“Baiklah, sekarang saya akan membagikan kunci kamar kalian masing-masing,” ucap Hiroshi sensei begitu semua mahasiswa sudah berkumpul di hotel.
Raya tidak benar-benar memperhatikan apa yang dikatakan oleh dosennya itu. Ia memperhatikan keadaan sekitarnya. Hmm … lumayan juga sebenarnya bisa pergi ke Jepang. Namun, jika mengingat Andra? Rasanya ia ingin pulang ke Jakarta saat ini juga!
“Apa kau sedang memikirkanku?”
Raya langsung menoleh ke samping. Netranya langsung melotot saat melihat Andra yang tiba-tiba sudah ada di sana entah sejak kapan.
“Kau? Mau apa kau kesini?” seru Raya hingga memancing perhatian semua orang disekitarnya.
Andra pun merangkul Raya. Ia menyeringai lebar, agar orang-orang di sekitarnya tidak curiga. “Haha … sayang, kau terlalu senang, ya?” kata Andra sambil tersenyum ke arah Raya.
“APA?” bisik Raya bingung.
“Lakukan saja … jawab ‘ya’,” paksa Andra dengan mata dibesar-besarkan, entah untuk apa.
“Haha … ya.” Akhirnya Raya menuruti Andra.
Setelah semua orang itu mengalihkan pandangannya, Raya langsung menepis tangan Andra dengan kasar. “Jangan gunakan cara licik ini lagi. Mengerti?”
“Mengerti …,” ucap Andra dengan nada meledek. Ia pun melirik penuh arti ke arah Raya. Namun, ketika gadis itu menatapnya, Andra langsung mengalihkan wajahnya.
•••••••
Raya meletakkan kopernya di sudut ruangan. Setelah itu, ia melihat ke arah seorang gadis yang memandangnya sambil tersenyum. Gadis itu yang akan menjadi teman sekamarnya selama beberapa hari ini.
“Halo, aku Yuki,” ucap gadis itu memperkenalkan dirinya. “Nama mu?”
“Ah, Raya,” jawab Raya sedikit kaku.
“Kau murid kelas F, kan? aku dari kelas C,” terang Yuki lagi.
Raya hanya membalasnya dengan senyuman. Kali ini ia sedikit menyesali dirinya yang tidak pandai menyusun kata-kata.
“Hehe … kau, lebih pintar dariku,” kata Raya berbasa-basi.
“Ah, tidak. Aku tidak pintar juga kok,” balas Yuki dengan manisnya. Tiba-tiba gadis itu mengulurkan tangannya.
“Apa?”
“Senang menjadi temanmu. Ternyata kau tidak seseram dengan apa yang diceritakan teman-temanku,” ujarnya sambil tersenyum ceria.
Raya mengerutkan keningnya. Gadis ini begitu tulus. Ia bahkan tidak segan untuk menyapanya lebih dulu. Raya baru menyadari sesuatu, jika dunia tidak sesepi yang ia pikirkan. Akhirnya ia menyambut uluran tangan itu. “Terima kasih,” sahutnya kemudian dan keduanya saling tertawa.
••••••••
Raya mendesah pelan. Hanya berdiam diri di dalam kamar seperti ini ternyata sangat membosankan. Ia pun memilih untuk berbalik dan melangkahkan kedua kaki keluar kamar. Tujuannya ialah berjalan seorang diri tidak tentu arah. Oh, ia menyesal sekarang, sebab tidak menerima ajakan Yuki untuk berjalan-jalan sore.
“Raya, kau akan keluar juga?”
Raya menoleh ke belakang. Ia mendengkus kesal saat mendapati Andra yang sedang berjalan menghampirinya. Astaga, kenapa laki-laki itu selalu ada di mana-mana, sih? Apa Andra tidak bisa sehari saja tidak mengganggunya? Saking kesalnya, Raya pun mempercepat langkahnya untuk bisa mendahului Andra.
“Hei, kenapa tidak mau menungguku, huh?” goda Andra seraya menyamakan langkah Raya. Namun, yang diajak berbicara malah memasang wajah super jutek.
“Jangan menggangguku?”
Andra terkekeh kecil. “Aku tidak sedikit pun mengganggumu, Raya,” balas Andra dengan tenang. “Kau mau ke mana?”
“Bukan urusanmu!”
