"Itu pinsan apa mati? tiga jam enggak sadar-sadar."
-My Doctor
Seorang gadis berparas dewi berjalan menyusuri lorong sekolahnya yang sepi, dengan kedua tangan yang memeluk erat buku tebal, gadis cantik itu bergumam menyanyikan lagu kesukaannya seiring dengan perjalanan menuju perpustakaan. Akan tetapi, saat gadis itu berjalan melewati lapangan futsal ia justru terkena pantulan bola yang terbilang cukup keras di kepalanya.
Tubuh gadis itu terhuyung ke belakang, membuat para pemain futsal yang melihatnya terjatuh, langsung terburu-buru menghampirinya. Dengan perasaan takut dan khawatir cowok yang memakai seragam futsal berbeda warna tersebut langsung menyanggah kepala gadis itu dan meletakkan di atas pahanya.
"Bro, gimana nih?" tanya teman dari cowok tersebut, yang bernama Eriko.
Namun, cowok tersebut tak mendengar pertanyaan yang telah dilontarkan oleh teman sebayanya. Ia justru memfokuskan dirinya untuk menepuk-nepuk pipi gadis itu agar tersadar.
"Bawa UKS,” usul cowok bernomor punggung tiga, bernama Rezvan yang juga teman dari cowok tersebut.
Cowok tersebut menoleh kearah Rezvan dan menganggukan kepala menyetujui ucapan teman sebayanya itu. Ia langsung menggendong gadis itu dengan ala bridal style dan segera membawanya menuju unit kesehatan di sekolah.
Selama membawa gadis tersebut, cowok itu dibuntuti oleh kedua temannya. Siapa lagi jika bukan Eriko dan Rezvan. Sesampainya mereka di UKS, mereka disambut oleh seorang gadis yang tengah berjaga di sana.
"Kenapa dia?” tanya gadis itu saat mereka masuk ke dalam ruangan.
"Gak sengaja kena bola gue tadi," jawab cowok itu yang bernama Adipto Abrayn Amicko.
"Oh, pakein minyak kayu putih aja gih. Bentar lagi juga sadar sendiri," suruh gadis penjaga uks tersebut yang bernama, Rosa Damascena yang akrab disapa Oca.
"Lu aja yang pakein Ca, gue mau lanjut futsal. Besok lomba!" tutur Dito dengan lengan yang sibuk mengelap keringat di dahinya.
"Yaudah iya, ketua futsal mah sibuk," sindir Oca sembari mencibiri Dito.
"Iya dong sibuk, gak kaya lo yang nganggur." Dito mengacak ngacaki rambut Oca, hingga membuatnya tersipu malu.
"Ih Dito, rusuh lo! Udah lah sana, cepetan balik lagi ke lapangan!" usir Oca dengan mendorong tubuh Dito untuk segera keluar.
"Iya gue keluar nih. Tapi nanti kalau dia udah sadar, kabarin gue ya."
"Siap, komandan!" ujar Oca semangat dengan tangan yang hormat pada Dito. Dito semakin dibuat gemas, ia langsung mengacak-acaki rambut Oca kembali.
"Dito! Kalo mau pergi, pergi aja gak usah acak acakin rambut gue!" omel Oca kesal, Dito hanya terkekeh lalu pergi meninggalkan Oca yang menggerutukan sumpah serapahnya.
***
Waktu berlalu dengan cepat, Dito dkk telah selesai melakukan latihan mereka dan bersiap untuk berjalan menuju ruangan bercat putih kembali. Sesampainya mereka di ruangan tersebut, Dito mendorong pintu itu dengan perlahan agar seseorang yang berada di dalamnya tidak terganggu akan suara pintu terbuka.
Selepas membuka pintu, Dito dan kawan-kawan langsung menghampiri brankar tempat Dito menaruh gadis dewi dan berharap bahwa yang mereka lihat adalah hal yang akan membuat mereka lega. Akan tetapi harapan mereka sirna ketika melihat kedua gadis yang tengah menutup matanya dengan deru nafas teratur.
“Gimana nih?” tanya Dito meminta usul pada kedua kawannya.
“Bangunin lah, lu mau kita berdiri terus tanpa kepastian kapan mereka bangun? Gue si ogah.” Eriko menjawab pertanyaan Dito dengan mulut lambeh turahnya.
Dengan perasaan ragu dan tak tega, akhirnya Dito memberanikan diri untuk membangunkan Oca dari tidur siangnya. Oca menggeliat perlahan, khas seperti bayi yang terbangun karena tidur yang terganggu.
"Sorry gue ketiduran," ujar Oca sambil mengusap kedua matanya.
"Ya enggak papa, tapi gimana dia udah sempet sadar tadi?" tanya Dito dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Belum, padahal udah gue udah kasih minyak kayu putih sama kaos kaki yang belum gue cuci sebulan. Tapi tetep aja gak bangun,” ucap Oca dengan polos menceritakan aibnya sendiri.
