"Tami, buruan mandi, udah siang ini. Nanti kamu tekat kesekolah" Teriak mama ku dari dapur karena aku masih malas malasan di kamar
"Iya ma" Jawabku, ya aku Tami Putri Rahmawati seorang anak berumur 10 tahun dan tinggal di Kita Bandung.
"Hari ini kamu pulang jam berapa sayang ? Kata ayahmu nanti mau ajak kita makan bareng ditempat favoritmu"
"Wah,asyikkk. Gak sampai jam 12 ma, hari ini aku kan ada ulangan jadi pulang cepet"
"Ya udah, buruan sarapan terus berangkat sana sudah jam 06.30"
"Iya ma"
Sekolahku hanya berjarak beberapa meter dari rumahku, jadi aku berangkat sekolah jalan kaki.
Hari ini hanya ulangan saja, jadi aku bisa lebih cepat pulang dan bertemu ayahku
Sepulang sekolah, ternyata ayahku belum datang. Beberapa jam kemudian ayahku baru pulang kerja
Ayahku seorang kepala staff di sebuah pabrik kain yang berada di Kota Bandung, ekonomi keluargaku juga bisa dibilang cukup. Apa yang aku mau ayahku selalu kasih, tumpukan kasih sayang selalu diberikan padaku oleh ayah dan mama ku. Mamaku ibu rumah tangga biasa tidak bekerja.
Kedua orang tuaku gak pernah membentak dalam mendidikku, keluargaku seperti keluarga harmonis pada umumnya.
"Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam" Jawabku dan mama, "yeye, ayah udah pulang yeye, aku udah mandi yah, ayah buruan mandi sana, kata mama ayah mau ajak kita makan di tempat favoritku" Rengeku pada ayah
"Iya anakku sayang, ayah mandi dulu ya"
Selepas mandi dan berganti baju, kami bertiga berangkat ke tempat tujuan dengan menggunakan angkot, setiba ditempat makan kami segera memesan makanan kesukaan kami.
Selesai makan, tiba tiba ayah dan mama ingin mengatakan sesuatu yang serius kepadaku
"Tami, ayah dan mama mau bertanya sama Tami"
"Tanya apa yah, ma ?"
"Tami, jika Tami tinggal dirumah nenek dan bersekolah disana, apakah Tami mau ?"
"Ya Tami sih mau mau aja yah, tapi kenapa emangnya yah ?" Jawabku penasaran
"Ayah kena PHK nak, jadi ayah dan mama memutuskan untuk pindah ke desa tempat nenek tinggal, semoga Tami bisa mengerti dan menerima ya"
Aku yang saat itu menganggap bahwa PHK adalah sesuatu yang biasa disebuah perusahaan tak pernah punya pikiran buruk tentang apa yang akan terjadi di masa depan. Nenek ku tinggal disebuah desa di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur
"Iya yah gapapa, Tami mau pindah, Tami juga kangen sama nenek, kasihan juga nenek sedang sakit disana, biar Tami juga bisa menghibur nenek"
"Tapi disana Tami sama mama ya, ayah masih harus bekerja disini Tami"
"Iya yah"
.....
Beberapa minggu setelah perbincangan itu, kami sekeluarga bersiap pindah ke tempat nenek.
Aku sudah berpamitan sama teman temanku dan guru guruku, sedih memang, tapi itu memang jalan terbaik yang harus ditempuh saat itu.
Kami pindah dengan menggunakan truck muat untuk membawa barang barang kami dan disisakan barang untuk ayah seperlunya.
.......
Setibanya di rumah nenek, aku disibukan dengan pendaftaran ke sekolah yang baru, keterbatasan bahasa yang ku punya menjadikan aku berbicara dengan bahasa indonesia.
Beberapa teman menganggap aku sombong karena berbahasa indonesia, tapi aku tidak terlalu memperdulikan itu
Beberapa tahun berlalu, akhirnya aku masuk SMP dan disinilah mulai terjadi pertengkaran antara orang tuaku
"Lho ayah, kok datang gak bilang bilang, biasanya minta jemput yah" Tanyaku pada ayah yang tiba tiba sudah ada dirumah ketika aku pulang sekolah
"Iya, ayah tadi naik ojek, kamu baru pulang ?"
"Iya yah, aku mau ganti baju dulu terus makan yah, aku laper banget"
"Hehe, iya nak. O ya tami, mama dimana ?"
"Mama ?, aku gak tau yah. Emang gak ada ya ?"
