Adrian mengayuh sepedanya memasuki halaman rumah. Keringat membasahi seragam putih abunya yang sudah mulai terasa sempit di bagian bahu. Di usianya yang sekarang, tubuhnya tumbuh jauh lebih pesat dibanding teman-teman sebayanya.
Ia membuka pintu depan, hawa sejuk dari kipas angin dan aroma tumisan bawang menyambutnya. Arini ada di dapur. Ia mengenakan kaus putih yang ketat dengan rambut yang hanya dikuncir seadanya—penampilan yang jarang ia tunjukkan kalau ada ayahnya di rumah.
"Kamu sudah pulang, Adrian? Makanan baru saja matang, kamu mau makan sekarang?" tanya Arini tanpa menoleh, seolah sudah hafal dengan suara langkah kaki anak tirinya.
Adrian tidak menjawab. Ia bahkan tidak melirik ke arah meja makan. Dengan wajah datar, ia melangkah melewati dapur menuju tangga, masuk ke kamarnya, dan membanting pintu.
Ia melempar tasnya ke sudut ruangan, melepas seragamnya hingga menyisakan kaus dalam, lalu merebahkan diri di kasur. Pikirannya kosong, hanya ada rasa lelah dan sisa amarah yang sudah jadi makanan sehari-harinya.
Satu jam kemudian, suara mesin mobil ayahnya terdengar di halaman. Adrian masih berbaring saat mendengar suara ayahnya memanggil namanya dari lantai bawah.
"Adrian! Turun sebentar!"
Adrian menghela napas, bangkit dengan malas, lalu turun ke bawah.
Di teras rumah, ia melihat ayahnya berdiri di samping sebuah motor sport 150cc berwarna hitam mengkilap yang masih terbungkus plastik di beberapa bagian.
"Ini buat kamu," ucap ayahnya sambil melemparkan kunci motor ke arah Adrian.
Adrian menangkap kunci itu. Matanya menatap motor itu, lalu beralih ke ayahnya. Selama ini ia selalu mengayuh sepeda ke sekolah, sementara ayahnya punya beberapa mobil dan kebun kopi yang luas. Jarang sekali mau membelikannya barang.
"Tumben banget?" tanya Adrian dingin.
Ayahnya berdeham, melirik Arini yang berdiri di ambang pintu sambil tersenyum tipis. "Tante Arini yang menyarankannya. Kamu sudah kelas tiga, sudah mau lulus. Biar ke sekolahnya nggak terlambat dan capek. Lagi pula, kalau Arini mau belanja ke pasar, kamu bisa mengantarnya kalau Ayah sedang sibuk di kebun."
Adrian menatap Arini dengan tatapan sinis.
Jadi, motor ini bukan murni hadiah dari ayahnya, tapi hasil rekomendasi dari wanita ini. Rasanya seperti diberi umpan agar ia mau jadi sopir pribadi ibu tirinya itu.
"Makasih," ucap Adrian singkat, nyaris seperti bisikan yang dipaksakan.
"Cuma makasih?" ayahnya nampak tidak puas.
"Sudahlah, Mas. Namanya juga anak muda, mungkin dia masih kaget," sela Arini dengan nada menenangkan.
Adrian tidak tahan lagi. Ia menyambar helm yang diletakkan di atas jok motor, lalu kembali masuk ke rumah tanpa mencoba motor barunya sama sekali. Hatinya dongkol. Ia benci kenyataan bahwa hidupnya jadi lebih mudah hanya karena campur tangan wanita yang ia benci itu.
---
Suasana sarapan Minggu pagi ini, berlangsung lebih tenang dari biasanya. Ayahnya sudah terlihat rapi mengenakan kemejanya.
"Ayah nanti pulang agak malam. Ada pengiriman biji kopi ke kota sebelah, harus ayah yang pantau sendiri," ucap ayahnya sambil mengelap mulut dengan tisu. Ia menatap Adrian. "Kamu jagain Arini dan rumah. Jangan keluyuran sampai malem."
"Nggak akan hilang. nggak perlu dijagain," sahut Adrian pelan, terus menyuap nasi gorengnya.
"Adrian," tegur ayahnya dengan sedikit keras.
"Iya, iya. Aku di rumah.aja," jawab Adrian malas.
Setelah ayahnya berangkat, suasana rumah menjadi sangat sunyi. Adrian kembali ke kamarnya, merebahkan tubuhnya, kemudian tertidur.
Sekitar jam empat sore, ia terbangun karena haus. Tenggorokannya terasa kering.
Adrian turun ke bawah hanya dengan mengenakan celana pendek hitam dan bertelanjang d**a. Saat menuju ke dapur, langkahnya terhenti. Ia mendengar suara air dari dalam kamar mandi bawah.
Tak lama, pintu kamar mandi terbuka.
Arini keluar dari sana.
Adrian terdiam di tempatnya. Arini nampaknya tidak menyangka Adrian akan ada di sana. Wanita itu hanya mengenakan sehelai handuk putih yang melilit tubuhnya. Handuk itu hanya menutupi dari batas d**a hingga paha bagian atas.
Kulit bahunya yang putih masih basah dengan sisa-sisa air yang mengalir turun ke sela-sela dadanya.
Aroma sabun mandi yang wangi dan segar, langsung tercium oleh Adrian.
Mata Adrian tidak bisa berhenti menatap Arini. Rambut Arini yang basah, leher jenjangnya yang menampakkan tato bunga mawar, hingga p******a besar yang terbentuk jelas di balik handuk yang lembap itu
Arini adalah wanita yang matang, dan dalam kondisi seperti ini, ia terlihat jauh lebih menggoda daripada gadis-gadis di sekolah Adrian.
Adrian terpesona untuk beberapa detik, ia lupa bahwa ia seharusnya membenci wanita di depannya ini. Jantungnya berdegup kencang, ada sensasi panas yang menjalar di perut bawahnya.
Arini tersentak, wajahnya tersipu malu. Ia merapatkan lilitan handuk di dadanya.
"A-Adrian... maaf, aku kira kamu masih tidur," ucap Arini dengan suara pelan.
Adrian segera tersadar dari lamunannya. Ia segera mengalihkan pandangannya ke arah lain, pura-pura tidak peduli. Meski napasnya menjadi sedikit tidak teratur.
"Aku cuma mau minum," ucap Adrian dengan nada ketus yang dipaksakan untuk menutupi kegugupannya.
Arini tidak menjawab lagi. Dengan langkah terburu-buru dan kepala menunduk, ia setengah berlari melewati Adrian menuju kamar di lantai dua.
Adrian sempat menangkap aroma wangi di rambut Arini, saat dia melintas di sampingnya.
Adrian tetap berdiri di sana, menatap lantai dengan tangan yang mengepal. Ia merasa marah pada dirinya sendiri.
Marah karena ia merasa terangsang. Marah karena ia menyadari bahwa selama ini, di balik semua kebencian yang ia pelihara, ada sisi gelap dalam dirinya yang mulai memandang Arini bukan sebagai ibu, melainkan sebagai seorang wanita.
"Berengsek" umpat Adrian pelan.
Ia mengambil air dari dispenser, meminumnya dalam sekali teguk. Bayangan Arini dengan handuk putih tadi, masih sangat jelas di kepalanya.