Alex sampai di rumahnya. Maggie menyambut kedatangan Alex, putranya dengan raut wajah mengeras. Bagaimana tidak? Desas desus putranya yang jatuh cinta pada manusia sudah menyebar seantero bangsa vampir.
"Bagaimana bisa kau membuat nama klan vampir merah buruk, Alex?" tanya Maggie dingin.
Alex hanya menoleh sekilas pada ibunya. Pria itu segera pergi menuju kamarnya. Maggie dengan cepat berpindah tempat. Wanita itu menahan lengan putranya. Alex mencoba menepis tangan ibunya. Tapi Maggie mencengkram tangannya dengan erat.
"Kalau sampai ayahmu tahu kabar ini, dia pasti akan membuatkan peti mati untukmu, Alex. Aku tidak main-main tentang ini. Ibu peringatkan kau sekali lagi agar ...."
"Aku tidak akan menjauhinya." potong Alex cepat.
"Vampire merah membunuh manusia setiap tahunnya. Manusia adalah makanan kita. Kau mencintai sesuatu yang menjadi santapan kita?" Maggie mencemooh putranya. Tapi di balik itu, dia mengkhawatirkan keselamatan Alex jika petinggi vampire merah marah padanya.
Alex memutar bola matanya malas. Dia menatap ibunya yang sudah dua ribu tahun tidak pernah menua. Sekarang ibunya memakai make up yang diproduksi oleh salah satu artis terkenal di NY. Seratus tahun yang lalu, ibunya juga memakai pakaian abad awal-19. Wanita itu selalu cantik dan mengikuti tren.
"Berhentilah mengkhawatirkanku. Aku bukan anak kecil lagi." Alex berkata dengan bosan.
Maggie memelototkan matanya. Menganggap putranya telah berlaku kurang ajar. Dalam seribu sembilan ratus sembilan puluh lima tahun, Alex memang sudah jutaan kali berlaku kurang ajar. Maggie sebagai seorang ibu juga akan menasihatinya jutaan kali. Begitulah seorang ibu. Bahkan ketika dia berubah wujud, cintanya pada putranya tidak akan berubah.
"Kau anak kecil di mataku, Alex. Selamanya akan begitu." tekan Maggie.
Alex mendesah. "Usiaku hampir dua ribu tahun dan kau bilang aku masih anak kecil? Bu, bahkan aku lebih tahu kehidupan daripada profesor Johny yang tua bangka."
Maggie lagi-lagi memelototkan matanya. Wanita itu tidak dapat menerima setiap kali Alex mendapat kosakata baru yang lebih kasar. Ketidaksukaan Maggie pada kosakata baru Alex sama besarnya dengan kesukannya akan mode terbaru.
****
Bangsa vampir terbagi menjadi dua klan. Klan vampir merah dan klan vampir hitam. Sesungguhnya, klan vampir hitamlah yang mendominasi karena jumlah mereka yang lebih banyak di bandingkan klan vampir merah. Namun, vampir merah menduduki kekuasan yang lebih tinggi dari vampir hitam. Mereka terhomat. Meminum darah orang-orang terpilih selama satu tahun sekali. Tidak seperti klan vampir hitam yang selalu haus darah bahkan meminum darah dari bangkai tikus.
Sebenarnya vampir memiliki peraturan agar salah satu dari mereka tidak menikahi manusia. Anak campuran dari vampir dan manusia, menurut ramalan akan menjadi pemberontak dan membunuh bangsa vampir. Ini seperti bomerang. Sebab itulah Alex menjadi perbincangan karena telah jatuh cinta dengan Lily. Seorang manusia.
Malam itu Lily tidak bisa tidur di kamarnya. Gadis itu meringkuk di dalam selimut dengan ketakutan. Peristiwa tadi siang masih terbayang di ingatannya. Lily tidak menyangka kalau dirinya selama ini diawasi seseorang. Gadis itu melihat ke arah jendela kayu di kamarnya yang tidak pernah diperbaiki. Engselnya sudah rusak dan harus disangga dengan sebilah kayu kecil sebagai kunci. Jendela yang sangat rentan untuk dibobol dari luar. Lily pernah memintanya agar diperbaiki pada bibi Elizabeth. Tapi wanita itu hanya menggerutu. "Kau selalu memghabiskan uangku untuk hal yang tidak berguna, monster. Kali ini aku tidak akan mengabulkannya. Memangnya kau pikir uang datang dari langit?"
