Pesawat itu mendarat di Jakarta pada sore yang mendung.
Raya berjalan paling belakang di antara rombongan. Ia menarik kopernya sendiri, menolak setiap tawaran bantuan, dengan tudung jaket yang ditarik hingga menutupi sebagian wajahnya. Lebam di pipi kanannya memang sudah mulai memudar, berubah menjadi warna kekuningan yang samar. Namun, entah kenapa, ia merasa semua orang di bandara ini bisa melihatnya dengan jelas.
Hiroshi sensei sempat menghampirinya sebelum semua orang berpencar.
“Istirahat dulu. Jangan memikirkan kuliah,” ujarnya. “Kalau nanti dibutuhkan keterangan lagi, pihak sana akan menghubungi Kampus. Bukan kau. Mengerti?”
Raya hanya melenggut pelan.
Program study tour yang selama ini ia impi-impikan itu akhirnya benar-benar berakhir. Ia sudah pergi ke Jepang. Ia sudah melihat negeri itu dengan mata kepalanya sendiri. Namun, tidak ada satu pun foto bunga Sakura di dalam ponselnya.
••••••••
Rumah itu gelap dan sunyi ketika Raya membuka pintunya.
Tentu saja. Ayah dan Ibunya masih berada di luar negeri. Tidak ada siapa pun yang menyambut, tidak ada bau masakan, tidak ada suara televisi. Hanya ada bau debu dan udara yang mengendap terlalu lama.
Raya meninggalkan kopernya begitu saja di ruang tamu. Ia menaiki tangga, masuk ke kamarnya, lalu menyalakan seluruh lampu yang ada di sana. Lampu kamar. Lampu meja belajar. Lampu kamar mandi. Bahkan lampu balkon.
Setelah itu, ia merebahkan tubuhnya di ranjang dengan mata terbuka lebar.
“Kau tidak akan mematikannya?” tanya Bintang yang sudah duduk di atas lemari pakaian.
“Tidak.”
“Sampai kapan?”
“Sampai aku bisa tidur tanpa melihat tirai jendela bergerak.”
Bintang bergeming. Ia memilih untuk tidak melanjutkan pertanyaannya lagi.
••••••••
Hari pertama, Raya tidak turun dari kamarnya sama sekali.
Hari kedua, ia turun sekali untuk mengambil air, lalu naik lagi.
Malam harinya, Bintang terbangun oleh suara jeritan.
Ya, walau sebenarnya sesosok arwah tidak benar-benar tidur, ia sedang duduk bersandar di sudut langit-langit kamar ketika suara itu memecah keheningan. Raya duduk tegak di atas ranjangnya, dengan napas memburu dan keringat yang membasahi pelipisnya. Kedua tangan gadis itu mencengkeram selimut kuat-kuat, seolah takut ada yang akan menariknya.
“Raya!” Bintang langsung melayang turun.
Gadis itu tidak menjawab. Ia hanya menoleh cepat ke arah jendela, lalu ke arah pintu kamar, lalu ke arah kolong ranjangnya sendiri.
“Tidak ada siapa-siapa,” ucap Bintang. “Aku sudah memeriksanya sejak tadi. Tidak ada siapa-siapa di rumah ini selain kau.”
“Dan kau,” sahut Raya serak.
“Dan aku,” ulang Bintang. “Tapi aku tidak dihitung. Aku bahkan tidak bisa membuka pintu kulkas.”
Raya tertawa pendek. Tawa yang aneh, karena keluar bersamaan dengan air mata. Kemudian, ia merebahkan tubuhnya lagi, memunggungi Bintang, dan tidak berkata apa-apa lagi hingga pagi.
Sejak malam itu, Bintang tidak pernah lagi meninggalkan kamar itu walau sekejap.
Ponsel Raya beberapa kali menyala. Yuki mengirim pesan hampir setiap jam. Ada yang berisi foto makanan, ada yang berisi pertanyaan sederhana, ada pula yang hanya berisi satu kalimat pendek. Semoga hari ini lebih baik dari kemarin. Raya membacanya semua, tetapi tidak membalas satu pun.
Hari ketiga, Bintang mulai jengah.
“Raya, kau harus makan.”
“Nanti.”
“Kau bilang begitu sejak kemarin pagi.”
