"Davira!" Suara Alesha terdengar nyaring saat memanggil sepupunya. Anak pertama dari paman dan bibinya.
Setelahnya, Alesha keluar dari kamar dengan langkah tergesa menuju ruang makan. Di sana, sosok cewek yang dia panggil sedang anteng memakan nasi goreng buatan Alesha.
Pandangan Alesha tertuju pada jam tangan yang dipakai oleh Davira. "Itu jam tangan punya gue. Kenapa lo main ambil sama pake gitu aja?"
Davira menghela napas malas. "Gue pinjem," jawabnya santai.
Alesha makin kesal. "Kalau pinjem tuh bilang dulu. Ini lo ngga ada bilang namanya nyuri!"
"Maksud kamu apa bilang Davira nyuri?" Tuminah yang sebelumnya sedang mencuci piring pun langsung menghampiri. Menatap Alesha dengan tajam. "Tibang jam tangan gitu doang jangan pelit.
Davira bilang dia cuman minjem. Bukan nyuri."
Pandangan Alesha beralih pada Tuminah. "Dia main ambil gitu aja. Ngga ada bilang dulu sama aku."
"Gue bilang pas lo lagi mandi. Lo ngga denger kali," ujar Davira sama sekali tak merasa bersalah sedikit pun.
Alesha mendengus keras, matanya menatap Davira dengan tajam. "Lo bilang pas gue lagi mandi? Gimana caranya gue bisa denger? Emang kuping gue lo kira speaker bluetooth?"
Davira hanya tertawa kecil, seolah merasa kemenangan sudah di tangannya. Ia pun dengan sengaja menyandarkan punggung ke kursi dan memainkan jam tangan Alesha yang terpasang di pergelangan tangannya.
"Udahlah, jam begini doang ribet amat," katanya dengan nada meremehkan.
Alesha nyaris maju untuk merebut jam tangannya kembali, tapi suara Tuminah menahan langkahnya.
"Kalau kamu ribet sama Davira, kamu tuh jangan tinggal di sini. Gak ada yang maksa kamu. Tapi kalau masih mau makan gratis dan numpang tidur, jangan banyak bacot!"
Alesha mematung. Kata-kata itu menusuk Alesha. Tajam dan sakit.
Namun sebelum sempat ia menjawab, Ardi—paman Alesha keluar dari kamar dan sudah siap dengan pakaian kerjanya.
Pandangannya langsung tertuju pada Alesha dan Davira.
"Ada apa lagi ini pagi-pagi udah ribut?"
"Pak, tuh, si Alesha nuduh Davira nyuri jam tangan.
Padahal kan Davira cuma pinjem. Emang harus ya sampai segitunya cuman gara-gara jam tangan doang?" sahut Tuminah cepat.
Ardi mengalihkan pandangan pada jam tangan di tangan Davira. Ia mengenali jam itu. Jam hadiah ulang tahun Alesha dari orang tuanya, sebelum kecelakaan merenggut nyawa keduanya.
"Vir, lepaskan jam itu. Sekarang," ujar Ardi dengan suara datar tapi tegas.
Davira mendongak. "Yah, aku cuma pinjem kok. Nanti juga aku balikin."
"Lepaskan, Davira." Nada Ardi makin tegas. "Dan minta maaf."
Davira membelalak. "Apa? Nggak mau! Cuma jam murahan gini aja!" Lalu, seolah ingin membuktikan sesuatu, Davira membuka jam itu dan melemparkannya ke lantai dengan gerakan kasar.
Crack!
Kaca jam pecah. Retakan terlihat jelas. Alesha terperanjat, menahan napas, sementara Ardi menatap anak sulungnya dengan amarah yang jarang ia tunjukkan.
"DAVIRA!" Ardi membentak. Suaranya menggelegar. "Kamu minta maaf sekarang juga!"
"Enggak mau!" Davira berseru. "Dia bukan siapa-siapa! Cuma anak yatim piatu yang numpang hidup di sini!"
BRAK!
Ardi menggebrak meja makan kecil yang terbuat dari kayu itu sampai piring dan gelas yang ada di atasnya bergetar keras dan sebagian jatuh ke lantai.
