Zraak ... !
Suara tebasan pedang mengenai tangan kanan Raizer.
"Ukh ..., tunggu, tunggu, " Raizer mencoba menghentikan serangan dari saudara laki-lakinya yang bernama Ansel.
"Sudah cukup. Aku tak mau lagi berlatih." Raizer kembali berceloteh.
"Kenapa? Apa kau sudah menyerah?" ucap Ansel dengan semangat yang masih menggebu-gebu.
"Istirahatlah sebentar saja, Kak. Aku sangat lelah." Raizer kemudian duduk di sebuah kursi yang diukir sangat indah. Ukiran itu dilapisi dengan emas 24 karat yang berkilauan.
Beberapa pelayan wanita mulai membawakan handuk kering dan beberapa minuman segar dengan berbagai rasa. Tak lupa buah-buahan yang dibawa dengan nampan oleh pelayan itu ke hadapan Raizer.
"Kau tidak akan mengalami kemajuan kalau begini terus." Ansel berjalan mengikuti Raizer yang sudah terlebih dulu duduk sembari meneguk minuman segar.
"Aku tak peduli. Berikan saja nilai bagus untukku," Raizer mendelik. "Kalau tidak, aku akan bicara pada Nenek bahwa kau bolos dalam kelas sejarah," ancam Raizer.
Ansel terdiam, perkataan Raizer sungguh kekanak-kanakkan. Tapi, trik itu rupanya berhasil pada Ansel, dia seperti takut bila neneknya tahu masalah ini.
"Kau ... "
Ansel tiba-tiba berhenti berkata saat melihat Selir Fang Yin berjalan didampingi beberapa orang pelayan di belakangnya.
"Ibu!" panggil Raizer manja.
Selir Fang Yin tersenyum saat melihat Raizer dengan wajah yang merah di bawah teriknya sinar matahari siang ini.
Para pengawal dan pelayan istana membungkuk tatakala melihat Selir Fang Yin menghampiri Raizer dan Ansel.
"Apa yang Pangeran lakukan? Mengapa berlatih di saat cuaca sedang terik?" ucap wanita cantik dengan mata indah bernama Fang Yin.
Selir Fang Yin adalah ibunda dari Ansel, sekaligus ibu tiri dari Raizer. Selir Fang Yin adalah putri dari Kerajaan Mazzari yang telah dikalahkan oleh Raja Wayner Adelard dari Kerajaan Lagarde, yaitu kakek dari Raizer.
"Maafkan aku, Ibunda. Aku yang mengajak Raizer untuk berlatih," ucap Ansel sembari menundukkan kepalanya.
"Lain kali, kau harus lebih berhati-hati. Pangeran bisa sakit akibat terkena sinar matahari yag sangat terik." Selir Fang Yin kemudian mengelus pipi Raizer yang terlihat memerah. "Pangeran, untuk kedepannya, Anda tidak perlu menuruti semua perkataan Ansel."
Raizer mengangguk, rupanya dia sangat senang mendengar Selir Fang Yin membelanya.
"Kau dengar itu, Kak? Aku boleh tidak berlatih hari ini." Raizer rupanya sangat senang, dia terus tertawa tanpa melihat Ansel yang terlihat kesal melihat Selir Fang Yin terlalu memanjakan Raizer.
***
Dua minggu kemudian, saat ujian ketangkasan menggunakan pedang dimulai. Raizer sangat gugup, betapa tidak, hari ini adalah hari di mana permainan pedangnya akan disaksikan secara langsung oleh Raja Wayner Adelard.
Raja Wayner rupanya menaruh harapan yang sangat besar pada Raizer, keturunannya yang akan menjadi Raja setelahnya.
Dalam pertarungan ini, Raizer akan berhadapan dengan Kesatria Pedang yang hebat. Pertandingan ini adalah ujian akhir dari pelatihan pedang yang Raizer lakukan selama 3 tahun.
Saat gong pertama kali dibunyikan, Raizer sudah siap dengan pakaian bertanding yang lengkap.
Suasana yang tadinya riuh, berubah menjadi sangat hening saat Raja Wayner mulai memasuki arena pertandingan.
Setelah Raja memberikan beberapa kata sambutan, terompet pun dibunyikan, pertanda bahwa permainan akan segera dimulai.