“Kalau begitu, nanti lagi.”
Bintang melompat turun dari lemari. Ia berdiri di samping ranjang, bersedekap, menatap gadis yang meringkuk membelakanginya itu dengan kesal.
“Kau tahu apa yang paling menyebalkan dari menjadi arwah?” tanyanya. “Aku tidak bisa menyeretmu ke dapur.”
“Bagus. Kalau begitu diam saja.”
“Aku tidak bisa diam.” Bintang mendesah pelan. “Dulu, ketika aku masih hidup, Ayahku selalu berkata bahwa manusia itu makhluk yang aneh. Kalau hatinya yang terluka, justru perutnya yang dihukum. Aku dulu menertawakannya. Sekarang aku mengerti maksudnya.”
Raya tidak menjawab. Namun, beberapa menit kemudian, gadis itu bangkit dan turun ke dapur. Ia merebus mi instan, memakannya setengah, lalu kembali ke kamarnya.
Bintang menghitung itu sebagai kemenangan.
••••••••
Andra datang pada hari keempat.
Laki-laki itu berdiri di depan pagar sambil menenteng sebuah kantong plastik, menekan bel berkali-kali. Raya mengintip dari jendela lantai dua, lalu buru-buru menarik tirainya kembali.
“Kau tidak akan membukakan pintu?” tanya Bintang.
“Tidak.”
“Kenapa?”
“Karena aku tidak mau dia melihat wajahku seperti ini.”
“Dia sudah melihat wajahmu yang jauh lebih buruk dari ini, Raya. Malam itu.”
Raya terdiam. Kedua tangannya meremas ujung selimut.
Bel itu berbunyi beberapa kali lagi, lalu berhenti. Terdengar suara langkah kaki yang menjauh. Raya mengintip lagi, dan mendapati kantong plastik itu tergantung di pagar rumahnya. Andra sudah tidak ada.
“Ambil,” ujar Bintang.
“Nanti.”
“Raya.”
“Iya, iya! Cerewet sekali kau,” gerutu gadis itu sambil bangkit.
Di dalam kantong itu ada bubur ayam yang sudah dingin dan sebotol air mineral. Tidak ada surat, tidak ada pesan. Hanya itu.
Raya membawanya masuk, duduk di anak tangga, lalu memakannya perlahan-lahan sambil menunduk. Bintang duduk di anak tangga yang lebih atas, tidak berkata apa-apa.
Beberapa saat kemudian, Bintang mendengar suara isakan kecil.
Namun, ia memutuskan untuk berpura-pura tidak mendengarnya. Sebab, ia tahu, ada tangis yang justru menjadi lebih berat kalau ditanyai.
••••••••
Malam itu Raya duduk di balkon kamarnya, memeluk lutut, menatap langit Ibu Kota yang tidak pernah benar-benar gelap.
Bintang duduk di pinggiran balkon, di sampingnya.
“Bintang,” panggil Raya tiba-tiba.
“Hm?”
“Malam itu, saat aku memanggilmu berkali-kali dan kau tidak datang.” Gadis itu menjeda ucapannya. “Kau sedang bersamanya, kan?”
Bintang menoleh cepat. “Apa?”
“Kekasihmu. Yang waktu itu kau bilang ingin kau temui dengan meminjam tubuhku.”
Bintang membuang pandangannya ke depan. Untuk beberapa saat lamanya, ia tidak menjawab.
“Ya,” akunya akhirnya.
Raya melenggut pelan. Anehnya, tidak ada kemarahan sedikit pun di wajahnya.
“Namanya Bunga,” lanjut Bintang dengan suara yang jauh lebih pelan. “Dan malam itu, aku juga tidak bisa menolongnya. Aku berdiri di sana, hanya beberapa langkah darinya, berteriak sekuat tenaga. Tapi tidak ada yang mendengarku. Tanganku menembus tubuhnya. Aku tidak bisa apa-apa, Raya. Sama sekali tidak bisa apa-apa.”
Raya menoleh. Ia menemukan sesuatu yang belum pernah dilihatnya di wajah arwah itu. Bukan kesombongan. Bukan pula sikap menyebalkan yang biasa.
Melainkan wajah seseorang yang sedang menghukum dirinya sendiri.
