“Jika kau dihadapkan dengan dua pilihan, jangan pernah memilih salah satu dari keduanya. Karena tetap akan meninggalkan ‘Penyesalan’ atau ‘Seandainya‘.” Navia Yunistia Regas.
*****
“Menikah?” Navia menatap kaget pada Rodrik. “Kenapa harus menikah?”
“Karena mustahil kita tinggal serumah tanpa sebuah ikatan resmi. Kau dan aku tidak ada hubungan darah, dari dekat atau dari jauh,” jawab Rodrik serius.
“Tapi aku tak mau. Nanti pasti semua orang tau pernikahan kita dan aku pasti dikeluarkan dari sekolah,” ujar Navia mengutarakan keberatannya dan kenapa dia menolak.
“Tidak akan ada yang tahu. Kau dan aku akan menikah di kota, setelah itu kau dan aku akan tinggal di rumahku di sini. Semua akan aku urus, kau tenang saja.”
“Aku belum siap punya suami dan aku juga belum siap melakukan ...,” Navia tampak ragu mengatakannya.
Rodrik kini menatap tajam pada Navia. “Kaupikir aku menikahimu cuma untuk melakukan hal itu? Aku tak tertarik sedikitpun padamu.”
“Jadi kau gay (homo)? Untunglah.” Navia terlihat bernapas lega.
“APA? GAY? AKU MASIH NORMAL!” teriak Rodrik membuat Navia kaget.
“Jadi kita akan melakukannya?” Navia jadi kembali takut.
“Kau tenang saja, kita hanya akan menikah di atas kertas. Selama setahun, kau dan aku akan tidur di kamar terpisah juga.”
“Setahun?” Navia belum mengerti.
“Ya. Bukankah temanmu itu tahu kalau aku saudaramu. Wali hakimmu, jadi kau dan aku hanya akan tinggal setahun. Sampai kau lulus SMA dan kita bercerai. Setelah kau lulus SMA, aku akan mencarikanmu apartement di kota. Kau akan aku biayai sampai lulus kuliah kelak, bahkan kau boleh kerja sampingan di perusahaanku.” Akhirnya Rodrik mengutarakan kenapa mereka harus menikah dan dalam jangka berapa lama.
Navia tampak menimang-nimang hal itu. “Apa nanti kau akan menyewa asisten rumah tangga?”
“Tidak akan, aku tak suka ada orang asing di rumahku. Kau saja sudah cukup membuatku terpaksa tinggal bersama orang lain serumah. Aku butuh ketenangan, jadi nanti kita tak boleh saling mengusik.”
“Baguslah kalau begitu. Tetapi bagaimana dengan kedua orang tuamu? Apa mereka takkan curiga kalau kita tak tidur sekamar?” tanya Navia menatap penuh pertanyaan pada Rodrik.
“Kau tenang saja masalah itu bisa aku atasi. Tapi jika kita sudah menikah dan kedatangan kedua orang tuaku atau adikku dari kota. Sebaiknya kita harus tidur sekamar dulu selama mereka menginap-”
“APAAAA?! YANG BENAR SAJA KITA AKAN TIDUR SEKAMAR!” Navia sampai berteriak lagi.
Rodrik menghela napasnya berat. “Tidak akan setiap hari kita tidur sekamar. Nanti aku akan menyiapkan kursi sofa di kamar supaya kau bisa tidur di kursi.”
“Syukurlah.” Navia menghela napasnya lega.
Rodrik juga memahami ketakutan Navia. Tapi dia sungguh tak tertarik dengan perempuan seperti Navia. Jika dia menikahi Navia, akan terlepas juga dari cercaan dan pertanyaan Ibunya yang terus bertanya kapan dia menikah? Kapan memberi mereka cucu? Sering kali menyuruh kencan buta, dan yang paling dia tidak suka adalah mengundang teman-temannya yang mempunyai anak gadis atau janda untuk dijodohkan dengannya atau juga mencoba menyuruh anak temannya itu merayunya. Dan dia sudah muak dengan semua itu.