Suara benturan keras itu membuat suasana rumah mendadak hening. Bahkan Tuminah yang biasanya tak segan menyahut pun terdiam sejenak, terkejut melihat Ardi yang biasanya kalem kini meledak-ledak.
"Cukup, Davira! Kamu sudah keterlaluan!" ujar Ardi dengan mata menyorot tajam.
Davira menatap ayahnya dengan kesal, wajahnya memerah karena marah tapi juga gengsi. Namun ia tak berani menyahut. Baru kali ini sang ayah membentaknya seperti itu di depan orang lain. Apalagi di depan Alesha.
Ardi berbalik pada Alesha.
"Maaf ya, Nak. Paman akan perbaiki jamnya. Itu penting buat kamu, kan?"
Alesha hanya mengangguk. Suaranya tercekat. Bahkan hatinya yang selama ini kuat pun mulai terasa rapuh. Tapi dia menunduk, menyembunyikan matanya yang mulai berkaca-kaca. Dia tidak mau menangis di depan mereka. Tidak sekarang.
Melihat itu, Tuminah akhirnya angkat suara.
"Pak! Kamu tega ya? Bela anak orang yang bukan darah daging sendiri! Terus anakmu sendiri kamu bentak-bentak? Kamu itu ayahnya Davira! Bukan Alesha!"
Ardi menatap istrinya. Kali ini dengan wajah lelah dan lebih ke berusaha untuk tak emosi menghadapi istrinya itu. "Aku ini pamannya Alesha, Minah. Orang tua dia udah gak ada. Dan selama dia tinggal di sini, udah jadi tugas kita buat menjaganya, bukan malah menyakitinya."
Tuminah mengibaskan tangan ke udara. "Halah. Bela aja terus. Kenapa ngga kamu angkat anak aja sekalian?"
"Jangan kelewatan, Minah!" ujar Ardi dingin. "Pakai hati dan akal kamu. Kamu bahkan pakai uang yang buat biaya hidup Alesha untuk keperluan kamu sendiri. Harusnya kamu malu!"
Suasana langsung terasa hening. Tuminah memalingkan wajahnya tak ingin disalahkan. "Ya kan itu buat bayaran aku ngurus dia di sini."
Ardi menggelengkan kepalanya pelan. Bicara dengan Tuminah sama saja seperti bicara dengan batu. Tak ada gunanya.
Alesha berjongkok untuk memunguti pecahan kaca dan juga jam tangan kesayangannya. Melihat itu, Davira berdecih sinis.
"Udah ah. Aku mau berangkat ke sekolah aja. Males banget ngeliat drama pagi-pagi," katanya lalu pergi.
Tuminah pun ikut pergi tanpa mengatakan apapun. Hanya lirikan sinis yang ia tujukan pada Alesha.
Ardi yang merasa bersalah pun ikut berjongkok dan mengusap punggung Alesha. "Maafin paman ya. Siniin jam tangannya. Nanti paman perbaiki."
Alesha menggelengkan kepalanya. "Paman ngga salah kok."
Ardi menghela napas pelan. "Tapi tetep aja. Kamu begini karena istri dan putri paman."
Alesha tak menjawab. Dia mendongak saat ada yang berdiri di depannya. Begitu juga dengan Ardi.
Gibran—putra bungsu Tuminah dan Ardi yang berusia 6 tahun datang lalu mengulurkan jam tangan miliknya. Jam tangan warna biru dengan motif Spiderman kesukaannya. Jam tangan yang kalau tombol sampingnya ditekan akan mengeluarkan musik dan lampunya menyala.
"Buat Kak Alesha," ucap Gibran dengan nada suaranya yang lucu.
Alesha tersenyum dan menerima jam tangan pemberian Gibran. "Makasih banyak ya," ucapnya.
Gibran memeluk Alesha dan menepuk-nepuk punggungnya. "Kak Alesha jangan nangis lagi. Gibran sayang Kak Alesha."
Melihat hal itu, Ardi tersenyum tipis dan mengusap kepala putranya. Berbeda dengan Davira yang sifatnya sangat menurun dari ibunya.