"Gak ada daritadi ayah cari"
"Mama kebiasaan deh, pasti selalu pergi pergi gak jelas" Gerutuku yang ternyata membuat kecurigaan pada ayahku
"Mama mu sering seperti ini ?"
"Iya yah sering banget, nanti pulang pas udah sore yah"
"Oh ya udah gapapa, kamu buruan makan, ayah temenin makan juga ya, ayah lapar"
"Yuk yah" Kataku sambil mengajak ayah mengambil makanan di dapur
Sore harinya ketika mama ku pulang, ayahku masih tidur, mungkin karena kecapekan.
"Ma, ada ayah dateng tuh, mama darimana aja ?"
"Hah ? Yang bener ayah pulang ?"
"Iya itu ayah dikamar lagi bobok" Kataku pada mama. Mama langsung menuju kamar mandi untuk bebersih
"Kok mama kayak gal seneng gitu sih waktu aku bilang ayah datang" Gerutuku sambil masuk ke kamar.
......
"Darimana aja sore gini baru pulang ?, anak gak diurus disuruh makan sendiri" Kata ayahku pada mama di ruang keluarga, suaranya sampai ke kamarku
"Refreshinglah, bosen dirumah terus" Jawab mama ku
"Anakmu itu masih butuh kasih sayangmu, masih butuh perhatianmu, jangan sering sering kamu tinggal pergi pergi, ajaklah dya juga pergi jalan jalan, jangan kamu pergi sama teman teman mu terus"
"Anak sudah besar, kalau mau main ya biar main aja sama teman temannya, gak perlu main sama aku juag, setiap hari juga masih tak masakin, masih tak kasih uang jajan" Jawab mama ku
Ya mamaku memang berubah semenjak aku pindah ke Jawa, lebih sering marah marah sama aku, kalau ngomong sama aku selalu pakai nada tinggi.
"Ya bukan begitu juga, itu anakmu juga butub tempat curhat, dya lagi beranjak dewasa, kalau gak dijaga, gak diarahkan bisa fatal akibatnya" Kata ayahku
"Ya kamu urus saja sendiri sana anakmu" Jawab mamaku yang seketika membuat hatiku hancur, kenapa mama ku bilang seperti itu.
Ayahku hanya bisa diam, dan masuk ke kamarku, aku pura pura tidur tapi ayahku tau aku hanya pura pura.
"Ayah tau kamu hanya pura pura tidur, maafkan perkataan mama mu tadi ya, mungkin mama lagi capek"
"Iya yah, ayah kenapa ayah gak pindah kesini aja yah, ikut kita. Tami kesepian yah, Tami kangen sama ayah" Kataku pada ayah sambil menangis.
"Ayah urus kepindahan ayah dulu kalau emang kamu mau ayah disini"
.......
Ke esokan harinya ketika ayah bersiap mau balik ke Bandung
"Mana uang bulanan ? Aku lagi butuh, uang sekolah Tami juga udah habis, waktunya bayar spp" Pinta mama ku pada ayah yang masih siap siap.
"Uang lagi ? Minggu lalu aku baru kirim uang, aku belum gajian"
"Gak ada uang ? Pasti kamu bohong, mana dompetmu biar aku lihat sendiri"
Ayahku menyerahkan dompetnya pada mama ku, dan mama hanya menemukan beberapa lembar uang saja.
"Cuma segini aja ini, kamu harus bekerja lebih keras, Tami mulai banyak kebutuhan sekolahnya"
Lagi lagi pertengkaran yang aku dengar sebelum ayahku pamit balik ke Bandung.
Aku menangis ketika ayahku pamit berangkat, andai ayah tau setiap hari mama selalu memarahiku, apa ayah tetap akan sabar menghadapi mamah.
Aku hanya bisa menangis dipelukan ayahku, , "ayah berangkat ya nak, doakan ayah sehat, lancar rejeki biar ayah bisa belikan apa yang Tami mau"
"Tami hanya ingin bareng bareng lagi sama ayah, ayah baik baik ya disana, Tami tunggu ayah pulang lagi kesini"
"Iya sayang, ayah berangkat dulu ya, Assalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
Hari itu seketika aku tau, bahwa keputusanku menerima perpindahan ke desa ini adalah sebuah kesalahan terbesarku. Aku yang menyetujui perpindahan itu, yang ternyata mengantarkan keluargaku oada perpecahan yang sangat menyakitkan.
Aku yang saat itu berpikiran pindah ke desa adalah suatu pilihan terbaik ternyata salah.
Keputusanku membuat hubungan orang tua ku semakin memanas.