Beberapa karyawan wanita mendengarkan pembicaraan Rose dan bosnya itu di balik tembok. Mereka menghampiri Rose saat Dan Prayoga pergi untuk makan siang.
"Hai Rose," sapa mereka bersamaan. Rose membalas sapaan tiga karyawati itu dengan hangat. Mereka mengenalkan diri sebagai Intan, Nur, dan Aini. Mereka ingin berteman dengan Rose yang menurut mereka adalah gadis hebat karena mampu menaklukan Pak Dan.
"E ... Rose, bagaimana wawancaranya? Bagaimana kamu bisa diterima? Padahal dua saudaraku ditolak oleh Pak Dan," ujar Aini seraya memanyunkan bibirnya.
"Tidak ada sesi wawancara." Jawaban Rose membuat tiga karyawati itu heran. Dan Prayoga terkenal selektif saat merekrut karyawan apalagi sekertaris pribadi. Karena hal itu Intan, Nur, dan Aini sedikit tidak percaya pada ucapan Rose.
"Kamu yakin tidak diwawancara oleh Pak Dan?" tanya Nur meragukan. Rose mengangguk, ia mulai menceritakan kejadian saat sesi wawancara yang ia alami. Gadis itu selalu melakukan penekan pada kata 'belati' dan membuat kengerian dirasakan teman-teman barunya itu. Mereka tidak menyangka seperti itu cara Dan Prayoga merekrut sekertaris pribadinya.
Di tengah perbincangan mereka, ponsel Rose berdering. Pesan masuk dari Aruna yang menanyakan kabarnya hari ini.
"Siapa Rose? Pacar, ya?" tanya Nur. Rose menggelengkan kepala seraya tersenyum.
"Ini Aruna-sahabatku," jawab gadis itu sambil membalas pesan dari Aruna.
"Kamu tahu nggak kalau Pak Dan itu punya julukan 'Presdir Gila'," ujar Intan yang membuat Rose tidak fokus pada ponselnya lagi.
Intan yang tadinya berdiri di depan meja Rose, kini duduk di kursi yang berada tepat di samping Rose. Rose pun makin penasaran dengan pejelasan dari Intan. Ia meletakan ponselnya di meja dan mulai fokus mendengarkan penjelasan dari Intan.
"Pak Dan itu ... ahh, sebenarnya aku tidak tahu pastinya. Tapi, kata sekretaris sebelumnya, Pak Dan itu gila. Presdir kita itu katanya kadang-kadang ngomong sendirian di ruangannya," jelas Intan. Rose mengerutkan dahinya, hari ini Pak Dan tidak menunjukan gejala kalau dia gila. Karena hal itu Rose sedikit tidak percaya pada Intan.
"Ada lagi, Pak Dan itu orangnya sangat higienis. Aku pernah melihatnya sendiri, sapu tangan miliknya jatuh dan dia membuang sapu tangan itu tanpa menyentuhnya secara langsung. Ia pakai tisu untuk membuang sapu tangannya yang jatuh," jelas Nur menambahkan. Mendengar hal itu Rose malah tertawa, baginya itu terlalu berlebihan, apalagi Pak Dan tidak terlihat seperti yang dikatakan teman-teman barunya itu.
Tanpa sepengetahuan keempat wanita itu, Dan Prayoga mendengarkan pembicaraan mereka.
"Kenapa kalian tidak makan siang?" tanya Dan seolah dia tidak mendengarkan pembicaraan para karyawati itu. Mereka semua kaget karena Dan tiba-tiba muncul. Apalagi mereka sedang membicarakan sang presdir.
Sikap Intan, Nur, dan Aini mendadak canggung, mereka takut jika sang presdir mendengar pembicaraan mereka. Karena hal itu pula mereka langsung pergi meninggalkan Dan bersama Rose.
"Kamu tidak makan siang?" tanya Dan dengan nada ragu. Rose menggelengkan kepala seraya tersenyum.
"Tidak Pak Dan, aku hanya ingin buat kopi saja. Anda mau?" Dan mengangguk lalu masuk ke ruangannya lagi.
Di pantry, Rose membuat dua cangkir kopi s**u. Ia tidak tahu kopi apa yang bosnya sukai, tapi menurutnya kopi s**u adalah yang paling enak. Jadi, ia membuatkan kopi s**u juga untuk Dan.
Dengan hati-hati Rose membawa dua cangkir kopi. Satu cangkir ia letakan di mejanya dan satu cangkir lagi ia bawa masuk ke ruangan Pak Dan.
"Permisi Pak Dan, ini kopinya," ucap Rose seraya meletakan cangkir kopi itu di sisi kanan meja Dan Prayoga.
Atas kerja keras Rose di hari pertama, Dan memberikan sebuah hadiah kecil untuk gadis itu. Dengan senang hati Rose menerimanya, wajahnya terlihat bahagia, ia tidak menyangka jika bosnya itu baik hati. Perlahan ia membuka kotak kado itu. Saat melihat isi kotak itu, Rose menunjukan ekspresi bingung.
"Pak Dan, hadiahku ini ... buku agenda?" tanya Rose bingung. Dan mengangguk sebagai jawaban pertanyaan Rose. Rose tidak habis pikir dengan bos baru itu, memberikan buku agenda sebagai hadiah. Tapi Rose tetap menerima hadiah itu walau kecewa, karena ia sudah membayangkan hadiah yang bagus tapi ekspektasinya buyar.
Gadis itu melangkahkan kakinya keluar ruangan Dan. "Hadiah macam apa ini?" gumamnya sambil memanyunkan bibirnya.
Tanpa disadari Rose, Dan memperhatikan ia dari ruangannya. Dan mulai tertarik dengan gadis itu, tersenyum ia saat melihat ekspresi kesal Rose yang berada di meja kerjanya.
