Viana yang penasaran, akhirnya mencari arah suara tangisan tersebut. Ia berjalan menaiki tangga yang sangat sepi. Suara tangisan itu makin dekat dan dekat. Ia melihat seorang wanita bergaun putih dengan rambutnya yang panjang sedang menangis di dudukan tangga.
"Kamu kenapa?" tanya Viana tanpa ragu sama sekali. Semenjak mempunyai tongkat pemberian sang nenek, ia sudah bisa berinteraksi dengan mahkluk halus.
Wanita bergaun putih itu langsung menatap Viana dengan wajah yang heran. Bagaimana mungkin ada seseorang yang bisa melihatnya. Padahal ia sudah menangis sejak semalam. Saat bertemu manusia lain, satu pun tidak ada yang bisa melihat.
"Kamu ... bisa melihatku?" tanya wanita berbaju putih itu dengan mata berkaca-kaca.
"Bisa, kok. Aku denger kamu nangis makanya aku ke sini!" jelas Viana.
"Syukurlah." Wanita itu ingin memeluk tubuh Viana, tetapi malah melewatinya.
"Kan, kamu lihat sendiri. Aku nggak bisa menyentuh apapun, aku bukan manusia sekarang. Aku nggak tau apa yang terjadi dan kenapa berada di sini," isak wanita itu mulai menangis lagi.
"Coba aku liat bentar. Biasanya kalau aku menyentuh arwah, aku bisa tau kenapa mereka meninggal," sahut Viana yang sudah tau tentang kekuatannya tersebut.
Wanita itu menatap dengan wajah berseri-seri. Viana mulai menyentuh tubuh wanita berbaju putih itu. Namun, ia tak mendapat penglihatan apapun, semua putih dan sangat bersih.
"Gimana, apa yang kamu lihat?" tanya wanita itu penasaran.
Viana menggeleng. "Aku nggak lihat apa-apa," sahut Viana datar.
"Haaah! Lalu aku harus bagaimana?" ujar wanita itu mengeluh.
Perbincangan mereka harus terhenti karena tiba-tiba ponsel Viana berbunyi, ternyata itu dari Sarah.
[Sayang, kamu di mana? Kok, di kelas nggak ada?] tanya Sarah yang mencari anaknya sedari tadi.
[Oh, ini aku di kamar mandi, Bu,] sahut Viana beralasan.
[Ya udah, cepat ke gerbang, ya! Ayah kamu sudah menunggu,] pinta Sarah.
[Iya, Bu.] Viana menutup ponsel kemudian memasukkan benda itu ke dalam tas.
"Aku harus pulang, maaf karena tak bisa membantumu," ujar Viana seraya pergi meninggalkan wanita bergaun putih itu, tetapi wanita itu menghalangi jalannya.
"Tunggu! Bawa aku pulang bersamamu, aku tak punya siapa-siapa di sini. Tempat ini menyeramkan, aku jadi takut," isak wanita bergaun putih itu.
"Hei! Kamu itu hantu, ngapain takut. Malah orang lain yang harusnya takut sama kamu," tegas Viana.
"Oh, iya-ya. Tetap saja, bawa aku pulang, kumohon," rintih wanita itu lagi sembari berputar-putar di depan Viana.
"Bukannya aku nggak mau bawa kamu pulang, tapi rumahku tidak bisa dimasuki arwah," jelas Viana.
"Maksud kamu?" tanya wanita itu bingung.
***
Sampailah mereka di depan rumah Viana, mereka berdua berdiri dan menatap rumah berbahan dasar kayu tersebut.
"Kenapa banyak tempelan di sana-sini?" tanya wanita berambut panjang itu.
"Nenekku yang menempelkannya agar tidak ada arwah yang bisa masuk ke rumah ini." Viana berjalan masuk melewati pembatas itu.
"Jadi, aku nggak bisa masuk, ya," sahut wanita bergaun putih itu dengan mata berkaca-kaca.
"Kamu coba aja! Kalau bisa masuk, kamu boleh tinggal di sini" ujar Viana tersenyum sinis.
"Kalau aku tidak bisa melewati tanda ini, apa yang akan terjadi padaku?" tanyanya lagi.
"Kurasa kamu akan kepanasan."
"Hanya itu!" ujar wanita itu merasa tak percaya.
Viana mengangguk, sebenarnya arwah apapun yang tidak bisa melewati tanda itu akan terbakar menjadi abu.
Wanita bergaun putih itu mulai melangkahkan kakinya perlahan-lahan. Ia tampak cemas kalau-kalau sesuatu terjadi padanya.
