"Hmm ... jadi namanya Bintang," gumam Ravin dalam kesendiriannya di kamar. Ia tengah merebahkan tubuh di atas ranjangnya yang empuk.
"Nama yang bagus." Ravin terus menyeringai menatap foto Bintang di layar ponselnya. Rasa lelahnya seakan terhempas begitu saja. Sebab, ia telah menemukan mainan baru untuk menghibur dirinya dalam kondisi seperti ini. Otaknya mulai memikirkan cara yang menarik untuk mempermainkan arwah tersebut.
"Akan menarik jika aku mengembalikannya ke langit. Bukankah Bintang seharusnya ada di langit?" celotehnya sembari menyunggingkan sebuah senyum licik.
Ravin mendesah pelan. Kemudian ia merentangkan kedua tangannya ke samping sambil memejamkan kedua netranya sejenak. Ia berusaha untuk memikirkan cara untuk bisa bertemu kembali dengan arwah Bintang. Namun sesaat kemudi