Aku menggerak-gerakkan tangan Raya dan merapikan sedikit roknya setelah berhasil masuk ke dalam tubuh kecil ini. Aku mengirup udara dengan jumlah yang lebih banyak dari biasanya, seperti mengambil ancang-ancang. Kemudian aku menatap ke cermin wastafel di mana aku melihat bayangan wajah Raya di sana. Baiklah, aku akan memanfaatkan waktu sebaik mungkin!
Tidak membuang waktu lagi, aku pun keluar dari toilet itu dan langsung melangkahkan kaki untuk mencari Andra. Di mana anak itu? Kenapa aku tidak menemukannya juga?
“Andraaa!”
Tiba-tiba aku mendengar suara teriakan beberapa gadis dari arah lapangan basket. Aku mengerutkan kening. Sebenarnya aku tidak yakin, tapi akhirnya kugerakkan juga kaki ini menuju tempat itu.
Teriakan-teriakan dan suara yang begitu riuh langsung terdengar saat aku sampai di lapangan basket. Aku menyipitkan mata, berusaha mencari-cari sosok itu. Dan ternyata benar, Andra memang sedang bertanding basket. Aku menggelengkan kepala. Ternyata Andra bisa terlihat tampan di bawah terik matahari dan guyuran keringat di tubuhnya.
Priiittt ....
Suara peluit yang begitu nyaring menandakan berakhirnya pertandingan ini. Aku tersenyum senang. Baguslah, itu berarti aku tidak perlu menunggu lebih lama. Aku pun langsung berlari ke arah Andra ketika laki-laki itu sedang duduk di pinggir lapangan seraya meminum air mineralnya.
“Oh, Raya?” ucap Andra saat melihatku, “ada apa? sepertinya kau buru-buru?”
“Bisa bicara sebentar?” pintaku tanpa basa-basi.
“Bicara apa? Hal yang serius?”
Aku menggangguk, “tapi tidak di sini.”
“Kenapa?”
Langsung kugenggam tangan Andra dan kugandeng laki-laki itu untuk berlari keluar dari lapangan. Aku mendengar teriakan-teriakan kecewa para gadis yang duduk di tribun. Ya, mungkin tubuh Raya bisa saja dilempari botol jika aku berada lebih lama di sini.
“Raya, sebenarnya ada apa?” tanya Andra penasaran.
Aku tidak menjawabnya. Biarlah dia bermain-main dengan pikirannya sendiri. Toh aku juga tidak peduli dengan apa yang dipikirkannya. Yang aku mau hanya pengakuannya tentang kecelakaan itu.
Aku menghentikan langkahku di lorong perpustakaan yang sepi. Aku berusaha mengatur napasku yang terburu-buru sebelum menjelaskan apa maksudku pada Andra.
Sementara laki-laki di depanku ini masih menatapku penuh tanda tanya. Aisshh … tatapannya itu membuatku merasa aneh! Tentu saja, karena sekarang ia sedang menatap seorang gadis dengan jiwa seorang laki-laki tanpa sepengetahuannya.
“Apa yang mau kau bicarakan Raya?” tanya Andra pelan. Wajahnya tetap terlihat ramah seperti biasanya.
Aku berdiri tegak dan menatap Andra dengan kedua mata Raya. Ya Tuhan … semoga aku tidak akan salah mengambil sikap.
“Andra, apa kau mau menceritakan soal kecelakaanmu?”
Aku masih terdiam sambil menatap kedua mata Andra. Laki-laki itu juga melakukan hal yang sama. Menatapku tanpa berkata apa-apa. Andaikan Andra bisa melihatku sebagai seorang Bintang--bukan Raya--mungkin ia sudah menatapku dengan tatapan yang lebih tajam dari ini.
“Kecelakaan apa yang kau maksudkan?” tanya Andra dingin.
Aku mendesah kecil. Apakah ia berniat menyembunyikannya? Kenapa? Jangan-jangan dugaanku benar.
“Kau pernah mengalami kecelakaan, kan? Tidak lama setelah kau kembali ke Jakarta. Benar, kan?”
Andra tidak langsung membuka mulutnya. Entah kenapa ini adalah pertama kalinya aku merasa kesal pada sahabatku sendiri. Sungguh, menggelikan sekali ketika aku mulai membencinya justru disaat aku sudah menjadi arwah.
“Kau benar. Aku pernah mengalami kecelakaan besar beberapa bulan yang lalu. Maaf, aku tidak menceritakan hal ini padamu. Tapi, apa tujuanmu menanyakan hal ini?”
Sekarang giliranku untuk memikirkan jawaban yang tepat. Aku tidak mungkin langsung menuduhnya begitu saja, kan?
“Tidak, aku hanya ingin tahu. Apa kecelakaan yang parah?”