Gibran kebalikannya. Sifatnya banyak menurun dari ayahnya.
Sampai di sekolah, Alesha langsung duduk di bangkunya dan merebahkan kepala ke meja.
Memejamkan matanya guna mengusir rasa kesal dan lelah karena kejadian di rumah tadi.
Tuk!
Tiba-tiba ada s**u kotak rasa cokelat disimpan di depan wajah Alesha. Alesha langsung mengangkat kepala dan tersenyum saat melihat Arkana—teman baiknya di sekolah. Teman sekelas. Cowok tampan yang merupakan ketua OSIS dan juga menyukai Alesha.
"Wah. Buat aku ya? Makasih banyak!" seru Alesha yang langsung mengambil s**u kotak itu.
Arkana tertawa kecil melihat apa yang Alesha lakukan. Dia duduk di atas meja Alesha. "Pasti belum sarapan, kan?" tanyanya.
Arkana ini selain tampan dan ketua OSIS, bicaranya juga soft spoken banget.
Alesha mengerucutkan bibir dan menggelengkan kepalanya. "Ngga mood banget."
"Kayak biasa?"
Alesha menghela napas panjang dan mengangguk. "Kalau ngga inget sama kebaikan paman, udah gue bales abis tuh si Davira sama ibunya."
Arkana mengusap lembut puncak kepala Alesha. Tindakan yang membuat Alesha mematung seketika dibarengi dengan kedua pipi yang terasa hangat.
"Lo keren. Lo hebat. Gue makin bangga sama lo," ujar Arkana.
Alesha menunduk dan menyembunyikan senyumnya. "Apaan sih. Biasa aja juga."
Davira yang baru selesai dari toilet dan masuk ke kelas pun tak sengaja melihat adegan barusan. Davira menyukai Arkana. Tapi sayang, Arkana sama sekali tak pernah meliriknya.
"Lihat sendiri, kan? Mulai sekarang, lo sadar diri aja deh. Arkana juga bisa lihat, mana cewek yang pantes dia sukai sama yang engga."
Davira melirik ke samping kirinya. Menatap tajam pada Anindha—sahabat Alesha yang sedang tersenyum dan mengejeknya.
"Berisik lo."
Anindha mengangkat kedua bahunya dan berjalan menuju bangkunya yang bersebelahan dengan Alesha. Sedangkan Davira, dia hanya bisa diam dan mengepalkan kedua tangannya.
"Inget, sore nanti kita belajar. Ngerjain tugas kelompok," kata Arkana mengingatkan tugas pelajaran Biologi yang harus mereka kerjakan.
Anindha menangguk. "Iya, gue inget kok. Untung awalan nama kita sama A semua. Jadi bisa satu kelompok deh. Hihi," ujarnya diakhiri cengiran.
Arkana menepuk kepala Anindha menggunakan pulpen, membuat Anindha melotot seketika.
"Iya. Gue juga udah izin sama Bu Wirdha buat ngga masuk hari ini," sahut Alesha.
"Eh, tangan lo kenapa?"
Anindha memegang tangan kanan Alesha dan sedikit mengangkatnya. "Lo jatuh?" tanyanya lagi.
Arkana yang penasaran pun ikut melihatnya. Dia langsung menatap Alesha dalam seolah meminta penjelasan.
Alesha tersenyum. "Baret dikit doang. Kemarin malam pas pulang belanja jatuh. Gara-gara ada yang balapan liar."
"Lo beneran ngga apa-apa, Les? Yang luka cuman ini doang? Kaki lo?" Rentetan pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut Arkana.
Menunjukkan begitu peduli dan khawatirnya ia pada Alesha.
Alesha memegang lututnya.
"Sama lutut juga baret dikit. Tapi beneran ngga apa-apa kok. Untungnya Bu Wirdha juga baik banget. Padahal motornya juga ikutan baret."
Arkana menghela napas panjang. "Kok lo ngga bilang sama gue? Bukannya gue udah ngasih tau lo ya? Kalau misal mau belanja malem-malem, kasih tau gue. Biar gue yang anter."
Lagi, Alesha tersenyum manis. "Udah sih, ngga apa-apa juga kok."