"Kenapa aku takut gini, ya? Kan, aku sudah mati. Kalau aku mati lagi, nggak apa-apa lah. Kan, aku sudah berusaha," gumam wanita itu menyemangati dirinya sendiri.
Kakinya menggapai tangga rumah milik Viana, kemudian ia melangkah masuk dan berdiri tepat di depan pintu rumah tersebut.
"Yeeeee! Aku berhasil hahaha. Akhirnya aku punya rumah," ujar wanita itu dengan gembira.
Viana tak menyangka, arwah itu bisa berhasil melewati pembatas yang ditempelkan neneknya. Padahal selama ini, tak ada satu pun arwah yang bisa melakukannya. Akan tetapi, Viana sudah terlanjur berjanji pada arwah tersebut. Janji manusia kepada arwah tidak bisa dipungkiri.
Di kamar Viana, wanita bergaun putih itu berkeliling ke sana kemari dengan senyumnya yang lebar.
"Aneh, kenapa kamu bisa masuk, ya?" gumam Viana yang masih heran.
"Itu tandanya, aku berjodoh denganmu. Mulai saat ini, aku akan menjadi temanmu," ujar wanita itu tersenyum puas.
"Haestt! Siapa juga yang mau berteman sama setan," sahut Viana geram.
Wanita berambut panjang itu terus mengejeknya, kemudian wajahnya berubah sedih.
"Kenapa?" tanya Viana yang bisa melihat perubahan di wajah wanita itu.
"Aku tak tau siapa namaku," keluhnya.
Viana menghela napas. "Kupanggil Nana Prilia aja, ya. Daripada kamu nggak punya nama," ujar Viana memberinya nama tersebut.
"Nana, lumayan bagus. Oh, akhirnya aku punya nama," gumam wanita bergaun putih itu dengan gembira.
***
Empat tahun kemudian.
Viana sudah lulus kuliah dan mendapat gelar S1 di bidang hukum. Wanita itu akhirnya menjadi pengacara seperti ayahnya.
Di meja makan Viana dan kedua orang tuanya berkumpul untuk sarapan pagi.
"Selamat ya, Sayang. Kamu sudah mendapatkan gelar S1, sekarang impianmu sudah tercapai," puji Sarah seraya membelai rambut Viana yang kini tumbuh panjang.
"Makasih, Bu ... tapi, impian Viana belum terkabul, nih," ucapnya seraya mengoles selai nanas ke atas roti panggang di tangannya.
"Impian kamu yang bagaimana lagi, Vi? bukannya kamu sudah menjadi pengacara sekarang?" pungkas Rahmat seraya menyeruput secangkir kopi.
"Yah, ijinin Viana buka firma hukum sendiri, ya?" pinta Viana tiba-tiba.
Sarah langsung tersedak. "Uhuk, uhuk, kamu ngomong apa, Vi! Kenapa kamu nggak mau kerja bersama Ayahmu di kantor," pinta Sarah dengan nada agak keras.
"Bu ... Ibu tau, kan. Aku ini berbeda dari orang lain, makanya ijinin aku buka firma sendiri ... ya," sahut Viana memohon.
"Tapi –." Ucapan Sarah terhenti karena Rahmat berbicara.
"Sudahlah, Bu. Biarkan saja, mungkin keadaan itu lebih baik untuk Viana. Akan tetapi, kamu harus ingat, Vi. Jika terjadi sesuatu, kamu harus segera mencari kami, mengerti!" pinta pria berkacamata tersebut.
"Pasti, Yah. Ayah memang yang terhebat," sahut Viana seraya mencium pipi kedua orang tuanya dan berlalu pergi.
"Yah! Kenapa membiarkan Viana melakukan itu, dia sudah cukup aneh sejak lulus SMA. Sekarang malah dia harus jauh dari kita, Ibu khawatir, Yah."
"Bu, Viana itu anak yang berbeda. Dia ingin melakukan apa yang ada di hatinya, kita berdua tak bisa memaksanya mengikuti keinginan kita," sahut suaminya menjelaskan.
Akhirnya Viana membuka firma hukum sendiri. Viana dan Nana berdiri menatap sebuah bangunan berlantai dua yang akan menjadi kantor mereka yang baru.
"Kamu yakin ini akan berhasil?" tanya Nana merasa tak yakin dengan keputusan Viana.
"Yup, aku sudah nggak sabar. Ayo masuk!" pinta Viana seraya menggeret koper biru di tangan.
Karena rumah itu cukup besar. Ruangan di atas bisa digunakan untuk tempat tinggal, sedangkan di lantai bawah untuk kantor. Viana segera masuk dan membereskan barang-barang serta melihat-lihat sekeliling rumah yang tampak mewah itu.