“Ya … bisa dibilang begitu. Aku dirawat di rumah sakit selama satu minggu,” jawab Andra dengan tenang.
“Apa yang menyebabkanmu mengalami kecelakaan itu?”
Tiba-tiba Andra menatapku tajam dengan ekor matanya. “Kenapa? Kenapa kau jadi menginterogasiku seperti itu? Apa yang kau pikirkan Raya?”
Aku sedikit terkejut dengan pertanyaannya. Sial, kenapa dia mulai mencurigai Raya? “Aku … aku … hanya mengkhawatirkanmu,” jawabku sekadarnya.
Andra malah menatapku dengan tatapan yang semakin tidak kumengerti. Kenapa tatapannya berubah menjadi penuh nafsu begitu? Jangan-jangan ….
Cup!
Apa? Apakah aku bermimpi? Ya, mungkin aku sedang bermimpi kalau … kalau … Andra menciumku? Astaga, tidak maksudku Raya. Namun, bagaimana ini? Aku masih terjebak di dalam tubuhnya, kan? Bodoh! Aku ingin keluar!
Aku dan Andra sama-sama menoleh ke samping setelah Andra melepaskan ciumannya. Namun, kali ini lebih parah. Aku pun membulatkan kedua mataku saat ....
“Maaf, aku mengganggu kalian. Silakan dilanjutkan,” kata Arsen dengan polosnya.
Aku menatapnya garang. Bagaimana bisa ia berkata seperti itu? Padahal aku sangat yakin jika ia tahu siapa yang ada di dalam tubuh Raya sekarang. Aissshhh!! Awas kau Arsen!
“Raya? Kenapa wajahmu memerah begitu?” tanya Andra membuatku terkejut.
“Oh? Maaf?”
•••••••
“Arsen!” seruku menyusul si menyebalkan Arsen yang lebih dulu meninggalkan perpustakaan. Aku menambah kecepatanku meskipun hanya dengan kaki kecil Raya. Tap! Aku berhasil mencengkeram bahu laki-laki itu.
“Apa? Apa yang kau lakukan Raya?” tanya balik Arsen dengan tatapan mengejek. Ia juga terlihat jelas sedang menahan tawa.
“Kenapa kau bisa berkata seperti itu, huh?” cecarku tanpa basa basi. Aku semakin bertambah kesal saat melihat wajahnya kalau ingat kejadian tadi.
“Kenapa? Apa yang salah? Bukannya sah-sah saja kalau kalian berdua melakukannya? Kalian pacaran, kan?” balas Arsen setengah meledek.
Aku berdecak sebal. Kenapa laki-laki ini masih mengelak? “Jangan pura-pura Arsen. Kau pikir aku bisa dibohongi oleh laki-laki menyebalkan sepertimu?”
Kali ini aku melihat Arsen berhenti memasang wajah mengejeknya. Namun, wajahnya menjadi berubah kesal. Apa mungkin kata-kataku telah menyinggung perasaannya?
“Siapa yang kau sebut laki-laki menyebalkan, Bintang?” tanyanya dingin. Kedua matanya yang kecil menatapku dengan berani.
“Kenapa? Kau tersinggung?” tantangku. Mana mungkin aku dikalahkan oleh seorang Arsen?
“Kau bisa menyebutku seperti itu setelah aku membantumu?” ucap Arsen mengunci rapat mulutku. “Aku tidak menyangka ternyata kau adalah orang seperti itu,” lanjutnya dengan nada menghina.
Aku terdiam sejenak sebelum akhirnya melepaskan cengkeramanku di bahunya. Aku menghela napas panjang sebelum membalas kata-katanya.
“Baiklah, maafkan aku Arsen,” ujarku setenang mungkin.
Arsen terlihat mengusap T-shirt-nya. “Aku tidak marah padamu. Tenang saja, aku bukan tipe orang yang suka mempermasalahkan hal-hal sepele.”
•••••
Raya meletakkan beberapa buku di rak perpustakaan dengan kesal. Hari ini ia terlambat mengikuti mata kuliah Bunpou dan dihukum membersihkan perpustakaan.
Berkali-kali Raya mendengkus sebal. Biasanya ia bisa melenggang masuk ke dalam kelas dengan santainya walau terlambat 30 menit sekalipun. Namun, hari ini? Sial sekali, karena ia bertemu dengan Hiroshi sensei tadi.
“Merapikan perpustakaan?”
Raya langsung tersentak kaget begitu ada suara di sisinya. Lalu, sikapnya kembali berubah normal ketika melihat Andra yang sedang menatapnya sambil tersenyum manis.
“Ya ampun, kau mengejutkanku saja!” gerutunya pura-pura kesal.
“Kau terlambat mengikuti mata kuliah Bunpou?” tanya Andra sambil mengikuti Raya.
Raya mengangguk pelan. “Hm.”
