Dear Ollie,
Maafkan akan aku yang tidak sanggup memandang wajah mu dan mengucapkan selamat tinggal.
Aku sungguh besyukur, bahwa kau hadir dalam hidup ku di saat masa terpurukku.
Melihat masa depan mu yang masih panjang, aku tidak berani mengambil bagian dalam hidupmu, menjadi bebanmu.
Satu hari bersamamu adalah bahagiaku. Kau bawa kembali diriku, cita-citaku dan harapanku.
Maafkan aku yang pengecut ini Ollie, yang tidak berani menghadapi dunia untuk kita berdua.
Andaikan takdir pada akhirnya dapat menyatukan kita kembali, mungkin dikehidupan lain.
Terima kasih Ollie, mungkin tanpa kau sadari kau telah memberikan keberanian untukku.
Aku berharap yang terbaik untukmu.
With Love,
Emma.
Pesan dari Emma yang Oliver terima diminggu malam melalui e-mail. Membuat hatinya semakin hancur.
Oliver berusaha menghubungi Emma melalui ponselnya, berkali-kali ia mencoba untuk menelepon dan mengirim pesan, namun semua sia-sia.
Hanya berharap pagi segera tiba, dan ia ingin mencari informasi apa yang terjadi pada Emma di sekolah.
*Where are you!*
Sesampainya Oliver di sekolah, dicariinya Emma kepenjuru ruangan namun tetap Oliver tidak menemukannya.
"Oliver, apa kau lihat Miss Emma? Ada yang ingin kubahas mengenai acara prom night" tanya Sora, ketika bertemu dengan Oliver.
"No" jawab Oliver, sembari mengangkat bahu. Oliver berusaha menyembunyikan Perasaan galaunya, bahkan ketika Sora bertanya mengenai Emma.
Kemana Emma, bahkan sampai Sora pun tidak dapat menemukannya.
Batin Oliver, kembali berkecamuk gelisah.
Karena masa ujian telah berakhir, Principle meminta para murid berkumpul di auditorium. Oliver berharap dapat menemukannya Emma disana, karena semua guru dan murid berkumpul.
Oliver memeriksa layaknya Polisi, matanya men-skrining setiap sudut berharap menemukannya Emma, telinganya seakan tuli tidak lagi mendengar apa yang Disampaikan oleh Principle, otak berfokus pada matanya. Hingga pada saat terdengar,
"... Dengan berat hati saya sampaikan kepada kalian, pesan dari Miss Emma yang tidak dapat bergabung dengan kita. Beliau meminta maaf tidak dapat menyampaikan secara pribadi untuk perpisahan akhir tahun ajaran ini, dikarenakan Beliau sedang menumpuh beasiswa S2 yang dimana pemberitahuan secara mendadak dari pihak sponsor... " pidato Principle, yang tak lagi di dengar oleh Oliver begitu ia tau bahwa Emma sudah pergi.
Oliver hanya terdiam dan menunduk kepala seakan berusaha menutupi raut wajahnya, dan Sora melihat Oliver, memeriksa raut wajahnya berharap dapat menemukan jawaban.
Apakah ada kaitannya dengan kejadian perilaku aneh mereka, dua kali ku dapati mereka berbicara begitu serius. Hari ini Miss Emma seolah-olah menghilang.
Batin Sora mengevaluasi semua kemungkinan.
Oliver menyadari dari sudut matanya, bahwa seseorang sedang mengamatinya. Lalu ia menenggok sebelah kanannya barisan kursi bawah, ia menoleh didapatinya Sora sedang memandangnya, Oliver hanya mengangkat bahu dan tersenyum seolah meyakinkan Sora bahwa Iya tidak tau apapun. Sora pun hanya membalas dengan angkat bahu.
Ketika murid-murid dibubarkan dari auditorium...
"Oliver.. Oliver.." teriak Sora
Oliver berbalik dan menunggu Sora untuk menghampirinya.
"kau tau kemana Miss Emma?" tanya Sora.
"Nope" jawab Oliver.
Sora menyelidiki raut wajah Oliver dengan menyipitkan matanya yang besar bulat.
"Sora!" pekik Oliver, membuat Sora sedikit terperanjat.
"Apakah kau sudah persiapkan rencana kita untuk Bazaar sabtu nanti? Kapan kita bisa berkumpul untuk mengkoordinasi apa saja yang kita butuhkan, Konsep apa yang akan kita usung. Ingat, ini sebagai salah satu kualifikasi kita untuk Uni yang kita tuju dan hanya tinggal beberapa bulan saja sampai pada due date keputusan kita" jelas Oliver, berharap fokus Sora teralihkan.
"Ok, Ok. Aku segera mengkoordinasi dengan Anna, Finn dan Alex apakah mereka tetap pada rencana ini, fee kesertaan kita sudah dibayarkan ku harap mereka tidak berubah pikiran. Setelah pulang sekolah coffee shop langganan kita?" Sora bersemangat.
"Ok, sampai nanti. Aku akan mempersiapkan proposal untuk kita bahas" jawab Oliver
"Apakah kita akan pergi bersama satu mobil, menghemat bensin. Sustainable, right!" ucap Sora sambil mengangkat alis menyakinkan bahwa ia masih dalam rencana mereka.
"sure" jawab Oliver sambil tersenyum.