Zaman sekarang mana ada yang mau dinikahinya tanpa disentuh, bahkan nikah kontrak. Mustahil ada yang mau. Meski ada yang mau juga, dia yakin semua karena hartanya dan juga kedudukan kedua orang tuanya.
Beribu ide muncul hanya dalam hitungan menit saja. Dan satu-satunya yang dia temukan jalan terbaiknya adalah menikahi Navia. Dengan begitu dia bisa hidup tenang dan takkan ada lagi acara kencan buta dari Ibunya.
Bahkan mungkin Ayahnya akan bangga padanya karena menikahi anak dari sahabat baiknya yang selama ini dikira sudah meninggal bersama kedua orang tuanya. Yang paling utama adalah memenuhi janji Ayahnya pada alm Vulkan yang akan menjodohkan anaknya dengan Navia. Dan seharusnya Navia menikah dengan Gionaldo kelak. Hanya saja Gio pasti takkan mau menikah dengan gadis seperti itu.
Intinya, banyak hal dan alasan kenapa dia harus menikahi Navia.
“Gimana? Apa kau setuju dengan syaratku itu?” tanya Rodrik sekali lagi.
Navia mengangguk yakin. Sebenarnya tak ada yang bisa dia lakukan untuk saat ini. Jalannya sudah buntu dan tak ada lagi jalan keluar. Dia butuh biaya dan tempat tinggal, butuh juga seseorang yang menjaganya selama tinggal di rumah itu dan dalam masa-masa sekolah tahun terakhirnya.
Jika dia sudah lulus SMA dan pindah ke kota. Dia yakin akan menjadi mandiri dan juga akan dipekerjakan di perusahaan perhiasan terkenal DAMAS. Lepas sudah beban pikirannya dan dia yakin masa depannya akan cerah serta hanya beberapa saja yang tahu jika dia seorang janda dari Rodrik Argum. Dan hal itu tak jadi masalah baginya.
“Ada lagi satu pertanyaan yang mau aku tanyakan. Bagaimana kalau ada orang kampung yang tahu pernikahan kita ini?” tanya Navia masih terlihat sedikit ragu.
“Kalau masalah itu. Biar aku urus-urus bersama Kepala Desa dan juga pihak berwajib daerah sini. Jadi kalau ada apa-apa, mereka sudah tahu kalau kita resmi suami istri.” Begitu cepatnya Rodrik menemukan jawaban yang dari tadi Navia saja pusing dan takut memikirkannya.
Akhirnya semua keraguan dan ketakutan Navia terkikis habis. Dia hanya cukup menuruti permainan Rodrik karena di dalam dua hal, semua keuntungan mengarah padanya.
“Sekarang kita pulang. Kau mandi dan bersiaplah. Kita akan langsung pergi ke kota. Daddy sudah tak sabar ingin bertemu denganmu.” Rodrik menyalakan mobil lalu melajukannya meninggalkan tempat itu.
“Apa kita perlu kertas kontrak seperti di novel-novel itu? Di mana aku dan kamu menandatangi surat perjanjian itu dan tak boleh ada yang melanggarnya.” Navia menatap Rodrik yang fokus menyetir.
“Aku tak mau ada orang yang menemukan surat itu. Seaman-amannya benda pasti akan ketahuan juga. Jadi cukup kita saja yang tahu perjanjian ini. Ingat, tak boleh ada yang tahu selain kita, termasuk pemuda bocah temanmu itu. Satu hal, kita tak boleh saling mengusik dan mencampuri urusan masing-masing.” Rodrik memang ada benarnya. Kebanyakan novel yang dibaca Navia, semua terbongkar karena ada bukti surat nikah kontrak. Mereka di nyata, jadi buat apa harus ada surat kontrak juga.
*****
Hampir satu jam Rodrik menunggu Navia yang pergi mandi dan bersiap-siap. Selama itu pula dia menelepon beberapa orang yang dirasa penting untuk dihubungi. Salah satunya adalah Arik sang sekretarisnya.
