"Dera... jangan ngomong gitu dong. Aku janji, aku bakal berubah. Kasih aku satu kesempatan lagi iya?" Aditya menggenggam kedua tangan Dera dengan erat.
Dera melepaskan genggaman itu pelan-pelan. Pergelangan tangannya masih terasa perih bekas tarikan Aditya tadi. Ada garis merah yang melingkar di sana.
"Lihat ini Dit." Dera mengangkat tangan kanannya ke depan wajah Aditya. "Ini bukan yang pertama. Minggu kemarin kamu bentak aku cuma gara-gara aku pulang telat setengah jam. Kemarin kamu telephone aku belasan kali cuma karena aku enggak angkat sekali. Sekarang kamu hampir berantem sama orang di tempat umum. Besok apa lagi?"
Aditya terdiam. Kedua matanya menatap lantai yang mengkilat. Jeda 10 detik, Aditya mengangkat wajahnya lagi.
"Aku... aku cuma takut kehilangan kamu Der."
"Justru itu yang bikin kamu kehilangan aku." Suara Dera pelan, tapi tiap katanya terdengar jelas.
Aditya terpaku mendengar ucapan Dera. Tubuhnya seolah kaku tak bisa digerakkan. Namun jeda 5 detik, mulutnya kembali bergerak.
"Tapi cowok tadi Der, dia..."
"Genta lagi, Genta lagi!" Dera memotong. "Dit, aku ketemu dia enggak sengaja. Aku enggak janjian, aku enggak nyimpen nomornya. Dia cuma teman lama. Kalau ketemu teman lama aja aku enggak boleh negor, terus aku harus gimana? Jalan sambil nutup mata?"
Aditya membuang muka ke arah lain. Rahangnya mengeras, tapi kali ini dia tidak membalas.
"Itu yang aku maksud dari tadi Dit. Bukan Genta masalahnya. Yang jadi masalah itu, kamu enggak pernah percaya sama aku. Padahal kepercayaan itu pondasinya hubungan. Kalau pondasinya enggak ada, mau ditumpuk cinta setinggi apa pun ya tetap roboh."
"Maksud kamu apa Dera?"
Dera menarik nafas panjang lalu menghempaskannya. Air matanya sudah kering, tinggal bekasnya saja yang menempel di pipi.
"Kita sudahi aja Dit. Aku enggak sanggup lagi."
"Dera jangan...!" Aditya mencoba meraih tangan Dera lagi, tapi Dera menariknya lebih dulu.
"Dit, dengerin aku dulu. Aku enggak benci sama kamu. Kamu itu sahabat aku dari SMA, dan aku enggak pernah nyesel pernah jadi pacar kamu. Tapi kalau diterusin, aku takut nanti aku malah benci sama kamu beneran. Aku enggak mau itu terjadi."
"Jadi kamu mau kita balik jadi temen gitu?" Aditya bertanya dengan suara bergetar.
"Iya, kalau kamu masih mau." Dera tersenyum kecil, senyum yang dipaksakan.
Aditya menunduk. Bahunya naik turun menahan sesuatu yang tak sanggup lagi ditahan. Beberapa orang yang lewat menoleh ke arah mereka, lalu berlalu lagi.
"Aku pulang dulu iya Dit. Kamu hati-hati di jalan." Dera menepuk pundak Aditya sekali, lalu melangkah pergi.
"Dera...!" Aditya memanggil sekali lagi.
Dera berhenti sebentar, tapi tidak menoleh. Kalau sampai dia menoleh dan melihat wajah Aditya sekali lagi, Dera tahu keputusannya bakal goyah. Kakinya kembali melangkah menuju pintu keluar. Sepanjang jalan menuju halte, Dera terus menggigit bibir bawahnya supaya air matanya tidak tumpah lagi di tempat ramai. Angkot yang ditunggu tak kunjung lewat. Dera duduk di bangku halte, memandangi kendaraan yang berlalu lalang tanpa benar-benar melihatnya.
"Kenapa rasanya sesakit ini, padahal aku sendiri yang mutusin," gumam Dera pelan.