Oliver lega bahwa ia berhasil mengalihkan fokus Sora, agar ia tidak lagi berusaha mencari-cari sesuatu yang disembunyikan Oliver mengenai Emma.
Hatinya masih tak menentu oleh ketidak pastiaan keberadaan Emma, namun ia hanya berharap Emma dapat memberikan penjelasan dalam beberapa hari nanti, sekarang yang hanya ia bisa lakukan adalah memberikan Emma waktu dan ruang.
Oliver berusaha memfokuskan pikirannya kepada bazzar nanti bersama Sora, Finn, Anna dan Alex.
Nyaris setiap malam tangan Oliver terasa gatal hingga ini mengirim pesan kepada Emma, memberondongnya dengan segala pertanyaan yang mengganjal di hatinya.
Emma
Ketik Oliver, klik
Send
*Welcome Ohio*
Waktu berlalu masih belum ada kabar dari Emma, entah kemana lagi Oliver harus mencari.
Oliver pada akhirnya memutuskan untuk mengambil double degree ia berharap dengan kesibukannya dapat melepaskannya dari rasa resah dihatinya sedikit berharap mungkin dengan major yang dipilih dapat mempertemukan kembali dengan Emma.
"Oll, sudah siap berangkat?" tanya Ayah Oliver.
"ya Dad"
"pastikan tidak ada barang yang tertinggal." tambah Ibu Oliver.
"Ok, wait" jawab Oliver
"Ok, semua sudah siap"
Persiapan Oliver untuk masuk University Ohio, Amerika serikat sudah matang, ia hanya berharap membuka lembaran baru. Kisahnya dengan Emma sebagai kenangan manis yang tetap mengganti Oliver.
Sesampainya di airport, orang tua Oliver memberikan nasehat dengan panjang lebarnya meningkatkan anak semata wayang yang segera berangkat menyebrangi benua untuk petualangan masa depan nya.
"anakku sayang, jaga dirimu baik-baik. Call us bila ada sesuatu yang penting, jangan kau tutupi tidak memberitahu kami Nak" ucap sang Ibu yang berat merelakan Oliver pergi.
"jaga dirimu Oll, ingat jangan bikin malu keluarga. Fokus pada pendidikanmu, bekal masa depan" ucap sang Ayah yang masih berusaha tenang melepas Oliver.
"ya Dad, Mom. Aku akan berusaha yang terbaik" jawab Oliver, kemudian megecup pipi Ayah dan Ibu nya. Kemudian berlalu menuju counter check in.
Sesampainya di Campus, dengan hiruk pikuk mahasiswa baru dan para senior yang mengarahkan, Oliver menghela napas panjang
"Ok, this is it."
Sambil memantapkan hati, Oliver mengangkat koper dan tas.
BUUUK!!!
"Hey, sorry mate" ucap seorang pemuda yang menabrak Oliver, perawakan tinggi 180cm, gempal dan wajah Asia. asik bergurau dengan temannya, kemudian ia berlalu meninggalkan Oliver.
"yeah awal yang baik" batin Oliver dengan sakarsme, sambil membereskan bawaannya yang jatuh.
semasa kuliahnya Oliver menghabiskan waktunya dengan memfokuskan diri kepada setiap project yang diberikan pada mata kuliahnya, juga karena ia belum menemukan teman yang cocok sebagai sahabatnya.
hingga suatu malam setelah ia menghabiskan waktu yang panjang berada diperpustakaan mahasiswa, langit sudah gelap saat Oliver ingin kembali ke dome,
BUUUUUK!!!
seseorang menabrak Oliver, ketika ia bergegas menuruni tangga dan berjalan disisi side walk
"INDONESIA MERAH DARAHKU, PUTIH TULANGKU
BERBAU... BAU... no, no, no.
HEHEHE" dilatunannya lagu kebangsaan Indonesia dengan mabuk oleh Maxi. Maximilian Reinaldi.
"Damn, orang Indonesia juga kau. get up man." ucap Oliver kepada Maxi.
"Hey, bukankah kau yang menabrakku tempo hari?" tanya Oliver kepada Maxi yang belum sadar dari mabuknya.
"Heee...?!" Maxi meracau tidak jelas karena kesadarannya yang hilang oleh alkohol.
"Hey man, dimana dome mu?!" ditamparnya pipi Maxi berkali-kali untuk mengembalikan kesadarannya, sekaligus balas dendam Oliver karena sudah dua kali Maxi menabraknya.
"Ohh, sudah pulang yah. mana Daddy.. Daaaad..., mana isteri cantikmu, hehehhehe" kelakar Maxi kepada Oliver, yang tidak menejawab pertanyaan Oliver.
" Oh Man, sial sekali aku bertemu denganmu! hey Mate, aku tidak tau dimana dome mu, ku tinggalkan kau disini, sampai security menemukanmu Ok, just stay here!" ucap Oliver kepada Maxi dengan keras, berharap Maxi mengerti apa yang ia sampaikan.
"Noooooo.... take me home baby" sambil memegang kaki Oliver, dan dilihat oleh beberapa mahasiswa yang lewat sambil tertawa.
"Stop it" Oliver mengibaskan kakinya berharap Maxi lepaskan genggamannya.