Teng! Teng! Teng!
Bel tanda pelajaran pertama akan segera dimulai pun berbunyi. Arkana mau tidak mau pergi ke bangkunya yang berada tepat di belakang Alesha.
Diam memperhatikan punggung cewek yang sudah ia sukai sejak lama.
Di sekolah lain. SMA Bintang Mahardika, tempat Ravendra sekolah.
Ravendra beserta Langit dan Tirtha pergi ke rooftop yang menjadi tempat mereka kumpul.
"Gimana?" tanya Ravendra sambil membuka permen s**u rasa melon yang ada gagangnya.
Tirtha menatap Ravendra sebelum menjawab. "Sorry, Ven. Soal identitas lawan lo malam kemarin, gue belum nemuin apa-apa. Emblem di motornya juga belum gue temuin dia berasal dari geng atau club motor mana."
Ravendra tak menyahuti. Kalau Tirtha sampai tak bisa, artinya memang sulit. Cowok yang jadi lawannya kemungkinan bukan orang sembarangan atau berasal dari club motor yang tidak terdaftar resmi. Yang lebih parah, bisa saja lawannya berasal dari orang kaya yang suka bermain kotor.
Pandangan Ravendra lalu beralih pada Langit. "Lo?"
Langit langsung mengulas senyum lebar. Dia mendekati Ravendra dan menunjukkan layar ponselnya. "Ini rekaman CCTV yang berhasil gue ambil," ujarnya.
Ravendra mengambil alih ponsel milik Langit. Matanya tajam menatap video kejadian saat ia jatuh karena bertabrakan dengan motor matic warna hijau e*k kuda yang dibawa sama cewek yang menurut Ravendra nyebelin dan sudah jadi sumber kesialan dan masalahnya.
"Ceweknya?"
Langit malah nyengir. "Nah, kalau itu, jawabannya ada di Tirtha. Gue masih belum bisa meski udah diajarin sama dia."
Ravendra berdecak lirih, pandangannya kembali beralih pada Tirtha.
"Namanya Alesha. Nama lengkapnya Alesha Keisya. Dia murid kelas dua belas di SMA Adiwarna. Yatim piatu, tinggal sama paman bibinya. Dan dia kerja di warung nasi milik Bu Wirdha yang ada di Jalan lurus tapi belok kanan," jelas Tirtha.
Bukan tanpa alasan Tirtha bisa dengan mudah mencari identitas orang lain. Ayahnya saja bekerja sebagai detektif swasta.
Kedua alis tebal milik Ravendra meliuk seketika. "Itu doang?"
Tirtha menghela napas panjang. "Baru itu. Waktu yang lo kasih mepet banget. Gue belum cari tahu lebih detail. Cuman, dari hasil pencarian gue, dia ngga mungkin ada kaitannya sama lawan balap lo semalam."
Ravendra tak menjawab. Dia memainkan gagang permen miliknya. "Pulang nanti kita samperin."
"Ngapain?" tanya Langit.
Ravendra tak menjawab. Dia hanya tersenyum miring.
Senyum misterius yang seketika membuat Langit merinding.
Sorenya...
Sesuai kesepakatan, Alesha, Arkana dan Anindha pergi ke salah satu kafe yang biasa digunakan untuk anak-anak sekolah nongkrong. Entah itu mengerjakan tugas atau cuman numpang pakai wifi doang.
Mereka memilih kursi yang ada di luar dan atasnya ditutupi payung besar warna biru.
Sebenarnya, anggota kelompok tak hanya mereka bertiga. Ada Agus yang ngga sedih tapi katanya ada urusan keluarga. Ada juga Budi yang katanya dimintai Ibunya nganter ke pasar. Jadilah, mereka hanya bertiga saja.
"Gue yakin, si Agus sama si Budi cuman alesan doang biar ngga ikut ngerjain. Mereka cuman pengen nama mereka ada di makalah terus pas presentasi juga pasti mintanya bagian baca power point doang sama nulis pertanyaan," ujar Anindha gemas.
Alesha tersenyum mendengarnya. "Ya udah sih. Biarin aja. Yang rugi juga mereka."
Arkana mengangguk setuju.