Andra kembali terkekeh. Sementara Raya meliriknya aneh. Kenapa laki-laki ini suka sekali tertawa seperti itu sih? Namun, Raya tidak akan menanyakannya, sebab mereka akan memasuki sebuah lift. Kini, ia terus berdoa di dalam hati, agar lift terbuka dan banyak orang di dalamnya. Namun, ketika pintu lift terbuka, Raya pun terpaksa menghela napas berat. Lift kosong.
“Ayo,” ajak Andra.
“Kau saja, aku lift yang selanjutnya,” tolak Raya.
“Tidak.” Andra pun memaksa sambil menarik tangan Raya hingga masuk ke dalam.
Raya melirik Andra kesal. Rasanya ingin sekali ia mencekik leher laki-laki itu di tempat sepi seperti ini.
“Raya, apa aku boleh menceritakan satu hal padamu?” tanya Andra memecah keheningan di antara keduanya. Sementara Raya tidak menjawab.
“Kau tahu seberapa bahagianya aku ketika bisa satu kampus denganmu. Saat itu seperti hari keberuntunganku. Apalagi saat pertama kalinya aku melihatmu secara langsung,” terang Andra sambil tersenyum.
“Yah … meskipun responmu sangat buruk terhadapku, tapi aku mengangggap kalau kau adalah gadis yang tidak mudah untuk didekati. Hm, aku menjadi semakin penasaran padamu.”
Raya masih terdiam. Meskipun hatinya mulai tertarik mendengar cerita Andra. Namun, ia merasa masih waras hingga tidak mau mempermalukan dirinya sendiri.
“Bintang pernah berkata padaku, kalau kau adalah gadis yang selalu menyendiri.”
Raya termangu. Bintang? Apakah selama ini perasaannya benar, jika Bintang memang sudah mengintainya sejak lama?
“Jujur, sejak Bintang berkata seperti itu, aku mulai menyukaimu. Kenapa? Karena aku juga pernah memiliki nasib sepertimu. Sendiri, tidak ada yang mau berbicara denganku. Ditambah, orang-orang disekitarku malah menganggapku sombong.”
Tatapan Raya datar ke depan. Namun, bibirnya membentuk senyum kecil, sehingga Andra tidak menyadarinya.
“Aku ingin menyelamatkanmu, Raya. Aku ingin membawamu keluar dari dunia itu. Kau tahu, dunia itu cerah. Mereka selalu menantimu,” ungkap Andra sambil menatap Raya penuh simpati.
Sekarang Raya membalas tatapan Andra. Ia juga memperlihatkan senyumnya. Namun, senyum itu perlahan berubah menjadi senyum angkuhnya lagi. “Kau tidak perlu melakukannya, karena sudah ada orang lain yang berusaha melakukannya untukku, Andra” cetus Raya pelan, bersamaan dengan pintu lift yang terbuka ketika ia menyelesaikan kalimatnya itu.
“Siapa?”
Raya hanya tersenyum tanpa berniat menjawabnya. Lalu, ia pun berjalan menjauhi Andra. Meninggalkan laki-laki itu yang masih bertanya-tanya.
•••••••
Bintang melayang-layang di depan sebuah balkon kamar. Ia berusaha melihat ke dalam, akan tetapi tidak menemukan sebuah suara di sana. Sudah dua minggu lamanya ia mendatangi rumah ini. Namun sayangnya, seperti tidak berpenghuni, hingga akhirnya memilih pergi. Kali ini, Bintang mengerutkan keningnya samar. Apakah Bunga tidak memercayainya? Apakah gadis itu tidak percaya dengan apa yang dikatakannya melalui bibir Raya? Atau Bunga memang sudah jatuh cinta pada laki-laki itu?
Akhirnya, Bintang memutuskan untuk menginjakkan kakinya di balkon itu. Ia masih melihat-lihat melalui tirai putih di jendela kamar Bunga yang sedikit transparan. Kemudian, ia memasuki kamar itu ketika tidak menemukan apapun.
Bintang berhasil menembus kaca dan masuk ke dalam sebuah ruangan yang sangat akrab di ingatannya. Ia ingat jika sering ke kamar ini dulu saat belajar bersama dengan Bunga. Dan saat-saat itulah merupakan momen paling membahagiakan yang tidak akan hilang dari ingatannya.
Bintang mengembangkan sebuah senyum di wajahnya yang tampan. Bahkan ia bisa mencium bau Bunga di sana. Entah pembauannya yang tajam setelah menjadi arwah atau memang kamar itu kental dengan aroma tubuh Bunga. Sungguh, ia merasa sangat merindukan gadis itu.