"Ok Mate, aku hanya bisa membawamu ke dome ku" kata Oliver sambil mengangkat tangan Maxi bersandar kebahunya.
sepanjang jalan menuju dome, Maxi meracau menceritakan asal usulnya.
ayahnya yang adalah seorang pengusaha sangat sukses skala internasional bahkan banyak proyek berurusan dengan pemerintah dan para pejabat.
Ibu Maxi sudah meninggal karena kanker ketika Maxi berusia 12 tahun, kedekatannya dengan Ibunya adalah pelipur lara kesibukan Ayah Maxi. Ibunya yang merupakan seorang yang membawa keramaian dirumahnya yang besar dengan dua adiknya. setelah kematian Ibunya Ayah Maxi menikah dengan wanita muda dan cantik, Ibu tiri Maxi adalah wanita baik, hanya saja Maxi tidak bisa melihat sosok keibuan dari isteri kedua Ayahnya. Maxi tidak mempermasalahkan Ayahnya yang menikah lagi, yang menjadi masalah adalah mangapa begitu cepat Ayahnya mengikat janji pernikahan, bahkan airmata belum mengering dipipi Maxi meratapi kepergian Ibunya.
Oliver menyelinap masuk kedalam kamarnya dengan menopang Maxi pada bahunya.
"Sial kau, tidur dibawah sana" ucap Oliver sambil menyelimuti Maxi.
"Great night hah!" ucap teman sekamar Oliver sambil menaikkan alisnya dengan nakal.
"don't ask me, i don't know who is he. " jawab Oliver.
kemudian dipagi harinya, Oliver segera bergegas untuk menghadiri mata kuliah pagi, dan Maxi masih tertidur dilantai dengan tidak sabar Oliver mengambil botol air dan menyiramnya kewajah Maxi.
"get up man!" ucap Oliver.
"ooooh.... arrrgh, my back hurt" Maxi terbangun.
"where am i?" tanya Maxi.
"semalam kau mabuk, menabrakku, dan memeluk kaki ku seperti anak anjing. aku hampir telat untuk kelas pagi, ku tinggalkan kau, ku harap tidak ada barang yang hilang dari kamarku" ucap Oliver sambil membereskan barang bawaannya.
"ahh, Indonesian... Maxi" tangan Maxi terulur untuk menjabat tangan Oliver.
"Oliver"
"Thanks Mate" ucap Maxi.
Ia kemudian berfikir kembali, darimana ia tau aku juga Indonesian
Batin Maxi.
Oliver berlalu dan menutup pintu meninggalkan Maxi dikamarnya, sedangkan teman sekamar Oliver sudah pergi lebih awal. Maxi masih mengumpulkan sisa memori semalam, yang ia tau hanyalah saat ia bersenang-senang mentraktir teman-temannya di pub. sekeras apapun ia berusaha mengingatnya tetap saja blank diotaknya. Maxi bergegas meninggalkan kamar Oliver, dibukanya dompet Maxi,
ehm, tidak ada yang hilang
ditaruhnya beberapa lembar uang cash di meja Oliver ditaruhnya dibawah buku Oliver. Bagi Maxi uang dapat menyelesaikan segala perkara, apabila ada masalah yang dapat diselesaikan dengan uang maka itu bukanlah masalah.
ketika Oliver kembali kekamarnya, Maxi sudah tidak ada
ku harap tidak bertemu lagi
dan ketika memeriksa meja mengingat tidak ada barang yang hilang dan didapati beberapa lembar cash, ia mencoba mengingat bahwa tidak pernah meninggalkan uang dimeja dibawah buku dan yang pasti tidak sebanyak lima ratus dollar.
ehmm... siapa namanya
Oliver berusaha mengingatnya.
ehm... ahhh Maxi,
Dasar anak orang kaya manja.
disimpannya cash lima ratus dollar tersebut, berharap bertemu lagi dengan Maxi dan mengembalikkannya.
Oliver membuka laptopnya dan memfokuskan akan tugasnya, lalu teringat
Emma...
ketik Oliver, klik
Send
Dalam beberapa hari berlalu Oliver tidak mendapati Maxi, ditaruhnya cash dollar dalam dompetnya masih dengan seri yang sama yang Maxi tinggalkan.
Hingga pada musim panas liburan mahasiswa, dikeramaian Oliver melihat sosok Maxi.
"Yoo, Maxi" suara Oliver dengan lantang, hingga beberapa orang didekatnya menoleh, dan ia berlari menghampiri Maxi
Maxi berbalik,
"Oliver, right?"
" Thanks Man, for the last time" ucap Maxi.
" I guess this i belong to you " ucap Oliver sambil mengeluarkan uang cash dari dompetnya.
Maxi terkejut, Oliver memanggilnya hanya untuk mengembalikan uang yang bahkan sudah ia lupakan,
" No, sengaja ku tinggalkan untukmu karena telah menolong ku, sudah bagus semua masih lengkap ditubuh. Indonesian, right?" Ucap Maxi memastikan.
" No, No, Man. ini punyamu" disodorkannya uang cash tersebut kepada Maxi.
" well Ok, aku traktir kau tanda terima kasihku. ayoo, gabung dengan temanku" ucap Maxi.
