku, jika pernikahan ini tidak ingin membuat mu malu di depan semua tamu..." bisik Kenzo sebelum bibir mereka benar benar saling bertemu.
Raisa hanya pasrah, merasakan sentuhan bibir Kenzo menekannya sangat dalam di bibirnya. Ini ciuman pertamanya dengan Kenzo. sementara semua orang bertepuk tangan disana, menyaksikan acara tersebut.
"Lihat saja, aku akan membuat hidupmu tidak akan pernah merasakan kebahagiaan cewek sialan!" batin Kenzo setelah melepaskan ciumannya.
"Bagaimana dengan kehidupan ku sekarang, apa aku akan bahagia bersamanya..." batin Raisa, sesekali mengusap bibirnya kasar menghapus jejak bibir Kenzo.
****
Akhirnya mereka telah sah menjadi sepasang suami istri. Setelah acara pernikahan itu, mereka langsung kembali ke mansion milik Kenzo. Lokasinya ada di tengah hutan.
"Untuk sementara kalian tinggal di mansion..dan raisa kamu kalo butuh apapun bisa hubungi mama atau papa.." ujar mama Luna.
Kenzo tak berbicara sepatahpun, dia lebih dulu keluar dari mobil.
"Sana kamu ikuti suamimu, kamu tenang saja mama dan papa akan sering sering berkunjung ke sini..." ujar mama Luna.
"Kami janji akan berkunjung ke sini, dan papa janji akan melindungi mu dari Kenzo jika dia sampai melukaimu." ujar Papa Ken.
"Baik pa, ma. Tapi Raisa bisa menyelesaikan masalah jika Kenzo kasar padaku kok.." ujar Raisa, tidak mau memberatkan mertua nya lagi hanya karena untuk melindunginya mereka terlalu baik buat Raisa.
"Ya sudah, Raisa pamit dulu..." Pamit Raisa mencium tangan mama dan papa mertuanya.
"Aku harap Kenzo tidak akan melukai istrinya..." batin mama Luna.
...✍️...
Raisa mendorong kopernya dan masuk ke dalam rumah mewah akan ia tinggali untuk sekarang dan selamanya . Langkahnya keberatan membawa barang dan berhenti tepat di hadapan suaminya yang dingin dan datar.
Kenzo menatap Raisa tajam, ada tatapan tidak suka di mata pria itu.
"Kau mau apa, menatapku seperti itu? Kau pikir aku takut dengan tatapanmu itu?! Tidak akan pernah!" sinis Raisa sangat berani.
"Kau tidur dikamar tamu, aku tidur di kamarku." to the point tidak ingin basa-basi.
"Apa?! Kita tidur terpisah, kah?!" Raisa tak percaya. Bukannya dia mau tidur bersama suaminya, tapi bukankah setiap pasangan suami-istri harus tidur bersama. Kata orang tua dulu-dulu jika suami-istri tidur terpisah dianggap pamali.
"Kau sangat pintar. Selamat tidur." ucap Kenzo tak berbicara apapun lagi, ia langsung berjalan menaiki tangga ke kamarnya.
Raisa mengepalkan tangannya, ingin sekali ia menonjok wajah tampan suaminya. Tapi kali ini ia harus sabar menghadapinya.
"Dasar menyebalkan! Kau memang pria paling menyebalkan di dunia ini Kenzo!" teriak Raisa, ia pun berjalan masuk ke dalam kamarnya.
Ketika Raisa masuk ke dalam kamar barunya, pupilnya terbuka lebar. "Wow! Ini kamarku?! Wah bagus banget!" teriak Raisa, langsung naik ke atas kasur dan loncat-loncat.
"Ini sangat empuk!" Raisa belum pernah dapat kamar sebagus ini walau dia keturunan dari keluarga kaya raya. "Jika seperti ini pun aku mau tidur sendirian seumur hidupku!" gumam Raisa.
sementara di dalam kamar Kenzo, pria itu merebahkan tubuhnya di atas kasur miliknya. Tiba-tiba suara ponsel miliknya berdering, lalu ia merogoh ponselnya dibalik kantong celananya.