***
Jam pulang kantor tiba, Rose dan bosnya keluar bersama. Dengan ramah Dan menawarkan untuk mengantar Rose pulang. Namun, gadis itu menolak dengan alasan sudah ada yang menjemput. Rasa penasaran membuat Dan menemani Rose hingga jemputannya datang.
"Oh itu jemputanku datang Pak Dan," ujar Rose seraya menunjuk seorang pria yang datang dengan motor bebeknya berwarna hitam.
Dan meneliti penampilan pria yang menjemput Rose. Ia mencari kelebihan pria itu dibanding dirinya hingga Rose lebih memilih pulang dengan pria itu. Namun ia tidak menemukan kelebihan itu. Bagi Dan Prayoga dialah yang lebih baik dari pria yang menjemput Rose.
"Oh ya Pak Dan. Ini temanku, namanya Reza," ucap Rose mengenalkan Reza pada Dan. Reza mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Dan.
"Kamu sudah cuci tangan?" tanya Dan dengan nada meragukan. Hal itu membuat Reza mengurungkan niatnya untuk bersalaman dengan atasan Rose itu. Dari pertanyaan yang diajukan, Reza menandai Dan sebagai pria sombong. Gayanya yang angkuh terlihat sangat mencolok.
Melihat suasana di antara bosnya dan Reza yang tidak baik, Rose bergegas mengajak Reza pulang sebelum keadaan makin panas. Apalagi raut wajah Reza menunjukan kalau ia marah pada Dan.
"Kalau begitu kami pamit Pak Dan." Rose dan Reza berlalu pergi meninggalkan Dan Prayoga sendirian.
Dalam perjalanan pulang, Reza terus bergumam soal Dan. Ia tidak mengerti mengapa Rose mau bekerja dengan orang seperti Dan yang sombong. Padahal masih banyak pekerjaan lain yang tidak harus berurusan dengan orang sombong seperti Dan Prayoga.
Rose hanya bisa diam mendengarkan ocehan sahabatnya itu. Ia tidak menyalahkan Reza karena membenci Dan di awal pertemuan mereka. Rose tahu betul sifat bosnya itu, walau ia baru 1 bulan bekerja dengannya.
Dan adalah sosok pria tampan yang menyebalkan. Umurnya 29 tahun tapi terkadang sikapnya seperti anak-anak. Dia juga pria yang sangat menjaga kesehatannya, ia memiliki gaya hidup yang sehat. Karena itulah, terkadang ia bersikap seperti orang yang sombong, tapi pada dasarnya dia adalah pria yang baik.
***
Malam makin larut, tapi Dan Prayoga masih duduk bersantai ditemani secangkir teh chamomile. Menatap indahnya langit malam selalu ia lakukan. Bagi Dan dunia ini begitu sepi, tapi saat menatap langit dalam sekejap hatinya merasa tenang dan penuh kebahagiaan. Memang hal yang sepele, tapi menurutnya hal kecil adalah hal yang sempurna untuk manusia.
Seorang wanita paruh baya menghampirinya perlahan. Dengan tongkat di tangannya, wanita itu duduk di samping Dan yang masih duduk di luar.
"Ibu," panggil Dan pada wanita itu. Tersenyum ia di hadapan Dan sang putra.
Dan selalu merasa sedih setiap kali melihat sang ibu. Wanita yang sangat ia sayangi itu tidak bisa melihat indahnya dunia lagi karena sebuah kecelakaan yang juga membuat ayahnya meninggal.
Mencoba untuk tetap tegar-setegar ibunya, Dan tidak pernah menunjukkan kesedihannya secara langsung. Ibu Dan sangat tegar, ia melalui hari-hari gelapnya dengan senyuman. Berulang kali Dan meminta ibunya melakukan operasi. Namun, ibunya selalu menolak dengan alasan mata butanya itu sangat berharga, semua kenangan direkam oleh mata butanya.
Dan memegang tangan sang ibu, denga senyum ia menatap wajah cantik ibunya walau sudah tua dan memiliki banyak kerutan.
"Dan kenapa tersenyum seperti itu pada ibu?" Suara ibu Dan terdengar lirih tapi tetap jelas.
"Ibu selalu seperti itu. Bagaimana Ibu tahu kalau putra tampan Ibu ini sedang tersenyum?" tanya Dan penasaran. Ibunya terdiam, hanya mengusap tangan Dan lalu tersenyum lagi. Sesekali wanita itu mengusap wajah putranya. Dengan perlahan, ia mengusap tiap lekukan di wajah putranya. Dan terus tersenyum walau dalam hati menangis.
"Ibumu ini memang buta, apalagi sekarang ibu sedang sakit. Tapi, ibu akan selalu tahu apa yang putra ibu rasakan. Sakit, bahagia, sedih, apalagi kalau kamu sedang galau. Ibu tahu semua," jelas ibu Dan panjang.
Dan tertawa karena penjelasan ibunya. "Tapi, kapan aku pernah galau, Bu?" tanya Dan seraya mengerutkan dahinya.
"Hmm ... kamu lupa? Dua hari yang lalu kamu juga galau. Karena sekertaris barumu ternyata punya banyak fans di kantor. Sekarang, kamu juga galau, kan? Karena sekertarismu dijemput seorang pria tadi."
Dan terdiam, semua yang ibunya katakan benar. Pria itu memang sejak awal menaruh hati pada Rose, hanya saja ia tidak mau menunjukkannya secara langsung. Sedikit ada rasa kecewa saat Reza datang menjemput Rose, tapi Dan sangat yakin bahwa gadis itu akan mencintainya suatu saat nanti.