" No, Thank you, man"
" come on " Maxi langsung merangkul Oliver dan berjalan bersama.
kemudian mereka sampai ke sebuah pub
menghabiskan berbotol-botol bir dan beberapa sloki alkohol
Oliver belum pernah menyicipi alkohol, dan ia memulai dengan satu sloki tequila segera rasa hangat menjalar seluruh tubuhnya, musim panas dengan tequila sepertinya bukan hal yang cocok satu sama lain bagi Oliver. ketika Maxi membelikan Oliver satu botol bir dingin, Oliver hanya bisa memegangnya lalu kemudian diberikan kepada teman Maxi yang ia tidak tau siapa, karena terlalu banyak orang yang memanfaatkan sikap royal Maxi yang mentraktir mereka, dan bagi mereka hanya bersenang-senang seolah Maxi sedang membeli sebuah kesenangannya bagi dirinya.
Lalu Oliver melihat Maxi meminum satu botol bir sekali teguk langsung dihabiskannya, dan orang-orang berteriak dengan senangnya.
" kuharap kau tidak mabuk sampai tidak sadarkan diri, jangan sampai aku mengurusmu lagi " teriak Oliver dikuping Maxi, karena suara musik yang begitu kencang.
" listen, one shot for my new buddy " teriak Maxi sambil merangkul Oliver, mendapat perhatian bartender dan memberikan satu sloki tequila kepada Maxi, dan Maxi mengopernya kepada Oliver. ketika Oliver menolak, ia mendapat teriakan dari teman-teman Maxi.
" Huuuuuuu.... "
suara riuh membuat Oliver akhirnya menerima gelas sloki tersebut, dan mereka bersama menaikan minuman mereka. Oliver berpura-pura meminumnya namun ia membuangnya kebelakang mengenai entah siapa, yang sepertinya sudah mabuk dan ia menyangka hujan turun didalam pub sambil mendongak keatas dan menutup kepalanya dengan tangan seolah berlindung dari air yang turun dari langit-langit ceiling.
Oliver menghabiskannya malam itu dengan bersenang-senang bergoyang dan tidak tau berapa banyak bir yang dioper dan berapa sloki alkohol yang ia buang dengan berpura-pura meminumnya. Seperti perkiraan Oliver, ia akan mengurus Maxi yang mabuk tidak sadarkan diri. Oliver kembali memapah Maxi kembali ke dome, karena ia masih blom tau dimana Maxi tinggal. teman sekamar Oliver sudah pergi untuk liburan bersama teman se-group-nya, dilemparnya Maxi diranjang teman sekamar Oliver dan berharap Maxi tidak muntah diranjang.
Pagi harinya Oliver meninggalkan Maxi dikamar dan ia keluar untuk melakukan jogging yang ia biasa rutin lakukan bila ada waktu luang dipagi hari. Sekembalinya Oliver masih didapatinya Maxi masih tertidur, Oliver membersihkan diri dan kembali kepada tugas serta project musim panas yang tinggal sedikit lagi selesai dan dapat di submmit lebih awal dari jadwal, sehingga sisa liburan musim panas dapat ia lakukan dengan mencari perkerjaan paruh waktu. Dan sebelum ia menutup laptopnya,
Sambil menunggu Maxi bangun, Oliver merebahkan diri membaca majalah interior sebagai refernsi ide baru sehubungan project yang akan datang.
"Aaaarrgggh..." Maxi bangun dari tidurnya dan streching tubuhnya.
" what time is it? " tanya Maxi,
" almost one " jawab Oliver,
" aah, you Indonesian " tunjuk Maxi.
Oliver menurunkan majalahnya dan melihat kepada Maxi,
" disana ada sikat gigi dan compressed towel, botol minum disana " ucap Oliver sambil menunjuk ke meja.
" oh ow, yes Ma'am " gurau Maxi sedikit tidak percaya ke-apik-kan seorang pemuda laki-laki.
" didepan? " tanya Maxi sambil membawa peralatan kebersihan,
" yaaa! " ucap Oliver bingung mengapa Maxi tidak tau bahwa toilet ada didepan dan mereka bergantian bila ingin menggunakan toilet,
apa ia tidak tinggal di dome
pikir Oliver, lalu ia kembali fokus pada majalahnya.
sekembalinya Maxi kedalam kamar, ia terlihat lebih segar dengan rambut sedikit basah dan disisirnya dengan tangan arah belakang kemudian ia berjalan menuju seberang ranjang Oliver mengambil sebotol air mineral dan meneguknya tersisa setengah penuh.
" aku lapar, mau pergi Union Street Diner?" tanya Maxi.
" Sure " jawab Oliver bergegas mengambil dompet dan beranjak pergi.
mereka berjalan kaki dari dome Oliver, karena jarak yang dekat.
" Hey, man. kuat minum juga ya " ucap Maxi.
Oliver hanya tersenyum dan meganggukan kepalanya.
" major apa? " tanya Maxi.
" Interior Design and Civil Engineering, you? " tanya Oliver kembali.
" International Business "
" No wonder, untuk lanjutkan family business " ucap Oliver, namun membuat Maxi terkejut
" apa saja yang ku ucapkan ketika aku mabuk berat? " tanya Maxi.
" a lot, your Dad business, his second wife, your mom. i don't man. you talk a lot " jawab Oliver.
" in bahasa? " tanya Maxi.
" yeah " jawab Oliver
"oh s**t, kenapa harus ketemu kau" ucap Maxi.