“Jadi selama ini kau selalu seperti itu,” gumam Raya.
“Seperti apa?”
“Melihat, tapi tidak bisa menyentuh. Mendengar, tapi tidak bisa dijawab.” Raya menatap ke depan lagi. “Pantas saja kau selalu ingin masuk ke dalam tubuhku.”
Bintang tidak membantah.
“Berapa hari kau di sini, Bintang?”
“Empat hari. Kenapa?”
“Empat hari kau hanya duduk di atas lemari pakaianku dan meneriaki aku supaya makan.” Raya mendengkus kecil. “Padahal kau punya urusanmu sendiri, kan? Kau punya orang yang ingin kau bebaskan. Kau punya keluarga yang ingin kau bahagiakan. Kau pernah menceritakannya padaku.”
Bintang tertegun.
Sungguh, ia tidak pernah mengira Raya masih mengingat kalimat itu. Gadis itu waktu itu bahkan mendengarkannya sambil memainkan ponsel.
“Itu bisa nanti,” jawab Bintang akhirnya.
“Nanti kapan? Kau sudah mati, Bodoh. Waktumu itu bukan milikmu lagi.”
“Hei! Setidaknya aku mati sebagai mahasiswa yang pintar.”
“Dan sekarang mahasiswa pintar itu menganggur di atas lemari pakaian seorang gadis bodoh selama empat hari.”
Bintang membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Sialnya, ia tidak punya bantahan untuk yang satu itu.
Raya tertawa kecil. Untuk pertama kalinya sejak Jepang, tawa itu terdengar seperti tawa yang sesungguhnya.
Kemudian, gadis itu kembali terdiam. Angin malam menerbangkan beberapa helai rambutnya.
“Bintang.”
“Apa lagi?”
“Terima kasih.”
Bintang menoleh, tidak mengerti.
“Malam itu, kau memang datang terlambat,” ucap Raya pelan. “Tapi kau tetap datang. Dan kau tidak pergi ke mana-mana sampai pagi. Aku melihatmu berdiri di pintu semalaman. Kau pikir aku tidur, ya?”
Bintang membuang muka, berpura-pura sibuk memperhatikan lampu-lampu kota di kejauhan. Entah kenapa, ia merasa lega sekaligus malu pada saat yang bersamaan.
“Jangan berpikir yang aneh-aneh,” sahutnya kaku. “Aku hanya tidak mau kehilangan satu-satunya tubuh yang bisa kupinjam untuk ujian.”
“Menyebalkan sekali kau ini.”
“Mengerti?”
“Mengerti, mengerti!”
Keduanya terdiam. Namun, kali ini keheningan di antara mereka tidak lagi terasa berat.
Raya menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan-lahan, seolah sedang membuang sesuatu yang selama empat hari ini mengendap di dalam dadanya.
“Besok aku akan kembali ke Kampus,” ucapnya kemudian.
Bintang menoleh cepat. “Kau yakin?”
“Tidak.” Raya bangkit sambil menepuk-nepuk celananya. “Tapi kalau aku terus di rumah, aku akan semakin membenci tirai jendelaku sendiri. Lagipula, sebentar lagi ada kuis Bunpou. Dan aku belum belajar sama sekali.”
“Kau tidak pernah belajar sama sekali.”
“Justru itu.” Raya menyunggingkan senyum licik yang sudah lama tidak terlihat. “Aku punya arwah pengangguran yang pintar di rumah ini.”
Bintang melotot. Namun, sebelum ia sempat memprotes, gadis itu sudah melangkah masuk ke dalam kamar sambil tertawa kecil.
Bintang tetap tinggal di balkon beberapa saat lamanya.
Ia menatap langit yang tidak berbintang, lalu menunduk menatap kedua telapak tangannya sendiri, tangan yang sudah tidak bisa lagi menyentuh apa pun di dunia ini.
Empat hari. Raya benar. Ia sudah membuang empat hari.
Bunga masih berada di rumah itu bersama Raja. Ayahnya masih duduk di kursi roda. Dan pertanyaan tentang ruangan pengap serta bantal yang menekan wajahnya itu masih menggantung tanpa jawaban.
Bintang mengepalkan tangan.
Besok. Besok ia harus mulai bergerak lagi.