Dan selama menelepon. Dia juga berkeliling melihat semua rumah serta seisinya. Halaman depan dan belakang serta lantai tiga di mana hanya ada balkon luas saja tanpa apa pun. Dia akan mengubah semuanya setelah pernikahannya dengan Navia lancar.
Terkecuali satu kamar yang belum dilihatnya, yaitu kamar utama di mana Navia ada di dalamnya.
Rodrik masih menunggu di bawah tangga. Tak lama Navia turun dengan pakaian yang dirasa masih baru karena jarang dipakai selain untuk acara bepergian saja. Dan baju itu dia beli tahun lalu.
Celana jeans dan juga kaos putih bergambar tweety. Sepatu van untuk sekolah dan juga tas ransel berisi satu setel pakaian gantinya sebab Rodrik mengatakan tak usah membawa banyak pakaian dan Navia juga tak punya banyak pakaian yang bagus untuk pergi ke kota.
Dengan penuh semangat. Navia masuk duluan ke dalam mobil, sementara Rodrik mengunci semua pintu dengan rapat.
Hari sudah sore dan jalanan semakin sejuk. Navia membuka jendela mobil membiarkan rambutnya yang sepunggung berkibar tertiup angin. Belum lagi itu adalah pertama kalinya setelah kepergian orang tuanya menginjak kota lagi.
*****
Hari sudah gelap di mana mobil Rodrik memasuki komplek mewah sekitaran kota Jakarta. Dia melirik Navia yang tertidur dengan pulasnya.
Tadi Navia berkata takkan tertidur karena tak mau melewatkan pemandangan sepanjang perjalanan mereka itu. Tetapi lihatlah dia sekarang, tertidur sembari memeluk tas ranselnya.
Tak berapa lama. Rodrik mulai masuk ke dalam sebuah halaman villa no 48 milik keluarga Argum. Dua satpam langsung saja menyambutnya.
“Den, lama tak berkunjung ke sini.” Satpam satu menyapa Rodrik sembari membukakan pintu untuknya.
“Iya Pak. Sibuk terus biasa,” jawab Rodrik singkat seperti biasa.
Satpam satunya lagi tampak heran kala membuka pintu satunya yang dikira tas-tas kerja milik Rodrik yang selalu disimpan di depan. Tetapi kali ini seorang gadis yang tertidur di sana.
“Biar saya yang bangunkan.” Rodrik melepaskan sabuk pengaman lalu mencoba membangunkan Navia.
“Navia, bangun. Kita sudah sampai.” Rodrik mencoba membangunkan Navia dengan lembut karena kedua satpam masih berdiri di sana dengan beribu pertanyaan di benak masing-masing. Siapa gadis itu?
Navia bukan bangun, malah menggeliat gusar lalu tertidur lagi. Rodrik tak tahu jika itu adalah tidur terlama dan ternyenyak Navia selama seminggu terakhir ini. Sebab selama ditinggalkan oleh Ibu asuhnya. Navia selalu tidur dengan rasa takut karena sendirian di rumah dan terkadang juga tak bisa tidur karena perutnya yang kosong.
“Navia?” Sekali lagi Rodrik membangunkan Navia dengan lembut.
Tak ada reaksi kalau Navia akan bangun cepat.
“NAVIA! BANGUN!” teriak Rodrik sampai Navia sontak terbangun dengan jantung berdebar kencang dan hampir saja tercekik oleh sabuk pengamannya.
“Tabrakan? Apa kita tabrakan?” tanya Navia kaget. Bahkan kedua satpamnya juga ikut kaget.
“Kita sudah sampai. Jadi turunlah.” Rodrik turun duluan lalu melangkah menuju pintu yang sudah terbuka.
Navia menggosok matanya pelan lalu mengedarkan pandangannya ke sekitar. Rumah mewah dengan halaman yang luas. Jadi meski dia dibiayai seumur hidup juga, pria itu takkan jatuh miskin. Ia bergegas keluar kala melihat Rodrik sudah hampir sampai ke pintu utama.
“Selamat malam Bapak-Bapak.” Navia menyapa dua satpam itu dengan ramah.