" just between us, ok man! " tegas Maxi.
sesampainya mereka di restoran, mereka memesan makanan dan Maxi memesan begitu banyak seolah sudah kelaparan berminggu-minggu. Oliver menghitung-hitung diotaknya berapa bill mereka nanti, ia berencana membayarkan makan siangnya dengan Maxi, karena ia tidak enak hati begitu banyak minuman semalam yang telah ia buang, walau Maxi tidak akan pernah tau.
selama makan siang mereka Maxi banyak bertanya kepada Oliver mengenai kehidupan di Indonesia, mereka saling bertukar informasi mengenai pribadi mereka masing-masing.
" Hey, kau bebas hari ini? " tanya Maxi.
" yah, so far tidak ada yang dapat ku kerjakan, hanya berencana untuk mencari perkerjaan paruh waktu selama liburan." jawab Oliver.
" well, bisa temani aku mengambil mobilku. aku lupa parkir dimana. " ucap Maxi
" jika kau lupa, bagaimana kita ambil mobilmu? " tanya Oliver.
" wait, aku pikir dulu. " sambil mengarahkan telujuknya kepada Oliver meminta waktu untuk berfikir sejenak.
Kemudian Oliver memanggil pelayan untuk meminta bill mereka.
Sesaat kemudian pelayanan datang dengan tagihan makan siang mereka,
" let me " ucap Oliver.
Maxi sedikit terkejut atas ketulusan Oliver membayar tagihan makan siang mereka, selama ini pertemanan Maxi karena ia begitu royal membayar setiap tagihan ketika berkumpul dengan teman-temannya, dengan cepat Maxi meraih tagihan dan memberikan sejumlah uang cash kepada pelayan.
" at least, aku bayar makanan ku sendiri " ucap Oliver, seraya memberikan sejumlah uang yang dihitungnya sesuai tagihan atas makanan yang Oliver pesan, menaruhnya dimeja diarahkannya kepada Maxi.
Maxi tidak bergeming untuk mengambil uang tersebut,
Maxi kembali menunjukan telunjuknya, meminta waktu untuk memikirkan kembali dimana ia memarkirkan mobilnya. Ia hanya berfokus ingatannya kemarin, sambil menjentikan jarinya,
" aaah, parking lot 109, let's go " ucap Maxi.
" Max, uang mu " ucap Oliver.
" just keep it " jawab Maxi.
lalu mereka berjalan kaki kembali ke campus dan mencari lot 109 , sambil Maxi mengeluarkan remote mobil dipencetnya berharap mengeluarkan suara menunjuk kepada keberadaan mobilnya. terdengar suara dari mobil Maxi, dan mereka mengikuti asal suara tersebut.
" jump in " ucap Maxi, dengan isyarat kepalanya mengajak Oliver masuk kedalam mobilnya.
" kemana? " tanya Oliver.
" cari kerja paruh waktu untukmu, mampir dulu yah ke apatermentku, ganti baju " jawab Maxi.
Oliver kemudian masuk kedalam mobil Porsche Maxi, yang ia sendiri tidak tau seri apa dan berapa harganya, hanya saja yang ia tau bahwa mobil tersebut adalah mobil mahal dan hanya orang yang kaya mampu membelinya. Kesuksesan orang tua Oliver hanya sebatas pengusaha ritail kecil, yang masih sanggup menyekolahkan Oliver dengan kualitas terbaik dan memberinya pendidikan kuliah ke luar negri, tidak bisa dibandingkan dengan kekayaan keluarga Maxi.
Sepanjang perjalanan mereka kembali bertukar informasi pribadi mereka. Oliver merasa entah datang darimana aura Maxi membuat Oliver nyaris menjadi seperti Sora, penuh keingintauannya dan begitu banyak pertanyaan. Seketika mereka cocok satu sama lain.
Sesampainya mereka keapatement Maxi,
Luas, modern, mewah
Haizz, anak orang kaya
Batin Oliver, belum pernah ia masukin apaterment yang begitu bagus, yang dimiliki langsung oleh teman atau koleganya. Ia hanya mengunjungi unit contoh sebagai refererensi mata kuliahnya, itupun masih sebatas design compact minimalis unit.
"aku mandi dulu, anggap rumah sendiri" ucap Maxi.
Belum ada teman yang dibawa maxi ke dalam apaterment nya, Selain wanita yang ingin ditidurinya.
"take your time" jawab Oliver.
Oliver berjalan mengelilingi meneliti tiap detail ruangan, design dan teknik. Menambah ide dan pengetahuan untuk mata kuliahnya.
Begitu banyak detail yang harus diingatnya, hingga Maxi keluar dari kamarnya
"Oliver" panggil Maxi
Oliver terkejut,
"melihat-lihat sedikit untuk ide project ku" ucap Oliver, ia menjelaskan tak ingin Maxi salah paham karena meneliti setiap ruangan.
"kapan pun kau boleh datang dan mengelus setiap furniture, kau melototinya seakan sedang memperhatikan wanita sexy" gurau Maxi.
"let's go" ucap Maxi.
Oliver kemudian berjalan menuju pintu, mengikuti Maxi.
Mereka berkendara menuju lokasi perusahaan pertukangan yang menjadi kenalan Ayah Maxi, karena Ayah Maxi menjadi supplier bahan baku perusahaan tersebut. Hubungan baik mereka membawa mereka menjadi sahabat.
