Dua bulan kemudian.
Luna berjalan menyusuri koridor kampus sembari tersenyum ramah kepada semua teman - temannya yang menyapa. Gadis itu terkenal memiliki wajah yang cantik, sikap ramah, baik hati, tetapi juga ceroboh. Oleh sebab itu, ia memiliki banyak teman di kampusnya. Tak hanya itu, banyak pula laki - laki yang ingin menjadikan Luna kekasihnya. Namun, secara terang - terangan Luna menolak pernyataan cinta dari mereka semua. Luna pun masih tak mengerti dengan alasan dirinya menolak cinta mereka. Alih - alih ingin fokus kepada kuliahnya, tetapi ia merasakan ada sesuatu yang lain di dalam hatinya. Entah apa itu.
“Luna, apa kau ingin langsung pulang?” kejut salah seorang teman wanitanya di koridor.
“Astaga, kau mengejutkanku saja.” Luna mengelus dadaa ketika gadis itu tiba - tiba saja