“Selamat malam juga, Non.” Keduanya menjawab tak kalah ramah juga.
“Navia,” panggil Rodrik menahan kekesalannya.
Navia langsung berlari menghampiri Rodrik.
Rodrik menatap Navia sambil berkata. “Jangan takut dan jangan pernah mengatakan apa pun juga. Aku takut kau malah membongkar kesepakatan kita tadi.”
“Jangan takut, aku tak seteledor itu dan juga aku berjanji akan-”
“Janji apa?” tanya Tuan Yaman datang menyambut kedatangan keduanya.
“Dia berjanji takkan berisik karena dia itu sangat cerewet.” Rodrik menjawab seolah sudah kenal lama dengan Navia membuat Ayahnya jadi tertawa.
Selama ini anak sulungnya yang selalu tenang, sedikit pendiam dan juga datar itu mencoba bercanda. Meski candaannya itu terlihat garing bagi Navia.
“Navia Yunistia,” Tuan Yaman menatap Navia penuh kerinduan dengan senyum penuh haru. “Ternyata kau masih hidup dan sudah sebesar ini.”
Navia menatap pria tua itu. Meski wajahnya sudah agak keriput di sekitar kening dan pipi, tapi Navia takkan pernah melupakan wajah ramah itu. Wajah yang sewaktu kecil selalu membuatnya tertawa.
“Paman Yaman.” Navia seakan bertemu dengan Ayahnya lagi. Ia pun tanpa sadar langsung berlari sambil melemparkan tas ke sembarang kemudian memeluk Tuan Yaman penuh kerinduan juga.
“Navia, ternyata kau masih hidup dan sudah sebesar ini.” Yaman menyesal kenapa dia dulu percaya pada orang suruhannya yang mengatakan kalau keluarga Regas telah meninggal.
“Iya Paman. Aku tak menyangka akan bertemu kembali dengan Paman.” Navia sekuat tenaga menahan tangisnya karena takut dikasihani atau ditatap penuh rasa iba dari mereka.
“Maafkan Paman karena selama ini Paman tak mencoba mencari kebenaran tentang kematianmu bersama kedua orang tuamu.” Yaman benar-benar merasa bersalah.
“Paman kenapa bicara begitu? Aku malah bersyukur karena telah bertemu kembali dengan Paman.” Navia mencoba menghilangkan rasa penyesalan Yaman yang terlihat jelas di wajahnya itu.
Karena kau takkan lagi kelaparan.
“Diam kau,” bisik Navia dengan sangat pelan.
Setelah keduanya melepaskan pelukan masing-masing.
“Navia, kalian sudah datang.” Seorang wanita paruh baya setengah berlari kecil menghampiri Navia lalu tiba-tiba memeluknya.
“Nyonya Naya?” Navia ingat-ingat lupa pada wanita itu. Selain dulu hanya sekali bertemu, wanita itu juga sudah banyak berubah. Semakin glamor dan juga cantik.
Naya melepaskan pelukannya. “Kenapa panggil Nyonya? Mulai sekarang panggil Mami.”
Navia menoleh menatap Rodrik. Kapan pria itu mengatakan niat mereka untuk menikah?
Rodrik seolah sudah tahu arti tatapan itu. “Tadi ketika kau mandi. Aku menelepon mereka tentang niat kita segera menikah.”
“Ayo duduklah. Kalian pasti lelah karena perjalanan jauh.” Naya mengajak Navia ke ruang tamu. Bahkan lengan Navia digandengnya erat seakan-akan tak mau kehilangannya.
“Aku yang lelah karena menyetir Mom. Sementara dia tidur sepanjang jalan,” ujar Rodrik tak terima kalau dia dan Navia dikatakan sama lelah karena perjalanan.
Navia menggaruk kepalanya tak gatal sembari tersenyum canggung. Pria itu memang pria tersadis yang pernah dia temui.
Keempatnya kini duduk di sofa mewah ruang tamu. Naya duduk di samping Navia sambil memegang lengan Navia membuat Navia sedikit tidak nyaman.