Sesampainya dilokasi, Maxi memperkenalkan Oliver kepada sahabat Ayahnya dan menjelaskan bahwa Oliver berniat mencari perkerjaan paruh waktu. Berkat referensi Maxi, sahabat Ayah Maxi tidak ragu menerima Oliver dan memintanya dapat memulai sekarang juga.
"hey Mate, aku tinggal yah. Kau bisa balik sendiri kan?" tanya Maxi.
"yeah, yeah, thanks a lot man" ucap Oliver.
"Nomor ponsel mu?" tanya Maxi seraya mengeluarkan ponselnya, dan mereka saling bertukar nomor ponselnya.
"let me know if you need my help" ucap Oliver yang ingin membalas kebaikan Maxi dengan membawanya kepada perusahaan pertukangan, dan ia dapat banyak pengalaman disisa liburan musim panasnya.
Oliver menghabiskan sisa hari dengan sangat bersyukur, banyak ilmu yang ia dapati untuk kerja paruh waktunya, hari terasa singkat dan waktu kerjapun telah usai. Bergegas Oliver hendak balik ke dome, membersihkan diri dan tidak sabar menunggu hari esok untuk memulai perkerjaan barunya. Ia juga memberi kabar kepada kedua orang tuanya bagaimana ia bertemu Maxi, siapa Maxi dan bagaimana Maxi membantu Oliver dalam kerja paruh waktu selama musim panas.
Orang tua Oliver sangat senang dengan perkembangan Oliver, yang dirasanya mereka anak semata wayang mereka mulai tubuh dewasa dari segala pengalaman Oliver seorang diri tanpa orang tua yang selalu disisinya.
Selesainya Oliver berbicara di ponsel dengan orang tua, ia juga ingin berbagai kebahagian yang ia rasa kepada orang yang telah lama ia tunggu kabarnya namun hingga hari ini pun, tidak ada Berita apapun yang ia terima.
Oliver membuka laptopnya, mengetik semua yang ia ingat, yang ia pelajari di hari pertamanya bekerja di perusahaan pertukangan, setiap detail ia catat dalam laptop. Setelah ia lelah dan hendak beristirahat,
Emma...
Ketik Oliver, klik
Send
dan ia meraih ponselnya,
Thanks Max
Oliver tertidur pulas.
*Summer Holiday*
Sepanjang liburan musim panas, Oliver menghabiskan waktunya berkerja di perusahaan pertukangan yang direferensikan oleh Maxi, yang kini menjadi teman baik Oliver. Lama tidak ada kabar dari Maxi semenjak hari pertama ia membawa Oliver kepada sahabat Ayahnya.
Max, how are you?
Ketik Oliver megirimkan pesan singkatnya.
Ting
Suara ponsel Oliver, menandakan pesan masuk.
Hi man, lagi meeting di Jakarta with my Dad. So boring here, ga ada pilihan harus ikut. So, everything OK?
Balas Maxi.
Yeah, everything is great . Kapan balik?
Tanya Oliver.
miss me? ?
Balas Maxi.
Oh please.
Ketik Oliver
Hahahaha. lol
Minggu terakhir di sisa liburan, Oliver lebih bersemangat, ia meminta izin untuk berkerja full time dengan maksud mempelajari lebih banyak teknik pertukangan dan sedikit banyak ia telah membuat bahan essay untuk tugas berikutnya.
Ia tidak mendapat izin, karena peraturan yang ketat dan resiko hukuman bila dilanggar. Namun pemilik tersebut senang dengan semangat Oliver dan mengizinkan Oliver apabila ada yang ingin di tanyakan, ia bebas datang kapanpun selama tidak mengganggu perkerjaan para pegawai. Oliver pun berterima kasih atas kebaikan sang pemilik yang juga sekaligus sahabat Ayah Maxi.
Ting
Where are you?
Pesan dari Maxi.
Sebentar lagi balik ke dome, why?
Balas Oliver.
In 40mt, depan dome
Ok
Ketik Oliver.
Oliver sudah tidak bertanya apa-apa lagi, yang ia tau bahwa Maxi selalu ingin berenang-senang. Oliver membutuhkannya malam ini.
Kemudian mereka segera pergi berkumpul disebuah pub yang biasa dikunjungi Maxi. Hingga bingar musik dan melimpahnya minuman non stop mengisi perut mereka. Oliver tau bagaimana ia menjaga dirinya tetap sadar, dipakainya segala jurus untuk menghindar dirinya hingga mabuk.
Dilihatnya oleh Oliver, Maxi merayu seorang wanita. Kemudian ia tersenyum melihat tingkah Maxi yang norak, namun wanita itu menyukai rayuan Maxi.
"hey my man, come" dirangkulnya Oliver dan diperkenalkannya wanita yang di rayu Maxi.
"Jessie, Oliver. Oliver, Jessie" ucap Maxi sambil bolak-balik menunjukan Oliver dan Jessie.
"Jessie has a friend" bisiknya kepada Oliver, sedikit mabuk.
" you know like JESSIE HAS A FRIEND" ucap Maxi dengan tekanan intonasi.
"Maya, Oliver. Oliver, Maya"
"Hi" Sapa Oliver.
Maya yang Sudah mabuk tidak lagi dapat berbasa-basi memulai percakapan, ia dengan senangnya menari mengikuti alunan musik dan maju mendekat Oliver mengajaknya menari bersama dengan satu botol bir ditangannya.