"Hallo.." suara Kenzo .
"Baby, kita ada diluar rumahmu sekarang...sepertinya pembantumu melarang kami masuk ke dalam..." itu suara Bella pacar Kenzo.
"Apa?!" Kenzo berlari keluar kamar, ia menyadari pacarnya ada dirumahnya. "Okey aku akan segera keluar, tunggu aku.." Kenzo menutup teleponnya, ia panik setengah mati.
.
"Udah gue katakan pria yang bernama Kenzo itu sedang keluar!" tegas Raisa, berkali-kali. Bibirnya sampai lelah berargumen dengan cewek cewek cantik dengan penampilan seperti cewek nakal.
"Tapi ini rumah calon suami kami...dan lo bohong! Buktinya gue nelpon baby Kenzo, katanya..dia ada dirumah." Bella bersuara.
"Jijik gue panggilan Lo, baby? Huek.." mau mual di depan cewek cewek cantik mengaku kalo mereka itu calon istri suaminya. Jelas-jelas dirinya istri sahnya Kenzo.
"seharusnya seorang pembantu tidak usah melarang kami ke sini...!!" seru Stevani pacar kedua Kenzo.
"enak aja, gue bukan pembantunya Kenzo...! Gue itu lebih dari seperti kalian, gue itu—"
"Baby...!" suara Kenzo memotong pembicaraan Raisa.
Akhirnya keempat pacar Kenzo berlari memeluk pria itu. Terkecuali Raisa, mulutnya terbuka sangat lebar di depan pintu melihat suaminya dipeluk empat wanita sekaligus. Ia tak percaya, bagaimana bisa dalam satu pria mempunyai empat wanita sekaligus.
"Kenapa kalian bisa datang ke sini, malam-malam?" tanya Kenzo.
"Kenapa? Apa salah seorang pacar datang ke rumah pacarnya?" tanya Bella balik.
"Bukan seperti itu..aku.."
"Wanita itu melarang kami masuk...! Bisa bisanya seorang pelayan melarang pacar dari majikannya masuk...!" adu Stevani.
"Gue cuma bilang gw bukan— astaga!" matanya menatap seseorang dipojok sofa. "aku sampai lupa aku akan kembali ke kamar..."ujar Raisa berlari ke kamarnya.
"Baby, sebaiknya kau pecat dia..kami tidak suka melihat nya di sini.." ujar Vera dari tadi cuma diam doang.
"bener banget beb.." sahut bella menyetujui.
Kenzo hanya terdiam.
"Ternyata wanita jelek itu bekerja di sini??" gumam wanita itu. "Bukankah hari ini hari pernikahan nya? Apa jangan jangan dia kabur dari pernikahan?" batin nya.
"Hey..ada apa beb.." tegur Kenzo, menatap Raina hanya diam saja seperti memikirkan sesuatu.
"Tidak apa apa beb..hanya aku merindukanmu..." Riana mengecup bibir Kenzo sedikit lama.
Raisa yang berada di dalam kamarnya, sibuk mondar-mandir sesekali memegang ponselnya.
"Tidak perlu!" teriak Raisa mendadak. "Untuk apa aku mementingkan kakakku sendiri!"gumamnya.
"Tapi...ah!" Ia mengacak rambutnya prustasi. "Kalau begini, kenapa kakak tidak mau dinikahkan dengan Kenzo?! Kenapa harus aku! Bukankah Kenzo juga kekasih kakak"
"Kenzo...? Memang pria buaya kadal! Banyak banget ceweknya..." geram Raisa.
"Pasti perjaka nya sudah hilang?!" Guma Raisa tersenyum sinis. "Biarkan saja memang aku pikirkan! Aku tidak akan pernah membagi keperawanan ku pada Kenzo, enak saja dia mau denganku. Uhhh..." Raisa memilih merebahkan tubuhnya di atas kasurnya yang empuk daripada harus mengomel sendiri.