“Mom, dia takkan kabur.” Rodrik mengerti kalau Navia tidak terbiasa akan perlakuan itu.
“Oh, maaf. Mami saking senangnya bertemu dengan calon menantu.” Naya akhirnya melepaskan lengan Navia. “Jadi, kapan kalian menikah?” tanyanya menatap Rodrik.
“Besok,” jawab Rodrik singkat.
“APA?! BESOK?!” Navia dan Naya sama-sama kaget.
Sementara Yaman tampak tenang karena sudah tahu dari penjelasan serta alasan Rodrik.
“Makin cepat makin lebih baik.” Rodrik tak mengatakan kalau mereka akan menikah besok pada Navia.
Navia jadi bengong dibuatnya. Dia mengira kalau pernikahannya itu minggu depan. Ternyata mendadak sekali.
Naya jadi tertawa. “Kau benar, makin cepat makin baik. Akhirnya anak Mami akan segera menikah dan Mami akan mendapat menantu. Jadi teman-teman Mami tidak akan menggosip lagi kalau Rodrik tidak normal.” Ia benar-benar girang. Jenuh dengan ucapan teman-temannya yang mengira Rodrik pria penyuka sesama jenis.
Naya mengerjap baru sadar. “Kalau besok kalian menikah? Bagaimana persiapannya? Jangan bilang kalau kalian hanya akan menikah biasa saja di penghulu?”
“Aku sudah atur semuanya Mom. Dari gedung, catering dan juga semuanya besok sudah siap.” Ucapan Rodrik membuat Navia heran. Orang itu kapan merencanakannya? Seolah dia telah merencanakan semuanya jauh-jauh hari.
Naya tampak berpikir. “Kalau begitu, Mami besok mau pinjam Navia pergi ke butik langganan Mami sebelum acara pernikahan kalian.”
“Memangnya Mami perlu apa? Bukannya Mami punya banyak pakaian Ibu mempelai pengantin?” tanya Yaman heran. Selama ini istrinya itu mengumpulkan banyak sekali gaun dan kebaya Ibu pengantin.
“Sekarang kan beda lagi model yang lagi bombastik. Jadi Mami tak mau ketinggalan dong. Harus yang terbaru dan termodern.” Naya mengutarakan alasannya.
“Kalau begitu, Mami sekalian beliin semua keperluan Navia juga. Dia tadi buru-buru dan hanya membawa satu setel pakaian saja.” Rodrik mengeluarkan dompet lalu mengeluarkan satu kartu ATM black limited. Dia menyodorkan pada Navia.
“Biar semua dari Mami saja,” tolak Naya ingin berbelanja memakai uangnya. Itu kan menantunya juga.
“Dia calon istriku Mom. Jadi sudah kewajibanku untuk membelikan semua kebutuhannya.” Rodrik masih menyodorkan pada Navia.
Navia malah melirik pada Naya dan Yaman.
“Dia benar Navia. Terima saja dan jangan takut, nanti kalian juga akan menjadi suami istri.” Rodrik tahu arti lirikan itu.
Naya malah cemberut. “Nanti uangnya Mami habiskan loh.”
Rodrik malah tersenyum. “Habiskan saja jika kalian mampu.”
“Nyonya, makan malam sudah siap,” kata Bi Rum datang dari dapur.
“Kalau begitu kita makan malam dulu ya. Nanti kita bahas lagi.” Naya mengajak Navia dengan penuh semangat. Selama ini dia hanya punya dua anak lelaki. Satu pendiam dan penurut yaitu Rodrik dan satu lagi bandelnya minta ampun. Jadi ketika bertemu dengan Navia yang manis dan cantik itu membuatnya sangat senang. Seandainya setelah mereka menikah, keduanya akan tinggal bersamanya di rumah itu. Tetapi Rodrik berkata telah membuka cabang perusahaan serta toko-toko baru tak terlalu jauh dari rumah Navia. Jadi dia akan tinggal di kota itu, yaitu kota Bandung.
Bersambung.