Hari makin larut dan mereka makin mabuk, Oliver kembali menjadi penjaga Maxi yang sudah mabuk berat.
"Hey Oll, can you drive? to my place?" tanya Maxi sambil tertawa kepada Jessie dan memeluknya, dan memberikan kunci mobil kepada Oliver.
Oliver kemudian menuntun Maya, yang sama mabuknya dengan Jessie dan Maxi. Mereka masuk kedalam mobil, Maxi dan Jessie duduk dibagian belakang langsung berciuman, sedangkan Maya duduk didepan disilangkannya seat belt oleh Oliver dan Maya tertidur.
Sesampainya mereka di basement parkiran, Oliver menopang Maya sedangkan Maxi dan Jessie berjalan sempoyongan. Orang mabuk menuntun orang yang mabuk.
Mereka sampai kedalam apartment Maxi, diajaknya Jessie masuk kedalam kamar Maxi. Meninggalkan Oliver dengan Maya, begitu beratnya Maya hingga Oliver hanya bisa membawanya sampai disofa, tiba-tiba Maya menarik Oliver dan mencium Oliver, rasa yang tidak dapat ia nikmati.
'Bau Naga' terhembus dari nafas Maya karena konsumsi alkohol yang begitu banyak.
Perpaduan blue cheese dan dragon breath bukan hal yang menyenangkan
Maya jatuh tertidur dengan pakaian yang terangkat nyaris memperlihatkan seluruh tubuhnya, Oliver mengambil selimut dari dalam kamar dan menyelimuti Maya, ia sendiri balik ke kamar membaringkan diri tertidur pulas.
Alarm tubuh Oliver membangunkannya di pagi hari, masih terasa sunyi diluar. Oliver segera beranjak dari ranjang kemudian memberikan diri, sesuai perkiraan Oliver, skala hotel segala perlengkapan mandi tersusun rapi didalam toilet. Segera Oliver memberikan diri dan bergegas keluar kamar, masih di dapatinya Maya tidur diatas sofa, dilihatnya dekat-dekat kewajahnya Maya, cantik ras Caucasian. Lalu Maya tiba-tiba membalikan badan sambil menguap.
Ampuuun, lebih parah dari semalam. Bau Naga bercampur Blue Cheese
Batin Oliver, segera melangkah mundur.
Oliver merasa bosan dan ia keluar dan turun menuju kolam renang dan ruang gym, ia menghabiskan waktunya dengan berolahraga dan mengamatinya setiap detail ruangan yang ada.
Sesaat Oliver kembali ke unit apatermen Maxi, ia mengetuk pintu berharap mereka sudah bangun.
Maxi mengajak mereka menghabiskan waktu tersisa pergi ke national park dengan bekal bir yang diambil dari lemari pendingin didapur. Dan mereka hanya bergembira sepanjang hari.
"Bro, bagaimana semalam" tanya Maxi ingin tahu.
"apanya?" Oliver bingung
"Maya!" dinaikan alis Maxi dengan nakal.
"Man, semalam Maya main nyosor aja.. Ampun Bro, bau Naga campur blue cheese, can you imagine!" ucap Oliver, sambil menepuk d**a Maxi, mengingat hal semalam dengan mimik muka tak percaya apa yang telah dialaminya.
Maxi tertawa terbahak.
Dan mereka segera bergegas kembali ke mobil dan mengantarkan Jessie dan Maya kembali apaterment mereka,
" Ada acara lagi? " tanya Maxi kepada Oliver yang berusaha pindah ke jok penumpang bagian depan dari jok belakang.
"No!"
"balik ke tempat ku?" tanya Maxi
"why not" jawab Oliver.
"mampir dulu for Mexican food?" tanya Maxi yang merasa lapar.
"boleh juga" jawab Oliver,
Sesampainya mereka kembali kedalam unit apartment Maxi, mereka bersantai. Oliver menuju lemari pendingin mengambil dua botol bir dan satu botol diberikan kepada Maxi.
"Hey, katakan. Apakah Maya akan menarik perhatianmu bila ia tanpa Blue cheese and Dragon Breath?" tanya Maxi.
Oliver hampir tersendak oleh minumannya ketika mendengar pertanyaan Maxi.
"Man, please jangan ingatkan lagi. Kau tau bau itu seperti masih tercium saat ini. but, well dia cantik. Ehm, mungkin saja bila ia sudah menghabiskan satu botol penuh listerine" jawab Oliver sambil tertawa.
"talking about listerine. saat 17th masa berontakku, aku bawa pacarku kerumah, ku ajak dia kekamarku, entah apa yang di pikirannya, lama ia didalam toilet mungkin bersih-bersih. Siap-siap nih beraksi, saat dia naik keranjang, ku dorong kepalanya masuk kedalam selimutku, kupaksa untuk "mengulum" ku. Pedes-pedes dingin di "burung" ku,
Damn, lalu tiba-tiba BRAAK, suara pintu dibuka keras, my Dad berdiri depan pintu MAAAAX, teriaknya.. Marah besar, Konsetrasiku buyar. Karena terkejut ku tekan kepalanya saat itu pikirku mungkin kepalanya dibalikin selimut tidak akan kelihatan dan dia karena dia mual, dinaikannya kepalanya, ku tekan lagi, berpulang kali. Dam* man, my Dad masih terus berdiri didepan pintu ku sampai akhir dia pergi tanpa sepatah katapun. Kau tau sesudah itu pedas "burung" ku karena ia berkumur listerine di toilet" cerita Maxi disambut tawa keras Oliver.