***
Sampai di rumah, Dera langsung masuk kamar tanpa menyapa Handoko yang sedang menonton televisi di ruang tengah. Pintu kamar tertutup, "brak", agak keras.
Handoko yang merasa ada yang tidak beres, mematikan televisinya lalu berjalan ke kamar Dera dan mengetuk pintu.
"Dera... kamu enggak papa Nak?"
Tidak ada jawaban. Handoko mengetuk lagi.
"Dera, buka pintunya. Kalau enggak dibuka, Ayah dobrak iya?"
Terdengar suara langkah dari dalam. Pintu terbuka pelan. Mata Dera sembab, hidungnya memerah.
"Ya Allah, kenapa putri Ayah?" Handoko menarik Dera ke pelukannya.
Tangis Dera pecah di d**a ayahnya. Handoko tidak bertanya apa-apa lagi. Dia hanya mengusap kepala Dera pelan-pelan, membiarkan putrinya menumpahkan semuanya dulu. Lima menit berlalu, tangis Dera mulai reda.
"Dera putus sama Aditya Yah," ucap Dera terbata-bata.
Handoko menuntun Dera duduk di kursi ruang tengah. Diambilkannya segelas air putih untuk putrinya.
"Minum dulu, baru cerita."
Dera meneguk air itu sampai setengah gelas. Lalu mengalirlah semua ceritanya, dari sikap Aditya yang mengatur segalanya, telephone yang tak ada habisnya, sampai kejadian di mall tadi siang. Handoko mendengarkan tanpa memotong sepatah kata pun.
"Ayah marah enggak sama Dera?" tanya Dera setelah ceritanya habis.
"Marah kenapa? Kamu enggak salah Nak." Handoko memegang pundak Dera. "Justru Ayah bangga, kamu berani ngomong sebelum semuanya telat. Banyak perempuan di luar sana yang diem aja, dibentak-bentak, dilarang ini itu, tapi tetap bertahan. Alasannya cinta. Padahal cinta itu enggak bikin orang sesak Nak, cinta itu bikin orang lega."
Dera mengangguk pelan.
Handoko terdiam sejenak. Pandangannya menerawang ke arah jendela.
"Dulu Ayah sama ibu kamu juga begitu Nak. Ayah pikir, kalau Ayah atur semuanya, ibu kamu bakal aman, bakal enggak kemana-mana. Ternyata malah sebaliknya. Ayah baru sadar setelah semuanya telat." Suara Handoko terdengar berat.
"Ayah..." Dera memegang tangan ayahnya.
"Makanya Ayah enggak mau kamu ngalamin yang sama. Lebih baik sakit sebentar sekarang, daripada sakit seumur hidup nanti."
"Yang penting kamu jangan simpan dendam sama Aditya. Maafin dia. Bukan buat dia, tapi buat kamu sendiri, biar hati kamu enteng." Handoko menyambung lagi.
"Iya Ayah. Dera dah maafin kok."
"Nah, gitu dong putri Ayah." Handoko mengusap kepala Dera. "Udah, jangan nangis lagi. Nanti mata kamu bengkak, besok pagi ilang deh cantiknya."
"Ih Ayah, becandaan mulu." Dera tertawa kecil di sela sisa tangisnya.
Malam itu Handoko memasak nasi goreng kesukaan Dera, padahal jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Dera makan dengan lahap, ditemani ayahnya yang duduk di seberang meja sambil terus memperhatikan putrinya.
"Pelan-pelan Der, enggak ada yang rebutan," goda Handoko.
"Habisnya enak Yah," jawab Dera dengan mulut penuh.
Handoko hanya geleng-geleng kepala sambil tersenyum.
***
Hari-hari berikutnya tidak mudah bagi Dera. Ponselnya terus berdering, nama Aditya muncul berkali-kali di layar. Awalnya Dera masih mengangkat.
"Der, aku cuma pengin denger suara kamu."
"Dit, kita dah sepakat kan? Jangan gini terus."
"Sebentar aja Der, satu menit."