“Jadi begini ceritanya kalau tidak mengikuti mata kuliah itu? Hm, lain kali aku mau mencoba ah ....”
Raya langsung menoleh ke arah Andra. “Apa kau sudah gila? Untuk apa?”
“Selama ada kau, aku akan melakukan apapun Raya,” goda Andra membuat wajah Raya sedikit memerah.
“Apa? Aisshh … sepertinya sifat playermu kembali lagi!” cibir Raya dan kembali sibuk pada pekerjaannya, ia tidak mau jika Andra sampai tahu kegugupannya.
“Mau jalan-jalan tidak?” tawar Andra dan Raya menatapnya tanpa berkata apa-apa.
•••••••
“Aku mau ngebut ya, sebaiknya kau pegangan yang erat,” suruh Andra sambil menyetir motor sport merahnya.
“Tidak, aku tidak mau …,” tolak Raya mantap. Memeluk Andra seperti ini saja rasanya ia lebih ingin melompat turun. Apalagi mengeratkan?
“Terserah,” balas Andra sambil tersenyum. Kemudian, ia langsung menambah kecepatan pada motornya hingga sukses membuat Raya memeluknya lebih erat.
“Andra!” teriak Raya kesal.
“Kan, aku sudah bilang,” balas Andra dengan santainya. Ia melirik Raya dari kaca spionnya sambil tersenyum penuh arti.
•••••••
“Ayolah … aku, kan, tidak memiliki foto bersamamu,” bujuk Andra ketika mengajak Raya ke sebuah taman.
“Ya ampun … aku tidak suka difoto, Andra!” tolak Raya. Ia pun berjalan meninggalkan Andra di belakang.
Andra tertawa kecil kemudian mengejar Raya. “Raya,” ucapnya sambil memasang wajah memohon. Sementara Raya menatapnya kesal dan Andra pun memberikan gadis itu sebuah senyum hangat. “Percayalah padaku,” ucapnya sambil menggenggam tangan Raya.
Raya mengerutkan kening. Ia merasa Andra mempunyai maksud lain dari kata-katanya barusan. Namun, belum sempat ia membuka mulut Andra sudah menjepretkan kamera ponselnya.
Andra tertawa kecil melihat hasil gambarnya. “Di foto ini, kau terlihat sangat menyukaiku Raya. Lihatlah,” kata Andra sambil menyodorkan ponselnya.
Raya pun melihatnya dan langsung membulatkan matanya. “Hei, kenapa wajahku seperti ini? Aissshh … hapus!”
“Hahaha. Tidak! Tepat sekali saat kau melihatku dan aku mengambil gambarnya. Ini benar-benar romantis!” goda Andra dan langsung berlari menghindari Raya yang terus mengejarnya. Sembari berlari, Andra pun beberapa kali memotret wajah Raya.
“Hei! Hentikan!” teriak Raya tidak terima. Kedua tangannya sangat ingin mengambil ponsel itu, akan tetapi sama sekali tidak bisa.
“HEI! Andra!” serunya putus asa.
•••••••
Raya menggenggam cangkir putih berisi mocca chocolate yang hangat itu sambil memandang sekeliling. Suasana coffee shop malam itu cukup ramai juga. Mungkin, karena di luar sedang turun hujan sehingga mendorong orang-orang untuk menikmati sesuatu yang hangat.
Raya pun merapatkan jaket cokelat muda yang dipakainya lalu memperhatikan layar ponsel di mana terdapat foto dirinya dengan Andra yang tengah tersenyum bahagia di sana. Raya tersenyum kecil. Walau beribu kali ia berusaha menolak permintaan Andra untuk berfoto bersama, tapi tetap saja laki-laki itu memaksa sehingga Raya pun menerimanya.
Andra tertawa kecil saat menatap Raya tersenyum manis melihat ponselnya. “Kau sangat cantik di foto itu,” ucapnya sambil tersenyum.
Raya menoleh, lalu mencibir. “Kau pikir aku sama dengan mereka? Aku tidak akan termakan rayuanmu, Andra!”
Lagi-lagi Andra hanya tertawa menanggapinya. Ia pun kembali berkutat dengan ponselnya. Mengamati foto demi foto Raya, yang membuat hatinya begitu bahagia.
“Kau sering ke sini?” tanya Raya membuyarkan pikiran Andra hingga laki-laki itu mau tak mau menatap gadis itu dan mengalihkan ponselnya untuk sementara.
“Ya. Saat aku bosan, aku akan kemari.”
“Ah … tempat yang bagus,” ungkap Raya.
Andra tersenyum. “Kau senang?” tanyanya.
“Hm, “ jawab Raya singkat. Membuat Andra merasakan harinya begitu berwarna. Harapannya saat ini ialah supaya Raya akan terus bahagia bersama dengannya. Ya, semoga saja.