Lily tidur di atas loteng di rumah bibi Elizabeth. Atapnya di penuhi lubang-lubang kecil. Jika malam sedang cerah, Lily dapat melihat bintang-bintang dari dalam kamarnya.
Tiba-tiba sesuatu terlihat melintasi atap kamar Lily. Gadis itu segera meringkuk ke dalam selimutnya.
Jendela Lily berderit. Seperti dibuka oleh seseorang. 'Pasti penculik itu.' batin Lily.
Lily Starr bukan seorang pengecut. Ini kamarnya. Dia harus menghadapi siapapun yang berani mengusik tempat tinggalnya. Jika dia berteriak sedikit saja, bibi Elizabeth pasti akan datang dan membereskan semuanya.
Lily membuka selimut dan melihat siapa yang mencoba membuka jendela kamarnya. Astaga! Seorang pria sedang berdiri di depan ranjang Lily Starr sekarang.
Lily membuka mulutnya untuk berteriak. Pria itu segera menyekap mulutnya.
"Tahan suaramu manis. Atau sesuatu yang tajam akan menancap di lehermu dengan rasa sakit yang tidak terbayangkan," bisik pria itu di telinga Lily. Nada suaranya penuh ancaman. Lily juga merasa kalau tangan pria itu sedingin es.
Brak! Seseorang sudah berada di jendela Lily. Lily memejamkan matanya. Apa yang akan terjadi padanya jika dua orang pria merangsek masuk ke dalam kamarnya? Gadis itu diam-diam meneteskan air mata. Bibi Elizabeth pasti tidak bisa menyelesaikan masalah dengan dua orang pria ini. Pikir Lily. Habislah riwayatnya.
"Lepaskan dia atau aku akan menyerangmu, Max!" sebuah suara yang familiar terdengar di telinga Lily. Gadis itu membuka matanya. Tunggu, bukankah pria itu yang menyelamatkannya di hutan tadi siang? Orang yang tahu namanya dan pasti menguntitnya?
"Tidak! Aku ingin menghabisi gadis kecil ini sekarang. Kau tahu, aku tidak bisa menahan diri lagi." Max, pria yang menyekap mulut Lily dan mengunci tubuhnya membantah perintah Alex. Suaranya serak seperti srigala yang baru selesai menyantap daging segar.
"Kau tidak takut padaku? Kuasaku jauh di atas kau, Max. Kau akan kalah!" Alex mendesis. Tapi sebisa mungkin menahan taringnya.
"Kau menahan diri untuk tidak memperlihatkan wujudmu pada gadis kecil ini, heh?" ejek Max pada Alex. Max menyeringai. Sengaja menampilkan taring-taringnya yang tajam.
Alex yang berang langsung menerkam Max. Mereka berkelahi di kamar Lily tepat di hadapannya. Bukan berkelahi dengan pukulan. Mereka saling mendesis satu sama lain. Tepat ketika Max, pria yang tadi menyandera Lily menolehkan wajahnya ke arah Lily, dia tersenyum dan menampilkan taring-taringnya.
Alex langsung menerjang Max. Mereka berdua jatuh dari jendela di loteng kamar Lily. Lily segera mengejar untuk melihat mereka. Tapi di bawah jendela kamarnya kosong. Tidak ada apa-apa.
Lily segera menutup jendelanya. Tapi tangannya kalah cepat ketika Max kembali dan menyeringai. Sebelum Lily sempat berteriak, sebuah pukulan mendarat di leher gadis itu. Dia pingsan.
***
Lily terbangun dengan nafas ngos-ngosan. Gadis itu merasa lega kalau dia tadi malam hanya bermimpi buruk. Mimpi tadi malam terlalu menyeramkan untuk menjadi kenyataan. Orang baru yang di kenalnya kemarin sangat menakutkan sampai-sampai terbawa ke dalam mimpi.
Lily tertegun ketika dia mencoba membuka jendela. Kayu kecil penyangga jendelanya hilang. Jendelanya bahkan tidak terkunci dari dalam. Lily menyadari satu hal. Dia tidak bermimpi tadi malam. Semuanya benar-benar nyata.
"Apakah vampir itu ada?"