"so, tell me. pernah kepergok?" tanya Maxi ingin tau.
"ehm, tidak seperti itu sih." Oliver ragu-ragu ingin menceritakan mengenai Emma.
"tell me bro" ucap Maxi penasaran.
"Janji jangan meledekku yah." pinta Oliver.
Maxi membuat tanda janji dengan gerakan tangannya, mengunci mulutnya.
"ehm.. Sebetulnya dia guru saat senior high" cerita Oliver.
"serious man, so you milf?" tanya Maxi.
"No man" segera jawab Oliver.
"kami terpaut 6 tahun" jelas Oliver.
"fair enough. this is serious relationship or hanya petualanganmu? " tanya Maxi.
"It's become serious to me, sudah bertahun-tahun sejak kelulusan aku tidak dapat menemukannya. Every email tidak dibalas" ucap Oliver
"you need to get over it"
"I want to, but I can't" jelas Oliver.
"sebenernya kau hanya perasaan sepihak atau kalian berdua punya rasa yang sama?" tanya Maxi.
"I don't know, it's complicated Max. Kami menghabiskan waktu satu harian di apaterment nya"
"so you did it?" tanya Maxi
" yeah, we did it" ucap Oliver.
Maxi tertawa
"inap lah disini, besok kita keliling Kota. Kali ini dengan Ella and Lisa" ucap Maxi yang flamboyan dengan senyum nakalnya.
Sepanjang malam mereka habiskan dengan bermain video games dan bergurau.
*welcome back*
Perkuliahan Oliver kembali di mulai, rutinitas dan segala tugasnya. Kerja paruh waktu Oliver saat liburan musim panas memberikan keuntungan dalam setiap mata kuliah dan project Oliver.
Secara rutin Oliver bertemu dengan Maxi diakhir pekan, mereka bersenang-senang bersama melewatkan hari-hari mereka. Bahkan bila memungkinkan mereka memanfaatkan berjalan-jalan keluar Kota.
Persahabatan mereka saling mempercayai satu sama lain, Maxi menawarkan Oliver untuk tinggal bersamanya dan dapat menempati kamar yang kosong, namun Oliver menolak karena lebih praktis tinggal di dome, Maxi memahami penolakan Oliver. Satu hal yang disukai Maxi dari Oliver bahwa ia tidak pernah memanfaat dan mencari keuntungan dari previlege Maxi.
Pada tahun Maxi menyelesaikan kuliahnya, ia segera bergabung dalam jaringan bisnis Ayah-nya. Ada beberapa saat Maxi mengunjungi kembali Oliver hanya sekedar menghabiskan liburan atau hanya memang ingin bertemu dengan Oliver disela meetingnya yang dilakukan di Ohio.
Satu tahun setelah kelulusan Maxi, Oliver juga segera menyelesaikan kuliahnya dengan prestasi yang baik. Segera ia ingin pulang kerumah orang tuanya yang sudah lama ia tinggal untuk mengejar masa depannya, kerinduannya akan kedua orang tuanya juga teman-teman semasa senior high serta makanan local yang menjadi kesukaannya.
Pada tahun-tahun perkuliahan Oliver, setiap email yang dikirimnya kepada Emma, tetap masih belum mendapat balasan. Oliver berharap dengan kepulangannya mungkin ia dapat menemukan Emma atau setidaknya mendengar kabar mengenai keberadaan Emma.
Pada saat hari Oliver hendak pulang kembali, ia meminta Maxi untuk mempersiapkan kejutan untuk orang tuanya. Maxi menyetujui dan ia yang paling bersemangat menyusun rencana kejutan tersebut.
Sesampainya Oliver dibandara, dijemput oleh Maxi dengan supir pribadinya,
"yooo Bro" ucap Maxi senang ketika bertemu dengan Oliver, dan mereka saling berpelukan khas pertemanan mereka.
"Thanks man, sudah repot-repot mau jemput"
"anytime Oll" ucap Maxi.
"so, aku sudah booking tempat di restoran yang dituju tempat makan malam kedua orangtua mu, sudah ku atur posisi duduk mereka dengan sedikit amplop berisi untuk uang rokok semua beres, kau dapat memakai seragam pelayan mereka ketika kau melanyani orang tuamu untuk pesanan" jelas Maxi.
Sepanjang jalan mereka bertukar cerita selama satu tahun perpisahan mereka, sesaat mereka telah sampai ke restoran yang dituju, dan Oliver bersiap untuk mengenakan pakaian pelayan yang hanya di double pada pakaian Oliver.
Ketika orangtua Oliver memasuki restoran dan duduk ditempat yang sudah di booking oleh Maxi tanpa disadari oleh mereka. Maxi duduk terpisah di meja sebrang mengamati. Oliver bersiap memberikan buku menu kepada mereka, sesaat mereka melihat-lihat menu dan Oliver berdiri menunggu tanpa mereka sadari bahwa anaknya didepan mereka.
Setelah merelakan melepas Oliver mengejar pendidikan untuk bekal kesuksesan masa depannya.