“RAJA!” teriak Bunga tiba-tiba.
Bintang terkejut. Ia pun mencari-cari Bunga hingga keluar kamarnya. Ia menuruni tangga dengan cepat dan menemukan Bunga di lantai bawah.
“Raja. Jangaaan!” rintih Bunga seraya memeluk kaki Raja. Ia menangis keras sampai matanya membengkak.
Bintang langsung berlari ke arah Bunga dan berusaha memeluknya. Namun sekeras apapun usahanya, ia tidak akan bisa melakukannya.
“Raja …,” rintih Bunga lagi.
Dari sudut bibir kiri gadis berambut pendek hitam itu terdapat aliran darah dan luka lebam di area mata kanannya. Bintang hanya bisa melihat Bunga dalam diam. Hatinya sangat ingin menolong, tetapi raganya sama sekali tidak mendukungnya.
“KENAPA KAU MELAKUKAN SEMUA ITU, HUH?!” bentak Raja sambil menendang wajah Bunga hingga gadis itu jatuh tersungkur di lantai.
“JANGAAAN!” teriak Bintang sekuat tenaganya. Namun percuma, sebab tidak ada yang bisa mendengarnya.
Bintang mencoba mendekati Bunga dan saat yang sama wajah gadis itu menghadapnya. Kristal bening itu perlahan merebak di sudut netranya. Ia tidak sanggup melihat wajah kekasihnya yang saat ini telah berubah mengerikan. Luka lebam, darah, air mata… semua ada di sana. Bintang mengangkat tangannya. Perlahan ia mengarahkan tangannya ke pipi Bunga, mencoba menghapus air matanya. Namun, tetap saja tangannya tidak mampu menyentuh setitikpun air mata Bunga.
“ARRRKKKGGGHHHH!!!” teriak Bintang frustrasi. Ia menjambak rambutnya sendiri. Sungguh, ia merasa begitu lemah dan tidak berguna. Kenapa di saat seperti ini, ia malah tidak bisa melindungi Bunga?
“Bi-Bintang,” gumam Bunga tiba-tiba.
Bintang menatap Bunga. Wajahnya menggambarkan sebuah harapan besar. “Bunga? Bunga kau mendengarku?”
“Bintang ….”
“Kenapa kau masih menyebut nama itu, huh?” seru Raja geram. Ia kembali menendang Bunga dengan kakinya.
Bintang langsung bergerak ke depan tubuh Bunga, berusaha menangkal tendangan Raja. Namun, lagi-lagi usahanya gagal. Kaki Raja tetap mengenai tubuh Bunga hingga gadis itu semakin melemah.
“HEI! APA YANG KAU LAKUKAN PADA BUNGA?” teriak Bintang di depan wajah Raja. Ia menggerak-gerakkan tangannya, berusaha memukul tubuh Raja.
“Bi-Bintang …,” bisik Bunga lemah.
“Bunga?” ucap Bingtang. Ia terkejut dan berlutut di depan tubuh Bunga ketika gadis itu terpejam pingsan.
“Bunga,” panggil Bintang lirih. Sementara Bunga tidak membuka matanya sedikitpun.
Bintang mengepalkan tangannya erat-erat. Ia menatap tajam ke arah Raja. Matanya dipenuhi kilat-kilat kemarahan. “Raja!” gumamnya penuh dengan kebencian.
•••••••
Raya berjalan sendirian ke luar hotel. Namun, ketika ia sampai di lobby, tiba-tiba seorang laki-laki jepang, yang tampak mabuk, menghampirinya. Tercium bau alkohol yang begitu menyengat ketika pemuda itu ada di dekatnya. Raya panik saat orang asing itu menghadangnya, sehingga ia tidak bisa melarikan diri.
“Omae wa kireii ne,” (Kau cantik sekali) kata orang berambut pirang emas itu.
“Si-siapa kau?” balas Raya setengah berteriak. Ia akui, bahwa kini ia tengah ketakutan hingga tubuhnya bergetar. Bahkan, hingga tidak sadar dengan bahasa yang diucapkannya.
Laki-laki berambut pirang itu hanya menyeringai. Sementara Raya berniat untuk melarikan diri darinya. Sayangnya, detik berikutnya, tanpa disadari – saking cepatnya orang itu mendorong tubuh Raya hingga terkunci di dinding dan sebuah sapu tangan menutupi hidung serta mulutnya.
