"Apa... ini akhirnya?"
Langit malam yang biasanya dipenuhi cahaya bintang kini berubah merah oleh kobaran api. Asap hitam menyelimuti istana, sementara teriakan para kesatria dan pelayan memenuhi udara.
Seorang wanita berambut perak berlari tertatih di lorong istana. Gaun putihnya yang dahulu anggun kini dipenuhi noda darah. Setiap langkah terasa semakin berat, namun ia tak pernah berhenti.
Di balik pelukannya, sebuah kotak kayu kecil masih ia genggam erat.
Bruk!
Tubuhnya terjatuh.
Napasnya memburu. Darah hangat mengalir dari luka yang menembus punggungnya.
Pelan-pelan ia mendongak.
Di hadapannya berdiri seseorang yang begitu dikenalnya.
Seseorang yang pernah ia percaya.
"...Kenapa...?"
Tak ada jawaban.
Hanya tatapan dingin, lalu kilatan pedang kembali terayun.
Sret.
Rasa sakit itu tak mampu lagi ia gambarkan.
Air matanya jatuh tanpa suara.
Bukan karena takut menghadapi kematian...
melainkan karena ia bahkan tak sempat mengucapkan selamat tinggal kepada orang yang paling dicintainya.
"Maaf..."
Senyumnya begitu rapuh.
"Aku tidak bisa menepati janjiku..."
Perlahan, dunia di sekelilingnya mulai memudar.
Suara api.
Suara tangisan.
Suara langkah kaki seseorang yang berlari memanggil namanya.
"Penelope!"
Terlambat.
Kelopak matanya menutup.
Dan untuk pertama kalinya...
ia berharap dapat terlahir di dunia yang tak mengenal takhta, darah bangsawan, maupun takdir yang kejam.
---
"Hah!"
Seorang wanita muda terbangun dengan napas memburu.
Keringat dingin membasahi pelipisnya.
Ia menatap langit-langit kamar apartemennya yang sempit, berusaha meyakinkan diri bahwa semuanya hanyalah mimpi.
Lagi.
Mimpi yang sama.
Mimpi yang selalu berakhir dengan kematian seorang wanita bernama...
Penelope.