"Alesha bener. Kita fokus aja. Lagian, kalau soal si Agus, lo kenapa bawaannya sewot terus. Lo kesel soal dia yang ngga bantuin atau kesel karena kangen?"
Anindha melotot. Mengambil kacang kupas yang mereka beli sebelumnya lalu melemparnya ke Arkana.
"Sembarangan banget kalau ngomong. Gue mah apa adanya. Emangnya lo? Suka banget mendem perasaan yang lo punya sama Alesha."
Alesha berdehem kecil.
Sedangkan Arkana hanya tersenyum.
"Udah ah. Ayo mulai. Biar pulangnya ngga sore banget," katanya menengahi perdebatan yang akhirnya sudah ia tahu akan menuju ke mana.
Arkana menghela napas panjang. Alesha selalu terkesan menghindar kalau sudah membahas perasaannya.
Saat ketiganya sedang fokus mengerjakan tugas. Tiba-tiba ada satu orang cowok yang berdiri di dekat mereka.
Arkana mengerutkan keningnya karena tak kenal dengan cowok itu. Anindha malah terpaku. Dia terpesona pada ketampanan cowok itu.
Sedangkan Alesha? Dia pun sama. Tak mengenali siapa cowok yang berdiri di sampingnya.
"Siapa?" tanya Arkana.
Cowok yang tak lain adalah Ravendra itu hanya menatap Arkana tanpa berniat untuk menjawab. Dia malah langsung memegang tangan Alesha dan sedikit menariknya.
"Eh, apa nih? Lo siapa?" pekik Alesha.
"Ikut gue," kata Ravendra dengan suara yang terdengar dingin dan tegas.
Setelah mendengar suaranya, barulah Alesha melotot. Suara itu, ia masih sangat mengingatnya.
"Lo cowok yang semalem, kan?" tanya Alesha.
Arkana menatap Alesha dan Ravendra bergantian. "Lo yang udah bikin Alesha celaka?" tanyanya.
Ravendra menatap Arkana tajam. "Ngga usah ikut campur," balasnya dingin.
"Kebetulan banget lo muncul tanpa harus gue cari. Gue mau minta biaya ganti rugi sama lo," kata Alesha dengan berani.
Ravendra tersenyum miring. "Ngga salah? Gue yang harusnya minta ganti rugi. Gara-gara lo, gue cedera dan gue kehilangan motor gue!"
"Lo yang salah!" Alesha tak mau kalah. Meski dalam hati, dia pun menyadari kesalahannya karena belok di area forbidden, tapi tetap saja, menurutnya kesalahan cowok di depannya yang paling fatal.
Ravendra menghembuskan napas berat. Dia malas bertele-tele. Setelahnya, dia mendekatkan wajahnya dan berbisik...
"Gue bisa laporin lo ke polisi dengan tuduhan membahayakan pengendara lain dan melanggar rambu lalu lintas. Dan lo tahu, Alesha? Gue punya bukti rekaman dari CCTV yang ada di jalan itu. Lo pikir gampang kabur setelah bikin masalah?"
Alesha tercekat. Jantungnya seolah berhenti sejenak. Cowok di depannya sampai tahu siapa namanya.
Ia juga tahu benar area yang dimaksud memang penuh kamera pengawas, dan kesalahannya waktu itu tidak bisa dibantah. Ia membelok di tempat yang jelas-jelas ada rambu larangan.
Tapi, siapa sebenarnya sosok cowok di depannya ini?
"T-tapi... lo juga salah. Gue bisa laporin lo balik soal lo yang lagi balapan liar malam kemarin."
Ravendra tersenyum miring.
"Lo punya bukti kalau gue beneran lagi balap liar?"
Alesha menggigit bibirnya, berusaha menahan degup jantung yang makin tak terkendali. Dia tidak punya bukti. Semua terjadi terlalu cepat malam itu. Dan sekarang, cowok di hadapannya malah terlihat semakin percaya diri.
"Ada yang bisa gue lakuin lebih dari sekadar lapor polisi," ujar Ravendra, nadanya merendah tapi justru semakin menakutkan.
Alesha menatap tajam.
"Ngancem?"