Pemuda itu membekap Raya kuat, membiarkan aroma di sapu tangan yang menenangkan itu langsung masuk ke hidung gadis itu. Beberapa menit kemudian, pandangan Raya kabur dan tubuhnya melemah. Dan pada akhirnya Raya tidak sadarkan diri.
••••••
“Lepaskan aku!” teriak Raya saat pemuda itu menarik paksa pergelangan tangan dan membawanya ke suatu tempat.
Raya terperangah saat orang itu membawanya ke dalam kamar dan menguncinya. “Mau apa kau? Jangan macam-macam denganku!” Ultimatum Raya.
Pemuda itu hanya tersenyum licik dan mendorong tubuh Raya hingga tersungkur di atas lantai. Ia menatap Raya dengan penuh gairah. Ia berjalan ke arah Raya yang masih terduduk di atas lantai. Ia pun melepas pakaian yang dikenakannya.
Raya panik. Keringat dingin mulai mengguyur tubuhnya. Apa yang harus dilakukannya? Seketika ia teringat akan ponselnya. Ya, dia harus menghubungi seseorang. Tunggu dulu! Namun, siapa yang harus dihubunginya? Bukankah ia tidak memiliki seorang teman? Raya benar-benar frustrasi. Harapannya saat ini ialah supaya Bintang cepat datang untuk menolongnya.
“Ma-mau apa kau? Ja-jangan dekati aku! TOLOOONG!” teriak Raya ketakutan. Kendati begitu ia masih berani menatap pemuda itu dengan garang. Ia pun memukul bertubi-tubi tubuh orang itu saat akan menyentuhnya. Walau ia tahu jika pemuda itu tidak mengerti ucapannya.
PLAK! Tamparan yang terasa panas di pipi Raya, hingga sukses membuat warna biru di area pipi kanan, juga darah segar keluar di sudut bibirnya. Raya meringis dan bungkam.
“URUSEEE!” (Berisik!) bentak pemuda itu. Ia membalas tatapan Raya dengan tidak kalah garangnya. “Kizutsuke tari shinai wa. Kimi to asobitain dake dayo. Ii yo?" (Aku tidak akan menyakitimu. Aku hanya ingin bermain-main denganmu. Mengerti?) sentaknya sambil menarik tubuh Raya ke arah ranjang.
Kini, tangan kekarnya mendorong tubuh Raya dengan kasar ke atas ranjang. Lalu, tanpa buang waktu lagi ia menjatuhkan dirinya di atas tubuh Raya dan merobek pakaian gadis itu hingga menyisakan dalaman saja.
Raya melotot. Ia tahu betul apa yang diucapkan oleh pemuda itu. Kini, ia berusaha untuk memberontak. Sayangnya, Seberapa kuat ia berontak. Tenaga pemuda itu jauh lebih kuat darinya, sehingga Raya tidak bisa berbuat apapun. Raya menangis. Di benaknya selalu berharap Bintang akan datang menolongnya. “Ja-jangan lakukan itu kepadaku. Aku mohon ….”
Si rambut pirang hanya tersenyum, ia tak menggubris ucapan Raya. Dengan napas menggebu dan penuh gairah, ia mulai mencium bibir Raya dan melumatnya. Namun, tiba-tiba ….
Jleb!
Seketika lampu padam. Gelap gulita. Hingga Pemuda itu pun menghentikan aksinya.
“s**t!” desisnya geram. Kemudian, ia pun bangkit dari ranjang, lalu turun dengan meraba-raba benda di sekitarnya.
Tanpa buang waktu, Raya bangkit dan langsung bersembunyi di bawah ranjang. Pun, ia menyempatkan diri untuk menarik bad cover untuk menutupi tubuhnya. Ia memeluk kedua kakinya dan membungkan mulut walau lelehan air bening itu masih terus merebak di pipinya. Sungguh, kepanikan dan rasa takut yang mendekap, membuat Raya tidak tahu harus berbuat apa. Ia hanya bisa berharap supaya listrik terus padam dan tidak akan menyala.
Kini, langkah kaki pemuda itu tertuju ke arah tirai jendela. Ia meraba sudut tirai dan langsung membukanya ketika sinar rembulan dalam sekejap menyinari ruangan tersebut. Namun, saat yang sama netra pemuda itu membeliak dengan diiringi oleh pekik suara jerit ketakutannya.
“Aaarrrgggghh!”