"Dit... aku dah maafin kamu, sungguh. Tapi maaf itu bukan berarti kita balikan. Tolong ngerti."
Sambungan pun terputus dari pihak Dera.
Minggu pertama, Aditya menghubungi hampir tiap jam. Minggu kedua mulai berkurang. Minggu ketiga, ponsel Dera benar-benar sepi. Aditya seperti hilang ditelan bumi.
Anehnya, sepi itu malah bikin dada Dera terasa kosong. Beberapa kali Dera membuka daftar panggilan, menatap nama Aditya lama-lama, lalu menutupnya lagi tanpa menekan apa pun.
"Enggak boleh Dera, kamu enggak boleh lemah," Dera berbisik pada dirinya sendiri.
Pernah satu malam Dera sudah menekan nama Aditya di layar ponselnya. Jarinya menggantung di atas tombol panggil, lama sekali. Nada dering belum sempat berbunyi, Dera buru-buru membatalkannya lalu melempar ponsel itu ke ujung tempat tidur.
"Buat apa Dera? Biar diatur-atur lagi? Biar dibentak lagi?" Dera memarahi dirinya sendiri sambil menutup wajahnya dengan bantal.
Malam itu Dera tidak bisa tidur sampai jam dua pagi.
Perlahan Dera mulai membuka pintu dunianya lagi. Dera kembali kumpul dengan teman-temannya, nonton, sekedar makan bakso di pinggir jalan, atau ngobrol ngalor ngidul sampai malam tanpa ada yang menghitung menitnya. Genta pun sempat menghubungi Dera, meminta maaf sekali lagi atas kejadian di mall waktu itu.
"Enggak papa Gen, itu bukan salah kamu kok," jawab Dera.
"Terus kamu sama cowok itu gimana Der?"
"Udah enggak ada apa-apa. Kita udah putus."
"Waduh, gara-gara aku ya?" Genta terdengar merasa bersalah.
"Enggak Gen, sungguh. Masalahnya udah numpuk dari lama, kejadian di mall itu cuma penutupnya aja." Dera menjelaskan.
Sambungan itu ditutup dengan tawa kecil dari keduanya. Dera merasa lega, ternyata ada rasa bebas yang selama ini dia rindukan. Bisa mengangkat telephone dari siapa saja tanpa harus takut ada yang cemberut di sebelahnya.
Sore-sore Dera kembali menyirami bunga di halaman depan seperti dulu. Bunga-bunga yang sempat terbengkalai beberapa minggu, kini mulai bermekaran lagi. Handoko yang melihat dari teras hanya tersenyum. Putrinya sudah kembali seperti Dera yang dia kenal.
"Kayaknya bunga-bunga itu kangen sama kamu Der," goda Handoko.
"Bukan bunganya Yah, Dera yang kangen sama bunganya." Dera tertawa lepas.
Tawa itu sudah lama tidak terdengar di rumah kecil mereka.
***
Sudah hampir sebulan paska Dera memutuskan hubungannya dengan Aditya. Sore itu Dera baru saja selesai menyiram bunga. Selang air digulungnya rapi lalu disimpan di sudut teras. Langit di ujung barat mulai berwarna jingga.
Dera masuk ke dalam rumah, mencuci tangan, lalu duduk di kursi ruang tengah. Handoko belum pulang dari kantor. Dera meraih ponselnya, membuka galeri, dan tanpa sengaja menemukan foto lama dirinya bersama Aditya di layar. Jari Dera berhenti di situ cukup lama.
"Ah... ngapain sih dilihat-lihat lagi." Dera menaruh ponselnya terbalik di atas meja.
Belum sempat Dera beranjak, terdengar suara dari arah depan.
"Tok... tok... tok."
Dera mengerutkan dahi. Jam segini biasanya tidak ada tamu. Dera bangkit dari kursinya, merapikan rambut yang terurai, lalu berjalan menuju pintu depan.
"Sebentar...!" sahut Dera sambil memutar kunci pintu.
Daun pintu terbuka perlahan. Angin sore masuk lebih dulu, menerbangkan ujung rambut Dera yang terurai.