Ravendra menyeringai.
"Nyatanya, kadang ancaman lebih cepat didengar daripada penjelasan." Ia lalu mencondongkan tubuhnya sedikit, suaranya kini nyaris hanya terdengar oleh Alesha. "Lo tahu? SMA Adiwarna yang jadi tempat lo sekolah sekarang.
Ayah gue salah satu donatur tetap di sana."
Alesha menegang. "Apa hubungannya?"
"Nama ayah gue, Ravindra Swargantara."
Kalimat itu meluncur tenang, tapi dampaknya seperti dentuman keras di kepala Alesha.
Padahal, Ravendra agak kesal pas harus nyebut nama ayahnya itu.
Ravendra bahkan tak sadar sudah bicara panjang lebar pada sosok cewek di depannya.
Alesha pernah dengar nama itu. Bahkan, ia ingat Kepala Sekolah pernah menyebutkannya dalam pidato acara pembukaan semester.
Ravindra Swargantara, pengusaha kaya yang rutin menyumbang pembangunan fasilitas sekolah. Pria itu dipuji-puji oleh semua guru sebagai sosok yang dermawan.
Dan sekarang, anaknya berdiri di hadapannya, sedang mengancamnya.
"Kalau gue bilang ke bokap, lo bikin gue celaka, lo kira sekolah lo bakal ngelindungin lo? Atau jangan-jangan, lo bakal diundang ke ruang BK bareng wali murid dan suruh buat surat pernyataan sambil digantung status beasiswa lo?"
Alesha nyaris tak bisa bernapas. Dia memang tinggal bersama paman dan bibinya, tapi biaya sekolahnya sebagian besar berasal dari program beasiswa prestasi. Kalau itu dicabut...
Ravendra tersenyum tipis melihat wajah panik Alesha. Meski begitu, entah mengapa ia malah betah melihatnya. Ia memalingkan wajah sesaat lalu kembali bicara...
"Lo pikir paman dan bibi lo bakal bela lo kalau tahu masalah ini? Atau mereka bakal mikir dua kali sebelum ngusir lo karena malu punya keponakan yang bikin masalah sama keluarga berpengaruh kayak gue?"
Lagi, Alesha dibuat melotot mendengar ucapan cowok di depannya. Kenapa bisa sampai tahu tentang dirinya sampai segitunya?
"Lo...."
Arkana tak bisa diam lagi.
Dia hendak melepaskan genggaman tangan Ravendra di tangan Alesha. Tapi sulit.
"Lepasin. Lo sebenernya mau apa sih?" tanya Arkana tajam.
Ravendra tak menjawab. Dia hanya menjauhkan tangan Arkana dengan gaya seperti orang yang jijik.
Arkana makin kesal. Dia menatap Alesha yang menghela napas panjang.
"Les—"
"Oke, gue ikut." Alesha akhirnya memutuskan. Dan jawaban yang diberikan oleh Alesha membuat Ravendra tersenyum miring. Sedangkan Arkana tak terima.
"Les, lo diancam sama dia?"
Alesha menggelengkan kepalanya. "Gue pergi dulu. Maaf ngga ikut ngerjain sampai selesai."
Arkana mencekal pergelangan tangan Alesha. "Les, tapi lo ngga kenal siapa dia!"
Ravendra menatap tajam pada tangan Arkana yang memegang tangan Alesha.
"Lepasin tangan lo," suruhnya dengan nada tegas dan dingin.
Arkana balas menatap tajam. "Gue—"
"Ar, please." Suara Alesha terdengar lembut tapi mendekati ke lelah. Dia bahkan menatap Arkana seakan sedang memohon.
Arkana akhirnya tak punya pilihan lain. Ia membiarkan saja Alesha pergi dibawa oleh Ravendra.
"Kalau ada apa-apa, lo harus hubungin gue," pesannya sebelum Alesha benar-benar pergi.
Alesha mengangguk dan menepis tangan Ravendra. "Gue bisa jalan sendiri," ujarnya ketus.
Ravendra tersenyum miring. Untuk pertama kalinya, ada cewek yang jutek padanya. Dan menurutnya... itu hal menarik.