"Gila lo Ca, gak nyuci kaos kaki satu bulan!” pekik Eriko terkejut dengan menggelengkan kepalanya, sedangkan Oca hanya menunjukkan cengirannya.
"Serius lo dia gak bangun dari tadi? Apa jangan-jangan dia mati lagi, jadi gak bangun-bangun?” Dito mulai berburuk sangka.
"Beneran To, ya kali gue bohongin sahabat orok gue. Tapi gue ngeri deh, kalau sampe dia mati."
"Terus sekarang kita harus gimana?” tanya Dito panik.
"Bawa ke rumah sakit," jawab Rezvan santai dengan tangan yang menyilang di d**a.
"Ah iya, kerumah sakit. Kenapa gue gak kepikiran yak?” Dito sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal saat melontarkan ucapan konyolnya.
"Otak setengah," ejek Rezvan sinis.
"Nusuk amat mas," ujar Dito sambil memegang dadanya.
"Alay!” Rezvan mengalihkan pandangannya saat Dito mengeluarkan sisi tidak warasnya.
"Iko,” panggil Dito lembut pada Eriko.
‘Perasaan gue gak enak nih,’ batin Eriko.
Eriko menoleh kearah Dito malas. “Apa?”
“Izin ke guru piket ya,” tutur Dito membuat Eriko semakin malas.
“Ogah, males. Lagi pula sekarang piket Bu Belisa, pasti susah minta izinnya.”
"Ayolah Ko, lumayan sekalian bolos,” bujuk Dito tak berhenti.
“Gue temenin,” sahut Rezvan berpartisipasi.
“Noh, di temenin Babang Rezvan lagi izinnya. Masih gak mau?”
"Oke, gue mau.”
***
Selepas membujuk Eriko dengan begitu memakan waktu dan kesabaran, akhirnya ia menyetujui dan pergi bersama Rezvan untuk meminta izin pada guru piket. Sesampainya mereka di meja piket, Eriko dan Rezvan langsung menjumpai Ibu Belisa yang sedang sibuk mencatat.
"Pagi Bu,” sapa Eriko sopan sambil meraih tangan Bu Belisa lalu menciumnya.
"Pagi juga Ko, ada apa? Tumben banget kamu nyapa,” ujar Ibu Belisa mengingat kelakuan tengil anak muridnya itu.
"Hehe, gini Bu. Saya mau minta izin buat keluar sekolah sama teman-teman saya.”
“Apa keluar sekolah, mau bolos?”
“Bukan Bu, ibu ini main asal nuduh saja,” ujar Eriko tak terima.
“Lah terus kamu emangnya mau apa, izin keluar sekolah hm?”
“Gini loh Bu, saya mau nganterin siswi yang pingsan karena gak sengaja kepalanya terkena bola, dan akhirnya pingsan selama tiga jam dan itu gak sadar-sadar Bu sampai sekarang,” jelas Eriko.
"Oh gitu, yaudah siapa namanya?” tanya Bu Belisa
"Siapa namanya coi?” tanya Eriko sambil menyikut lengan Rezvan.
Rezvan menyikut balik lengan Eriko, sehingga membuat Eriko menatap Rezvan kesal. "Aldila Mircella Andrewsi,” jawab Rezvan dengan penuh penekanan.
"Ah, namanya Aldila Bu,” ujar Eriko mengulang ucapan Rezvan, yang seakan-akan Bu Belisa tak mendengarkan apa yang Rezvan ucapkan.
"Kelas berapa?”
Saat Eriko ingin mengulangi pertanyaan yang di lontarkan oleh Bu Belisa, Rezvan telah lebih dulu menjawab pertanyaan tersebut. "Dua belas Mipa dua."
"Oh, yaudah ini kertas izinnya. Tolong kamu kasih kekelasnya dulu, terus yang ini buat di tunjukan ke satpam dan rumah sakit,” jelas Bu Belisa.
"Siap Bu.”
"Yaudah Bu, kalau begitu saya sama Rezvan kekelasnya dulu." Eriko berpamitan sambil menyalami tangan Ibu Belisa, yang juga diikuti oleh Rezvan.
Di perjalanan menuju kelas Aldila, Eriko melontarkan pertanyaan yang sedari tadi ia ingin tanyakan pada teman sebelahnya tersebut.
"Kok lo tau nama sama kelasnya dia sih?” tanya Eriko dengan tatapan mengintimidasi
“Temen smp,” jawab Rezvan santai dengan kaki yang terus berjalan meninggalkan Eriko yang terdiam. “Hah, temen smp? Kok gue gak pernah tau ya. Parah nih, si Rezvan gak pernah cerita punya temen cakep kaya gitu.”