Seorang pemuda bertubuh kekar telah memasuki arena bertarung dengan membawa sebuah pedang di genggamannya.
Di susul oleh Raizer yang perlahan menaiki anak tangga menuju arena pertandingan. Raizer tampak gugup, keringat terus mengalir saat dia mulai menghunus pedangnya. Pedang yang dipakai Raizer dilapisi dengan emas yang berkilauan, beberapa batu berlian menghiasi sisi pedang seperti mata yang bersinar.
Para tamu undangan dan semua anggota Kerajaan terlihat sangat antusias. Mereka tak sabar ingin menyaksikan Raizer bertanding melawan Kesatria Pedang yang sangat terkenal seantero Kerajaan. Saat wasit mulai memasuki arena, semua mata tertuju pada Raizer yang masih sangat muda. Dia terlihat begitu hebat dengan pakaian bak kesatria walaupun usianya masih empat belas tahun.
Permainan pun dimulai, suara tepuk tangan yang bergemuruh terdengar memenuhi arena pertandingan. Ansel yang berdiri di sebuah tenda yang khusus didirikan untuk anggota Kerajaan terlihat sangat khawatir pada Raizer. Betapa tidak, Raizer belum sepenuhnya siap dengan pertandingan ini. Dia tampak gugup dan sangat ketakutan. Raizer terlihat memaksakan diri untuk memuaskan keinginan dari sang kakek, yaitu Raja Wayner.
Raizer dan Kesatria Pedang itu membungkuk tanda perhormatan untuk lawan. Mereka kemudian menghunus pedang, dan mulai menyerang satu sama lain.
Swoosh ... ! Tebasan pertama Raizer meleset, dia terlalu lemah dalam mengayunkan pedangnya.
Terdengar beberapa orang mulai bersorak.
Sama halnya dengan Raja, semua anggota Kerajaan sangat antusias dengan pertandingan ini,. Walaupun ini hanya latihan, tapi, mereka sangat berharap Raizer mampu mengalahkan lawan yang bahkan tak sepadan dengan dirinya.
Beberapa kali Raizer mengayunkan pedangnya, tak satu pun dapat mengenai lawannya.
Kesatria Pedang yang tadinya hanya bertahan, kini mulai menyerang. Dia menyerang Raizer tanpa ampun seperti yang diperintahkan kepadanya. Kesatria itu tak boleh mengalah, walau pada Pangeran sekali pun.
Raizer tampak letih, nafasnya kini tak karuan. Dia hanya menghindar, tak tahu cara menyerang. Raizer akhirnya tumbang, dia tak dapat menahan lagi serangan dari lawannya yang sangat tangguh.
"Apa yang kau lakukan Raizer, cepat bangun," gumam Ansel.
Raizer tampak sudah tak bertenanga untuk berdiri, semua orang terlihat sangat khawatir dengan Raizer.
Akhirnya, permainan pun terpaksa dihentikan, Raizer masih telentang dengan keringat yang terus mengalir dari pelipisnya. Anak yang malang itu kini telah dipermalukan di hadapan semua anggota Kerajaan.
Raja Wayner bangkit dari tempat duduknya dan berlalu pergi dari arena pertandingan dengan wajah yang marah. Raja Wayner terlihat sangat kecewa dengan Raizer yang ternyata sangat lemah dalam menggunakan pedang.
***
Malam harinya di kediaman Ratu Heera. Raizer terlihat berjalan menuju pintu utama. Ditemani beberapa pelayan, dia terlihat memainkan jari-jarinya saat merasa gugup.
"Ratu Heera, Pangeran Raizer, sudah tiba," ucap seorang kasim yang menunggu di depan pintu.
Kemudian, seorang pelayan membukakan pintu sambil membungkuk dihadapan Raizer. Raizer masuk seorang diri, dia semakin gugup.
Ratu Heera tengah berbaring di sebuah kursi panjang berbahan beludru, dia tampak memejamkan matanya.
"Nenek, aku sudah datang," ucap Raizer.
Ratu Heera perlahan membuka matanya, menatap Raizer dengan lembut, "Mendekatlah, Raizer," pinta Ratu Heera.
Raizer segera berjalan mendekat. Dengan sopan, dia terus menunduk dihadapan Ratu Heera.
"Kemarilah," Ratu Heera melambaikan tangan. "Duduklah bersamaku."